
Aris mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat dan tatapan kedua matanya begitu tajam melihat istrinya berpelukan bersama mantan tunangannya di hadapannya.
Dengan langkah yang cepat dan penuh emosi Aris menghampiri istrinya dengan laki-laki kurang ajar itu, menarik dengan paksa tubuh Via yang masih di pelukan Tama. Bug! "Berengsek!" ucap Aris memukul wajah Tama dengan sekali pukulan membuat Tama terhuyung mundur dengan bibir Tama yang mengeluarkan darah segar.
"Beraninya anda memeluk istri saya! Kurang ajar!" Bug... pukulan menghantam sekali lagi pada bagian wajah Tama membuat Tama meringis kesakitan.
Via menjerit histeris dengan apa yang di lakukan suaminya itu dan mencoba mencegah agar suaminya itu menjauh dari Tama. "Cukup! Sudah kamu bisa membunuhnya." cegah Via dengan cepat.
"Biarkan saja!" sahut nya penuh emosi.
Via mengusap dada Aris yang penuh dengan emosi terlihat dari nafasnya yang naik turun menahan emosinya.
Aris menatap ke arah wajah Via dengan tajam lalu dengan cepat menarik tangan Via mengajak nya pergi dan meninggalkan Tama yang meringis kesakitan akibat pukulan dari Aris yang menghujam nya.
Tama melihat Via yang di tarik tangan nya oleh laki-laki berstatus suaminya itu meninggalkan nya sendiri dengan kesakitan yang ia rasakan saat ini. "Sial! Sakit sekali." umpat nya namun tak lama kemudian Tama tersenyum dengan seringai licik nya. "Ini baru permulaan! Aku pastikan anda akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini." gumam nya dengan meringis memegang bibirnya yang berdarah.
Di tempat Via dan Aris, Aris terus saja menarik tangan Via dengan langkah yang cepat. Membuat Via pun berjalan dengan setengah berlari karena langkah suaminya yang begitu cepat.
"Kamu salah paham bang. Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu bayangkan." ucap Via menghentikan langkah Aris yang menarik tangan nya, membuat Aris pun menghentikan langkahnya dan menatap kearah wajah Via dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Via.
Via membalas tatapan suaminya itu mencari apa yang sekarang ia pikirkan apa dia marah karena cemburu atau marah karena Tama adalah mantan tunangannya.
"Kamu bilang salah paham? Aku melihat dengan kedua mataku sendiri istri ku sedang berpelukan dengan laki-laki lain dan yang aku tahu laki-laki itu adalah mantan tunangan kamu." sanggah nya dengan nada sedikit emosi.
"Kamu salah paham, aku hanya..." ucapnya terpotong karena Aris langsung menarik kembali tangan Via dan membawanya ke parkiran lalu tanpa ba-bi-bu Aris menyuruh Via naik ke atas motor nya. Aris berniat membawa Via untuk pulang agar masalah ini bisa di selesaikan di rumah, malu rasanya jika bertengkar di tempat umum dan di jadikan tontonan orang banyak yang hadir di sana.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah dengan cepat Aris menutup pintu rumah nya itu dan menguncinya. "Kamu benar-benar salah paham." lirih Via berucap.
Aris hanya diam saja ia langsung duduk tanpa bicara sepatah kata apapun membuat Via semakin serba salah di buatnya. "Gara-gara kak Tama peluk aku suamiku marah begini. Mending kalau dia marah dengan bersuara ini dia malah diamkan aku begini!" gerutu Via kesal dengan kejadian ini. "Niatnya mau jalan-jalan dan senang-senang tapi kejadian nya malah seperti ini." tambah nya kesal. "Kalau tahu ceritanya akan begini aku jadi menyesal tadi pergi." sambung nya.
"Kamu marah sama aku?" Via mencoba menatap wajah suaminya itu yang sedang menunduk memegang kepalanya.
Aris melengoskan pandangan nya dengan menatap ke arah lain ia tidak mau menatap mata Via karena akan membuat nya meluluh. "Aku itu tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Dia itu hanya mantan tunangan ku, ya walaupun dulu dia adalah laki-laki yang aku cintai tapi sekarang aku adalah istri kamu jadi tidak mungkin aku memiliki hubungan dengan nya lagi." tutur Via menjelaskan pada Aris. "Kamu cemburu?" goda Via pada suaminya itu.
Aris semakin malas menanggapi ucapan istrinya itu yang menggoda nya di saat seperti ini ia malah menggodanya padahal dirinya dari tadi menahan emosi nya yang meledak-ledak.
Via menghirup nafas nya dalam-dalam karena suaminya itu tidak merespon semua ucapan nya. "Iya sudah kalau kamu tidak percaya terserah kamu saja!" kesalnya seraya pergi meninggalkan suami nya yang masih terdiam.
Aris yang melihat Via pergi begitu saja tanpa merayu nya kembali membuat nya sebal pada istrinya itu. "Suami marah bukan dirayu atau di bujuk ini malah dia yang jadi marah." gerutu Aris sebal.
"Kalau ngomong yang kencang biar aku dengar kamu ngomong apa bukan ngegerutu begitu!" sahut Via setengah berteriak dari dalam kamar karena mendengar perkataan suaminya yang terdengar pelan dan tidak begitu jelas.
menarik nafasnya panjang menghilangkan rasa kesal karena api cemburu. "Kamu di tinggal suami ke toilet saja sudah berani berpelukan dengan laki-laki lain seperti itu, bagaimana kemarin saat aku tinggal jauh untuk bertugas apa kamu melakukan hal yang sama seperti itu juga?" tanyanya penuh selidik.
Via menatap ke arah Aris dengan jengah setelah mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu. "Jadi kamu menuduh ku seperti itu? Itu tandanya kamu gak percaya sama aku!" tuduh Via dengan nada tinggi.
"Aku bisa saja kembali pada mantan tunangan ku jika aku mau dan pasti aku akan lakukan hal itu dari dulu saat kamu pergi bertugas. Aku bukan perempuan yang dengan mudah berpaling dari laki-laki lain ke laki-laki lainnya." ujar Via dengan kesal Via.
"Bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak rela istri ku berpelukan dengan laki-laki lain apalagi dia pernah ada di hati kamu." Aris berkata merasa tidak enak karena Via istrinya menjadi marah.
"Kak Tama hanya meminta aku agar aku mau menjadi temannya dan meminta maaf atas kejadian kemarin yang ia lakukan padaku saat di ho..." Via hampir saja keceplosan dengan perkataan nya yang hampir menceritakan bahwa Tama akan melecehkan nya saat suaminya sedang pergi bertugas.
__ADS_1
"Kejadian apa maksudnya?" tanya Aris penuh telisik karena ucapan Via tidak ia lanjutkan dengan keningnya yang mengerut penasaran.
"Kejadian..." Via menjadi susah untuk bersuara ia tidak mau sampai suaminya itu tahu kejadian di waktu itu, akan menjadi panjang dan akan membuat Aris semakin benci dengan Tama.
"Kejadian?" ucap Aris mengulang ucapan Via.
"Kejadian di saat ia menyakiti ku dulu. Saat dia menghianati ku." jawab Via gugup membuat Aris semakin bertanya-tanya dan penasaran.
Aris menatap wajah Via dengan tajam dan begitu dekat sehingga Via yang mengelak akan jawaban nya tadi semakin gugup saja.
"Apa kamu sedang berbohong?" tanyanya penuh selidik.
"Bohong apa? Mana berani aku bohong sama kamu, kamu kan suamiku." elaknya dengan cengengesan menyembunyikan rasa gugupnya.
"Apa kamu serius?" Tanyanya lagi membuat Via menjadi salah tingkah. Bagaimana tidak salah tingkah kini tatapan suaminya itu penuh intimidasi karena tatapan matanya yang tajam membuat Via takut saja melihatnya.
Via mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Aris dengan cepat ia pun keluar kamar karena takut berada di kamar dalam keadaan suaminya sedang marah dan Via takut jika kebohongan nya akan di ketahui oleh Aris.
Namun langkah Via kalah dengan langkah Aris yang tiba-tiba menarik tangan nya dengan cepat. Sehingga membuat tubuh Via memeluk tubuh suaminya yang menarik tangan nya begitu kencang. "Aku akan mencari tahu pada orang lain kalau kamu tidak mau menceritakan nya padaku." bisik Aris di telinga Via.
Deg jantung Via berdetak kencang seketika.
karena suaminya itu tidak mempercayai dirinya. Dengan senyum kaku Via pun mendongakkan wajahnya menghadap wajah Via dan cup Via mencium bibir suaminya itu. Mungkin dengan cara seperti itu suaminya tidak akan terus-terusan kesal padanya dan akan mempercayai omongannya itu.
Setelah Via mengecup bibir suaminya itu ia berniat pergi lagi karena pegangan tangan suaminya mengendor, tapi Aris dengan cepat mencegahnya dan berbisik. "Kamu harus tanggung jawab, berikan aku ketenangan dan kepuasan!" ucapnya berbisik lalu menggendong tubuh Via membawanya ke atas ranjang.
__ADS_1
Di tempat Tama ia sedang meringis kesakitan karena pukulan yang ia dapatkan dari Aris. "Berengsek sakit sekali!" kesal Tama berucap. Tapi tidak apa-apa rasa sakit ku ini akan terbayarkan karena Via dan juga suaminya itu pasti sekarang sedang bertengkar karena aku dan Via berpelukan tadi." ucapnya dengan tersenyum senang karena ia pikir rencananya itu berhasil. "Dan aku tinggal tunggu kelanjutannya, Via pasti akan dekat dengan ku lagi karena suaminya itu tidak percaya padanya." ujarnya dengan rasa percaya dirinya.