Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
kesal


__ADS_3

"Aku lihat mas Adam lagi ya." ucap Nisa memberi tahu pada Aris. "Kamu kalau mau pulang, pulang saja Ris, aku gak apa-apa kok nunggu di sini sendiri." ujar Nisa.


"Tidak apa-apa Nis aku tunggu saja disini, lagian aku juga sedang tidak ada tugas." balas Aris.


"Iya sudah deh terserah kamu saja, aku masuk ya!" ucap Nisa lalu berjalan masuk ke dalam ruangan selama Aris menemani Nisa mereka tidak pernah berdua di ruang tunggu selalu Nisa menghindar karena Nisa takut akan ada fitnah di antara dia dan Aris karena walau bagaimanapun Aris adalah laki-laki dewasa dan juga bukan muhrim.


Nisa masuk ke dalam ruangan Adam dengan perlahan menutup pintu yang ia buka supaya tidak ada suara yang membuat Adam terganggu. Ia mendekat ke arah Adam, melihat dengan sendu dan Nisa pun menarik nafas dalam-dalam.


"Assalamualaikum mas..." ucap Nisa dengan mengelus tangan Adam dan menggenggamnya. "Mas bangun dong mas!" panggil Nisa pelan.


Nisa melepaskan tangan Adam yang ia genggam ia berniat akan duduk di sebuah kursi karena kehamilan nya yang semakin besar membuat dirinya gampang lelah. Alangkah terkejutnya Nisa saat ada tangan yang menahannya nya saat tangan Nisa akan mengambil kursi yang akan di duduki itu.


"Astaghfirullah..." Nisa terkejut dengan adanya sebuah tangan telah menarik tangan nya.


Nisa melihat tangan nya yang ditarik ternyata itu adalah tangan Adam, lalu melihat ke arah wajah Adam, melihat kedua mata yang terbuka dan ia lihat jika Adam yang sedang menatap ke arah wajah nya. "Ma...ma...mas. Kamu, kamu, kamu sudah sadar?" tanya Nisa terkejut karena Adam yang tiba-tiba mengejutkannya yang sadar dari komanya. Namun Adam belum begitu merespon dengan sempurna ia seolah masih ada dalam mimpinya.


"Mas sejak kapan kamu sadar mas? Aku panggilkan dokter ya!" ucap Nisa dengan cepat. Rasa bahagia dan terharu serta terkejut campur menjadi satu. Nisa pun memencet bel pemanggil yang ada di ruangan itu.


Tak lama dokter pun datang di temani suster yang akan memeriksa Adam, dan Nisa pun di minta keluar dari ruangan ICU untuk menunggu.


"Ada apa Nisa kenapa dokter dan suster tiba-tiba masuk? Apa kamu memanggilnya?" tanya Aris khawatir karena melihat dokter dan suster nya jalan tergesa-gesa dan melihat Nisa yang begitu panik keluar dari ruangan Adam.


"Alhamdulilah mas Adam sudah sadar Ris tadi saat aku berada di ruangan mas Adam menarik tangan aku dan matanya juga terbuka ia menatap aku Ris." ucap Nisa senang.

__ADS_1


"Oh ya, syukurlah kalau begitu Nisa saya ikut senang dengan kabar ini." jawab Aris juga merasa bahagia karena Adam sudah sadar dari komanya dan melihat Nisa begitu bahagia mendapatkan kabar baik ini.


"Iya Ris semoga mas Adam bisa pulih kembali seperti dulu." jawab Nisa terharu.


"Bagaimana dok keadaan suami saya? Apa tadi tanda-tanda mas Adam sudah siuman dok?" tanya Nisa penasaran saat dokter sudah selesai memeriksa Adam.


"Iya Bu Nisa alhamdulilah akhirnya pak Adam suami anda sudah sadar dari komanya, hanya mungkin pak Adam belum begitu pulih dalam ingatan nya, pasien butuh waktu agar kesadarannya sepenuhnya terkumpul. Sekarang saya akan suruh petugas memindahkan pak Adam ke kamar inap ya Bu, jadi anda bisa menjenguknya di kamar inap saja." jelas dokter itu menerangkan.


"Baiklah dok terima kasih."


"Iya sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi." ucapnya dan di angguki oleh Nisa.


Nisa menghirup nafas nya lega lalu ia menatap ke Aris dan tersenyum bahagia karena suaminya sudah sadar dari masa kritisnya. "Alhamdulilah." ucapnya.


Aris tersenyum membalas senyuman Nisa. "Ia juga merasa bahagia karena Adam sudah sadar dan melihat Nisa tersenyum bahagia membuat dia ikut bahagia juga. "Kamu sudah mengabarkan pada keluarga kamu tentang pak Adam yang sudah sadar?" tanya Aris di sela kebahagiaan Nisa.


Nisa pun mengabarkan kabar bahagia ini kepada kedua mertuanya dan juga ibu nya yang ada di Bandung, dan mereka pun mengucapkan rasa syukur mereka atas sadar nya Adam dari masa-masa kritis yang membuat orang di sekelilingnya takut dan khawatir.


Dan setelah Adam sudah di pindahkan Nisa dan juga Aris langsung menemui Adam yang ada di dalam kamar inap nya. Nisa perlahan membuka pintu kamar Adam dengan sangat pelan rasanya bertemu dengan Adam saat ini membuat jantungnya berdebar-debar, karena sudah cukup lama Nisa tidak bertemu Adam dalam masa ketidaksadarannya.


"Ish kenapa aku jadi deg degan gini padahal kan aku setiap hari bertemu sama mas Adam." batin Nisa saat ia akan masuk setelah pintunya terbuka. Nisa mencoba menenangkan dirinya dengan cara menghirup nafas dalam-dalam lalu ia pun masuk.


"Assalamualaikum mas." ucap Nisa pelan.

__ADS_1


Adam yang mendengar suara yang sangat ia kenal itu mengucapkan salam menoleh dengan pelan mencari suara yang selalu setiap hari ia dengar saat ia tidak sadarkan diri. Namun Adam hanya menjawab di dalam hatinya menampilkan senyum ke arah Nisa.


Nisa mendekat pada Adam yang sedang tersenyum kepada nya. " Mas alhamdulilah kamu sudah sadar, apa yang sekarang kamu inginkan?" ucap Nisa lembut. Nisa mengecup seluruh wajah Adam karena saking bahagianya dia juga tidak ketinggalan ia mengecup bibir Adam padahal di dalam ruangan bukan hanya mereka berdua tapi ada Aris yang mengikuti Nisa masuk ke dalam kamar Adam dan Adam hanya tersenyum mendapatkan Nisa mencium nya. Sedangkan Aris begitu terbakar cemburu melihat adegan Nisa yang menciumi Adam di hadapannya.


Nisa memeluk Adam dengan terharu karena suaminya ini sudah sadar dan Adam pun membalas pelukannya. Mereka saling memeluk satu sama lain tak memperdulikan ada orang lain yang melihat nya.


Saat Adam memeluk Nisa ia melihat Aris berdiri menyaksikan dirinya dan juga Nisa yang saling merindukan dengan menatap Aris begitu tajam seolah ia sedang memperingatkan jangan ganggu kehidupan nya. Namun Aris hanya membalas dengan senyuman saat ia di tatap seperti itu oleh Adam.


Aris keluar dia tak ingin mengganggu Nisa dan Adam di masa-masa bahagianya, dengan tubuh lunglai Aris pergi dengan cepat dari sana menuju parkiran dimana ia memarkirkan mobilnya, Aris juga tidak berpamitan pada Nisa dan Adam ia merasa sangat sakit saat ia melihat perempuan yang ia cintai mencintai laki-laki lain dan dia juga tidak ingin mengganggu mereka berdua. "Hah.." Aris membuang nafasnya kasar saat sudah berada di dalam mobilnya. "Kenapa sih elu RIS, elu gak bisa move on dari Nisa. Harus nya elu bahagia melihat Nisa bahagia seperti tadi." batin Aris mengangkat kepalanya dan memejamkan kedua matanya sedangkan punggungnya ia senderkan pada kursi mobil.


Lalu Aris pun memukul-mukul kepalanya pada setir mobil. "Ah." teriak nya frustasi. "Bodoh kamu Ris perempuan di dunia ini banyak kenapa elu fokus pada Nisa, Nisa dan Nisa saja." kesal Aris pada dirinya sendiri. "Kenapa elu masih aja mengharapkan perhatian dari Nisa, ingat Ris dia sudah bahagia dengan cintanya." tambah nya.


"Gara-gara panas hati tenggorokan jadi ngikut panas juga." gumam Aris, ia juga mencari-cari ke depan mencari tukang minuman. "Ah kenapa sih gak ada yang lewat jualan minuman." gerutu Aris kesal. Aris pun membuka pintu mobilnya ia berniat keluar untuk mencari minuman karena tenggorokan nya yang kering.


Saat membuka pintu mobil dengan terburu-buru tanpa melihat ke arah manapun Aris langsung membuka pintu mobilnya dan brug... suara pintu yang ia buka seperti mengenai seseorang.


"Hei pak kalau mau buka pintu lihat-lihat dulu dong!" kesal seorang perempuan cantik berseragam perawat itu.


"Maaf mba saya tidak sengaja, saya gak lihat tadi." ucap Aris meminta maaf.


"Iya makanya kalau mau buka lihat-lihat dulu ada orang lewat atau gak, sakit tahu pak pinggang saya." omel nya perempuan itu.


"Iya kan saya tadi sudah minta maaf, lagian saya juga gak sengaja mba, lah mba nya juga kenapa lewat sini, ini kan mobil saya parkir di pojok begini, mba ngapain di situ?" tanya Aris heran kenapa dia bisa ada di sana.

__ADS_1


"Ya terserah saya dong pak saya mau kemana dan ngapain aja di sini toh gak bikin rugi bapak kan?" ucapnya ketus.


"Terserah anda sajalah." ucap Aris kesal pergi meninggalkan perempuan itu. Aris yang sedang kesal dengan dirinya menjadi tambah kesal saat berurusan dengan perempuan aneh itu. "Dia itu perawat tapi kok gak ada ramah-tamah nya ya tuh cewek!" gerutu Aris kesal. "Jangan sampai gue ketemu lagi sama dia!" gumamnya.


__ADS_2