
Esok hari nya Nisa yang akan pergi ke rumah Rahma, karena mereka sudah janji akan mengerjakan tugas nya bersama, tak lupa juga dengan Aldo ia pun ikut untuk berkumpul disana.
Hari ini Nisa tidak di antar oleh Adam karena pagi-pagi sekali ia sudah berangkat karena tadi tiba-tiba dapat telpon dari rekan nya.
Saat Nisa sedang menunggu mobil online nya tapi tak kunjung dapat, mungkin karena macet atau apa Nisa tidak mengerti. Sebuah mobil mewah mendekat dan mengklakson Nisa yang tengah berdiri di pinggir jalan.
"Assalamualaikum Nisa, kamu sedang apa di pinggir jalan seperti ini?" tanya Rangga setelah membuka kaca mobilnya.
"Wa'alaikumussalam, pak Rangga? Saya sedang menunggu kendaraan umum." jawab Nisa seadanya.
"Ayok saya antar kamu saja, kamu mau berangkat kuliah kan?" tanya Rangga pasti.
"Emh gak pak saya mau ke rumah Rahma, mau mengerjakan tugas kuliah bersama." sahut Nisa menjawab dengan melihat kiri dan kanan mencari angkutan umum.
"Kalau begitu kebetulan saya juga mau kesana, saya juga kan ada perlu sama kamu, kamu baca kan pesan saya semalam?" tanya Rangga mengingatkan.
Nisa berpikir sejenak lalu mengangguk dan Rangga pun membukakan pintu sebelah kirinya dari dalam tempat ia duduk kemudi.
"Saya sebenarnya tadi mau jemput kamu, tapi karena pesan saya tidak kamu balas, saya takut kamu sedang sibuk jadi saya pikir ajakan pertemuan saya sama kamu bisa lain kali saja." ujar Rangga menjelaskan.
Nisa tersenyum. "Iya saya sekarang sibuk membuat tugas pak dari kampus." jawab Nisa pelan.
"Ah iya Rahma juga bilang begitu, katanya ia sekarang sibuk dengan tugas kuliah nya, makanya saya jarang bertemu dengan nya." ucap Rangga dengan senyum nya kepada Nisa.
Nisa hanya tersenyum tipis dengan perkataan Rangga.
"Ada apa ya kok macet begini." tanya Rangga sedikit kesal saat jalanan macet.
"Mungkin ada kecelakaan pak!" sahut Nisa sok tahu.
"Mungkin! Saya tanya dulu ya sama pak polisi itu, kamu tunggu sebentar tidak apa-apa kan?" ijin Rangga pada Nisa.
"Iya pak tidak apa-apa."
__ADS_1
Nisa diam duduk di dalam mobil, sedangkan Rangga menghampiri para polisi yang sedang bertugas disana.
Beberapa menit kemudian Rangga yang telah bertanya pada polisi itu pun kembali masuk kedalam mobil. "Ada apa pak?" tanya Nisa penasaran.
"Ada kendaraan para petinggi melewati jalan ini jadi arus kendaraan di tutup sementara." sahut Rangga menjelaskan.
Nisa hanya berohria dan mengangguk-angguk kepala.
Ketika sedang menunggu jalanan di buka kembali Rangga menerima sebuah panggilan, ketika akan mengangkat panggilan telepon nya handphone Rangga tidak sengaja terjatuh dekat kaki Nisa.
"Aduh kenapa mesti jatuh segala." kesal Rangga pada diri nya sendiri.
Ketika akan meraih handphone nya itu Rangga dan Nisa saling berbarengan akan mengambil handphone itu. Dan sesuatu terjadi dimana Rangga yang berada dibawah pandangan Nisa yang sangat dekat dengan wajahnya dengan tangan yang menjulur ke bawah terlihat dari luar mereka seperti sedang berciuman.
Dan Adam yang tadi sempat melihat Rangga sedang berbicara dengan rekan nya berniat menghampiri Rangga di mobil, namun alangkah terkejutnya Adam saat melihat di dalam mobil Rangga seperti Nisa calon istri nya dan Adam pun melihat kejadian dimana Rangga dan Nisa yang akan megambil handphone nya berbarengan dan Adam menjadi salah paham.
Nisa pun mengangkat kepalanya kembali, tidak jadi mengambilkan handphone pak Rangga. Adam pun mengetuk pintu mobil yang kaca nya terbuka, ingin memastikan siapa perempuan yang bersama Rangga, Nisa atau orang lain, namun dalam hati Adam berharap bukan Nisa perempuan yang bersama Rangga itu.
Mendengar ketukan di pintu mobil Nisa dan Rangga pun menoleh pada sumber suara. "Nisa!" panggil nama Nisa begitu terkejut.
Dengan napas yang tiba-tiba sesak dengan hati dan kepala yang memanas Adam menatap Nisa dengan tajam, namun Adam segera pergi tidak jadi untuk menyapa Rangga, melihat kejadian tadi membuat hati Adam kesal dan sekaligus marah.
Nisa membuka pintu berniat untuk mengejar Adam namun Adam begitu cepat melangkah pergi. Dan suara mobil mengelaksoni dari belakang pun saling menyahut, karena penutupan jalanan di buka kembali.
"Ayo Nisa kamu segera naik ke mobil, kita akan segera jalan orang-orang sudah menunggu." ajak Rangga pada Nisa dengan sedikit teriak.
Nisa pun menjadi bingung memilih mengejar Adam atau kembali naik ke dalam mobil Rangga. Nisa menghela napas nya berat. "Ah nanti aku jelaskan sama mas Adam, sekarang aku selesaikan dulu tugas aku biar cepat beres." ujar Nisa dengan meyakinkan dirinya sendiri.
Nisa pun kembali menaiki mobil Rangga untuk pergi ke rumah Rahma. "Mas jangan salah paham ya nanti aku jelaskan!" pesan singkat Nisa yang di kirim kan untuk Adam.
Adam hanya membaca pesan itu tanpa membalas, rasa kesal dan marah di hatinya membuat Adam jadi malas membalas pesan Nisa. "Nisa lebih memilih jalan bersama dia di bandingkan mengejar saya tadi." ucap Adam kesal dalam hatinya.
Sore harinya Nisa sudah berada di kontrakan nya menunggu kepulangan Adam dari tugasnya. "Mas kok kamu gak balas pesan-pesan aku sih, kamu marah apa sedang sibuk!" ucap Nisa lirih hatinya dan mengecek terus handphone nya berulang kali.
__ADS_1
Tak lama kemudian, suara motor Adam terdengar oleh Nisa lalu ia pun buru-buru keluar untuk menemui Adam yang baru saja turun dari motor nya. "Assalamualaikum mas, baru beres ya kerjaan nya?" tanya Nisa lembut.
Adam mendelik mata nya sebal hanya diam tak menjawab ucapan Nisa, lalu ia pun berjalan melewati Nisa yang berdiri di dekatnya. "Mas gak di jawab salam aku dosa lho!" kata Nisa cemberut.
"Wa'alaikumussalam." ucap Adam cepat dan ketus.
"Mas marah sama aku, mas salah paham tadi yang mas lihat tidak seperti yang kamu pikirkan mas." jelas Nisa lembut dan pelan mengikuti kemanapun Adam melangkah.
Adam menghentikan langkahnya. "Oh jadi kamu pikir saya bodoh, saya buta!" emosi Adam berucap.
"Mas aku gak ngomong gitu, mas cuma salah paham, tolong dengarkan aku bicara mas, aku pasti jelasin semuanya." ujar Nisa menjawab Adam dan menghalangi langkah Adam yang akan masuk ke kontrakan nya.
"Minggir kamu!" ucap Adam ketus saat Nisa terus menghalangi langkahnya.
"Mas tolong dengarkan aku dulu!" ucap Nisa memohon.
Adam menatap wajah Nisa yang sayu penuh memohon, namun Adam terus saja tidak mau mendengar penjelasan Nisa, rasa cemburunya sedang menutupi mata hati nya. Adam terus masuk saja kedalam kontrakan nya dan Nisa pun terus mengikuti Adam kemanapun ia pergi.
Ceklek pintu kontrakan Adam di kunci oleh Adam dengan sengaja dan kunci nya ia masukkan kedalam kantong bajunya setelah Adam dan Nisa sudah berada di dalam ruangan. "Mas kenapa pintu nya di kunci?" tanya Nisa panik, ini kedua kali nya ia masuk ke dalam kontrakan Adam dan waktu pertama ia masuk Adam sedang sakit sedangkan sekarang ia terpaksa masuk karena ingin menjelaskan kepada Adam dan begitu panik nya saat Adam mengunci pintu nya.
"Mas kamu jangan macam-macam mas, kalau kamu macam-macam aku akan teriak!" ancam Nisa semakin panik saat Adam semakin mendekat ke arahnya dengan tatapan tajam sedangkan Nisa sudah tidak bisa lagi mundur karena terbatas tembok.
Adam tidak menggubris perkataan Nisa dan ia pun tidak takut dengan ancaman Nisa. "Silahkan kamu teriak, toh kita juga sebentar lagi akan menikah, jadi bagi saya tidak masalah!" ucap Adam dengan pelan membuat Nisa semakin takut.
Nisa menahan dada Adam yang semakin dekat dengan tubuh nya Nisa pun memalingkan wajah nya tak berani menatap Adam yang tatapan matanya sangat berbeda.
"Ma...mas aku bisa jelaskan kejadian tadi, kamu benar-benar salah paham." ucap Nisa gugup, saat Adam semakin semakin dan semakin dekat bahkan napas nya Adam pun terasa di pipi kirinya.
Adam tersenyum licik. "Jelaskan apa lagi seperti nya tadi sudah jelas." sahut Adam santai.
Nisa semakin menahan tubuh Adam yang begitu dekat dengan tubuh nya, ini pertama kalinya Nisa dan Adam sedekat ini bahkan lebih dekat. "Mas aku mohon, jangan seperti ini mas, kamu seperti bukan mas Adam yang aku kenal kamu benar-benar membuat aku takut mas, aku mohon jangan lakukan ini." lirih Nisa pada Adam.
Adam tersenyum sinis. "Saya cemburu Nisa, Queennisa Khumaira saya cemburu melihat kamu bersama dia bahkan tadi saya melihat kamu sedekat itu dengan nya." aku Adam pelan namun tajam.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan mas, tolong kasih aku waktu untuk menjelaskan nya." pinta Nisa lirih.
Adam mendekatkan wajahnya pada wajah Nisa menatap Nisa dengan tatapan penuh cinta namun tersimpan sedikit rasa kecewa.