Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
extra part 2


__ADS_3

Bulan ini Via yang sudah menginjak kehamilan bulan yang 8 bulan, ia sengaja tidak meminta dokter untuk memberitahukan apa jenis kelamin si bayi. Baginya yang terpenting adalah kesehatan bayi dan kesempurnaan bayi yang lebih diutamakan. Namun sayangnya kehamilan Via ini sedikit bermasalah, karena setiap bayi ini di periksa dan di USG oleh dokter posisi bayi belum berubah masih betah dalam posisi sungsang.


Posisi sungsang ini membuat Via dan Aris merasa khawatir karena bagi kehamilan yang normal bayi jika sudah menginjak kehamilan bulan ke 7 sudah dalam posisi yang normal. Yaitu posisi dimana kepala bayi sudah berada di pinggul sang ibu, tinggal menunggu waktu lahir nya saja, tapi tidak dengan kehamilan Via yang bermasalah.


Dokter mengatakan jika pinggul Via itu kecil kemungkinannya si bayi merasa sempit untuk berputar, itu perkiraan dokter tapi Via berusaha untuk bisa melahirkan dengan normal seperti ibu-ibu yang di beri kesempatan untuk melahirkan secara normal.


Dokter juga mengatakan ada sebagian bayi ketika akan lahir baru ia berputar ke posisi normal namun ntahlah bagaimana dengan kehamilan Via saat ini, dokter juga menyuruh Via untuk sering berjalan kaki, mengepel dengan cara berjongkok dan yang paling utama Via harus sering bersujud.


Pagi ini adalah hari Minggu, kebetulan Via saat ini tidak akan pergi ke rumah sakit dan kebetulan juga Aris tidak sedang pergi bertugas.


Aris menciumi seluruh wajah Via dengan lembut dan pelan. Di cium nya kening Via, dua mata Via kiri dan kanan, lalu kedua pipi bergantian, beranjak pindah ke hidung mancung Via dan turun ke bibir Via dengan lembut. Namun sepertinya Via tidak merasakan sentuhan-sentuhan lembut Aris padanya karena ia masih saja tidak bergerak dalam tidurnya hanya terdengar suara nafas Via yang masih terdengar lembut dan teratur.


"Sayang... bangun." bisik Aris di telinga Via. "Bumil ku sayang... bangun ini sudah siang ayok bangun."


"Hemmm jangan ganggu aku masih ngantuk!" gumamnya pelan.


Aris tersenyum. "Ayok kita jalan-jalan pagi mumpung kita ada waktu bersama." ajak nya lembut. "Aku mau ajak detun jalan pagi." tambahnya.


"Aku masih ngantuk malam aku gak bisa tidur!" rengek nya.


"Kamu lupa ya dokter bilang apa? Kamu itu harus sering jalan apalagi jalan pagi kan enak bikin badan juga seger." ucap Aris mengingatkan.


Via langsung membuka kedua matanya cepat, lalu beranjak bangun dari tidurnya membuat Aris keheranan dengan sikap istrinya itu.


"Sayang kamu mau kemana? Apa kamu sedang bermimpi?" tanya Aris sambil ia mengejar Via yang masuk ke kamar mandi. "Via ada apa sih? Tiba-tiba kamu begitu!"


Aris kembali melangkahkan kakinya menuju arah ranjang lalu ia duduk. "Ada apa sih!" ia bingung tanpa ada jawaban dari Via.


Tak lama terdengar pintu kamar mandi yang terbuka. "Ayok bang mandi sana! Tadi ajak aku jalan-jalan sekarang malah bengong begitu!" ucap Via kesal melihat suaminya malah diam saja ketika dirinya sudah selesai mandi.


"Tadi kamu kenapa tiba-tiba bangun, lalu pergi begitu saja masuk ke kamar mandi?" tanyanya penasaran.


"Aku kan harus sering jalan bang, aku baru ingat tadi saat kamu kasih tahu." balas nya cengengesan.


"Aku kira ada apa." ucapnya lega. "Lain kali jangan membuat ku khawatir!" serunya.


"Iya!" sahut nya . "Sudah sana mandi! Ingat jangan lama-lama!" ucapnya seraya mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Aris dan Via keluar rumah berniat untuk berjalan-jalan sekaligus olahraga bersama. Aris merangkul pinggang Via yang sudah penuh oleh isi sang bayi yang sudah sangat membesar. Sesekali Aris mengusap-usap pinggang Via itu.


"Ih geli tahu!" ketus Via sambil melepaskan eratan pelukan Aris pada pinggangnya itu. "Ah aku cape." keluh nya seraya duduk di kursi Taman.


"Mau minum? Atau mau makan?" tawar Aris pada Via.


"Mau dua-duanya." hehe sahut nya cengengesan.


"Hemm dasar bumil!" usap Aris dengan lembut pada kepala Via. "Mau makan apa?" tanyanya sambil berjongkok dan mendongakkan kepalanya menatap wajah Via.


"Terserah! Apa aja yang penting bisa bikin aku kenyang." jawab nya tanpa malu.


"Bubur ayam mau?" tanya Aris.


"Ah bubur gak bikin aku kenyang." sahut nya asal.


"Nasi uduk mau?" tawar Aris.


"No, aku gak mau nasi uduk." tolak nya cepat.


"Ih kamu kok gitu sih! Aku kan lapar, aku lagi hamil butuh makanan yang sehat dan banyak." serunya.


"Ya tapi aku bingung makanan apa yang kamu mau!" ucapnya kesal.


"Hemm kita pulang aja yuk, aku seperti nya mau makan nasi goreng buatan kamu deh sekarang." ucapnya seraya tersenyum membayangkan enaknya nasi goreng itu.


Aris mengusap kepala Via dengan gemas. "Hemmm kamu bikin aku kesal pagi-pagi untungnya... aku sayang kamu." ucapnya seraya mencubit pipi Via yang sudah tembem seperti bakpao. "Pipi bakpao!" ejeknya saat dia mencubit pipi istrinya yang tembem dan menjadi merah karena cubitan itu.


"Ih sakit..." rengek nya. "Aku tembem juga gara-gara perbuatan kamu!" gerutu nya kesal sambil memegang kedua pipinya yang terasa panas.


"Eh coba ucapkan lagi!" pintanya pura-pura tidak mendengar apa yang di ucapkan Via.


"Ucapan yang mana?" pura-pura tidak mengerti maksud Aris.


"Itu kata-kata yang terakhir kamu ucapkan. Aku mau dengar sekali lagi coba!" goda nya membuat Via kembang kempis menahan untuk tidak menjawab apa yang tadi ia ucapkan.


"Kepo ah." goda nya seraya berjalan dengan cepat meninggalkan Aris diam berdiri menatap nya. Dan Aris mengejar Via dengan lari kecil saat Via berjalan dengan cepat.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Via langsung meminta untuk di buatkan nasi goreng buatan suami tercinta. Aris yang terbiasa memasak makanan pun bukan hal yang sulit untuk mengabulkan keinginan istrinya itu. Malah ia senang bisa membuat istrinya makan makanan yang ia masak di rumah nya.


"Bang...." panggil nya. Kini posisi Via sedang duduk di ruang makan dan memperhatikan suaminya yang sedang memasak untuk nya.


"Ada apa? Kamu sudah lapar ya? Masakan aku nya juga belum siap. Tunggu sebentar lagi ya bumil." seru Aris dengan lembut.


"Bukan itu, aku cuma mau tanya sama kamu." ujarnya pelan.


"Tanya apa sayang? Seperti nya sangat serius!" ucap Aris membalikkan tubuhnya lalu ia melihat mimik muka Via yang begitu serius.


Via menggigit bibir bawahnya agak sedikit ragu. "Emmm kalau seandainya aku meninggal saat aku melahirkan anak kita, apa nanti setelah aku tiada kamu akan menikah lagi dan mencari ibu sambung untuk anak kita?" tanyanya lirih dan menundukkan wajah kebawah seraya meremas ujung kain taplak meja makan.


Aris terdiam dia bingung untuk menjawab, bukan bingung karena ia ingin menikah lagi atau tidak namun ia heran kenapa istrinya tiba-tiba bicara seperti itu.


Aris mendekat ke arah Via dimana ia duduk. "Sayang kenapa kamu bicara seperti itu, aku gak suka. Kita akan membesarkan anak-anak kita bersama. Jadi, jangan berpikir yang macam-macam!" tegasnya.


"Aku kan cuma nanya." lirih nya pelan.


"Shut! Jangan bicara hal seperti itu lagi!" ucapnya tidak mau dibantah.


"Tapi..." ucap Via terpotong oleh kecupan lembut yang Aris berikan pada bibir Via.


"Aku tidak mau mendengar kata-kata seperti itu lagi, jika hal itu terjadi, aku akan meminta kepada Tuhan agar aku tidak di pertemukan dengan perempuan lain lagi, aku akan menunggu sampai ajalku menjemput dan aku akan menemui mu di sana." jawabnya nya penuh keyakinan.


Via tersenyum lega akan jawaban suaminya itu, yang pasti untuk saat ini ia merasa bahagia dengan ucapan suaminya itu, ya walaupun kita tidak akan tahu nanti nya akan seperti apa.


"Terima kasih, karena kamu sudah menjadi suami ku yang terbaik, selalu memperlakukan aku sebagai wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku gak nyangka ternyata laki-laki yang sangat aku benci dulu adalah laki-laki yang sudah memberikan rasa cinta nya dengan


sepenuh jiwa nya. Aku yakin itu karena semua perbuatan mu padaku sudah membuktikan bahwa kamu laki-laki terhebat ku." ucap Via dengan mata berkaca-kaca.


Aris tersenyum dan mengecup kembali bibir Via dengan penuh kelembutan, setelah puas Aris pun melepaskan nya. "Iya sudah kita makan ya. Sepertinya anak kita sudah kelaparan." goda nya seraya mengelus perut Via dengan lembut dan tendangan bayi dalam perut Via pun terasa oleh Aris. "Wah kamu benar-benar lapar ya." ucap Aris terus mengelus perut Via dan bayinya pun terus saja merespon dengan tendangan-tendangan kecil membuat Aris tersenyum dan sangat bahagia.


Assalamualaikum


Hai hai nanti mampir ya ke karya aku yang baru lanjutan kisah anak Aris dan juga anak Nisa. Cerita nya masih berhubungan dengan polisi sengaja sih pilih tema berbau abdi negara biar pas aja dengan cerita ini. Tapi belum aku publikan ceritanya karena mau tambah extra dulu.


Jika berkenan untuk mampir silahkan nanti tunggu kisah mereka dan anak-anaknya. Terima kasih sebelumnya. Salam hangat dari aku 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2