Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
luka


__ADS_3

Di perjalanan pulang Via dan Aris menggunakan mobil online karena Aris tidak membawa kendaraan sendiri. Aris selalu menampilkan senyum nya saat ia melihat wajah istrinya yang ada di sampingnya itu. Genggaman tangan tidak pernah lepas dari tangan Aris, sesekali meremas tangan istrinya itu dengan gemas. Via mencoba melepaskan genggaman Aris dari tangannya itu namun Aris tidak mau melepaskan nya.


"Malu bang sama sopir di depan." bisik Via pada telinga Aris karena Aris dari tadi terus saja menciumi tangan Via.


"Dia tidak lihat!" sahut nya. "Iya kan pak sopir?" tanya Aris tanpa melihat ke arah depan dimana sopir itu berada.


"Iya!" sahut nya cepat dan gugup membuat Via menepuk tangan Aris yang mulai nakal.


"Kangen..." serunya.


"Lho kita mau kemana? Perasaan ini bukan daerah rumah kita?" tanya Aris penasaran saat arah jalan jalan yang berbeda.


"Kan aku tinggal di rumah dinas kamu lupa?" ujar Via mengingatkan suaminya itu.


"Jadi kita mau tinggal di rumah dinas aja? Kenapa sih kok tiba-tiba kamu mau tinggal di sana. Sekarang kan aku sudah pulang kenapa kita gak ke rumah pribadi saja?" jawabnya heran.


"Ya aku udah nyaman aja tinggal di rumah dinas, di sana juga lebih aman!" elak Via mencoba tidak gugup saat suaminya itu bertanya.


"Emh begitu! Ya terserah kamu lah tapi... jika kamu tinggal di rumah dinas kamu harus siapkan diri kamu agar kamu ikut kegiatan yang di adakan di sana dan kumpul bersama ibu-ibu Persit lainnya." tutur Aris.


"Aku sering kok ikutan acara kegiatan di asrama dan itu cukup menyenangkan buat aku ya... walaupun aku jarang berkumpul dengan mereka karena aku juga punya pekerjaan." jawab Via dengan tersenyum menatap wajah suaminya itu dan Aris mengacungkan jempolnya pada Via.


Setelah di depan gerbang kompleks asrama Aris langsung membuka kaca mobil nya. "Buka!" perintah nya pada salah satu tentara yang sedang jaga.


Melihat atasan nya menyuruh nya membuka pintu seorang prajurit itu dengan cepat mengangkat tangan nya memberikan hormat pada atasannya itu dengan tubuh sigapnya. "Siap komandan!" ucapnya seraya membuka portal penghalang jalan masuk ke kompleks asrama raider itu.


Sesampainya di depan rumah dinasnya mereka pun turun dan sejenak Aris diam di depan rumah yang akan mereka tempati. Aris menghirup nafas nya panjang. "Akhirnya aku sudah di sini juga. Berasa sedang bermimpi!" ujarnya dengan tersenyum penuh arti.


"Ayok masuk!" ajak Via melihat suaminya itu masih di depan rumah.


Dengan cepat Aris melangkah dan masuk ke dalam rumah nya itu sesekali mengitari setiap ruangan yang ada di dalamnya. "Kamu betah di sini?" tanyanya serius dan di angguki oleh Via.

__ADS_1


"Hei mau kemana?" tanyanya seraya menarik tangan Via dan membawa tubuh Via ke dalam pelukannya ketika ia melihat istrinya itu akan beranjak pergi.


"Aku mau ke kamar mau simpan tas." jawabnya gugup karena kini mereka dalam posisi yang begitu dekat. Posisi dimana tubuh Via sedang di dekapan Aris sedangkan Aris merangkul pinggang langsing istrinya itu dengan erat dan pandangan menatap wajah Via dengan begitu intens.


"Sudah nanti saja, aku merindukan mu sayang." ucapnya berbisik membuat tubuh Via berdesir dan menimbulkan rasa panas saat keadaan seperti ini. Ya walaupun mereka sudah bersuami istri namun karena ini kali pertama nya mereka bertemu setelah setahun ini mereka tidak saling bertemu secara langsung.


"Tapi... aku gerah seperti nya aku harus mandi!" elaknya gugup membuat Aris semakin erat memeluk Via. Via pun menjadi terdiam, lalu Aris mendekatkan wajahnya pada wajah Via dan menempelkan kening nya pada kening istrinya dengan memejamkan kedua matanya meresapi rasa rindu nya yang membuncah.


Via semakin gugup di buat nya karena perlakuan romantis suaminya itu menurut Via, lalu Aris pun mencium kening Via dengan begitu lama, turun ke hidung lalu terakhir Aris melihat bibir Via yang selalu ia rindukan apalagi saat istrinya itu sedang ketus terlihat bibir nya yang selalu cemberut dengan cepat Aris pun mencoba akan mencium bibir Via itu namun di tolak oleh Via membuat Aris merasa heran di buat nya. "Kenapa Kamu tidak mau?" tanyanya kecewa.


"Bukan tidak mau tapi tuh...!" tunjuk Via ke arah pintu rumah yang masih terbuka dengan lebar karena saat tadi masuk suami nya lupa menutup pintu rumah nya itu.


Aris mengikuti arah yang di tunjuk istrinya itu padanya. Aris tersenyum melihatnya. "Bagaimana jika ada yang lewat lalu mereka lihat apa yang kita lakukan tadi." ucap Via cemberut karena kesal juga suaminya itu tidak lihat kondisi.


"Tidak apa-apa kita kan suami istri jadi apa salahnya." elaknya cuek seraya menutup dan mengunci pintu itu dengan cepat lalu menghampiri kembali pada istrinya.


Via mencoba akan pergi lagi namun lagi-lagi Aris menghalangi langkah Via. "Awas ah aku mau ke kamar!" ucap Via namun Aris tidak mendengarkan nya suaminya itu langsung saja memeluk Via dengan erat. "Jangan menolak lagi!" ucapnya lembut tapi terdengar tegas.


"Kenapa dengan lengan kamu?" tanya Via dengan cepat karena ia memegang lengan Aris seperti di gulung dengan perban. Lalu Via pun menatap wajah suaminya itu masih menahan rasa sakit nya. Via mencoba membuka seragam lengan yang setengah di gulung oleh suaminya itu karena Aris masih memakai seragam TNI nya.


"Ayok buka lengan bajunya aku mau lihat lengan kamu kenapa!" titah nya seraya mengajak Aris untuk duduk di sofa.


Aris tersenyum. "Aku tidak apa-apa, ini hanya luka kecil kok." jawabnya.


"Buka seragam nya!" titah Via tidak percaya apa yang di ucapkan suami nya itu.


Aris menurut apa yang di perintahkan oleh istrinya itu ia membuka seragam nya dan di bantu oleh Via. Membuka kancing satu persatu dan melepaskan seragamnya itu dengan hati-hati saat di lengan sebelah kanannya yang terluka itu. Via melihat lengan kanan suaminya itu terluka karena terlihat di perban. Dan karena tadi lengan nya Aris oleh Via agak sedikit di remas membuat lukanya itu sedikit merembes darah pada perban putihnya yang terlihat menjadi berwarna merah segar.


"Kenapa kamu gak bilang kalau sedang terluka seperti ini?" ucap Via merasa khawatir dan sedikit panik juga karena dirinya nya membuat suami nya itu meringis kesakitan.


"Aku memang tidak apa-apa sayang, cuman tadi kamu pegang lengan aku begitu kuat jadi lumayan sakit hehe sedikit sakit maksudnya." elaknya cengengesan agar istrinya itu tidak perlu khawatir.

__ADS_1


"Habisnya tadi kamu begitunya kuat banget jadi aku harus nahan sama tangan kamu!" cebik Via mengingat ciuman Aris yang bersemangat tadi.


Aris tergelak mendengar ucapan istrinya itu. "Aku kan kangen sama kamu!" goda nya membuat Via memerah.


Via mendengus. "Kangen apa nafsu!" sahut nya sebal.


"Dua-duanya hehehe." sahut nya cengengesan membuat Via dengan tidak sengaja memukul lengan Aris yang terluka itu.


"Aduh sakit sayang!" ringis Aris pelan.


"Eh maaf sengaja!" goda Via pada Aris membuat Aris terdiam. "Tadi kamu bilang gak sakit tapi sekarang kok jadi diam begitu!" sambung nya.


"Memang gak sakit kok cuma perih." elaknya.


"Hemmm." Via hanya berdehem akan jawaban dua itu seraya membuka perban luka di lengan suaminya itu.


"Eh kamu mau apa?" tanyanya panik.


"Aku mau obati luka kamu dan mengganti perban nya dulu." ujarnya seraya dengan telaten. "Ini takut nya infeksi kalau di biarkan! Ini luka tembak seperti nya!" tambahnya.


"Iya ini oleh-oleh dari pulang bertugas!" sahut nya pelan.


"Ini kok asal banget sih penanganan nya!" ucap Via dengan masih serius mengobati luka suaminya.


Aris tersenyum. "Namanya juga darurat! Lagi pula aku kan punya istri seorang suster jadi tidak khawatir pasti istri ku yang cantik ini bakal obati aku dengan baik dan merawat ku dengan baik dan memberikan penanganan yang baik pula." goda Aris dengan menatap wajah istrinya yang sedang serius mengobati lengannya itu.


"Ini sih harusnya di bawa ke rumah sakit terus disuntik di berikan obat melalui suntikan." goda Via membuat Aris panik saat mendengar kata-kata jarum suntik.


"Ah ti... tidak usah ke rumah sakit dan di suntik ini lukanya juga sedikit lagi juga pasti sembuh apalagi yang rawat nya istri ku sendiri." ujarnya gugup namun masih saja menggodanya.


"Serius kamu gak mau ke rumah sakit?" tanya Via dan di angguki dengan cepat oleh Aris membuat Via tersenyum geli dengan mimik wajah suaminya menyembunyikan kepanikan nya akan jarum suntik.

__ADS_1


__ADS_2