
"Via kamu kemana aja sih? Aku cari kamu dari tadi!" tanya Sofi sedikit kesal pada rekan kerja sekaligus sahabat nya itu. "Eh bentar deh kenapa pinggang kamu? Kamu sakit?" tambah nya menjadi khawatir saat melihat sahabatnya itu jalan tertatih dengan memegang pinggangnya.
"Aku tadi habis kesenggol sama pintu mobil." jawabnya kesal.
"Kesenggol pintu mobil?" tanyanya tak percaya. "Gimana ceritanya sih kamu bisa kena pintu mobil, orang biasanya ketabrak mobil ini malah kena pintu mobil, ada-ada aja sih kamu, gak elit!" goda Sofi tergelak mendengar Via sahabat nya itu bercerita.
Satu lemparan pulpen melesat pada wajah Sofi sampai ia mengaduh kesakitan. "Aduh... sakit Via..." geram Sofi pada Via yang cengengesan.
"Rasain tuh! Orang lagi sakit malah ngetawain nah bilang gak elit segala. Memang kecelakaan mesti pilih-pilih, mana bilang gak elit lagi?" tanyanya kesal.
"Iya ada gitu, ada seorang perempuan cantik tertabrak pintu mobil mengenai pinggangnya dan sekarang sedang ada di rumah sakit, ia dikabarkan kesakitan." ucapnya dengan gaya seperti reporter acara berita diakhiri dengan cengengesan.
"Apaan sih kamu gak jelas." gerutu Via.
"Eh ngomong-ngomong kenapa kamu bisa kesenggol pintu mobil gitu mang tadi kamu mau kemana?" tanya Sofi penasaran.
"Tadi aku habis parkir motor terus karena udah telat aku buru-buru motong jalan dekat parkiran kan biar cepat, eh pas aku lewat tiba-tiba ada orang buka pintu sembarangan gak lihat-lihat dulu." ucapnya sebal.
"Itu yang buka pintu sembarangan itu cewek apa cowok, ibu-ibu apa bapak-bapak terus masih muda apa udah tua?" beruntun pertanyaan Sofi lontarkan dengan cepat.
Via mendengus kesal mendapatkan pertanyaan begitu banyak dari sahabatnya itu. "Kamu ya udah kayak wartawan aja kasih pertanyaan banyak begitu, pusing aku jawabnya." sungut Via kesal membuat ia cemberut.
"Iya tinggal jawab aja satu-satu ribet amat hidupmu!" tandasnya.
Via menghirup nafas nya dalam-dalam. "Males aku ceritain dia tadi aku sempat adu mulut itu sama orang, dia bikin kesal aku aja." sahut nya sebal.
"Wah roman-roman nya cowok ini yang tadi bikin kamu kesal, bener gak?" tanyanya dengan selidik.
"Iya dia cowok masih muda, ya kayak nya gak jauh deh sama umur kita." jawabnya cepat. "Udah ah gak usah bahas tuh cowok bikin hati aku tambah gak mood aja." ucapnya sebal.
__ADS_1
"Wah jodoh kamu kali itu haha, eh jangan galak-galak sama cowok, aku sih ngerti kecewa sama mantan tunangan kamu bukan berarti kamu harus benci sama setiap cowok, gak semua cowok itu brengsek kayak tunangan kamu itu masih banyak kok cowok yang baik di luar sana." tutur Sofi memberi tahu sahabat nya itu agar tidak terlalu jutek pada setiap laki-laki.
Iya Novia nur Ramadhani dia adalah seorang perawat cantik yang baru saja bekerja di rumah sakit ternama di Jakarta, ia dulunya bekerja di salah satu rumah sakit di kota kelahirannya, Novia yang sering akrab di panggil dengan nama Via itu di pindah tugaskan dari rumah sakit x x ke rumah sakit y y karena ia adalah perawat yang cukup berpengalaman dan dulunya juga berfrestasi.
Novia saat ini ia sedang patah hati karena calon tunangannya memutuskan nya karena perempuan lain yang mungkin lebih menarik atau memang laki-laki yang tidak pantas untuknya. Padahal Via dan tunangannya itu sudah menjalin hubungan bertahun-tahun semenjak Via masih duduk di sekolah menengah atas sedangkan tunangan nya itu sudah duduk di perkuliahan. Pertunangan mereka memang masih setahunan dan rencana mereka akan menikah tahun depan, namun rencana hanyalah sebuah rencana Via sudah mengetahui bahwa calon tunangannya itu telah menduakan nya.
Semenjak patah hati Via jadi perempuan yang jutek pada setiap laki-laki apalagi jika laki-laki itu masih muda, padahal dia perempuan yang cantik bahkan ada seorang dokter bernama Lucky yang wajahnya tampan hampir setiap perempuan yang bekerja di rumah sakit ini menyukainya, dokter Lucky memiliki perasaan pada Via namun Via dengan tegas telah menolaknya.
"Ah menurut aku semua laki-laki sama, saat dia suka dia bakal terus mengejar lalu saat dia sudah dapat di tinggalkan begitu saja, memang aku gak punya hati dan perasaan mereka enak-enak mencari kesenangan mereka tanpa memikirkan perasaanku yang ada disini." ucap Via pada Sofi yang sedang memperhatikan nya.
"Sakit banget ya Via?" tanyanya dengan menatap serius.
"Sakit fi."
"Tapi kamu masih perawan kan?" tanya Sofi penuh selidik.
"Iya aku masih perawan lah, kenapa kamu tanya begitu?" tanya Via heran.
"Ya kalau masih perawan mah santai aja kita gak rugi toh bisa cari laki-laki lain yang lebih baik buat kita." sahut Sofi cepat dan di angguki Via yang membenarkan ucapan Sofi.
Esok harinya Aris yang sedang tidak bertugas ia hari ini mendapatkan tugas malam dan kini ia sudah menenangkan hati dan otak nya kemarin yang sempat panas akibat melihat sikap Nisa yang begitu mesra terhadap Adam suaminya, kini Aris sudah sangat tenang kemarin ia melampiaskan kecemburuannya dengan pergi ke sebuah tempat untuk berlatih tembak dan disanalah Aris melampiaskan kekesalannya agar dia lebih tenang.
Bahkan teman-teman nya yang ada disana geleng-geleng kepala melihat sikap Aris seperti itu, hanya sahabat nya Syam yang tahu kenapa Aris bisa bersikap seperti itu, untung Aris melampiaskan nya pada tempat latihan penembakan bukan pada orang yang membuat ia kesal. Sebagai TNI ia harus bisa menahan emosi nya, bahaya jika ia lampiaskan langsung terhadap orang maka dari itu ia melampiaskan nya di tempat pelatihan penembakan.
Hari ini Aris berniat untuk menjenguk Adam karena Nisa yang kemarin menelponnya ia merasa Nisa membutuhkan atau ada sesuatu yang Nisa ingin sampaikan, walaupun Aris tidak tahu itu benar atau hanya perasaan nya saja.
Saat sudah sampai Aris langsung mengetuk pintu ruangan Adam dimana ia di rawat. Nisa yang mendengar ketukan pintu langsung membukanya. "Assalamualaikum Nisa?" sapa Aris pada Nisa yang membuka pintu ruangan Adam.
"Wa'alaikumussalam eh kamu Aris, masuk aja Ris!" ajak Nisa dan Aris mengikuti langkah Nisa dari belakang.
__ADS_1
"Mas ada Aris." ucap Nisa lembut pada Adam yang sedang memejamkan matanya.
"Eh gak usah di bangunkan Nis pak Adam sedang istirahat begitu." ucap Aris sungkan.
"Mas Adam gak tidur kok cuma merem aja iya kan mas? lagian gak boleh tidur mulu walaupun dia masih sakit juga." jawab Nisa menatap wajah Adam dan Adam cuma diam saja.
Aris tersenyum melihat Adam. "Bagaimana keadaan pak Adam sekarang? Apa sudah lebih baik?" tanya Aris pada Adam.
"Iya sudah lebih baik, iya kan sayang?" jawab Adam lalu Adam pun menatap Nisa dan meremas tangan Nisa dengan lembut.
"Iya mas Adam sekarang sudah lebih baik." tambah Nisa.
"Ya syukur lah." jawab Aris cepat.
Saat mereka berbincang-bincang dua orang perawat perempuan dan laki-laki datang membawakan alat medis untuk memeriksa keadaan Adam dan memeriksa infusan Adam untuk segera diganti.
"Assalamualaikum permisi ya Bu pak saya ijin memeriksa pak Adam dulu." ucap salah satu perawat perempuan itu.
"Wa'alaikumussalam, oh iya silahkan sus." Nisa mempersilahkan kedua perawat itu.
"Permisi pak saya mau memeriksa pasien dulu bisa bapak geser dulu." ucap suster itu dengan sopan pada Aris karena ia menghalangi nya saat akan mengecek infusan Adam.
Aris yang sedang di dekat Adam pun menggeser kan tubuhnya dan mundur memberikan ruang untuk suster itu memeriksakan Adam, namun saat ia melihat pada suster itu ia terkejut bahwa suster itu adalah perempuan yang kemarin membuat nya kesal, ya walaupun kemarin memang kesalahan nya karena sudah membuat perempuan ini terjatuh namun karena perempuan yang ada di hadapannya ini sudah marah-marah kepada nya padahal dia sudah meminta maaf padanya.
"Kamu?" ucap Aris pelan namun terdengar seperti kesal.
Mendengar ucapan Aris yang dekat sekali di telinganya membuat Via menoleh dan menatap ke arah wajah Aris. "Anda?" gumamnya.
Mereka saling menatap dengan sengit seperti ada kebencian yang mereka lihat dari kedua mata masing-masing. Via lah yang memutuskan tatapan tajam mereka karena ia sadar jika ia sedang bekerja dan akan memeriksa pasien yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Via kembali melihat ke arah Adam dengan tersenyum ramah dan sopan ia pun langsung memeriksa Adam di bantu oleh rekan perawat laki-laki yang tadi bersama nya agar pemeriksaan cepat selesai, berlama-lama di ruangan dan ada orang yang kemarin membuat nya sakit rasanya malas sekali.