
Aris tersenyum mengejek. "Saya tidak akan macam-macam, hanya satu macam dan itupun kalau kamu ijinkan dengan kata... suka, sama, suka!" ujar Aris menatap wajah Via yang menatap tajam padanya karena ucapannya itu.
"Jangan harap itu terjadi!" sahut nya cepat dengan senyum miring. "Karena urusan kita sudah selesai, saya pulang sekarang!" ijin Via seraya berdiri akan pergi.
"Tunggu! Pesanan makanan kamu juga belum datang, ayolah kita makan dulu soal pulang nanti saya akan antar kamu!" balas Aris menahan Via untuk pulang.
"Saya tidak lapar, tapi saya capek, saya ingin segera pulang!" sahut nya.
"Hanya untuk makan saja sebentar, nanti kita langsung pulang." ucap Aris mencoba mengajak Via untuk makan dahulu.
"Ok hanya makan!" serunya.
Saat mereka sedang menunggu pesanan makanan datang Via yang mencoba mencari kesibukan dengan handphone nya sedangkan Aris menatap terus ke wajah Via memperhatikan secara insten. Via yang menyadari jika Aris sedang memperhatikannya menjadi panas dingin bingung harus bersikap bagaimana.
Aris yang masih memperhatikan Via dan terlihat Via seperti salah tingkah karena ia perhatikan membuat Aris tersenyum, semakin ia ingin terus menatap perempuan yang berposisi di hadapannya itu.
"Makanan nya lama banget datang nya sih!" batin Via sebal bukan karena lapar namun dia ingin agar Aris teralihkan dari tatapan yang menatapnya.
"Lucu sekali kamu, salah tingkah kamu membuat saya semakin ingin menatap kamu suster galak ku." batin Aris terus saja memandangi wajah Via.
Di saat batin mereka saling berbicara ada seorang perempuan melihat ke arah meja dimana Via dan Aris duduk. Perempuan itu menghampiri meja mereka lalu berdiri dekat Aris. "Kamu Aris kan?" tanya nya namun Aris mengerutkan keningnya mengingat siapa perempuan yang sekarang mengenalinya.
"Maaf siapa ya?" tanya Aris tidak mengingat perempuan ini.
"Ya ampun Aris kamu lupa sama aku! Aku Kayla mantan pacar kamu saat SMA." ucapnya mengingatkan Aris.
"Oh Kayla! Maaf saya lupa. Soal nya kamu terlihat berbeda sekali." balas Aris baru ingat perempuan ini sempat menjadi kekasih nya pada waktu dulu ketika duduk di bangku SMA.
Wajah nya dulu cantik tapi tidak seperti ini, mungkin karena dandanan yang sangat berbeda atau seperti terlihat di operasi plastik jadi Aris tidak langsung mengenali nya berbeda dengan Via perempuan yang akan menjadi istrinya ini cantiknya terlihat alami, cantik karena pahatan sang pencipta aslinya.
"Kamu juga sangat berbeda sekali Aris, kamu semakin tampan saja dan ini otot kamu wow keren sekali!" ucapnya memuji Aris mantan kekasihnya itu dengan sedikit menggoda dan mencolok-colok otot Aris yang kekar itu dengan jari lentiknya.
Aris merasa tidak nyaman otot tangan nya ia sentuh oleh Kayla, tapi jika Via yang menyentuh nya sih akan beda lagi ceritanya.
"Kamu sedang apa di sini bukan nya kamu di luar negeri ya?" tanya Aris mengalihkan Kayla dan sedikit menjauh dari Kayla.
"Iya, sudah setahun aku tinggal di Indonesia, dan aku sekarang kerja di sini, saat ini aku mau bertemu dengan tamu ku, kita sudah janjian di sini!" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya pada wajah Aris. "Aku dengar kamu masuk kemiliteran apa itu benar?" sambungnya.
"Iya benar."
"Pantas saja otot kamu jadi begitu, saya suka!" ujar Kayla menggoda.
Via yang melihat Aris dan mantan nya seperti itu memutar bola matanya jengah dan bibir yang mengejek ingin memuntahkan sesuatu.
Aris melihat ke arah Via yang terlihat sebal itu. "Oh ya Kayla kenalkan ini Via dan Via ini Kayla." Aris mencoba memperkenalkan dua makhluk berjenis perempuan itu yang sangat berbeda karakter.
__ADS_1
Kayla mengulurkan tangannya mencoba berkenalan dengan Via dan Via pun membalas uluran tangan Kayla dengan muka serius tanpa ada senyuman.
"Aris aku boleh minta nomor kamu ya! Siapa tahu aku ada perlu sama kamu nantinya jadi dengan gampang aku bisa hubungi kamu?" pinta nya dengan lembut pada Aris.
Aris malah menatap Via. "Apa saya boleh memberikan nomor saya padanya?" tanya Aris menatap ke arah Via dengan serius meminta ijin.
Via yang di tanya seperti itu oleh Aris pun menjawab dengan cepat. "Terserah!" ucapnya ketus seraya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Aris yang mendapat jawaban Via seperti itu kembali menatap Kayla yang sedang memasang muka bingung, kenapa harus meminta ijin segala dari perempuan yang terlihat menyebalkan itu.
"Maaf ya Kayla saya tidak bisa memberikan nomor saya sama kamu. Sepertinya calon istriku ini tidak menyetujuinya." jelas Aris tidak bisa memberikan nomor ponselnya.
"Siapa sih perempuan ini, apa istimewanya dia sampai Aris harus meminta ijin dulu pada nya, apa sih yang membuat dia menjadi luluh dengan perempuan ini. Dulu saat kita pacaran kamu malah cuek sama aku harus aku saja yang merengek jika aku ingin meminta kamu untuk menemani ku, tapi sekarang dia bersikap manis seperti itu pada perempuan ini." batin Kayla kesal.
"Oh dia calon istrimu!" balas nya ketus.
"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya tamu ku sudah datang." ucapnya pamit seraya berdiri. "Semoga kita bisa bertemu lagi!" tambah nya dengan tatapan penuh harap.
Setelah kepergian Kayla Via langsung menatap Aris dengan penuh pertanyaan. "Kenapa?" tanya Aris penasaran melihat Via menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Kenapa anda bilang kalau saya tidak mengijinkan memberikan nomor handphone anda kepada dia, tadi kan saya bilang terserah bukan tidak boleh!" ucap Via sebal.
"Saya malas saja memberikan nomor saya padanya." sahut nya santai.
"Kenapa?" tanya Via penasaran.
Via yang mendengar jawaban Aris seperti itu membuat Via terdiam dalam lamunan nya. "Apa benar dengan ucapannya tadi, atau dia hanya sedang meyakinkan aku saja agar aku percaya dengan perkataan nya." batin Via dalam diamnya.
Via mengangguk-angguk kepala nya ntah harus percaya atau tidak dengan apa yang di ucapkan Aris baru saja.
"Jadi kapan anda akan menemui kedua orang tua saya?" tanya Via menatap serius pada Aris.
Aris tersenyum menggoda. "Kamu sudah tidak sabar ya menikah dengan saya?" ujar nya.
Via memutar bola matanya malas melihat Aris menggodanya. "Bukan seperti itu maksud nya, tapi ayah dan bunda ku hanya ingin kepastian saja dari anda!" sahut Via serius.
"Lebih cepat lebih baik, nanti saya kabari lagi kalau saya dapat cuti." ucapnya.
"Ok."
Pesanan makanan pun datang, di bawakan oleh seorang pelayan, lalu Via dan Aris pun memakannya. Ketika makan tidak ada obrolan lagi Aris yang seorang tentara ia makan dalam diam, cepat dan fokus pada makanan yang ada di hadapannya saja.
Via melirik pada Aris melihat dia sedang makan dengan fokus. "Rapi sekali dia makan, tidak banyak omong dan cepat." batin Via menilai Aris saat ia makan.
Aris lebih dulu selesai makan ia melihat ke arah Via yang sedang makan dan Via tidak sadar kalau di bawah dekat bibirnya ada saus yang menempel, Aris melihat itu ia pun menggeser posisi duduknya yang asalnya di hadapan Via sekarang di samping Via lalu mendekat ke arah Via dan menatap nya.
__ADS_1
Via yang melihat Aris mendekat padanya menjadi panik dan salah tingkah. "Apa yang mau dia lakukan!" batin Via panik.
Aris mengusap noda saus pada bibir Via dengan jari tangannya membuat Via pun refleks menyentuh bibirnya. "Kalau makan itu jangan belepotan! Seperti anak kecil saja." godanya dengan menatap wajah Via yang salah tingkah.
"Saya ke toilet dulu ya sebentar! Kamu lanjutkan saja makanya." ijin nya seraya menyuruh Via untuk menghabiskan makanan nya dan di angguki pelan oleh Via.
Setelah Aris pergi menuju toilet. "Apa sih dia bikin aku deg degan aja sih!" gumam Via sebal.
Setelah makan nya selesai dan urusan mereka pun sudah selesai Aris dan Via beranjak pergi dari cafe.
"Saya antar kamu pulang ya. Ini sudah mau magrib." ucap Aris menawarkan pada Via saat mereka ada di depan cafe.
"Tidak usah saya bawa motor dan masih terparkir di parkiran rumah sakit jadi tidak usah repot-repot mengantarkan saya pulang." Via menolak tawaran Aris yang ingin mengantarkan Via pulang.
"Kamu bisa simpan motor kamu disana. Besok berangkat kerja biar saya yang antar kamu lagi ke rumah sakit." saran nya yang membuat Via berpikir keras untuk menerima tawaran Aris itu.
"Ah tidak usah nanti saya jadi merepotkan anda!" masih menolak.
Via yang tidak mau merepotkan orang lain ia melangkah pergi berniat mengambil motor nya yang masih terparkir di rumah sakit. Tanpa melihat ke arah kiri atau kanan, karena Via merasa lelah saat tadi pulang bekerja.
Saat akan menyebrang jalan Via tidak sadar ada seorang pengendara motor yang mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi akan melintasi jalan.
Aris yang melihat Via dalam bahaya langsung berlari ke arah Via berada, dengan cepat dan tanggap Aris menarik tangan Via yang akan tertabrak oleh motor itu. Tubuh Via yang ia tarik dan langsung di dekap sampai tubuh nya jatuh dalam pelukan Aris yang menolongnya.
Via yang tidak tahu ada kendaraan yang akan melewati nya pun terkejut apalagi sekarang Aris sedang mendekap nya dengan erat, terlihat oleh orang lain itu mereka seperti berpelukan. Namun karena Via juga kaget dan takut membuat posisi mereka seperti berpelukan itu pun berdurasi panjang karena Via merasa nyaman.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aris panik masih dalam posisi yang sama.
"Tidak apa-apa." jawabnya cepat seraya mengendorkan pelukan nya pada Aris.
"Kalau nyebrang jalanan jangan menatap ke depan saja tapi lihat ke arah kanan dan ke arah kiri." omel Aris khawatir. "Jangan samakan dengan hidup kamu yang selalu fokus pada satu tujuan saja!" sambung nya lagi yang membuat Via terdiam. Ia mengerti akan maksud Aris mengatakan seperti itu padanya.
"Maaf tadi saya lelah, makanya saya kurang fokus." ucapnya lirih.
"Makanya saya akan antar kamu pulang, kalau kamu lelah begini akan bahaya jika kamu mengendarai motor sendiri." Aris mengucapkan itu dengan lembut dan penuh perhatian.
Dan pada akhirnya Via di antar pulang oleh Aris karena dari kejadian tadi membuat Via gemetar, mengingat tadi ia hampir saja ditabrak.
Aris menoleh melihat Via yang dari tadi diam saja. "Tidak usah kamu pikirkan masalah tadi, maaf saya membuat kamu merasa tidak nyaman." ucap Aris.
"Tidak, saya yang harus meminta maaf. saya memang terlalu fokus pada satu tujuan sehingga orang yang berada di dekat saya merasa tidak nyaman akan sikap saya ini." jelas Via pelan.
Aris yang mengerti maksud arah Via mengatakan hal seperti itu pun menjadi diam, lalu ia menghela nafasnya pelan. "Kamu bisa berubah kalau kamu mau, masih banyak waktu dan kesempatan untuk kamu merubahnya." ucap Aris meyakinkan Via.
"Apa saya bisa?" tanyanya tidak yakin.
__ADS_1
"Kalau kamu mau, bisa! Saya akan bantu kamu." ucapnya mantap seraya menatap ke arah Via dengan senyum penuh arti.