
"Anda harus sabar dan tabah mengetahui kabar ini Bu Nisa saya dan pihak rumah sakit sudah semaksimal mungkin dalam penanganan pak Adam, sekarang Bu Nisa dan keluarga pak Adam yang lainnya berdoa ya terbaik untuk pak Adam.
"Lalu bagaimana keadaan suami saya sekarang dokter? Saya ingin bertemu dengannya!" ucap Nisa terisak.
"Maaf Bu Nisa saya akan mengabarkan dahulu sekarang keadaan pak Adam kepada kalian semua." ucap dokter menatap wajah Nisa dan yang lain secara bergantian.
Dokter itu menghela nafasnya nya berat. "Kami sudah melakukan apa yang harus kami lakukan dengan baik dan semaksimal mungkin yang telah kami berikan untuk penanganan pak Adam, namun kami tidak bisa memberikan kabar baik kepada anda semua, mohon maaf sekali lagi, Tuhan lebih tahu bagaimana nanti keadaan pak Adam selanjutnya, sekarang pak Adam masih dalam keadaan kritis karena peluru itu menembus pada bagian dada pak Adam bahkan dua sekaligus peluru itu ada di dada pak Adam bahkan hampir mengenai jantung pak Adam, sekarang pak Adam belum sadarkan diri setelah kami berupaya mengeluarkan peluru itu, pak Adam sekarang koma." ujar dokter itu menjelaskan keadaan Adam saat ini.
Nisa menangis terisak dan hampir tubuh nya akan terjatuh karena terkejut dengan keadaan Adam suaminya saat ini, ia begitu terkejut dengan ucapan dokter yang barusan ia katakan, Adam suaminya sedang di ambang kematian atas terjadinya musibah yang menimpa nya.
"Dokter... dokter pasti salah kan? Apa yang dokter katakan tadi, mas Adam pasti selamat kan dok? Tolong dokter usahakan bagaimana pun caranya supaya mas Adam bisa selamat dan sembuh kembali." lirih Nisa semakin bergetar merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Mohon maaf Bu Nisa saya bukan Tuhan, saya hanya seorang dokter. Saya hanya bisa menolong pak Adam dengan tenaga medis tapi kita kembali lagi Tuhan lah yang akan menyelamatkan pak Adam dari komanya ini, ibu Nisa berdoa minta kepada Tuhan agar suami Anda bisa segera siuman dan tersadar dari komanya inilah cara satu-satunya dan harapan kita kepada Tuhan yang memberi kita keselamatan." tambah dokter itu menjelaskan.
Nisa lemas, tubuhnya terhuyung ke belakang Nisa seakan tak mampu lagi untuk berdiri setelah dokter tadi mengatakan hal seperti itu. Namun saat Nisa akan jatuh karena tubuhnya yang lemah Aris yang tidak jauh berdiri di samping Nisa melihat Nisa akan terjatuh dengan cepat menahan tubuh Nisa yang akan terjatuh itu. Nisa terisak dalam tangisannya membuat orang yang ada di sekitar sana menjadi bersedih. Mendengar kabar buruk dari Adam dan Nisa yang semakin terisak semua hanya bisa diam dalam kesedihan.
Aris membopong Nisa untuk duduk di kursi tempat ruang tunggu, tiba-tiba Nisa memegang perutnya yang terasa kram, sakit yang Nisa rasakan. "Aww..." rintih Nisa kesakitan memegang perutnya yang sudah membesar itu.
Aris melihat Nisa kesakitan dengan terus memegang dan mengelus perutnya membuat ia menjadi panik dan takut terjadi apa-apa terhadap Nisa. "Nisa kamu tidak apa-apa?" tanya Aris panik dan khawatir.
Nisa memegang lengan tangan Aris dengan tangan kirinya dengan sangat kuat dan tangan kanannya memegang perutnya yang sakit, membuat Aris sedikit meringis karena tangan Nisa yang memegangnya begitu kuat. "Perut aku sakit... Aris!" ucap Nisa merintih.
"Aduh bagaimana ini pak saya khawatir sama neng Nisa." ucap bibi yang ada di samping Nisa dan Aris.
"Perut kamu sakit?" ulang Aris. "Aku panggilkan dokter ya, kamu tahan sebentar." balas Aris semakin panik.
__ADS_1
Satria yang mendengar Aris begitu cemas karena Nisa kesakitan ia pun menghampiri Aris dan Nisa yang sedang duduk. "Ada apa? Kenapa?" tanya Satria panik.
"Aku gak apa-apa, perut aku sedikit kram." sahut Nisa pelan karena ia merasa kesakitan.
"Lebih baik kamu di periksa sama dokter agar kita tahu keadaan kandungan kamu." ujar Aris cemas kepada Nisa.
"Tidak usah Aris aku tidak apa-apa." ucap Nisa pelan dengan berdesis menahan rasa sakit.
"Aku akan panggilkan suster untuk membawa kamu ke dokter kandungan." ucap Aris cepat tidak mendengar tolakan Nisa.
"Tidak usah Aris aku tidak apa-apa!" jawab Nisa cepat.
Aris tidak mendengar ucapan Nisa ia terus saja memanggil suster untuk membawa Nisa agar Nisa di periksa. Setelah suster itu datang menghampiri mereka Nisa masih saja menolak untuk di bawa suster dia tidak mau di periksa ia bersikeras ingin menunggu Adam suaminya.
Karena Nisa bersikeras tidak mau di periksa tapi terlihat menahan rasa sakit di perut nya, semua orang bingung harus bagaimana membujuk Nisa agar mau di periksa, ya walaupun sakit perut Nisa tidak sampai mengeluarkan darah atau pun cairan tapi Nisa terlihat kesakitan.
Tak sabar melihat Nisa seperti itu Aris pun langsung menggendong Nisa yang terlihat menahan sakit di perut nya, Aris akan membawa Nisa untuk mengecek kandungan, ia tak mau mendengar Nisa yang menolaknya karena ia khawatir terjadi sesuatu padanya.
Mendapatkan perlakuan dari Aris seperti itu membuat Nisa memberontak ingin melepaskan dirinya dari gendongan Aris, ia terus saja meminta Aris untuk menurunkan dirinya dari tangan Aris yang menggendong nya.
"Pak Satria saya antar Nisa dulu untuk di cek ke dokter kandungan ya." pamit Aris dengan cepat pada Satria yang sedang melongo melihat Aris yang menggendong Nisa.
"Aris turunkan aku!" ucap Nisa berteriak.
"Tidak! Aku akan menurunkan kamu nanti di ruang pemeriksaan." sahut Aris cepat.
__ADS_1
"Aris kamu ini apa-apaan sih, aku gak mau kamu paksa! Cepat turunkan aku!" mohon Nisa sedikit keras karena kesal bisa-bisanya Aris menggendong nya seperti ini.
Aris tidak mempedulikan permintaan Nisa ia terus saja melangkahkan kakinya menuju ruangan dokter kandungan masih dengan menggendong Nisa.
"Pak Aris ini sungguh berani sekali menggendong Nisa, kalau saja Adam tahu perlakuan Aris terhadap istri nya seperti itu dia pasti akan ngamuk!" batin Satria saat ia tersadar dari keterkejutannya.
"Aris... aku mohon turunkan aku, aku malu Aris lihat semua orang yang ada di sini menatap ke arah kita." rengek Nisa pada Aris setengah berbisik.
Aris hanya tersenyum, mendengar Nisa yang merasa malu karena ia gendong, sedangkan disana banyak orang yang berlalu lalang karena ini sudah masuk siang.
"Aku akan bilang sama mas Adam kalau kamu gendong aku Aris dia pasti marah karena istrinya ia gendong oleh laki-laki lain." ancam Nisa pada Aris yang tidak gentar dengan permintaan Nisa padanya.
"Silahkan saja, aku tidak takut toh ini salah kamu sendiri karena kamu tidak mau naik kursi roda yang suster tadi siapkan." sahut Aris dengan ekspresi santainya.
Nisa mendengus kesal karena Aris masih saja tidak mau menurunkan Nisa, Nisa kehabisan cara agar ia bisa di turunkan karena Aris masih saja dengan santainya membawa nya ke ruang dokter kandungan.
"Aris apa kamu tidak berat menggendong aku seperti ini." ujar Nisa pada Aris yang terlihat santai seperti ia tidak merasa berat atau capek padahal dari ruangan tempat Adam di rawat dengan ruangan dokter kandungan begitu jauh bahkan sampai naik lift.
"Aku sudah terbiasa membawa alat berat, apalagi berat badan kamu paling setengah dari alat berat yang sering aku angkat." jawab nya santai.
Nisa berdesis kesal kepada Aris, sedangkan bibi pembantu yang mengikuti Nisa yang sedang di gendong merasa aneh melihat Nisa dan Aris yang seperti sudah saling dekat.
"Pak Adam kalau lihat istrinya di gendong seperti ini oleh laki-laki lain apa dia akan marah gak ya?" batin bibi selama ia mengikuti Nisa dan Aris di belakang.
Sedangkan suster yang tadi Aris panggil, mengikutinya dengan Berbagai pikiran di otak nya. "Aduh romantis banget sih pasangan ini aku jadi mau seperti itu." batin suster itu senyum-senyum sendiri. "So sweat deh..." gumamnya.
__ADS_1