
"Lalu siapa yang anda tunggu di rumah sakit di ruangan persalinan, istri anda?" tanya Via penuh dengan selidik dan sedikit keras.
Aris tergelak dengan tawa nya, ternyata ini masalah yang membuat suster Via nya itu kesal. "Kenapa anda menertawakan saya begitu?" kesal Via.
"Kamu lucu! Istri? Calon istri saya saja sedang marah begini. Saya akan jelaskan siapa yang saya tunggu di ruang persalinan itu." ucapnya tegas menatap Via dengan serius.
***
flash back off
"Akhirnya sudah selesai juga tugas ini, aku sangat merindukanmu suster Via." ucap Aris dengan senyum menghiasi bibirnya mengingat seminggu ini tidak bertemu dengan Via rasanya seperti batre yang lowbat yang butuh di cas.
Suara handphone Aris berdering membuat senyuman Aris yang mengembang itu kembali serius. "Nisa? tumben sekali Nisa menelpon ku ada apa ya?" batin Aris bertanya-tanya.
Aris pun mengangkat panggilan Nisa itu. "Hallo assalamualaikum ada apa Nisa?" tanya Aris saat panggilan itu ia jawab.
"Wa'alaikumussalam. Maaf pak Aris saya bibi pembantu nya neng Nisa. Pak Aris, bisa bapak kerumah neng Nisa? Neng Nisa mau melahirkan sedangkan pak Adam sedang pergi bertugas di luar kota di telpon gak di angkat, pak Aris bisa bantu saya?"
"Apa? Nisa mau melahirkan! Ya sudah saya kesana sekarang!" jawab Aris cepat dan langsung mematikan panggilan itu.
Tidak lama Aris sampai di depan rumah Nisa dengan cepat turun dari mobilnya dan langsung melangkah masuk ke halaman rumah Nisa lalu ia pun mengetuk pintu itu dan bibi pembantu Nisa yang terlihat panik itu membuka nya menyuruh Aris langsung masuk ke dalam.
Di dalam ruangan Aris langsung menghampiri Nisa yang sedang duduk meringis kesakitan di bagian perutnya.
"Apa kontraksi nya dari tadi sudah terasa?" tanya Aris di sela-sela ia membantu Nisa.
"Kenapa kamu ada di sini Aris?" Nisa malah bertanya seperti itu dengan suara menahan sakit.
"Tidak usah kamu pikirkan Nisa yang terpenting sekarang saya akan bawa kamu ke rumah sakit." jawab Aris cepat.
"Iya neng, pak Aris akan menolong neng, tadi bibi yang minta bantuan pak Aris karena bibi bingung minta tolong pada siapa." timpal bibi yang menjawab pertanyaan Nisa.
"Apa kontraksi nya sudah dari tadi sakit nya?" tanya Aris mengulang.
"Iya Ris tapi aku tahan saja karena aku kira bukan kontraksi." jawab Nisa pelan menahan kesakitan di bagian perutnya.
Aris menggendong Nisa membawa nya ke dalam mobilnya dan di ikuti oleh bibi pembantu nya yang membawa segala kebutuhan Nisa dan bayinya selama di rumah sakit.
"Nisa kamu tarik nafas ya dan buang perlahan, terus lakukan seperti itu ya dan tahan sakit nya saya akan membawa kamu ke rumah sakit secepat mungkin." ucap Aris di tengah kepanikan mendengar Nisa yang terus saja merintih. Ia selintas mengingat Via saat ia menolong ibu hamil yang akan melahirkan pada saat kecelakaan waktu itu.
Tidak lama mereka pun sampai di rumah sakit, Aris langsung memanggil para suster untuk menangani Nisa secepatnya.
Aris panik dan khawatir juga dengan keadaan Nisa yang sedang di dalam ruangan persalinan. Aris tidak menelpon Adam karena takut mengganggu ia yang sedang bertugas.
Beberapa jam kemudian Aris dan pembantu itu mendengar suara tangisan seorang bayi dari dalam ruangan mendengar itu Aris menjadi lega dan suster yang menangani itu pun memanggil keluarga Nisa, bibi pembantu meminta Aris mewakilkan karena belum ada keluarga Nisa yang datang sebab mereka semua berada di luar kota semua.
Aris masuk ke dalam ruangan persalinan karena suster tadi yang menyuruhnya. "Bapak anak bapak laki-laki ya tampan sekali, dan bapak bisa mengadzani dan juga mengiqomah di telinga kanan dan kirinya ya pak." ucap suster itu.
Aris gugup sangat gugup saat bayi merah kecil itu ia gendong setelah suster memberikan padanya. Dengan suara bergetar Aris pun mengadzani dan mengiqomah di telinga kanan dan kiri bayi merah itu. Bayi yang asalnya menangis langsung terdiam saat mendengar suara Aris yang sedang adzan itu.
__ADS_1
Rasa haru dan bahagia Aris rasakan saat ini. Ini pertama kalinya ia menggendong bayi yang baru lahir walaupun bukan anaknya tapi ini pengalaman yang luar biasa baginya.
Nisa yang melihat Aris seperti itu hanya tersenyum lemah, ada sedikit kesedihan dalam hatinya karena suaminya tidak bisa menemaninya saat melahirkan padahal keinginan nya itu yang sangat ia butuhkan saat ini. Tapi suami nya tidak bisa menemani nya karena ada alasan yang jelas ia harus mengerti dan memahami pekerjaan nya suaminya itu.
Bayi itu di ambil lagi oleh suster yang menangani setelah selesai di adzanin dan di iqomah. Aris menatap Nisa terlihat wajah pucat nya namun ada kebahagiaan yang ia lihat karena bayi nya sudah lahir ke dunia ini. Aris pun keluar dari ruangan itu karena Nisa masih dalam penanganan dokter kandungan. Setelah keluarga Nisa sudah ada yang datang Aris pun pamit untuk pergi dari sana karena takut ada kesalahpahaman lagi antara dirinya dan juga Adam.
***
flash back on
"Jadi seperti itu ceritanya, dia adalah Nisa teman saya kamu juga tahu kan Nisa istri dari pak Adam yang pernah kamu rawat itu." ucap Aris menjelaskan siapa perempuan yang melahirkan yang ia tunggu itu.
"Sekarang apa kamu sudah percaya sama saya?" ucap Aris pelan seraya memegang dagu Via menarik nya dengan pelan dan lembut agar ia melihat pada arah wajah Aris yang sedang menatapnya dan menjelaskan kesalahan pahaman ini terjadi.
Via memberanikan diri menatap mata Aris dengan matanya yang berkaca-kaca mencari tahu kebenaran dari mata Aris. Apa dia berbohong atau berkata jujur padanya.
"Maaf." lirihnya, hanya itu kata yang keluar dari mulut Via.
Aris tersenyum manis dan mengusap pipi Via yang putih itu dengan lembut. "Tidak apa-apa, tidak perlu meminta maaf saya mengerti." balas Aris masih dengan senyum nya. Cukup lama Aris menatap Via sedekat itu, wajah Via menunduk malu ketika Aris menatapnya dalam jarak yang sangat dekat. Aris mendekat pada wajah Via melihat bibir nya yang merah alami itu membuat gejolak hasrat laki-lakinya timbul membuat Via sedikit panik dan berdebar jantung nya. Aris semakin mendekat dan mendekat berniat akan mencium bibir Via itu dan semakin dekat Aris memberanikan dirinya untuk mencium bibir Via karena Via hanya diam saja, perlahan namun pasti Aris terus mendekat, saat Aris sudah sangat dekat dan siap mencium bibir Via, Via pun langsung melengoskan pandangan nya ke arah lain sebagai penolakan membuat Aris menjadi salah tingkah di buatnya, malu dan kecewa menjadi satu yang kini Aris rasakan. Aduh kaciaaaan deh Aris puasa dulu ya hehehe.
"Maaf! Aku gak bisa." ucap Via pelan seraya menggigit bibir bawahnya.
Aris tersenyum kikuk dan mengusap belakang lehernya salah tingkah lalu menatap Via yang masih menunduk malu. "Saya yang harus minta maaf. Maaf ya saya khilaf!" ucapnya cengengesan.
Untuk menghilangkan rasa tidak enaknya karena kejadian tadi Via pun dengan cepat mencari ide agar ia bisa keluar. "Emh saya... pergi dulu, sa...saya mau ke mini market dulu." ijinnya gugup seraya mencoba membuka pintu mobil. Namun di cegah oleh tangan Aris.
"Tunggu! Saya antar!" ucapnya cepat menawarkan.
"Iya sudah saya antar kamu sambil jalan kaki saja, lumayan sekalian olahraga." sahut nya kekeh.
"Emh tidak usah saya sendiri saja, anda tunggu saja disini atau anda bisa pulang, urusan kita kan juga sudah selesai." Via tidak mau sampai Aris mengikuti nya tapi dia masih saja kekeh.
Dengan perdebatan yang cukup panjang dan lama akhirnya Via pasrah ketika Aris memaksa ingin ikut menemaninya, mereka pun berjalan beriringan berduaan menuju mini market.
Setelah masuk dalam ruangan mini market itu Via mencoba menghindar dari Aris yang terus saja mengikuti nya namun tetap saja Aris mengikuti Via karena yang namanya mini market tempat nya tidak begitu luas seperti mall.
"Anda bisa gak sih jangan ikuti saya terus, anda kan bisa cari apa yang mau di beli jangan ikuti saya terus!" kesal Via karena Aris terus saja mengekornya dari belakang.
"Memang nya kenapa sih? Apa yang mau kamu beli?" tanya nya penasaran.
"Emh... ya... kebutuhan saya sehari-hari." elaknya gugup.
Aris menatap Via dengan penuh curiga karena menjawab dengan gugup. "Hemm saya jadi curiga apa yang akan kamu beli!" curiga Aris pada Via yang terlihat salah tingkah saat ia tatap secara intens.
"Apa sih curigaan deh!" sahut nya ketus.
"Sudah... sana beli barang di tempat yang lain, beli minum atau beli makanan." titah Via mencoba menjauhkan Aris agar tidak terus mengikuti nya dengan cara mendorong tubuh Aris yang diam saja itu.
"Ih... gerak kenapa badannya! kuaaat banget sih!" ucap Via tertatih-tatih saat ia mendorong dengan sekuat tenaganya namun Aris yang di dorong tidak sama sekali bergeming.
__ADS_1
"Bukan saya yang kuat tapi kamu nya saja yang gak ada tenaga nya." ucapnya santai. "Ayok kamu mau beli apa saya jadi curiga!" tanyanya masih penasaran.
"Udah ah saya gak jadi belanja kalau anda masih ikuti saya!" ancamnya pura-pura merajuk. Dan itu berhasil membuat Aris pergi mencari barang yang ia perlukan.
"Akhirnya dia jauh juga dari sini." gumam Via lega, ia langsung mencari apa yang akan ia beli dari tadi. Dengan cepat Via pun langsung ke depan kasir mumpung Aris belum terlihat ada disana Via berniat ia yang lebih dulu membayar belanjaannya agar Aris tidak mengetahui apa yang di beli oleh nya.
Via melihat ke arah kiri dan kanan dengan cepat ia menghampiri pelayan kasir lalu dengan cepat ia menyerahkan semua belanjaannya pada kasir itu. "Ayok mba cepat itungnya!" titah Via tidak sabar takut Aris keburu datang dan tahu apa yang ia beli.
"Iya mba tunggu sebentar ya." jawab kasir itu sopan. Lalu kasir itu menyebutkan barang-barang yang di beli oleh Via satu persatu dan terakhir barang yang ia sebutkan. "Ini pembalut nya bersayap ya mba!" ucapnya memberi tahu pada Via barang yang ia beli agar tidak salah.
"Pembalut bersayap? Kamu mau terbang kemana?" bisik nya di telinga Via dengan setengah menggoda.
Via terkejut saat ada bisikan di telinga, dan karena Aris tiba-tiba ada di belakangnya tepat di dekatnya. Malu rasanya ketahuan membeli barang yang ia sembunyikan dan sekarang dia tahu barang yang di sembunyikan itu apa membuat Via langsung dengan cepat menanyakan pada kasir itu berapa uang yang harus di bayar oleh nya. Namun di cegah oleh Aris.
"Hitung saja sekalian dengan ini mba belanjaannya." Aris menyerahkan kartu ATM nya, air minum dan juga coklat yang ia bawa pada pelayan kasir.
Via yang malu itu langsung mengambil belanjaannya yang sudah di hitung itu dengan cepat dan langsung keluar dari mini market seraya dengan langkah cepat meninggalkan Aris yang sedang tersenyum melihat tingkah nya.
"Hei tunggu! Jangan tinggalkan saya!" teriak Aris meneriaki Via yang begitu cepat saat berjalan meninggalkannya.
Via menoleh ke belakang melihat Aris yang memanggil nya itu, lalu tersenyum karena Aris yang tertinggal jauh darinya.
"Hei... awas ya!" ancamnya dengan tersenyum karena Via tadi terlihat tersenyum mengejek. Dengan langkah cepat Aris mengejar Via.
"Emh kamu ngerjain saya ya, tinggalin saya sendiri." ucap Aris ngos-ngosan ketika langkah nya sudah sejajar dengan Via.
"Masih mending di tinggal di mini market, coba kalau di tinggal nikah bagaimana rasanya?" sahut Via menatap ke arah depan dengan langkah santai.
"Jangan dong saya bisa mati kalau itu terjadi." sahut nya serius.
"Heh lebay anda!" sebal Via.
"Itu kamu beli yang bersayap memang kamu mau terbang kemana?" goda Aris seraya menunjukkan barang yang tadi di sembunyikan dagunya itu.
"Gak usah di bahas!" sahut Via cepat.
"Kamu malu?" tanya Aris namun tidak ada jawaban.
"Jalan-jalan yuk! Malam mingguan gitu sepertinya asyik!" ajaknya penuh semangat.
"Gak! Malas, gak biasa!" tolaknya tegas.
"Ayolah...sekali-kali mumpung gak ada kerjaan ini!" serunya. "Puncak gitu atau gunung?" tawar nya.
"Anda mau malam mingguan dengan binatang buas!" kesal Via bisa-bisanya mengajak malam mingguan di puncak atau gunung.
"Saya gak takut sama binatang buas malah saya takut kalau kamu yang buas!" goda nya dengan senyum nakal. "Takut khilaf saya!" tambah nya
"Kalau khilaf berarti iman anda tipis." sahut Via datar.
__ADS_1
"Iman saya kuat tapi si Emon yang gak akan kuat!" jawabnya cekikikan membuat Via dengan refleks memukul lengan Aris dengan keras karena sebal.
"Dasar tentara mesum!!!" teriaknya.