Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
mulai terjadi sesuatu


__ADS_3

Aris mengegas motor nya dengan keras supaya Via tersadar dari lamunannya. "Terlalu lama berpikir saya tinggal!" ucapnya ketus.


"I... iya saya ikut!" sahut nya cepat saat Aris akan pergi meninggalkan nya. Via langsung memakai helm nya di ambilnya dari motor yang ia gantung di stang motor nya. Lalu dengan cepat ia naik ke jok motor dan duduk dengan santai di belakang punggung Aris.


"Bang titip motor saya ya. Awas jangan di jual!" ancam Via. "Nanti pulang saya ambil lagi kesini!" sambungnya.


"Siap mba... Mana berani saya jual nanti saya bisa di marahin sama si bos." sahut nya.


Melihat TNI langganan nya akan pergi Abang bengkel pun memanggil nya. "Pak ini jaket nya!" Tukang bengkel mengacungkan jaket yang tergeletak di kursi tunggu pada Aris karena ia tahu Aris tadi memakai jaket saat ia datang ke bengkel.


"Oh ya, terima kasih bang!" ucapnya sambil ia meraih jaket itu lalu memakai jaket hitam yang tadi sempat ia lepaskan.


"Nah... adem banget dah kalau lihat orang-orang cakep boncengan begitu terlihat seperti sepasang kekasih, bikin ngiri orang yang lihat nya hehehe." ucap si Abang cengengesan.


"Saya yang cakep bang dia mah jelek!" ejek Via santai mengejek Aris yang tengah memakai jaket nya.


Aris memutarkan kepalanya mengarah pada wajah Via yang sangat dekat dengannya. "Ih ngelunjak ya kamu! Kalau bukan karena rasa kemanusiaan saya gak mau antar kamu berangkat kerja." sebal nya Aris pada Via bisa-bisanya dia bilang kalau dia jelek.


"Ih anda sewot! Merasa ya kalau anda itu jelek!" sahutnya ketus. "Udah buruan jalan motornya saya udah telat!" sambung nya sama ketusnya tidak mau mengalah.


Aris mendengus kesal. Lalu ia pun mengegas lalu mengerem motor dengan sengaja saking begitu kesalnya sehingga kepala Via menabrak kepala Aris yang ada di depan nya untung saja Via sudah memakai helm nya.


Via memukul punggung Aris dengan keras. "Anda bisa gak sih bawa motor, gimana kalau kepala saya cedera karena perbuatan anda ini?" ucapnya kesal mengusap-usap kepalanya yang sedikit pusing.


Aris mengusap punggungnya yang terasa panas itu. "Jadi perempuan itu yang manis dikit jangan pedas-pedas, mukul pakai tangan berasa pakai rotan." ucapnya sebal seraya mengusap-usap punggungnya. "Kalau kamu cedera saya anterin kamu kerja sekalian kamu bisa berobat disana, kamu kan pekerja rumah sakit. Gampang kan?" balas nya cuek dengan tersenyum miring.


Via hanya diam saja malas rasanya melandeni terus laki-laki menyebalkan ini. "Sudah lah tidak usah banyak bicara, ayok jalan!" ajak nya ketus.


"Saya kok jadi berasa tukang ojek!" gumamnya dan Via hanya menyulam senyum mengejek. "Gak usah senyum meledek begitu!" ucap Aris saat ia melihat Via sedang tersenyum tak sengaja terlihat dari kaca spionnya.


Via hanya melirik saja Aris saat Aris menyindirnya dan berpura-pura melihat ke arah lainnya.

__ADS_1


Di perjalanan menuju rumah sakit tempat bekerja Via, tidak ada obrolan di antara mereka berdua dan juga tidak ada perdebatan yang saling menimpali hanya terdengar suara-suara kendaraan saja yang mereka dengar. Tanpa sengaja Aris mengerem motor nya dengan secara mendadak membuat Via yang sedang duduk anteng di belakang punggung Aris tiba-tiba tubuh bagian depannya menabrak belakang tubuh Aris.


"Anda sengaja ya mengerem seperti itu?" tanyanya tidak terima.


"Jangan marah-marah tuh lihat!" tunjuk Aris ke arah depan dimana kemacetan panjang terlihat di depan sana.


Via melihat ke arah depan dimana Aris menunjukkan nya. "Ah ya Tuhan... bagaimana ini? Ini sih alamat pasti bakal terlambat-terlambat juga!" gumamnya lemas. "Ada apa sih kok macet begini?" tanya Via pada Aris.


Aris sedikit berdesir saat Via begitu dekat dengannya, aroma parfum khas yang di pakai Via begitu menusuk pada indera penciuman Aris karena saat Via bertanya wajah nya begitu dekat dengan wajah Aris. dan tubuh Via sedikit menempel pada punggung Aris. "Ya mana saya tahu saya juga kan baru sampai sini!" sahut nya agak gugup.


Via yang kesal karena Aris menjawab seperti itu langsung bertanya pada seorang pengendara lainnya. "Pak, maaf ada apa ya kok macet seperti ini, bapak tahu?" tanya Via sopan pada seorang bapak yang berada di samping kendaraan nya.


"Saya dengar sih dari teman saya, di depan ada kecelakaan mba dan salah satu penumpang nya perempuan yang sedang hamil besar." jawab si bapak itu. "Baru banget kejadiannya mba." sambung nya.


"Kecelakaan? ibu hamil?" tanyanya dan di angguki si bapak tadi.


Dengan cepat Via beranjak turun seraya membuka helm yang ia pakai dan dengan cepat menyerahkan nya pada Aris. "Titip!" ucapnya tanpa melihat ke arah Aris meminta persetujuan iya atau tidak seraya melangkah cepat meninggalkan Aris yang sedang kebingungan akan sikapnya itu.


"Heh... bener-bener ya itu cewek bikin susah saja!" gerutu Aris namun ia juga penasaran kemana suster galak itu pergi. Aris pun turun dari motor nya meninggalkan kendaraan nya di jalanan yang masih macet lalu berlari mengikuti Via yang tergesa-gesa. Saat Aris sudah sampai di dekat Via dan mensejajarkan langkahnya. "Kamu mau kemana katanya tidak ingin terlambat? tanyanya. "Ayok saya antar kamu ke jalan pintas!" ajaknya.


"Saya mau lihat kecelakaannya takut ada korban disana apalagi tadi saya dengar kalau korban nya ibu hamil, saya gak akan tinggal diam." sahut nya cepat seraya melangkah kaki menuju kejadian kecelakaan itu.


"Tapi kamu akan terlambat untuk bekerja, lagipula pasti sudah ada yang bantu di sana secara di sini begitu banyak orang." balas Aris meyakinkan Via.


"Saya gak peduli mau terlambat atau tidak yang pasti saya akan tolong dulu, soal terlambat urusan nanti!" jawab nya mantap.


Aris yang mendengar ucapan Via seperti itu membuat ia jadi terdiam dan sedikit mengulas senyum kecil di bibirnya. "Ternyata walaupun dia galak tapi jiwa kemanusiaannya begitu besar." batin Aris mulai kagum pada sesosok perempuan yang ada di hadapannya itu.


Dan sampailah mereka di tempat kejadian kecelakaan itu, benar saja kecelakaan itu terjadi baru saja, korban seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sedang hamil. Mobil mereka bertabrakan dengan mobil yang ada di depannya tapi mereka lah yang begitu parah karena terjepit oleh mobil yang ringsek sedangkan mobil yang satunya hanya mobil nya saja yang rusak.


Dengan cepat Via menghampiri mobil korban dan melihat secara dekat pada mobil korban itu. Terlihat lah ibu hamil itu menahan kesakitan nya akibat kakinya yang terjepit itu dan salah satu korban yang laki-laki juga sama mereka saling menguatkan satu sama lainnya.

__ADS_1


Mereka seperti nya sepasang suami-istri. Orang-orang yang berada disana sempat kebingungan karena pihak kepolisian juga belum mengetahui kejadian itu karena kejadian berlangsung baru saja.


Dengan cepat Via bertindak membantu orang-orang disana mencoba mengeluarkan para korban. Dan Aris yang melihat Via dan beberapa orang di sana yang sedang menolong pun tidak tinggal diam ia juga mencoba berusaha membuka pintu mobil para korban.


Tak lama pihak kepolisian datang setelah mengetahui ada kemacetan yang panjang akibat kecelakaan ini. Korban perempuan yang pertama bisa mereka keluarkan dengan bersimbah darah di kaki nya dan ia juga merintih kesakitan di bagian perut nya karena ia terus saja memegang perut nya dengan tangan. "Sa... sakit." ucapnya begitu lirih.


Via langsung membuka sweater rajut nya yang ia pakai untuk menutupi darah yang keluar dari si ibu hamil itu. "Cepat panggilkan ambulans!" teriak Via dengan cepat, sebagai perawat ia begitu cekatan saat menahan korban agar tidak banyak mengeluarkan darah. "Sakit mba... seperti nya saya akan melahirkan." lirih nya.


"Tahan ya Bu, ikuti arahan saya. Tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan, tarik nafas dan keluarkan secara perlahan." Via memberi arahan pada ibu hamil itu agar ia lebih tenang saat mereka sedang menunggu ambulans datang untuk membawanya ke rumah sakit karena korban terlihat masih ada beberapa jam untuk melahirkan. "Ini masih pembukaan awal seperti nya ya Bu jadi ibu harus tahan dulu sakit nya." ucap Via menguatkan korban.


"Tolong suami saya." pinta nya pelan pada Via dia berucap.


"Tenang ya Bu suami anda pasti baik-baik saja." balas Via lembut.


Aris bersama anggota kepolisian beserta masyarakat yang ada disana juga segera mengeluarkan korban laki-laki yang masih terjepit itu.


Tak berapa lama korban itu bisa di keluarkan dan ambulans pun datang, di tengah kemacetan jalanan membuat ambulans yang datang pun agak sedikit terlambat datang karena susah untuk melewati jalanan yang padat.


Sedangkan Via dan beberapa orang di sana sedang mencoba menenangkan ibu hamil yang akan melahirkan itu membawanya korban itu masuk ke dalam ambulans untuk di tangani lebih lanjut lagi.


"Ah syukur lah mereka masih bisa di selamatkan." ucap Via penuh syukur melihat para korban sudah di bawa menuju rumah sakit. Saat Via dan Aris telah selesai menunaikan kewajibannya sebagai manusia yaitu saling tolong menolong.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aris ia melihat baju Via yang begitu banyak darah akibat terkena dari darah korban yang ia tolong. "Kamu sudah terlambat untuk masuk kerja? Apa kamu siap dapat teguran dari pimpinan kamu?" tambahnya.


"Tidak apa-apa, yang penting nyawa orang sudah terselamatkan." sahut nya cepat dengan tersenyum.


Aris yang baru pertama kali mendapatkan sebuah senyuman dari Via membuat nya menatap wajah Via sejenak. "Kenapa?" tanya Via saat tersadar Aris sedang menatap nya.


"Emh... tidak apa-apa!" jawabnya kikuk salah tingkah.


"Ayok antar saya sekarang!" Via kembali ketus pada Aris karena dia sudah berani menatap wajahnya. Dan Aris menghela nafasnya malas. "Keluar lagi deh juteknya." gumam Aris.

__ADS_1


__ADS_2