Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
jebakan Batman


__ADS_3

"Jangan lama-lama untuk berpikir, karena semakin kamu lama berpikir untuk menandatangani surat itu maka suami mu pun akan lama tidak aku bebaskan, karena kunci kebebasan suami mu itu ada di tangan kamu." ujar Tama penuh penekanan.


Via berpikir keras akan hal ini. "Bagaimana ini? Ya Tuhan aku harus berbuat apa?" lirih Via dalam hatinya.


Setelah lama berpikir akhirnya Via pun dengan berat hati menandatangani surat itu, lalu ketika surat itu Via sudah tandatangani Tama langsung mengambil suratnya dari tangan Via. Dan Tama pun menyerahkan surat perjanjian antara Via dan juga Tama sebagai bukti untuk jaminan agar Aris bisa terbebas.


"Bagus! Hahaha aku senang sekali... akhirnya aku bisa memiliki mu!" ucapnya senang dan bersemangat.


"Proses perceraian ini!" titah nya pada pengacaranya yang masih menunggu di sana.


"Baik pak akan saya proses, tapi sebelum saya proses, suami ibu Novia ini harus menandatangani juga surat ini, sebagai tanda bukti yang sah bahwa mereka sudah bercerai dan menyetujui untuk memberikan talak pada ibu Novia." ujar pengacara itu menjelaskan.


"Hah!" Tama membuang nafas nya kasar. "Kenapa anda tidak bilang dari awal kalau suaminya juga harus menandatangani dan masih ada banyak hal yang harus diproses!" kesal nya.


"Maaf pak anda tidak memberi tahu saya jika anda tidak mengetahui hal ini, saya kira anda sudah tahu." sahut nya membela diri.


"Berani sekali anda menyalahkan saya! Saya ini belum menikah dan belum pernah bercerai jadi bagaimana bisa saya tahu masalah ini." balas Tama semakin kesal saja.


"Maaf pak saya yang salah. Dan untuk kasus perceraian antara Bu Novia dan pak Aris ini sungguh sangat sulit karena pak Aris yang seorang TNI. Banyak proses yang harus di siapkan juga tidak bisa mendadak seperti ini." ucapnya pelan dan takut.


"Ah sial!" umpat nya. "Apa laki-laki itu akan mau menandatangani surat perceraian itu dan memberikan talak pada Via." batin nya. "Kalau dia sampai tidak mau, akan aku paksa untuk menandatangani surat itu bagaimana pun caranya!" batin Tama dengan senyuman licik nya.


***


"Pak seperti nya pak Aris dalam bahaya, ternyata target lebih licik dari apa yang kita bayangkan." ungkap salah satu anggota kepolisian yang mendengar percakapan antara Via dan juga Tama.


"Apa ada kabar lain?" tanya Adam pada bawahannya.


"Ternyata target menyuruh ibu Novia untuk menandatangani sebuah surat perceraian dan surat sebuah perjanjian di atas materai sebagai alat untuk membebaskan pak Aris, jika tidak di tandatangani oleh Bu Novia maka target akan mencelakai pak Aris." jelas nya dari apa yang ia dengar.


"Siapkan anak buah kita, perintahkan kepada mereka agar selalu siap di setiap titik yang sudah kita tugaskan, karena target mulai bermain!" titah Adam tegas pada bawahannya.


"Siap! Akan saya beritahu kan kepada rekan yang lain!" jawab nya.


Adam mengangguk. Ia berpikir rencana ini harus sukses dan berjalan dengan lancar. Walaupun agak alot tapi kemungkinan ini akan berhasil.


Lalu Adam duduk di tempat untuk mendengarkan suara penyadapan itu. "Tama... Anda itu licik tapi bodoh! Tidak semudah itu anda menceraikan suami istri apalagi bagi jajaran seperti kami ini!" serunya. "Jika saja kami sudah tahu dimana anda menyembunyikan pak Aris, saya yakin sebentar lagi Anda akan masuk penjara." sambung nya geram.


***


Saat ini Via sedang memikirkan bagaimana caranya ia tahu dimana suami nya itu berada. "Aku harus menjebak kak Tama agar ia menyebutkan dimana tempat dia menyembunyikan suamiku." gumam Via. "Atau aku harus meminta dia untuk membawa ku bertemu dengan suami ku." sambung nya. Via tersenyum penuh arti karena ia menemukan sebuah rencana. "Hemm aku tahu cara supaya bisa kak Tama mempertemukan aku dengan suami ku, semoga cara ini berhasil!" tekadnya.


Via pun keluar dari kamarnya dan berniat untuk menemui Tama dengan langkah pelan dan sedikit mengendap-endap. "Seperti nya dia sedang tidak ada di rumah sepi sekali. Hemm ini kesempatanku untuk menemukan sesuatu yang akan memberikan informasi keberadaan suami ku." batin nya.

__ADS_1


Saat Via sedang mencari ke setiap ruangan, ia di kejutkan oleh suara berdehem di belakang nya. "Ekhemm. Sedang apa anda di sana?" tanyanya penuh curiga.


"Emm... a...aku mau minum." jawab nya gugup.


"Apa anda yakin ingin minum?" tanyanya.


"I...iya. Aku tidak tahu dimana dapur." sahut nya.


"Mari ibu Novia Anda duduk saja di kursi, akan saya ambilkan minuman untuk anda, karena saya di tugaskan oleh pak Tama untuk melayani anda jika ada yang anda butuhkan." ucapnya menjelaskan tugas dia disana.


"Oh seperti itu ya." balas Via dengan senyum kikuk. Via pun menghirup nafas nya dalam-dalam merasa kecewa. "Gagal!" batin Via kesal.


***


"Bangun!" bentak Tama pada Aris yang sedang terduduk karena begitu lemah nya.


"Cepat tandatangani surat ini!" titah nya seraya memberikan surat perceraian dan perjanjian yang sudah di siapkan oleh Tama dan juga pengacaranya dengan cara melemparkan pada tubuh Aris.


Aris hanya diam saja karena ia tidak mengerti maksud Tama apa. "Kenapa saya harus menandatangani surat ini hah, apa untungnya untuk anda?" jawab nya dengan suara lemah.


Tama tersenyum sinis. "Oh ya saya belum menjelaskan apa isi surat ini." ucapnya lalu Tama pun berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aris yang sedang terduduk itu. "Ini adalah surat perceraian anda dengan Via dan surat satunya lagi adalah surat perjanjian antara saya dengan Via." ujarnya menjelaskan.


"Baca surat itu, karena anda harus tahu, jika Via istri anda lebih memilih hidup bersama saya daripada bersama anda." urainya. Anda harus menandatangani surat itu dengan cepat dan anda akan saya bebaskan dari sini." tambahnya.


Merasa di tantang oleh Aris Tama pun merasa sangat panas dan kesal. "Anda tidak tahu saja, Via sudah menandatangani surat perceraian dan surat perjanjian ini. Dan anda tahu isi perjanjian surat ini adalah Via akan memberikan anak dalam kandungan nya kepada anda lalu Via akan menikah dengan saya setelah anda menceraikan nya, dan surat perjanjian itu adalah jaminan untuk membebaskan Anda dari sini tapi kasus ini tidak akan sampai pada pihak kepolisian. Jadi saya akan terbebas dari hukuman lagi walaupun saya sudah berbuat jahat kepada anda." ujarnya dengan penuh keyakinan senyum penuh kemenangan.


"Via kenapa kamu melakukan hal itu, apa kamu sudah tidak mau memperjuangkan cinta kita lagi, apa harus sampai disini saja rumah tangga kita jalani. Aku sungguh sangat kecewa Via... Tapi aku tidak akan pernah menceraikan mu sampai kapanpun walaupun aku harus mati di sini."


"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menceraikan istri saya, walaupun anda membunuh saya sekali pun!" ucapnya yakin.


"Dasar berengsek! Anda pikir saya main-main!" ucap Tama dengan emosi. "Hajar dia!" titah nya.


Bug...bug...bug! pukulan itu Aris terima namun Aris masih tersenyum mengejek. "An...da pi...kir s...sa...ya ma...in-ma...in juga." ucapnya pelan menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Sialan! Hentikan! Jangan sampai dia mati sebelum saya puas dengan nya! Saya akan membuat anda menyesal!" ancamnya. "Jaga dia!" perintah nya pada anak buah nya.


"Baik bos."


***


Via mengintip pada pintu kamarnya melihat masih ada anak buah Tama yang setia menunggu nya. "Aku jadi tidak bisa kemana-mana sekarang." resah Via. "Aku terjebak disini." gumamnya. "Aku harus segera keluar! Dan harus nya aku yang menjebak Tama."


"Aku harus menelpon pak Adam, iya pak Adam mumpung kak Tama sedang tidak ada di sini."

__ADS_1


ucapnya lalu dengan cepat ia menelpon Adam memberikan informasi yang belum ia dapatkan, dan meminta solusi lain yang akan dia lakukan selanjutnya.


Saat Via sedang menelepon Adam tiba-tiba Tama datang tanpa Via ketahui dan langsung merebut handphone dari tangan Via. Via terkejut akan Tama mengetahui saat ia menelpon Adam. "Ya Tuhan..." batin Via merasa terkejut.


Tama melihat nama siapa yang tertera di layar handphone nya lalu ia pun dengan cepat mematikan panggilan itu. "Oh jadi kamu bersekongkol dengan polisi? Oh bagus sekali!" Tama mendekat dengan tajam ia menatap Via. Lalu ia membanting handphone Via sampai pecah, Via menjerit melihat handphone nya pecah.


"Kak Tama kenapa kamu membanting handphone ku?" kesal Via menatap wajah Tama.


"Karena aku tidak mau kamu menghubungi nomor orang lain, kamu ingin aku melukai mu dan juga suami mu?" ancaman.


"Kak Tama aku mohon, jangan sakiti suami ku." ucap Via pelan. "Apa aku bisa bertemu dengan suami ku?"Mohon nya penuh harap. "Untuk terakhir kalinya aku ingin bertemu dengan suami ku, aku mohon kak Tama sebelum kita menikah nanti." ucapnya dengan ekspresi memelas yang ia tampilkan.


"Aku mohon kak Tama, aku janji aku tidak akan pernah meminta kembali untuk bertemu dengan suami ku, tapi tolong untuk kali ini saja aku mohon..." ucapnya dengan isak.


Tama menghela nafasnya panjang. "Ok untuk terakhir kalinya aku akan mempertemukan kamu dengan suami mu itu, tapi ingat ini untuk terakhir kalinya!" ucapnya mengingatkan dan di angguki pelan oleh Via.


"Boleh sekarang aku bertemu dengan suami ku?" pinta nya penuh.


"Sebenarnya saya tidak mau kamu bertemu dengan suami kamu itu tapi... karena ini yang terakhir kalinya akan aku ijin kan. Iya sekarang aku akan antar kan kamu untuk bertemu dengan nya tapi ingat ini yang terakhir kalinya." ucapnya terus mengingatkan Via.


Via tersenyum karena bahagia bisa bertemu dengan suaminya itu namun ada yang lebih bahagia karena Tama masuk dalam jebakannya. "Sayang tunggu aku di sana, aku akan menyelamatkan mu!" batin Via bersemangat.


Mereka dalam perjalanan menuju tempat dimana Aris di sembunyikan. "Kak Tama apa aku boleh tahu dimana tempat suami ku kamu sembunyikan?" tanyanya hati-hati.


Tama mengerutkan keningnya heran. "Kenapa kamu harus tahu dimana tempat dia aku sembunyikan, nanti juga kamu akan tahu." jawab nya.


Via tersenyum kaku. "Haduh... kenapa gak jawab saja sih dimana!" kesal Via dalam hatinya.


"A...aku hanya tidak tahu saja daerah ini, apa masih jauh?" tanyanya lagi dengan ragu.


"Daerah ini tidak mungkin ada yang tahu jika tidak ada yang mengikuti." sahut nya datar.


"Emh begitu ya." sahut Via.


Via pun mendapat ide yang tiba-tiba muncul saat ia melihat nama-nama jalan yang tertera yang dilewati oleh mereka. Dengan membaca satu persatu nama jalan yang ia lewati dengan suara cukup bisa terdengar oleh para pendengar dengan suara yang bisa masuk dalam alat penyadap itu. Sepanjang jalan Via terus saja menyebutkan nama-nama jalanan tersebut tanpa di curigai oleh Tama, kadang sesekali Via tersenyum pada Tama yang mulai curiga padanya. Namun Via terus meyakinkan Tama agar dia tidak curiga padanya.


***


Pihak kepolisian dan juga TNI sudah siap dengan segala atribut yang akan mereka butuhkan. Saat ada informasi yang sangat penting dari Adam mereka sudah siap siaga. Adam yang sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan tempat Aris di sekap dari Via yang tadi terus menyebutkan nama jalan yang mereka lewati.


"Good job suster Via ini yang saya tunggu!" ucap Adam merasa senang, rekannya yang sama-sama meninjau dan menunggu informasi.


"Ayok kita bergerak, kita harus sudah sampai sebelum mobil target sampai disana." perintah Adam pada bawahannya. Semua sudah mendapatkan intruksi dari Adam dimana titik-titik mereka harus berjaga.

__ADS_1


"Siap pak!" serempak mereka menjawab dan bersiap untuk pergi mengerjakan tugas yang Adam perintahkan.


__ADS_2