Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
tertangkap


__ADS_3

Semua para polisi dan para TNI yang mendapatkan tugas ini pun langsung bersiap, mobil polisi dan mobil TNI di siapkan untuk mengantarkan mereka menuju ke tempat dimana yang sudah di instruksikan oleh Adam sebagai ketua mereka yang bertanggung jawab atas kasus ini.


Sirine mobil polisi di bunyikan karena hal yang sedang darurat, genting dan membutuhkan waktu yang cepat sampai tempat dimana penyekapan Aris berada, agar kendaraan yang sedang dalam perjalanan bisa memberikan jalan untuk para petugas yang sedang bertugas menyematkan Aris.


"Ayok! Kita harus segera sampai di tempat saat target belum sampai!" titah Adam dengan tegas. "Kita akan kepung tempat itu tanpa mereka ketahui karena korban berserta istrinya berada di sana takut kemungkinan pelaku akan berbuat jahat kepada mereka." jelas Adam memberi tahu pada semua bawahannya.


"Siap pak akan kami laksanakan!" ucapnya serentak.


"Bagus!"


Mereka pun meluncur ke tempat yang di sebut kan oleh Via yang tadi masuk ke dalam alat penyadap. Adam mendengar dan melihat jalanan yang di sebutkan Via itu melalui aplikasi di handphone nya. "Seperti nya tempat ini dekat dengan pantai, kalau tidak salah itu adalah gedung kosong di tepi pantai." urai Adam menjelaskan titik-titik jalanan dimana tempat itu berada.


"Iya pak tempat itu saya tahu, tapi memang jarang di lewati karena sudah lama terbengkalai." sambung bawahan Adam.


"Hemm cepat beritahu yang lainnya agar mereka segera sampai disana!" perintah Adam dengan cepat.


"Siap pak!" sahutnya langsung memberi tahu yang lainnya.


***


"Kak Tama apa tempat nya masih jauh?" tanya Via tidak sabar.


Tama menghela nafasnya malas mendengar ucapan pertanyaan Via yang dari tadi terus menerus bertanya seperti itu. "Kamu seperti nya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nya!" sinis Tama berucap. "Jika saja ini bukan permintaan kamu sebelum menikah dengan ku aku tidak akan mempertemukan kamu dengan nya. Awas saja jika kamu mencoba membodohi ku!" ucapnya menatap tajam ke arah Via.


"A...aku mana mu... mungkin bohongi kak Tama." jawab gugup.


"Kenapa kamu gugup seperti itu?" tanyanya penuh curiga.


"Gu...gugup apa? Aku hanya kedinginan saja!" elak Via. Namun sepertinya Tama sedikit tidak percaya pada Via.


"Jika kamu bohongi ku, aku tidak akan segan-segan untuk membuat suamimu itu kesakitan dan sampai tidak bisa di selamatkan. Karena aku tidak takut jika aku sampai masuk penjara asalkan tidak ada yang bisa memiliki mu, sekali pun bukan aku!" jelas nya dengan penuh penekanan.


Via yang merasa dirinya di ancam seperti itu pun menahan rasa takut, rasa marah dan rasa bencinya pada Tama. "Sabar Via kamu harus tenang menghadapi orang seperti ini!" batin Via geram rasanya ia ingin sekali menguliti laki-laki yang ada di hadapannya.


"Kak Tama, kamu tahu kan ini terakhir kalinya aku bertemu dengan suami ku, sebentar lagi aku akan menikah dengan kak Tama jadi kamu harus memenuhi permintaan ku ini. Apa aku salah?" tanya Via pelan memperlihatkan ekspresi sedihnya di hadapan Tama.


Tama terdiam lalu membuang nafas nya dalam-dalam. "Ok ok ok."


Tama meraih handphone nya lalu menelpon anak buah nya. "Saya sudah dekat, lihat kondisi di sekitar, saya tidak mau ada orang yang melihat saya datang kesana!" titah nya tegas.


"Baik bos!"


"Sebentar lagi kita akan sampai, ingat ini yang terakhir kalinya kamu bertemu dengan suami mu itu!" ujarnya mengingatkan.


"Iya!" sahut nya cepat.


"Iya aku tidak janji! Yang aku mau terakhir kalinya bertemu dengan mu!" batin Via dalam hatinya.


"Suamiku sebentar lagi kita akan bertemu, semoga pak Adam dan rekannya yang lain bisa dengan cepat menolong kita." batinnya penuh harap.


"Ayok turun kita sudah sampai!" ajak nya.


Dengan semangat Via pun turun dari mobil Tama, melihat tempat di hadapannya begitu sangat gelap gulita dan terlihat menakutkan membuat Via sedikit takut.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu takut!" tanyanya saat melihat Via yang sedikit panik. "Tidak usah takut ada aku dan banyak anak buah ku yang menjaga tempat ini." urai nya.


"Dia benar-benar sudah gila, suami ku di tempat kan di tempat seperti ini!" emosi Via saat ia melihat tempat dimana penyekapan Aris.


Via melihat sekeliling tempat itu, ia pun menyebutkan gedung itu berada di sekitaran dekat pantai.


"Kak Tama apa gedung ini dekat pantai, gedung kosong sebelah kiri dari jalanan yang akan menjurus ke arah barat." ejah Via secara rinci dan pelan agar Adam yang mendengar bisa dengan mudah menemukan nya.


"Iya gedung ini dekat pantai, kamu pasti tahu kenapa aku menyekap suami mu di sini!" ucapnya sinis. "Dan terbukti kan para polisi dan TNI sekali pun tidak akan bisa menemukan dia selama dia tidak melarikan diri. Dan kita bisa dengan mudah untuk pergi dengan menggunakan kapal melewati lautan jika suatu saat kita harus pergi." sambung nya.


"Gawat! Aku harus hati-hati dengan kak Tama dia benar-benar sudah tidak bisa di ajak untuk berkompromi lagi." batin Via.


"Apa dia berulah? Buka pintunya?" tanya Tama seraya memerintahkan pada anak buahnya agar membuka pintu.


"Tidak bos dia sudah tidak berdaya." jawab nya cepat dan membuka pintu dimana tempat Aris di sekap.


pintu di buka Via langsung melihat ke arah Aris yang ada di hadapannya, dan alangkah terkejutnya ia melihat kondisi suaminya itu yang terduduk lemah dengan luka penuh di wajah dan tubuhnya.


Via langsung menubruk tubuh Tama yang berdiri di depannya lalu berlari menghampiri Aris tanpa memperdulikan Tama yang kesal karena Via tidak meminta ijin terlebih dahulu padanya.


Via meraih kepala Aris agar ia mendongakkan kepalanya pada wajah Via lalu mengusap kepala dan juga wajah nya Aris dengan penuh kelembutan. "Sayang, kamu baik-baik saja? Ini aku Via istrimu." ucap Via di tengah isak kesedihannya.


"Via..." ucap Aris lemah dan di angguki pelan oleh Via.


Via memeluk Aris yang masih terikat tangan nya oleh tali. "Sayang, aku... aku akan menyelamatkan mu!" bisik Via. "Kamu harus bertahan!" tambah Via berucap.


Tama yang kesal melihat drama antara Via dan Aris pun menarik lengan Via dengan kuat membuat Via meringis kesakitan.


"Kak Tama sakit..." ucap Via seraya mengelus lengannya yang di tarik.


"Istri? Hahaha "Dia sebentar lagi akan menjadi istri ku dan anda hanyalah mantan suaminya!" balas Tama dengan sinis.


Aris menampilkan senyum seringai nya. "Anda pikir saya akan menceraikan istri saya, anda salah. Tidak semudah itu anda bisa menikahi istri saya." urainya kesal namun tenaga nya sangat lemah.


"Anda tahu ini kali terakhir nya anda bisa bertemu dengan Via, setelah nya saya tidak akan pernah mengijinkan anda bertemu dengan Via lagi!" ucapnya penuh ancaman.


"Kak Tama lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan suamiku." pinta Via pada Tama.


"Tidak! Aku tidak akan mengijinkan kamu memeluknya lagi, enak saja, aku hanya mengijinkan kamu bertemu saja tidak untuk memeluknya!" kesal Tama memuncak.


"Tapi kak Tama janji sama aku kan?" sergahnya.


***


Adam dan yang lainnya sudah siap mengepung tempat itu dan Adam pun sudah melumpuhkan sebagian anak buah Tama yang sedang berjaga di depan, dengan satu persatu Adam dan yang lainnya lumpuhkan anak buah Tama agar Tama yang masih di dalam ruangan tidak mengetahui jika para polisi dan TNI sudah mengepung keberadaan mereka di sana.


Di saat Adam dan rekan-rekannya sibuk berkelahi dengan anak buah Tama, di dalam ruangan Tama yang masih tidak mengijinkan Via untuk mendekat pada Aris.


"Kak Tama, tolong bebaskan suami ku." lirih Via memohon.


"Hemm tidak semudah itu aku membebaskan suami mu Via." sahut nya.


"Jangan sakiti istriku!" geram Aris.

__ADS_1


"Hahaha anda itu sudah tidak berdaya tapi masih saja sombong!" kesal Tama pada Aris.


Bug... Tama memberikan sebuah pukulan pada Aris karena ia kesal dengan kesombongan Aris yang seperti menantang nya, Via yang melihat itu menjerit ketakutan.


"Jangan!" teriak nya. "Jangan sakiti suami ku!" isak memohon. "Kak Tama aku mohon jangan pukul suami ku!" lirihnya.


"Suami mu itu sombong sekali, dan aku harus beri dia pelajaran!" kesal nya.


Tak lama kemudian. Brak... suara pintu yang di tendang secara kuat membuat Tama dan Via terkejut. "Jangan bergerak!" ucap Adam dan rekannya seraya menodongkan pistol pada Tama. "Angkat tangan!" tambahnya. Dan rekan Adam pun menangkap anak buah Tama yang tersisa di dalam ruangan ketika dia mencoba menodongkan senjata nya ke arah mereka dan saat dia lengah ia pun tertangkap.


Tama terkejut dengan kedatangan mereka. "Kemana anak buah ku yang lain?" Tama melirik ke kanan dan ke kiri mencari para anak buahnya seraya mengangkat kedua tangan nya ke atas.


"Anda mencari anak buah anda?" ucap Adam dengan senyuman menyeringai. "Sudah kami bekuk semua dan anda pak Tama tidak bisa lagi berkutik dan mengelak lagi!" sambung nya.


"Ah sial!" umpat nya kesal dalam hati.


Saat Via akan berlari menghampiri Aris tiba-tiba Tama yang berada di dekatnya langsung menarik tubuh Via sebagai alat agar para polisi tidak menangkap nya. Tangan nya ia dekap dengan senjata yang ia bawa untuk jaga-jaga hal ini akan terjadi.


Tama tersenyum mencoba menghilangkan rasa gugupnya karena ia di kelilingi oleh para polisi. "Kalian semua tidak akan bisa menangkap saya! Jika berani maka saya tidak akan segan untuk menyakiti Via!" ancaman tidak main-main.


Via pun terkejut dengan perlakuan Tama yang menarik nya. "Via kamu sudah mempermainkan ku!" bisik nya pada telinga Via. "Ayok ikut dengan ku!" ucapnya seraya menodongkan pistol pada kepala Via.


Via menelan ludahnya takut dengan langkah pelan Via pun menuruti apa yang di ucapkan Tama dengan langkah pelan.


Para polisi pun masih berjaga-jaga dan masih sama-sama menodongkan pistol ke arah Tama.


Ikatan tali yang mengikat tangan Aris di lepaskan oleh salah satu rekannya. Dengan lemah Aris berdiri, ia tidak bisa membiarkan istrinya dalam bahaya.


"Anda jangan main-main pak Tama, anda bisa mencelakai suster Via." ucap Adam.


"Kalian jangan ada yang bergerak, kalau kalian ingin melihat Via baik-baik saja!" ancam nya dengan licik.


"Lepaskan istri saya!" ucap Aris menatap tajam pada Tama.


Tama menyeringai. "Tidak akan pernah saya lepaskan!"


"Sayang tolong aku!" pinta Via dengan suara tercekat karena ketakutannya.


Aris menatap wajah Via ia pun takut jika Tama akan nekad dan mencelakai istrinya, karena jika Tama merasa dirinya terancam dia akan nekad.


"Tenang sayang aku akan menolong mu." ucap Aris lembut meyakinkan Via agar ia tenang.


"Saya muak melihat drama kalian!" ucap Tama kesal.


Para polisi pun berhati-hati saat ini karena Via yang ada di tangan Tama sungguh sangat berbahaya untuk Via maka Adam terus saja mengajak Tama untuk berbicara agar dia tidak terfokus pada Via yang ia dekap.


Aris sudah siap memegang pistol di tangan nya walaupun tubuh nya tidak sempurna untuk berdiri. Namun dia pun berhati-hati. Aris menatap wajah Via dan Via pun menatap Aris. Aris memberikan kode ke arah Via dengan sebuah mata yang ia arahkan ke bawah.


Via yang mengerti apa maksud Aris padanya pun mengikuti arah kemana mata Aris. Saat Aris berkedip Via pun langsung berjongkok dengan cepat dan dengan cepat pula Aris menembakkan pistol nya pada tangan Tama.


Dor... suara tembakan tepat mengenai lengan kanan Tama sehingga Tama pun melepaskan pistol yang ia pegang terlepas, Via menjerit dan menutup kedua telinganya saat mendengar suara tembakan yang begitu dekat dengan nya, ia langsung meraih pistol Tama itu saat terjatuh di hadapannya dengan tangan bergetar karena ini kali pertamanya ia memegang sebuah pistol di tangan nya.


Ia pun langsung melempar pistol itu pada suaminya dan di tangkap oleh Aris dengan tepat. Sedangkan Tama ia langsung di tangkap oleh para polisi saat dia sedang meringis menahan sakitnya tertembak oleh timah panas menembus lengannya dan darah pun mengalir merembes ke tangan kirinya yang menahan.

__ADS_1


Aris langsung merentangkan kedua tangannya mengarah ke arah Via langsung berlari menghambur dalam pelukan Aris. Aris pun memeluk Via dengan begitu erat. Lalu mencium pucuk kepala Via.


__ADS_2