
Akhirnya pernikahan pun akan segera di laksanakan setelah proses yang panjang, seperti pendaftaran menikah kantor, pengurusan nya serta bagaimana Via yang harus tahu dan siap jika menjadi istri seorang TNI. Dan semua itu sudah terselesaikan dalam waktu yang tersisa mengingat pernikahan mereka akan segera di laksanakan.
Seminggu lagi Via dan Aris akan melaksanakan pernikahan nya di kediaman Via, namun mereka masih saja sibuk dengan pekerjaannya karena mempersiapkan sebelum mereka mendapatkan cuti nikah.
Seperti hari ini Via yang masih menjalankan tugasnya sebagai seorang suster dengan sibuk karena ada pasien kecelakaan beruntun yang dilarikan ke rumah sakit dimana Via bekerja. Aris yang dari tadi menghubungi Via namun tidak di jawab sama sekali oleh nya membuat Aris sedikit kesal karena merasa di abaikan oleh calon istrinya.
Setelah selesai Via menangani para pasien bersama dokter yang bertugas, ia langsung melihat handphone nya, di lihatnya banyak sekali panggilan dari sang calon suami dan ada juga pesan darinya yang menanyakan keberadaan dan apa yang di lakukan Via sehingga tidak bisa menjawab panggilan telepon nya itu membuat Via juga menjadi kesal.
"Dia itu kenapa sih jadi posesif begini, pake nanya aku lagi apa? Jelas-jelas aku ini sedang bekerja." gerutu Via kesal membaca pesan Aris yang seperti mengintimidasi dirinya.
Lalu Via pun siap-siap membereskan segala peralatan pekerjaan karena jam kerja sudah selesai tanpa membalas pesan dari Aris. Seminggu ini ia tidak bertemu dengan Aris karena kesibukan mereka masing-masing. Ntah bagaimana nantinya jika mereka sudah menikah apa akan seperti ini terus keadaan nya atau akan berbeda. Atau karena saat ini mereka akan menikah sebentar lagi pasalnya jika pasangan pengantin itu selalu ada saja kendala yang membuat mereka bertengkar dan membuat pasangan itu kesal ntah dari acara pernikahan atau hubungan antara mereka.
"Fi aku pulang ya!" pamit Via pada sahabat nya itu pasalnya Sofi dan Via hari ini beda jam sif.
"Ok. Hati-hati ya zeyeng!" sahut Sofi.
Via geleng-geleng mendengar jawaban Sofi sahabat nya itu ia kadang geli jika Sofi memanggilnya begitu namun Via tidak mempermasalahkan nya. Saat di depan rumah sakit menuju keluar dokter Lucky memanggil Via, ia juga sama akan pulang karena dia juga sudah selesai tugas nya.
"Via!" panggil nya.
Via menoleh namun masih melangkah kecil, sebenarnya malas juga harus menunggu nya namun sebagai teman tidak baik juga jika ia bersikap seperti itu. Dokter Lucky pun berlari kecil mendekat ke arah Via sampai mensejajarkan langkahnya dengan Via.
"Suster Via, apa benar kabar bahwa kamu sebentar lagi akan menikah?" tanya dokter Lucky menatap wajah Via.
Via langsung terdiam ia merasa tidak enak juga jika dokter Lucky yang selama ini memiliki perasaan padanya harus tahu jika dirinya akan menikah, tapi dia juga harus tahu juga karena pernikahan Via tidak mau ia sembunyikan walaupun pernikahan ini bukan pernikahan yang sebenarnya.Tapi ada untungnya juga karena jika dokter Lucky tahu ia akan menikah pasti dia tidak akan berani lagi untuk mengejarnya lagi.
"Apa benar?" tanyanya lagi.
Via tersenyum tipis. "Iya dokter Lucky, seminggu lagi saya akan menikah. Apa dokter Lucky bisa datang ke pernikahan saya? Saya mengundang dokter jika dokter berkenan untuk datang." ucap Via sedikit ragu, karena merasa tidak enak hati pada dokter itu selama ini ia selalu mengejar nya.
"Bukan nya kamu batal bertunangan dengan mantan tunangan kamu itu?" tanyanya penasaran, yang ia tahu suster Via yang selama ini mencuri hati nya itu batal bertunangan dengan kekasihnya makanya ia terus berusaha mendapatkan hati Via karena ia tahu suster Via sedang sendiri namun sekarang dia merasa terkejut tiba-tiba saja ia mendengar kabar ini dari rekan nya bahwa Via akan menikah dalam waktu dekat ini.
"Emh... itu! Emh... memang waktu itu ada pembatalan pertunangan tapi sekarang saya akan menikah." balas nya bingung harus menjelaskan nya seperti apa.
bodo amat lah bingung-bingung dia dengan jawaban ku, ah semoga saja dia tidak mengejar ku terus setelah ini.
"Oh jadi ini alasan kamu selalu menolak ajakan saya saat saya mengajak kamu jalan!" sergahnya lirih ia merasa menjadi laki-laki yang bodoh karena mengejar perempuan yang sudah memiliki calon suami.
Via mengangguk pelan kasihan juga melihat wajah nya yang sekarang seperti merasa kecewa dan sedih karena mendengar ia akan menikah padahal sebelum Aris datang ia lah laki-laki yang selalu mendekatinya ketika dia tahu jika Via sudah putus hubungan dengan Tama.
"Kenapa kamu tidak pernah bilang jika kembali lagi pada tunangan mu itu?" sergahnya ia merasa kecewa seperti di permainkan oleh Via.
"Maaf dok saya harap dokter tidak sakit hati pada saya karena selalu menolak ajakan dokter, saya tahu saya salah karena selalu membuat dokter kecewa." ujar Via merasa tidak enak hati.
"Iya tidak apa-apa saya mengerti!" sahut nya pelan.
Saat mereka sedang asyik berbicara ada mata elang yang tajam menatap ke arah mereka berdua dari depan parkir tempat mereka mengobrol. Tatapan itu menatap dengan adanya emosi yang tertahan seperti ingin menerkam sang mangsa.
__ADS_1
Aris yang memakai pakaian dinas harian itu baru saja pulang dari bertugasnya. Dengan langkah yang gagah dan tegas Aris menghampiri Via yang terlihat asyik berbicara dengan lawan jenis yang membuat Aris merasa cemburu apalagi setelah dari dekat ternyata laki-laki itu adalah dokter Lucky yang seperti memiliki perasaan yang lebih terhadap Via calon istrinya. Nah seperti itu Aris perasaan Adam saat Nisa di dekati oleh kamu!
"Suster Via apa kamu bawa kendaraan?" tanya nya.
Via menggelengkan kepalanya. "Semenjak kecelakaan saya jarang bawa motor paling naik kendaraan umum saja." tutur Via.
"Oh begitu, bagaimana jika saya ajak kamu pulang bareng, saya akan mengantarkan kamu dengan selamat!" tawar nya penuh semangat.
"Emh tidak usah dok saya pulang sendiri saja!" tolaknya lembut.
"Ayok lah ini terakhir kalinya saya mengajak kamu jalan bareng saya dan pertama kalinya juga kamu harus mau menerima ajakan saya ini!" serunya masih kekeh.
Via berpikir sejenak memikirkan penawaran dokter Lucky padanya. "Emh... baiklah saya terima penawaran kamu ini, ini yang pertama dan yang terakhir!" ujar Via penuh penekanan.
Dokter Lucky tersenyum mengembang di bibirnya ia merasa senang karena Via mau di antar pulang oleh nya, sebelum Via menikah tidak salah nya kan jika dia antarkan Via pulang saja itung-itung menerima ajakan yang sering di tolak oleh Via dulu.
Saat mereka tengah berjalan beriringan mengarah pada mobil yang di parkir suara Aris dari arah berlainan pun terdengar. "Via sayang kamu mau kemana?" teriak Aris memanggil nama Via dengan santai namun tegas.
Via menoleh ke arah suara Aris berada dan bersamaan juga dokter Lucky pun menoleh sama seperti yang dilakukan Via. Dokter Lucky mengerutkan keningnya heran kenapa pak Aris memanggil nama Via dengan di tambahkan kata sayang di belakangnya setahu dia tunangan Via itu bukan Aris karena beberapa waktu lalu mereka sempat bertemu, jadi dokter Lucky yakin jika tunangan Via adalah bukan Aris. Tapi kenapa Aris ada di sini dan melihat ke arah mereka dengan tegas dan tajam seakan kita berdua sudah melakukan hal yang salah apalagi melihat dokter Lucky yang berada di samping Via.
"Ayok sayang kita pulang! Kamu sudah selesai kan bekerja nya?" ajaknya datar. "Dokter Lucky apa ada perlu dengan calon istri saya?" tanya Aris menatap pada dokter Lucky. "Jika sudah tidak ada lagi kepentingan kami pamit!" ijinnya tegas dan cepat menarik tangan Via yang bingung karena Aris tiba-tiba saja datang.
Dokter Lucky hanya diam saja ia heran dan bingung ternyata Aris lah laki-laki yang beruntung bisa menjadikan Via sebagai istrinya. "Saya kalah cepat dengan pak Aris!" gumamnya kesal. "Bukan nya dulu tunangan suster Via adalah namanya Tama jika tidak salah! Tapi... kenapa jadi pak Aris?" tambah nya semakin bingung.
"Ih lepas! Sakit..."! rengek Via mencoba melepaskan pergelangan tangan yang Aris pegang.
Aris melepaskan pegangan tangannya lalu menatap Via dengan tajam. Namun Via mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanyanya polos seakan tidak melakukan kesalahan apa-apa.
"Ayok naik!" titah nya dengan tegas seraya memakaikan helm untuk Via, menyuruh Via untuk naik ke atas motor ninja nya, kebetulan Aris saat ini membawa motor nya tidak membawa mobil.
Sebelum motor nya di lajukan Aris membuka jaketnya yang ia pakai memberikan nya pada Via karena Via masih memakai seragam suster nya ia takut paha Via yang mulus dan putih terekspos dan di lihat oleh laki-laki lain. "Pakai ini! Aku gak mau berbagi dengan laki-laki lain!" ucapnya tegas.
Via hanya pasrah saja menerima jaket yang diberikan oleh kekasih nya itu lalu menutupi bagian bawahnya karena Aris menyuruh nya tadi. "Kenapa kamu jemput aku? Terus bawa motor seperti ini!" kesal Via karena ini akan membuat rok nya sedikit naik. Tadi ia berniat pakai mobil online saat pakai seragam seperti ini.
"Aku tadi berangkat kerja pakai motor supaya cepat sampai." ujarnya.
"Sudah siap?" tanyanya seraya menarik tangan Via agar memeluk pinggangnya. "Pegangan nanti jatuh!" sambung nya.
Via cemberut sebal pada Aris dan menggetok helm nya pelan namun dengan bibir mengumpat refleks Aris memutarkan kepalanya menatap wajah Via yang begitu dekat itu. "Awas ya kamu! ancamnya. Via cengengesan saat di ancam oleh Aris. "Orang yang berani getok kepala aku cuma kamu!" sebal Aris berkata pada Via. "Kalau kamu bawahan aku sudah aku tembak!" ancamnya.
"Aku kan memang sudah kamu tembak!" sahut Via santai.
Aris tersenyum malu-malu benar juga apa yang dikatakan kekasih nya itu tapi kan maksud dia bukan tembak perasaan. "Hadeeeeh kamu bikin kesal lama-lama untungnya aku cinta sama kamu." balas nya cepat seraya menyalakan kendaraan bermotor nya.
Tidak lama mereka sampai di sebuah toko. Aris menghentikan mesin motornya di depan sebuah toko. "Baby shop?" ejah Via heran. "Kenapa kamu bawa aku kesini? Ini peralatan untuk bayi?" tanya Via semakin heran kenapa ia di bawa ke toko bayi.
"Iya untuk mencari peralatan untuk bayi! Memang untuk apa lagi?" sergahnya. "Kita cari kado yang cocok untuk bayi. Kamu kan perempuan jadi pasti tahu." sambung nya
__ADS_1
"Bayi siapa?" tanya Via penasaran. "Aku memang perempuan tapi aku juga belum punya bayi, aku mana mengerti!" aku Via merasa keberatan.
"Nanti akan aku ajarkan bagaimana memiliki seorang bayi!" goda Aris dengan senyum nakal.
"Maksudnya apa ya?" heran Via seraya mengerutkan keningnya.
"Nanti saya akan beri tahu jika waktu nya sudah tiba." ucapnya cengengesan. "Aku akan mengajak kamu untuk melihat bayi Nisa dan juga pak Adam, aku juga akan mengundang mereka ke acara pernikahan kita nanti." tutur Aris menjelaskan maksud ia mengajak Via.
"Lebih baik kamu saja yang kesana, aku kan gak begitu mengenal Bu Nisa dan juga pak Adam." jelasnya ia merasa malu juga karena tidak begitu kenal.
"Kamu harus terbiasa mengenal mereka karena mereka adalah teman saya." ujarnya namun dalam hati Aris ia akan mengenalkan Via sebagai calon istrinya agar Adam tidak cemburu lagi padanya dan agar Adam juga percaya jika dirinya sudah tidak ada perasaan lagi pada Nisa.
"Iya! Aku mohon sama kamu agar kamu ikut dengan ku temani aku ke rumah Nisa." ajaknya memohon. "Jika kamu tidak mau, memangnya kamu rela kalau ada yang menemani ku nanti nya?" goda Aris.
"Silahkan saja?" titah nya. "Kalau berani!" ancamnya penuh penekanan membuat Aris tersenyum jika Via bersikap seperti itu cemburu padanya berati ada tanda-tanda cinta di dalam hatinya.
Setelah mendapatkan kado yang bagus untuk bayi Nisa Aris dan Via bergegas langsung pergi menuju rumah Nisa dan Adam.
"Kalau mau niat bawa kado begini bawa mobil dong jangan bawa motor!" omel Via kesal. "Lihat ini aku jadi sempit tadi pas di motor. Tahu bakal di ajak begini aku ganti pakaian dulu tadi, ribet kalau pakai baju ini!" sesal nya menggerutu pada Aris saat mereka sudah sampai di kediaman rumah Nisa.
Aris menghela nafasnya panjang. "Kamu tuh bawel banget sih, jadi pengen cubit tuh bibir!" Aris berucap seraya mencomot bibir Via yang dari tadi mengomel, Via semakin cemberut karena Aris memperlakukan nya seperti itu lalu Aris mengacak rambut Via dengan gemas.
Di depan pintu rumah Nisa bibi pembantu sudah mempersilahkan masuk kedalam pada Aris dan Via, setelah ia tahu ada pak Aris teman majikannya.
"Silahkan pak, mba masuk! Neng Nisa dan pak Adam sedang ada di dalam menemani bayinya. Tunggu sebentar saya akan panggilkan dulu majikan saya nya." tutur bibi sopan. Dan di angguki ini Aris dan juga Via.
Tidak lama Adam pun keluar dari kamar setelah bibi pembantu nya memberi tahukan jika ada Aris datang. "Pak Adam selamat sore, maaf saya mengganggu. Saya kesini ingin melihat bayi anda dan juga Nisa. Apa boleh saya melihatnya?" ijin Aris pada Adam.
Adam awalnya diam saja tidak menanggapi ucapan Aris. Namun Nisa yang baru saja keluar dari kamar nya dan menggendong bayinya karena ia mendengar dan tahu jika Aris datang ke rumah nya dengan niat yang baik untuk melihat bayinya. "Mas..." panggil Nisa lembut menatap Adam agar Adam membiasakan diri agar jangan cemburu seperti itu.
"Aris apa kabar?" Nisa berbasa-basi, melihat Adam suaminya yang diam saja.
"Baik Nisa. Oh ya perkenalkan perempuan yang ada di samping ku, dia suster Via dia calon istriku!" ucap Aris memperkenalkan Via pada Nisa dan juga Adam.
"Calon istri?" terkejut Nisa mendengar perkataan Aris. "Kamu serius Aris? Suster Via yang bekerja di rumah sakit waktu mas Adam di rawat kan?" tanyanya meyakinkan.
"Iya dia suster Via yang kamu maksud." balas nya.
"Wah aku gak percaya kalian bisa jadian, kapan kalian akan menikah?" tanya Nisa penuh semangat.
"Seminggu lagi kami akan menikah, aku kesini ingin melihat bayi kamu dan juga sekalian ingin mengundang kamu dan juga pak Adam untuk menghadiri pernikahan kami, jika kalian tidak sibuk dan berkenan untuk datang." tutur Aris menjelaskan maksud ia datang kemari. "Dan ini tadi kami sengaja membeli kado untuk bayi kamu Nisa, di terima ya maaf kado nya seperti ini karena kami bingung tidak tahu apa saja yang di butuhkan untuk bayi." ujar Aris kikuk membuat Nisa tersenyum.
"Tidak apa-apa Aris, padahal kalian gak usah repot-repot bawa kado seperti ini." balas Nisa sungkan.
Saat melihat Adam yang hanya diam saja Aris tahu jika Adam masih kesal terhadap nya lalu dengan cepat Aris mengajak Adam untuk berbicara berdua saja. "Pak Adam apa anda masih kesal dengan saya?" tanya Aris menatap Adam dengan serius mereka saat ini sedang berbicara berdua sedangkan Via bersama Nisa dan juga bayinya.
"Sudah tidak!" seru nya. "Terima kasih karena anda sudah sering membantu saya dan juga Nisa, maaf pak Aris selama ini saya bersikap begitu tidak baik kepada anda." ucap Adam benar-benar meminta maaf dengan tulus.
__ADS_1
"Tidak apa-apa pak Adam saya pun mengerti jika saya ada di posisi anda. Jadi sekarang anda sudah percayakan jika saya sudah tidak ada lagi perasaan pada Nisa. Sekarang saya anggap Nisa adalah teman saya bahkan sahabat saya tidak lebih dari itu." ucapnya mantap.
Dan pada akhirnya Adam dan Aris sekarang sudah saling memaafkan satu sama lain, Adam percaya dengan Aris karena dia akan menikah dan Aris pun sudah sangat yakin jika ia sudah tidak ada perasaan lagi pada Nisa. Masalah cinta segitiga antara Adam Nisa dan Aris sudah selesai ya tinggal cinta Aris dan Via yang masih sedang tahap proses.