
"Wah selamat bro elu udah bikin kasus ini bisa cepat terselesaikan, gue bangga punya sahabat kayak elu Dam!" aku Satria bangga memuji sahabat nya itu.
Adam hanya tersenyum tipis. "Ya terima kasih atas pujiannya, tapi gue belum tenang karena ketua geng mereka belum bisa gue tangkap, mereka itu licik dan juga licin penjahat kelas kakap ini mesti kita temukan supaya dia di hukum seberat-beratnya." ucap Adam penuh dengan emosi.
"Gue yakin elu bisa tangkap penjahat itu, karena ide elu yang selalu berhasil dalam memancing lawan selalu sukses kita jalankan." tutur Satria meyakinkan Adam.
"Iya semoga misi kita menjalankan tugas ini bisa sukses lagi." tutur Adam penuh harap.
"Iya amiin." Satria mendoakan dengan serius.
"Kenapa sih elu bukan nya senang elu bisa naik jabatan kalau elu bisa mecahin masalah ini dan bisa tangkap semua para penjahat kelas kakap itu, tapi malah gue lihat elu murung begitu, gak di kasih jatah sama bini elu jadi bete gitu!" tanya Satria saat melihat Adam lebih banyak diam biasanya dia selalu terlihat bahagia walaupun ia jarang bicara.
"Gak apa-apa." jawabnya cuek. Adam menghela nafas panjang. "Gak tahu kenapa akhir-akhir ini gue sering kepikiran Nisa, rasanya gue gak mau jauh dari dia, Nisa itu selalu gue tinggal sendiri tapi dia gak pernah marah atau pun protes sama gue, gue jadi kasihan sama dia." ucap Adam lirih.
"Iya Nisa kan udah tahu resiko nikah sama elu Dam jadi dia mengerti akan pekerjaan elu, lagi pula gue yakin Nisa itu perempuan mandiri." sahut Satria serius. Satria selalu serius jika Adam sedang bercerita padanya karena ia tahu jika Adam mau bercerita pasti itu sangat serius.
"Iya gue tahu kalau Nisa itu sudah mandiri sejak dulu sebelum kita menikah, tapi gue belum bisa cerita soal kasus yang sekarang gue tangani, gue takut Nisa jadi khawatir sama gue, apalagi dia sedang hamil gue takut!" ujar Adam pilu.
"Jadi selama elu nanganin kasus ini istri elu gak tahu? Bagaimana bisa? Ini kasus besar Dam elu harus nya minta dukungan dan doa dari Nisa, istri elu harus tahu." ujar Satria memberi tahu Adam.
Adam menghirup nafas nya berat. "Iya nanti gue akan bilang sama Nisa." jawab Adam pelan dan mantap.
*
*
*
"Assalamualaikum... assalamualaikum." ucap Adam saat ia sampai di rumah namun ia tak mendengar jawaban salam nya dan ia pun tidak melihat istrinya itu di dalam rumah.
__ADS_1
"Sayang..." panggil Adam mencari istri nya. "Kamu kemana sih?"
"Apa mas teriak-teriak begitu." sahut Nisa muncul dari taman belakang.
"Kamu ngapain dari belakang?" tanya Adam penasaran melihat-lihat ke arah belakang taman.
"Aku cuma ngadem aja sih di lesehan belakang enak seger mas angin nya sepoi-sepoi." ujar Nisa menjelaskan.
"Oh." jawab Adam pendek memeluk Nisa dengan erat dan menciumi kening Nisa lembut.
"Kenapa mas apa ada masalah? Atau mas perlu sesuatu yang bisa aku kerjakan untuk kamu?" tanya Nisa saat ia merasakan kegundahan suaminya itu.
"Tidak ada sayang." jawab Adam tersenyum. "Iya sudah mas bersih-bersih dulu ya." pamit Adam dan di angguki Nisa dengan tersenyum.
Setelah Adam selesai membersihkan tubuhnya Adam pun menghampiri Nisa yang sedang mengaji dengan sebelah tangan yang mengelus-elus perutnya, Nisa yang sedang berada di sofa ruang keluarga tidak menyadari kalau Adam suami nya itu sedang memperhatikan nya.
Adam pun tersenyum mendengar Nisa yang sedang mengaji ia bahagia dan tenang melihat Nisa dengan Pasih melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Memang bagus untuk ibu hamil selalu melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, supaya anak yang di ada dalam kandungan menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah.
"Memang kamu sudah selesai mengajinya? Boleh deh mas juga udah lapar hehehe." jawab Adam cepat.
"Iya udah ayok kita makan, bibi juga udah beres masak kok tadi." ajak Nisa pada Adam dan mereka pun makan.
Setelah selesai makan Nisa yang tadi ingin sekali bertanya kepada suaminya itu masih penasaran dengan sikap Adam akhir-akhir ini. "Mas kamu ada masalah ya, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Nisa hati-hati namun ia sangat penasaran.
Adam mengatur nafas nya karena ia belum siap menceritakan kegundahan hatinya. "Sebenarnya sih gak begitu penting sayang, ini soal pekerjaan aja sih, seperti biasanya." jawab Adam dengan senyum tipis nya.
"Cerita aja mas sama aku, aku akan siap mendengarkan cerita kamu, aku istri kamu mas aku harus tahu apa yang membuat suamiku ini seperti gelisah dan tidak tenang, siapa tahu kalau kamu sudah cerita sama aku kamu bisa lega mas." tutur Nisa lembut meyakinkan Adam supaya ia bisa bercerita padanya.
"Mas cuma takut aja kamu nanti khawatir apalagi kamu sedang hamil begini kasihan kalau kamu banyak pikiran nantinya." tutur Adam menjelaskan kepada Nisa dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Malah kalau kamu gak cerita sama aku, aku jadi penasaran mas, ayo cerita aja aku siap kok apapun itu resikonya, aku janji akan tenang." jawab Nisa mantap.
Adam menyenderkan tubuhnya ke sandaran sofa menghela nafasnya panjang lalu menoleh pada wajah Nisa yang menatapnya dengan serius dan Adam pun menatap kembali wajah cantik dan menenangkan istrinya itu.
Cukup lama Adam menatap wajah Nisa membuat Nisa semakin tidak sabar. "Ayo mas cerita sama aku, kita kok jadi tatap-tatapan begini sih mas..." rengek Nisa sebal dengan wajah yang cemberut.
Cup... kecupan singkat mendarat di bibir Nisa yang teras manis bagi Adam. "Jangan cemberut begitu mas jadi pengen cium kan jadinya." goda Adam masih sempat-sempatnya menggoda Nisa dengan perlakuan nya.
"Mas kamu yang serius dong mas..." ucapnya sebal.
Adam menghela nafasnya berat. "Begini sayang, mas mau kasih tahu kamu kalau mas akhir-akhir ini akan selalu ninggalin kamu untuk bertugas." ucap Adam pilu.
"Bukannya itu sudah biasa mas aku selalu kamu tinggal." sahut Nisa cepat apa adanya.
"Iya tapi ini berbeda sayang mas sekarang di tugaskan dan dapat tugas dari pimpinan mas untuk menyelidiki kasus yang lumayan besar dan rumit." tutur Adam menjelaskan.
"Maksud kamu mas aku gak ngerti." jawab Nisa pelan.
"Hah... begini sayang kasus ini memang sudah di tugaskan kepada rekan mas yang lain, tapi... kasus ini tidak selesai-selesai dan masalah nya juga rekan mas yang menangani kasus ini pun dia sampai kehilangan nyawanya karena kasus yang mas tangani benar-benar kasus yang serius kasus kelas kakap, pimpinan mas percayakan kasus ini untuk mas tangani." urai Adam mejelaskan kepada Nisa agar istri nya mengerti.
"Jadi kamu dalam bahaya maksud nya mas?" tanya Nisa dengan mata yang berkaca-kaca menatap mata Adam yang sama-sama menatap nya.
"Kenapa kamu gak tolak tawaran itu mas, aku takut..." jawab Nisa pelan menundukkan kepalanya.
"Ini bukan penawaran sayang, ini kewajiban dan tugas mas yang mesti di jalankan, kamu harus dukung mas selalu dan mendoakan mas agar selalu di lindungi sama Allah SWT." tutur Adam meyakinkan istri nya supaya ia selalu mendukung nya. "Lagi pula pangkat mas juga akan naik sayang kamu pasti bangga sama suamimu ini kalau mas bisa menyelesaikan tugas berat mas ini." urai Adam merayu istri nya supaya ia tidak begitu berat menerima kenyataan ini.
"Tapi mas aku gak butuh pangkat tinggi kamu mas aku cuma mau kamu saja, selalu sehat dan selalu bahagia, aku sudah bersyukur dengan apa yang kamu capai selama ini aku sudah bahagia mas cukup lah mas." ucap Nisa memohon.
"Tapi sayang ini bukan sekedar pangkat yang akan di capai oleh mas tapi kepedulian dan keadilan bagi masyarakat yang selama ini di rugikan bukan hanya negara saja yg di rugikan tapi generasi muda kita juga sayang." tutur Adam lembut. "Mas pun sudah cukup mendapatkan gelar mas ini karena bagi mas kamu kebahagiaan mas saat ini, jadi tolong kamu mengerti ya." ucap Adam memohon pada Nisa dengan penuh harap.
__ADS_1
"Doa dari kamu dan dukungan kamu sebagai istri mas itu yang sekarang mas butuhkan setelah dukungan dari keluarga mas sendiri." ucap Adam pilu.
Nisa pun menghela nafasnya panjang. "Baiklah aku akan terus dukung kamu dan mendoakan kamu tanpa kamu pinta mas, tapi aku minta sama kamu mas, kamu harus hati-hati jaga diri kamu mas dan kamu selalu minta sama Allah supaya kamu selalu di lindungi oleh Nya." tutur Nisa lembut menerima konsekuensi ini dengan ikhlas.