
Adam dan Nisa beserta keluarga besar mereka sedang berkumpul mengingat Nisa yang baru saja melahirkan anak pertamanya, membuat sang nenek baru antara ibu Andini dan mama Mel saling berebut untuk menggendong cucu pertama mereka.
"Aduh kalian ini seperti anak kecil berebut permen saja, ini bayi! Bagaimana kalau dia jatuh karena ulah kalian?" kesal papanya Adam pada istrinya dan juga besan nya itu.
Mama Mel dan ibu Andini tidak menghiraukan papanya Adam yang sedang mengomeli mereka, sehingga saat berebut bayi, bayi itu menangis karena berisik mendengar suara kedua omah nya itu.
"Aduh... cup cup cup cucu omah jangan nangis dong!" ucap mama Mel menenangkan cucunya itu.
"Ini gara-gara kamu lho Andini cucu kita jadi nangis!" mama Mel menyalahkan sahabatnya itu namun tidak dengan serius.
"Ih enak saja kamu ya Mel bikin cucu ku takut! Suara mu itu lho bikin pengang pendengaran." cibirnya.
Di saat ibu dan mama mertua nya saling menyalahkan Nisa yang tidak melihat Adam suaminya itu langsung meminta papa mertua nya untuk ijin mencari suami nya itu, karena papa mertua nya yang sedang tenang tidak ikut memperebutkan cucu satu-satunya.
Nisa yakin suaminya itu sekarang sedang berada di kamar, akhir-akhir ini ia sering terlihat diam jarang bercanda atau pun bercerita tentang pekerjaan dengan nya. Nisa tahu apa penyebabnya walaupun dia sudah sering sekali meyakinkan Adam supaya jangan bersikap seperti itu.
"Mas..." panggil Nisa lembut seraya membuka pintu kamarnya dan ia melihat Adam yang sedang berdiri menatap ke arah luar kamar.
Nisa menghampiri Adam dan mendekati Adam karena yang di panggil tadi hanya diam saja. Lalu dengan mesra Nisa memeluk Adam dari belakang karena Adam tetap bergeming di posisi nya itu.
"Mas... anak kita di perebutkan oleh kedua nenek nya lho, mereka sampai tidak mau ada yang mengalah sampai anak kita nangis." ucap Nisa masih dalam posisi memeluk Adam dari belakang.
Adam tersenyum tipis. "Biarkan mereka dekat dengan cucunya, karena anak kita cucu pertama bagi mereka." ujar Adam pelan tanpa bergerak dalam posisi dia.
"Mas... kamu gak mau kumpul dengan keluarga kita, kamu malah ada di kamar sendirian begini. Apa ada hal yang kamu sedang pikirkan?" tanya Nisa lembut seraya memutarkan tubuh Adam agar ia menghadap nya dan Nisa pun menatap Adam penuh dengan mata yang tertuju pada kedua mata Adam.
Adam menghela nafasnya panjang. "Tidak sayang, tidak ada apa-apa." jawabnya pura-pura.
"Bohong kamu mas! Aku tahu kamu masih belum bisa ngelupain aku yang di tolong sama Aris waktu aku melahirkan kan?" tanya Nisa menatap Adam.
Adam langsung salah tingkah merasa gugup karena apa yang di pikirkan nya itu diketahui oleh Nisa. "Gak kok sayang, mas gak apa-apa." elaknya.
Nisa melepaskan pelukannya pada Adam karena Adam masih mempermasalahkan kejadian kemarin saat ia melahirkan. Lalu Nisa pun melangkah mendekat ke ranjang yang ada di kamarnya lalu ia pun duduk dengan kaki menjuntai ke bawah.
Adam melihat Nisa wajah cantiknya terlihat kesal karena nya lalu Adam pun mendekati Nisa duduk berlutut di di dekatnya. Adam pun meremas tangan Nisa mendongakkan wajahnya menatap wajah Nisa. "Maaf!" lirih nya seraya wajah nya ia benamkan di pangkuan Nisa.
Nisa mengusap kepala Adam dengan sayang dan lembut. "Mas... Aku tahu kamu masih cemburu dengan Aris. Tapi... asal kamu tahu aku gak akan pernah berpaling sama kamu mas, untuk apa aku mencari laki-laki lain sedangkan suamiku saja begitu sempurnanya di mata aku." aku Nisa meyakinkan Adam.
__ADS_1
"Aku tahu kamu masih belum rela karena Aris lah yang menemani aku di rumah sakit saat aku melahirkan. Kalau saja kamu sedang tidak tugas aku mau kamu yang menemani aku mas." ucap Nisa lembut.
"Dan seharusnya aku yang marah sama kamu karena kejadian ini tapi karena aku selalu ingat kata-kata kamu yang selalu bilang, menjadi seorang istri dari seorang polisi itu harus bisa mandiri dan harus siap jika suatu saat di tinggal pergi untuk bertugas, namun karena aku juga akan melahirkan aku juga gak tahu bibi meminta tolong sama Aris karena waktu itu aku juga sudah tidak kuat jadi aku tidak peduli siapa yang menolong aku, mau Aris atau pun orang lain." ujarnya menjelaskan dan meyakinkan Adam agar ia tidak cemburu buta.
Adam terdiam mendengar ucapan Nisa ia jadi merasa bersalah karena keegoisan sikapnya yang seperti itu. "Mas sayang sama kamu, mas takut jika pak Aris masih penasaran sama kamu dan akan merebut kamu dari mas. Mas tahu kalau sikap mas salah seperti ini tapi kamu harus mengerti!" pelan Adam berkata.
Nisa mengangkat wajah Adam pelan yang masih terbenam itu dengan kedua tangannya menatap kedua matanya dengan sendu. "Mas aku juga sayang sama kamu, aku juga bahagia menjadi istri kamu. Dan lagi pula Aris juga tidak pernah ganggu aku mas malah sekarang dia terlihat menjaga jarak sama aku. Jika kemarin Aris menolong aku itu bukan karena dia masih ada perasaan tapi karena dia memiliki tanggung jawab sebagai seorang manusia yang harus saling tolong menolong. Aku yakin jika kamu di posisi Aris kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama, di saat seseorang yang membutuhkan pertolongan, pasti kamu akan menolongnya juga kan? Siapapun dia!" ujar Nisa tersenyum pada Adam agar Adam akan mengerti.
"Iya maaf! Mas sudah salah karena terlalu cemburu." balas nya cemberut yang membuat Nisa menjadi gemas melihat suaminya itu.
"Aku gemas deh lihat kamu begini mas pengen cium!" ucap Nisa seraya mencium seluruh wajah Adam dengan gemas tanpa terlewatkan satu bagian manapun membuat Adam tersenyum bahagia karena perlakuan Nisa padanya.
"Kamu tuh kayak ABG yang baru merasakan jatuh cinta aja cemburu mu buta begitu padahal udah jadi ayah begini!" cibir Nisa mentoel hidung mancung Adam yang ada di hadapannya itu dengan gemas.
Adam mencium kening Nisa dengan lembut dan lama lalu ia menatap nya. "Terima kasih sayang karena kamu selalu membuat mas nyaman dan selalu memberikan kebahagiaan yang tidak pernah mas bayangkan dan terima kasih juga karena kamu sudah melahirkan anak kita darah daging mas, kamu rela menahan sakitnya melahirkan seorang bayi. Terima kasih sayang!" ucap Adam lembut dengan menciumi tangan Nisa yang ia pegang.
"Iya mas, aku bahagia kok bisa melahirkan seorang anak, aku merasa menjadi seorang wanita yang sangat beruntung karena Allah sudah memberikan kepercayaan untuk kita memiliki seorang anak. Aku harap kita menjadi orang tua yang baik dan bijaksana nanti nya dan menjadikan anak kita yang berkualitas." ujar Nisa penuh harap.
"Itu pasti sayang, aku yakin kamu akan membuat anak kita berkualitas!" balas Adam yakin dengan tersenyum pada Nisa.
*
*
*
Papa dan mama Aris tersenyum bahagia karena putra nya ini benar-benar ingin menikah terlihat dari wajah nya yang bahagia saat memberikan kabar baik ini.
"Iya papa sama mama kapan saja akan siap melamar Via agar dia menjadi istri dan mantu mama. Mama harap penuh Aris jika kamu memang benar-benar serius dengan suster Via." mama dengan semangatnya ia berucap.
"Papa gak sangka kamu gerak cepat begitu, apa kalian memang benar-benar saling mencintai? Papa lihat dulu kamu dan suster Via seperti tidak cocok." ujar papa merasa heran.
"Aduh papa bagaimana sih anaknya ini mau menikah, kalau kedua orang tua suster Via itu sudah setuju berati Via pun sudah siap menjadi istri Aris, kan dia sudah mengenalkan Aris pada keluarganya." tutur mama Aris meyakinkan papanya itu.
"Iya sudah kapan rencana kamu melamar gadis itu?" tanya papa serius pada Aris dengan menatapnya.
"Secepatnya pah!" balas Aris cepat.
__ADS_1
***
Tidak lama waktu lamaran pun tiba. Aris bersama kedua orang tua nya dan sebagian keluarga nya yang ikut seperti Tante dan om nya karena mereka penasaran dengan calon Aris itu.
Sesampainya di rumah Via Aris beserta keluarga di sambut dengan ramah oleh keluarga Via, lamaran itu cukup banyak orang yang menyaksikan nya ya walaupun hanya keluarga besar dari Via. Mereka penasaran karena Via sudah dua kali melakukan lamaran dan keluarganya itu ingin melihat calon baru Via yang di sebut-sebut akan menggantikan Tama calon pengantin pria dulu.
Keluarga besar Via tahu cerita Via yang gagal menikah dengan Tama namun penyebab dan alasan nya mereka tidak tahu cukup kedua orang tua Via yang tahu tentang kabar ini.
Acara lamaran pun di mulai Via memakai balutan busana muslim berwarna peach dan memakai jilbab yang menghiasi kepalanya dan menutup seluruh rambutnya. Dengan cantik dan anggun Via keluar dari kamar nya dan dengan pelan menuruni anak tangga satu persatu dengan senyum manis yang menghiasi bibirnya.
Aris yang merasa gugup itu melihat ke arah dimana Via berada karena mamanya yang memberi tahu menunjukkan pada Aris ketika Via yang sedang menuruni tangga itu. Aris terdiam terpaku melihat kecantikan Via apalagi saat ini Via memakai jilbab yang menutupi rambut indahnya. Ini kali pertama Aris melihat Via memakai jilbab ia menjadi ingat akan Nisa namun ia tepis bayangan itu karena Via adalah perempuan yang berbeda dengan Nisa. Perempuan yang sekarang ia cintai dan akan ia pinang untuk menjadi istri dan menjadi ibu Persit nya.
Aris tersenyum melihat Via juga yang terlihat salah tingkah karena semua orang menatap ke arahnya walaupun dia tersenyum tapi hati nya ia merasa berdebar.
Via memakai jilbab bukan tanpa alasan karena ini kedua kalinya ia bertunangan ia menjadi ingat saat Tama melamar nya dulu. Iya pertunangan dulu dan sekarang sangat berbeda, dulu pertunangan nya sangat meriah dan mengundang banyak tamu untuk menghadiri acara pertunangan nya. Tapi sekarang ini ia cukup keluarga besarnya saja yang hadir. Ada rasa trauma pada dirinya mengingat acara pertunangan nya yang sempat gagal dan kandas di tengah jalan. Semoga pertunangan ini adalah pertunangan terakhir dan membawanya pada pernikahan nantinya.
"Ayok Via kesini nak!" panggil bunda Via lembut mengajak Via agar ikut menyambut keluarga Aris.
Via pun dengan cepat menghampiri bunda nya yang memanggilnya itu lalu ia pun menghampiri kedua orang tua Aris dan juga keluarga Aris lainnya. "Aris nya gak di salamin juga!" celetuk keluarga Via yang melihat Via seperti gugup.
Via menjadi salah tingkah bingung harus bagaimana. Apa harus menyalami Aris atau tidak. "Ayok salim sama calon suami Via..." goda keluarga nya itu.
Dan dengan malu Via pun mengikuti apa yang di sarankan keluarga nya itu dengan gemetar tangannya meraih tangan Aris dengan pelan dan Via pun mencium punggung tangan Aris dengan gugup, membuat keluarga Via dan Aris tertawa karena menggoda Via yang sangat gugup padahal ini kedua kalinya ia melaksanakan lamaran ini. Namun ntah kenapa hari ini sangat berbeda dulu Tama sudah sangat ia kenal sedangkan Aris laki-laki ini baru ia kenal bahkan belum begitu tahu bagaimana kepribadian yang sebenarnya.
Sama halnya dengan Aris, ia pun merasa gugup punggung tangan nya Via cium, ini baru pertama kalinya Via melakukan hal ini padanya. "Suster galak ku kamu sangat cantik hari ini!" bisik Aris saat Via menunduk menyalami punggung tangan nya itu. Aris walaupun gugup ia juga ingin menggoda calon istrinya itu.
Via yang mendengar bisikan Aris yang terdengar di indera pendengarannya sebal karena bisa-bisanya ia menggoda nya di saat ia sedang gugup seperti itu. Namun Via hanya bisa mendelik kan mata nya tidak suka pada wajah Aris yang sedang tersenyum menggodanya.
"Awas kamu!" ancamnya juga dengan berbisik.
Pertukaran cincin pun tiba, cincin yang mereka sudah siapkan Arislah yang pertama memakai kan cincin itu di jari manis Via lalu di susul oleh Via yang memakai kan cincin itu pada jari manis Aris. Aris tersenyum pada Via yang sedang menunduk di hadapannya. "Terima kasih." bisik Aris yang membuat Via heran kenapa dia berterima kasih padanya namun ini bukan saat nya ia mencari tahu apa yang ingin ditanyakan nya pada Aris Via hanya tersenyum tipis saja.
Acara lamaran pun selesai saat nya acara makan-makan antar keluarga. Semua berkumpul saling ngobrol kesana kesini papa Aris dan mamanya berbicara pada kedua orang tua Via sedangkan Aris nya ia curi-curi pandang pada calon istrinya itu. Merasa di perhatikan Via langsung melihat Aris dan saat itu pula Aris sedang menatapnya dan membuat mereka berdua saling menatap satu sama lain.
Aris menatap Via dengan penuh cinta sedangkan Via menatap Aris dengan penuh kesal karena dari tadi Aris membuat dia salah tingkah akan kelakuannya itu.
"Cantik!" puji Aris pada Via dengan ucapan tidak bersuara hanya mulut nya saja yang terlihat komat Kamit. Via langsung berpura-pura menyantap makanan nya lagi saat Aris berucap kata cantik padanya. Dan Aris tersenyum ia tidak sadar bahwa bunda nya Via sedang memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
"Ekhemm." bundanya Via berdehem menatap Aris yang tadi menggoda putri nya itu membuat Aris tersenyum padanya dengan sopan dan ia pun kembali memakan makanan nya. Sedangkan Via jadi mesam mesem karena Aris ketahuan menggodanya oleh bundanya itu.