Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
mimpi


__ADS_3

Nisa menghela nafasnya panjang melihat kepergian suaminya itu Nisa tak beranjak pergi masih bertahan di depan pintu tempat mereka berpisah, sampai benar-benar tak terlihat lagi padahal Nisa berharap suaminya itu memutar balikan kendaraan nya agar kembali lagi masuk kerumah.


Bibi yang selalu membantu Nisa di rumah pun merasa aneh melihat majikan nya bersikap seperti itu, padahal mereka itu sering berpisah jarang bertemu karena pak Adam sebagai majikannya selalu pergi untuk bertugas.


"Neng Nisa gak apa-apa?" tanya bibi khawatir dan heran melihat majikannya itu begitu sedih saat suaminya berpamitan tadi.


Nisa menoleh melihat pembantu nya berada di sampingnya dengan raut wajah yang sendu. "Aku gak apa-apa bi aku cuma sedih aja mas Adam pergi bertugas." lirih Nisa dengan sendu.


"Lah kan neng Nisa sudah biasa di tinggal pak Adam pergi bertugas malah hampir setiap hari pak Adam bekerja." balas bibi semakin heran dengan majikannya.


"Aku gak tahu bi rasanya hati aku sedih banget mas Adam pergi tugas hari ini aku juga bingung kenapa aku begini." sahut Nisa juga bingung dengan sikap nya akhir-akhir ini menjadi melow.


"Mungkin karena neng Nisa sedang hamil jadi baperan bawaannya, ibu hamil kan selalu begitu kadang marah-marah kadang nangis-nangis dan juga kadang suka manja mau nya diperhatikan." ujar bibi itu menjelaskan kepada Nisa.


Nisa menghirup udara dalam-dalam menenangkan hatinya yang sedang merasakan kesedihan. "Bibi tahu artinya baperan? Aku baru tahu kalau bibi itu ibu-ibu gaul." canda Nisa mencairkan suasana nya agar tidak terus-menerus bersedih.


Bibi cengengesan mendengarkan ucapan Nisa. "Tahu dong neng kan bibi suka sekali nonton sinetron makanya sedikit-sedikit bibi tahu." balas nya dengan bangga.


"Hemm." Nisa hanya berdehem rasanya lelucon itu tidak membuat nya dirinya terhibur karena perasaan yang masih kalut, lalu Nisa pun meraih handphone nya dari dalam sakunya ia mencoba mengirim pesan kepada suaminya.


"Mas kalau sudah sampai kabari aku ya... love you 🥰🥰🥰." pesan singkat pun terkirim.


Tak lama Adam pun membalas pesan istrinya. "Iya sayang mas baru saja sampai. Love you too sayang 😘😘😘."


Nisa pun tersenyum lega mendapatkan balasan pesan dari suaminya yang Nisa rasa baik-baik saja.

__ADS_1


*


*


*


Malam hari Nisa sudah tidur dari awal karena memang tidak Adam berada di sampingnya, bibi pembantu Nisa masih setia menemani Nisa yang hanya sendirian di rumah karena mama dan papa mertua berserta ibu dan Dimas belum bisa ke Jakarta, rencananya mereka akan mengunjungi kediaman Nisa besok pagi.


Tengah malam yang sangat sepi tiba-tiba Nisa berteriak histeris. "Tidaaaaak..." teriak Nisa terbangun dari mimpi buruknya saat ia tidur, keringat bercucuran dari kening nya dan perasaan yang tidak tenang. "Mas Adam." gumam Nisa lirih mengingat Adam suami nya, dengan wajah pucat dan dan sikap panik melihat ke sekitar arah kiri dan kanan.


"Hah..." Nisa menghela nafas nya lega. "Aku hanya mimpi buruk, syukurlah alhamdulilah." gumam Nisa lega ini hanya sebuah mimpi buruknya ketika ia tersadar dari tidurnya.


Nisa melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar. "Jam 2 malam!" gumamnya. Lalu Nisa pun memegang dadanya. "Kenapa perasaan aku tidak enak ya? Apa karena aku belum shalat malam? Aku shalat malam dulu saja supaya hati ku bisa tenang." ucapnya pada diri sendiri.


Setelah shalat malam Nisa selesai Nisa yang masih duduk di atas sajadah dan masih menggunakan mukena nya ia berdoa memohon pada sang maha kuasa agar di berikan ketenangan hati dan meminta agar ia dan suaminya di berikan perlindungan. Namun setelah shalat pun ia masih merasakan hati yang tidak tenang selalu mengingat suami nya yang sedang pergi bertugas.


"Neng ada apa, kenapa neng Nisa sudah bangun, ini masih malam?" tanya bibi mengangetkan Nisa saat ia baru saja keluar dari kamar.


"Ih bibi aku kaget! Itu bibi kenapa jam segini sudah bangun?" tanya balik Nisa pada pembantu nya saat ia melihat bibi keluar dari dalam dapur.


"Bibi haus neng ini baru beres minum dari dapur, neng Nisa haus juga? Bibi ambilkan ya!" tawar bibi cepat melihat majikannya seperti membutuhkan sesuatu.


"Tidak usah bi aku gak haus kok, apa mas Adam sudah pulang bi?" tanya Nisa cepat dengan penuh kekhawatiran.


"Belum neng, kan neng bilang pak Adam akan pulang lusa sampai tugasnya selesai, kenapa memang nya neng seperti nya neng Nisa terlihat cemas sekali?" tanya bibi pembantu nya melihat Nisa begitu cemas.

__ADS_1


"Iya bi aku kepikiran mulu sama mas Adam aku gak tenang rasanya kalau belum melihat mas Adam, tadi aku mimpi buruk tentang mas Adam, aku takut sekali bi ada apa-apa sama suami ku." tutur Nisa menjelaskan kecemasan hatinya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Itu hanya mimpi buruk neng aja, mimpi kan cuma bunga tidur neng, berdoa saja minta sama Gusti Allah supaya pak Adam selalu di lindungi Nya." balas bibi menenangkan hati Nisa yang sedang gundah gulana.


"Amiin..." jawab Nisa mengaminkan doa bibi pembantu nya. "Padahal aku sudah shalat malam biasanya aku selalu tenang kalau sudah melaksanakan nya tapi sekarang aku benar-benar gak tenang bi... apalagi tadi aku mimpiin mas Adam buruk sekali, dalam mimpi itu mas Adam kecelakaan saat ia mengendarai motor yang selalu ia kendarai, kecelakaan itu sangat mengerikan bi aku takut..." lirih Nisa semakin sedih mengingat suami nya.


Bibi pembantu itu pun memeluk majikannya seperti memeluk anak gadisnya yang tinggal di kampung nya bersama keluarga nya yang lain.


"Neng yang kuat ya lagi pula itu hanya sebuah mimpi pak Adam pasti baik-baik saja." ujar bibi mengelus punggung sang majikannya supaya bisa tenang.


Nisa menatap wajah tua pembantu nya itu saat ia masih dalam pelukannya. "Apa aku telepon saja ya mas Adam, memastikan kalau mas Adam baik-baik saja, biar aku gak mikir yang macam-macam." tanya Nisa meminta pendapat pembantu nya.


"Iya boleh neng biar gak was-was sama neng biar neng juga bisa tenang jadinya." balas pembantu itu menyetujui ide majikannya.


Nisa pun dengan cepat menelpon pada nomor suaminya namun beberapa kali ia memanggil nomor telepon nya tapi tidak ada jawaban sama sekali padahal nomor suaminya itu aktif dan berdering walau tidak sedang online.


"Gak di angkat bi, apa mas Adam lagi istirahat ya?" tanyanya. "Apa aku telepon aja bang Satria dia kan sahabat mas Adam, dia juga sama-sama menangani kasus yang sekarang mas Adam tangani." jelas Nisa yang membuat bibi pembantu nya mengerutkan keningnya tidak tahu menahu.


Dengan cepat Nisa pun memanggil nomor Satria sahabat suaminya yang selalu tahu keberadaan Adam ada dimana, namun sama saja panggilan telepon Nisa tidak di angkat oleh nya. "Kenapa sih gak pada di angkat, padahal kan aku cuma pengen tahu aja mas Adam baik-baik saja atau tidak!" ucapnya kesal.


"Mungkin sedang tidur kali neng ini kan jam orang lagi enak-enak nya tidur." balas bibi dengan santai.


Nisa melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan nya itu waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Nisa mendesah kesal. "Kalau pun tidur mereka angkat kek sebentar mas Adam kan kalau di rumah selalu langsung bangun dari tidurnya dengan cepat dan sigap kalau ada yang menelpon alasan nya karena urgent apalagi ini dia sedang bertugas nomor nya juga aktif bi." kesal dan resah menjadi satu saat Nisa berucap.


Tak lama sebuah panggilan telepon dari mama mertua nya saat handphone milik Nisa masih ia pegang di tangan nya.

__ADS_1


"Mama?" gumam Nisa mengerutkan keningnya karena heran. "Kenapa mama mertuaku menelpon aku jam segini ya bi?" tanya Nisa melihat ke arah bibi pembantu nya dan bibi pun hanya menggelengkan kepalanya tidak tahu.


"Coba di angkat neng siapa tahu itu penting!" balas bibi pun dengan heran.


__ADS_2