Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
bertanya-tanya


__ADS_3

Ketika mereka ( Nisa, mama, papa dan bibi pembantu nya) telah sampai di depan ruangan dimana Adam di rawat. Nisa melihat suster keluar dari ruangan Adam dengan membawa peralatan medis yang selalu seorang suster bawa, seperti untuk pengecekan tekanan darah, mengecek infusan dan lainnya.


"Suster apa pak Adam suami saya sudah bisa di jenguk?" tanya Nisa cepat saat melihat suster keluar dari ruangan Adam.


Suster itu tersenyum ramah dan sopan. "Maaf Bu, pasien belum bisa di jenguk karena dokter yang menangani suami anda belum datang. Nanti dokter akan memeriksa pasien kembali, ibu bisa tanyakan itu kepada dokter nanti supaya lebih jelas." ujar suster itu menjelaskan.


Nisa mengangguk paham. "Baiklah sus terima kasih." balas Nisa.


"Iya Bu sama-sama, kalau begitu saya permisi." pamitnya dan di angguki Nisa dengan pelan.


Nisa menghela nafasnya berat lalu ia menatap wajah kedua mertua nya dan menghampiri mereka dengan berjalan melangkahkan kakinya pelan. "Mas Adam belum bisa di jenguk mah, pah." ucap Nisa memberi tahu mertuanya dengan menatap wajah mereka silih berganti.


"Mama ingin sekali lihat keadaan Adam, tapi kalau begini kita harus bagaimana lagi." jawab mama sedikit kecewa karena tidak bisa melihat kondisi Adam saat ini.


"Nanti dokter akan memeriksa lagi mas Adam dan tadi suster bilang kita bisa tanyakan hal ini pada dokter yang menangani mas Adam." tambah Nisa memberi tahu kepada mertuanya supaya dia tidak merasa kecewa.


Nisa duduk bersamaan dengan kedua mertuanya itu. "Mah apa ibu sudah mama kasih tahu soal keadaan mas Adam sekarang?" tanya Nisa dengan suara yang sendu.


"Belum sayang, mama belum sempat memberi tahu kabar ini dan sekarang juga mama gak tahu ibu kamu dan Dimas masih dimana? Coba mama telepon ya! Tapi mama gak akan kasih tahu dulu sama ibu kamu takut mereka masih di jalan terus khawatir pasti mereka bertanya-tanya dan pasti mereka butuh penjelasan, lebih baik kita beritahu mereka saat sudah sampai di Jakarta." mama memberi saran dan di angguki pelan oleh Nisa.


Mama Mel pun mencoba menelpon Andini sahabatnya itu, tidak butuh waktu yang lama Andini menjawab panggilannya itu.


"Assalamualaikum Andini, kamu masih dimana sekarang?" tanya mama Mel langsung tanpa jeda.


"Wa'alaikumussalam Mel aku dan Dimas masih di jalan bentar lagi sampai kok. Ada apa? Apa kamu sudah sampai di rumah tempat anak-anak kita?" tanya ibu Andini yang tidak merasa terjadi apa-apa.


"Andini, kamu dan Dimas tidak usah ke rumah anak-anak kita, kamu dan Dimas langsung ke rumah sakit saja ya aku tunggu kamu dan Dimas disini, di rumah sakit x x." tambah Mel cepat.


"Lho ada apa Mel dan kenapa aku harus ke rumah sakit siapa yang sakit?" beruntun pertanyaan yang Andini lontarkan pada Mel sahabat nya itu karena ia merasa heran dan juga khawatir karena ia takut terjadi sesuatu pada mereka.


"Nanti aku akan beri tahu dan akan aku jelaskan semuanya kepada kamu Andini!" balas mama Mel pelan.


"Iya sudah aku akan ke rumah sakit sekarang! Tunggu aku di sana ya." jawabnya cepat.


"Iya sudah aku tunggu kamu dan Dimas ya kalian hati-hati di jalan." ucap mama Mel

__ADS_1


Dan sambungan telepon pun selesai, mama Mel melihat Nisa yang seperti kelelahan, ia merasa kasihan kepada menantunya itu tapi dia bahagia karena Nisa begitu mencintai dan menyayangi Adam anaknya sampai Nisa mau menunggu Adam padahal ia sedang mengandung buah hatinya dengan Adam.


"Sayang..." panggil mama Mel pada Nisa dengan lembut dan mama Mel pun mengelus pucuk kepala Nisa penuh kasih sayang Nisa pun tersenyum tipis hampir tidak terlihat karena terpaksa untuk menutupi kesedihannya dengan senyumnya itu.


"Kamu yang kuat ya, Adam pasti baik-baik saja." ucap mama Mel dan di angguki kepala oleh Nisa mata memerah.


"Ibu kamu sudah mama kasih tahu, ibu sama Dimas akan kesini langsung dari perjalanan mereka." tambah mama Mel.


"Iya mah." jawab Nisa pendek.


Saat Nisa dan kedua mertuanya itu sedang duduk di ruang tempat tunggu Satria yang melihat Nisa bersama kedua orang tua Adam sahabatnya langsung menghampiri mereka.


"Assalamualaikum Nisa, om, tante?" sapa Satria menatap saling berganti pada keluarga Adam.


"Wa'alaikumussalam." jawab mereka bersamaan.


"Nisa bagaimana keadaan kamu dan kandungan kamu? Baik-baik saja kan?" tanya Satria menatap ke arah Nisa yang sedang memijat pelipisnya.


Nisa mendongakkan kepalanya melihat Satria yang ada di hadapannya dan menatap nya. "Seperti yang Abang lihat." jawab Nisa pelan dengan senyuman tipisnya.


Nisa tersenyum. "Terima kasih bang, atas ucapan yang Abang berikan. Oh ya bagaimana kelanjutan kasus mas Adam apa pelaku penembakan itu sudah tertangkap?" tanya Nisa penasaran.


Satria menghirup nafas nya dalam-dalam saat akan menjawab pertanyaan Nisa, ya pelaku penembakan terhadap Adam itu sudah tertangkap namun para anggota yang akan menjalani misi bersama Adam sebelum Adam tertembak itu gagal total karena mereka sudah mengetahui rencana yang sudah Adam rencanakan. Sekarang para anggota kepolisian yang bergabung dengan Adam harus mencari ide dan rencana baru lagi untuk menjalankan misinya itu, namun kali ini berbeda tidak Adam di dalamnya.


"Para pelaku penembakan itu sudah tertangkap oleh pihak kami setelah terjadinya penembakan itu. Karena di bantu juga oleh pak Aris yang sudah menembakkan peluru nya pada kedua pelaku. Akhirnya dengan mudah anggota kepolisian bisa menangkap pelaku nya, kami masih memperdalam motif di balik terjadinya penembakan ini dengan meminta keterangan dari pak Aris sebagai orang yang melihat dengan jelas kejadian itu dan orang yang bersama Adam pada saat terjadinya penembakan." jelas Satria dan di dengarkan dengan serius oleh Nisa dan kedua orangtuanya.


"Lalu... apa Aris sudah memberikan keterangan nya pada pihak kepolisian?" tanya Nisa penuh selidik.


Satria mengangguk- angguk. "Iya sudah, pak Aris sudah memberikan keterangan nya pada pihak kami, tadi setelah ia mengantarkan kamu ke dokter kandungan, pak Aris pun tidak merasa keberatan karena dia sudah memberikan kesaksian terjadinya penembakan itu dengan sebenar-benarnya."jelas Satria detail.


Mama Mel yang mendengar kabar tentang kasus Adam pun angkat bicara. "Pak Aris? Siapa dia? Dan ada hubungan apa Adam dengan nya?" tanyanya penasaran.


"Aris itu teman kami mah tapi dia seorang TNI kebetulan dia sedang bersama mas Adam saat terjadinya penembakan pada malam itu, makanya pihak kepolisian meminta Aris menjadi saksi kasus penembakan mas Adam." jelas Nisa.


"Oh seperti itu ya!" ucap mama bernafas lega karena si pelaku sudah tertangkap.

__ADS_1


"Baiklah Nisa, Tante, om saya pamit ya, hari ini saya ada tugas di luar, maaf juga jika saya sekarang tidak bisa menunggu Adam disini." pamit Satria kepada semuanya.


"Iya gak apa-apa bang aku malah berterima kasih semalaman kan Abang yang tunggu mas Adam disini sekarang biarkan kami yang menunggunya." balas Nisa mengucapkan banyak terima kasih.


"Iya nak Satria terima kasih banyak tante sama om juga sama kamu karena sudah membawa Adam ke rumah sakit." sambung mama Mel.


"Sama-sama, jika ada apa-apa kabari saya ya, saya siap kok bantu kalau sedang tidak ada tugas." jawab Satria cepat. "Kalau begitu saya pamit ya, assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam." jawab bersamaan.


Satria pergi dan tak lama Aris pun datang dengan membawa makanan banyak untuk Nisa, Aris ingin Nisa selalu makan walaupun hati nya Nisa sedang bersedih.


"Assalamualaikum." ucap Aris saat ia berada di hadapan Nisa dan kedua orangtuanya Adam.


"Wa'alaikumussalam."


"Aris?" gumam Nisa dengan memutar bola matanya malas melihat Aris. Nisa suka sebal melihat Aris datang ntah kenapa.


"Ini Nisa aku bawakan makanan untuk kamu." ucapnya sambil memberikan kantong yang besar berisi makanan dari tangannya.


"Siapa laki-laki ini perhatian sekali terhadap menantu ku?" batin mama Mel melihat laki-laki yang ada di hadapannya dengan seragam rapi serba hijau warna TNI.


"Kenapa kamu repot-repot bawa makanan kesini? Aku jadi gak enak sama kamu karena sudah merepotkan kamu." balas Nisa tidak enak hati.


"Ah tidak merepotkan kok tadi aku kebetulan lewat toko makanan, terus aku ingat kamu yang gak mau makan, siapa tahu makanan ini kamu suka. Di makan ya kasihan kandungan kamu kalau kamu tidak mau makan." ujar Aris penuh perhatian.


Nisa yang mendengar ucapan Aris yang begitu perhatian membuat dia menjadi tidak enak hati apalagi Aris berbicara seperti itu di hadapan kedua mertuanya yang sedang memperhatikan. "Emh...Makasih ya." sahut Nisa gugup dan mengusap leher belakang nya yang tiba-tiba merasa dingin.


"Maaf anda siapa ya?" tanya mama Mel penasaran dengan laki-laki ini.


"Oh, perkenalkan saya Aris teman Nisa dan juga rekan pak Adam, Tante sama om siapa ya?" Mengulurkan tangannya mengajak salaman dengan sopan.


"Tante sama om orang tuanya Adam, oh nak Aris ini yang menjadi saksi kasus Adam ya?" tanya mama Mel.


"Iya tante." jawabnya cepat.

__ADS_1


"Nak Aris ini seperti dekat sekali dengan Nisa, apa mereka memang teman dekat ya dan apa Adam tahu kedekatan mereka ini?" batin mama Mel bertanya-tanya. "Ah sudah lah kenapa aku harus mikir seperti itu Nisa perempuan baik-baik dia menantu ku yang baik." batinnya.


__ADS_2