
Aris membawa Via ke dalam kamar kosan dimana Via tinggali. Dengan begitu pelan Aris membaringkan tubuh Via pada tempat tidur lalu ia dudukan tubuh Via dengan ganjelan bantal di belakang tubuh nya. "Kamu istirahat ya jangan banyak gerak!" titah Aris perhatian pada Via.
Via tersenyum tipis. "Terima kasih!' ucap Via pelan. Walaupun Via selalu ketus pada Aris tapi setiap Aris membantu nya ia selalu tidak lupa mengucapkan kata terima kasih.
"Iya sama-sama. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya." ucapnya. "Kalau begitu saya pamit ya. Istirahat jangan banyak pikiran yang membuat kamu sakit." sambung nya dengan lembut pada Via. "Ok saya pulang!" ijinnya seraya keluar dari kamar kosan Via.
Via yang melihat Aris keluar dari kamar kosan nya dengan tatapan kosong lalu ia pun menatap ka atas untuk menetralisirkan hatinya saat ini.
Di luar kamar kosan penjaga kosan menghampiri Aris saat melihat Aris keluar dari kamar kosan Novia. "Sudah pak! Saya penasaran mba Novia kok bisa jatuh begitu terus kenapa yang antar bukan mas Tama. Biasanya kan mas Tama yang selalu antar mba Novia kesini." ucapnya penuh tanya.
"Memang bapak tahu Tama siapanya Via?" tanya Aris menatap si penjaga itu.
"Tahu lah pak, mas Tama itu pacar nya mba Novia malah tunangannya, dia itu sering kesini tapi sekarang sudah lama saya gak pernah lihat dia." jawabnya cepat.
Aris yang mendengar jawaban penjaga itu yang bilang Tama sering kesini membuat hatinya sedikit cemburu, ada rasa kesal dan tidak rela perempuan yang ia cintai sekarang dekat dengan laki-laki lain. "Sekarang bapak harus tahu dan harus selalu bapak ingat. Saya adalah pacar barunya Novia jadi kalau ada laki-laki yang mencoba mendekati Via pacar saya bapak harus lapor sama saya." ucapnya tegas. "Ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa tentang Via bapak harus hubungi saya secepatnya!" titah Aris dengan serius seraya memberikan kartu namanya beserta uang untuk membeli rokok.
"Terima kasih pak, siap saya akan bilang sama bapak kalau ada apa-apa sama mba Novia." jawabnya senang.
Aris pergi dari kosan Via dan langsung mengendarai mobilnya untuk pulang. Kejadian hari ini membuat dia bahagia dan juga kesal sekaligus cemburu.
"Hah." Aris membuang kasar nafasnya itu, menghirup udara segar sebanyak mungkin. "Bagaimana caranya ya aku bisa mendapatkan Via, dia itu seperti tidak ada rasa sama sekali. Perlakuan apa yang membuat dia akan luluh dan menerima ku?" gumam Aris pelan.
Sore harinya Via yang sedang tiduran terbangun karena sebuah ketukan pintu pada kamar nya. "Ya sebentar!" sahut Via pelan saat gedoran pintu semakin keras.
Via berjalan pelan dengan pincang menuju pintu kamar kosannya lalu membuka nya dengan susah ia melangkah. "Ada apa pak?" tanya Via setelah membuka pintu dan terlihatlah bapak penjaga kosan.
"Ini mba ada kiriman makanan tadi ada ojol kesini yang kirim." ucapnya.
Via mengerutkan keningnya heran. "Perasaan saya gak pesan makanan pak, bapak salah orang kali?" tanya Via meyakinkan pak penjaga.
"Gak salah kok mba, katanya kiriman pak Aris untuk mbak Novia." ujar nya mantap.
"Pak Aris?" tanyanya lagi dan di angguki pak penjaga.
"Ini mba ambil saja." ucap pak penjaga memberikan makanan itu dan mau tidak mau di raih oleh Via.
__ADS_1
"Makasih ya pak?" ucap Via. "Sama-sama mba." sahut pak penjaga.
Via pun masuk dan meletakkan kiriman makanan itu tak lama handphone nya berdering sebuah panggilan dari nomor tertera nama "Pengobat hati". Via mengerutkan keningnya bingung. "Ini nomor siapa ya, perasaan aku gak pernah simpan nama dengan nama seperti ini." gumam Via bingung.
Lalu Via pun mengangkat nya panggilan itu. "Hallo, assalamualaikum." sapa nya.
"Iya, wa'alaikumussalam ini dengan siapa?" tanya Via penasaran.
"Apa kiriman makanan yang saya kirim sudah sampai?" tanyanya.
oh jadi ini nomor pak Aris? Darimana ia tahu nomor aku? Apa Sofi yang memberikan nomor ku.
"Pak Aris! Kenapa anda bisa tahu nomor saya dan apa anda juga yang memberikan nama di kontak handphone saya ini?" tanya Via cepat.
"Iya, ini nomor saya, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya kan jadinya." sahut Aris.
"Anda sungguh tidak sopan ya mengotak-atik handphone saya saat saya di rawat!" emosi Via kesal mengetahui handphone pribadinya ada yang membukanya.
"Saya tidak mengotak-atik handphone kamu kok saya cuma meminta nomor kamu saja dan menyimpan nomor saya di handphone kamu." ujar nya menjelaskan. "Saya gak berani kalau sampai mengotak-atik handphone kamu itu, karena saya gak punya hak untuk itu." tambah nya.
"Kamu jangan marah ya, saya cuma khawatir sama kamu karena kamu kan perempuan, sendirian di kota ini dan kamu jauh dari keluarga kamu. Saya gak mau kalau kamu merasa sendirian di sini." ujar nya lembut.
"Ya sudah kamu makan saja ya, saya sengaja mengirimkan makanan untuk kamu supaya kamu tidak usah menyiapkan makanan sendiri. Istirahat yang cukup setelah kamu makan jangan berpikiran aneh tentang saya, karena saya tidak akan pernah menyakiti kamu dan saya juga tidak akan pernah berbuat jahat sama kamu." ucap Aris meyakinkan Via.
Via menghela nafasnya lega. "Ok terima kasih untuk makanan nya." sahut nya cepat dan langsung menutup panggilan telepon nya itu.
"Hallo...hallo." ucap Aris mendengar telepon nya Via tutup begitu saja. Aris menghela nafasnya pendek. "Saya suka kamu suster galakku! Sepertinya ini akan menjadi perjalanan cintaku yang sangat sulit aku dapatkan dan aku akan memperjuangkan itu!" tekadnya penuh semangat dengan senyuman simpul menghiasi bibirnya.
Dua hari kemudian Via yang baru saja akan berangkat bekerja karena dua hari ini ia tidak masuk bekerja karena kecelakaan itu terjadi membuat dia mengharuskan tidak masuk dahulu. Kaki yang masih di perban pun menghiasi kakinya yang putih dan mulus itu.
Saat ini ia sedang menunggu ojol untuk ia berangkat bekerja karena si matic putih kesayangan masih di bengkel. Saat ia berdiri tepat di depan gerbang kosan terllihat mobil menepi dekat dimana Via berdiri. Via tahu itu mobil siapa namun dia hanya berpura-pura tidak tahu.
Terdengar suara klakson mobil di bunyikan namun Via bergeming tidak memperdulikan. Dan karena Via hanya diam saja lalu si pemilik mobil itu membuka kacang mobil nya. "Ayok naik!" ajak Aris pada Via yang diam saja.
"Tidak usah pak saya bisa berangkat sendiri kok." tolaknya lembut.
__ADS_1
"Ayok naik! Saya gak suka ada penolakan! Saya tahu motor kamu masih di bengkel tapi lebih baik saya antar kamu saja karena saya gak mau hal seperti kemarin terjadi lagi." ujar Aris.
"Anda tahu saya berangkat kerja hari ini dari siapa?" tanya Via heran.
"Kamu gak usah tahu saya tahu dari mana dan dari siapa, yang jelas saya hari ini akan mengantarkan kamu berangkat bekerja dengan selamat dan tidak kurang satu apapun." balas nya dengan pasti. "Ayok nanti kamu bisa telat." ajaknya lagi.
Via pun mau tidak mau naik ke dalam mobil Aris dan di sambut Aris dengan perasaan bahagia. Via sedikit merasa canggung karena hari ini Aris terlihat sangat berbeda dan santai.
Hari ini Aris tidak menggunakan pakaian seragam yang sering ia pakai. Hari ini Aris memakai kaos putih dan kemeja biru tua dengan sengaja kancing kemejanya ia tidak di kancing kan.
Aris yang merasa diperhatikan oleh Via merasa sedikit malu namun ia tidak memperlihatkan kegugupan yang ia rasakan saat ini. "Saya memang ganteng tapi kamu jangan tatap saya seperti itu dong." ucap Aris dengan bangganya tanpa melihat ke arah Via ia tetap fokus ke depan.
Via langsung melengoskan pandangan nya ke luar karena ketahuan sudah memperhatikan Aris.
"Tidak usah malu seperti itu, saya suka kok kalau di perhatikan seperti itu!" goda Aris pada Via yang diam saja ntah karena malu atau memang malas berdebat.
"Oh ya bagaimana keadaan kamu sekarang, apa lebih baik?" tanya Aris di tengah diam nya mereka di dalam mobil.
"Seperti yang anda lihat!" sahut nya cepat tanpa menoleh pada Aris.
"Kalau saya lihat keadaan kamu luka bekas kecelakaan sih sepertinya sudah membaik tapi... luka hati kamu sepertinya belum membaik." ucapnya. "Saya punya penawaran untuk kamu suster Via!" tambah Aris menatap sekilas pada wajah Via dengan serius.
"Penawaran apa maksud anda?" sahut Via penasaran.
"Bagaimana kalau kita menikah saja!" ujar nya langsung.
"Apa maksud anda, menikah?" tanya Via terkejut.
"Saya kemarin tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu bersama sahabat kamu, dan saya yang akan menggantikan mempelai pria yang akan bersanding dengan kamu di pelaminan nanti." ucap Aris bersungguh-sungguh.
"Sebenarnya sih saya juga ingin meyakinkan bahwa saya sudah melupakan perempuan yang saya pernah saya cintai dan juga suami nya itu. Dahulu saya sempat mencintai seorang perempuan yang sudah bersuami dan suaminya itu tahu jika saya ini memiliki perasaan pada istrinya. Saya ingin membuktikan kepada mereka bahwa saya sudah tidak ada lagi perasaan padanya namun sepertinya suami nya belum percaya pada saya karena saya belum menikah dan belum dekat dengan perempuan lain." ujar Aris menjelaskan.
"Tapi pernikahan bagi saya bukan mainan. Pernikahan adalah janji suci yang mesti di jaga seumur hidup saya dengan tegas menolak penawaran ini." balas Via dengan tegas.
"Apa kamu mau orang tua kamu malu karena batal nya pernikahan kamu apalagi kasus nya kamu di tinggalkan oleh tunangan kamu sendiri. Coba kamu pikirkan baik-baik ini sangat menguntungkan untuk kita berdua, orang tua kamu tidak akan malu karena pembatalan pernikahan kamu dan saya bisa membuktikan pada perempuan yang sempat saya cintai dan suaminya bahwa saya benar-benar tidak akan menggangu rumah tangga mereka. Coba kamu pikirkan lagi penawaran ini saya gak akan curangin kamu kok." Aris mencoba meyakinkan Via untuk menerima penawaran nya ini.
__ADS_1
Via terdiam ia bingung dengan penawaran ini merasa menggiurkan tapi ia merasa takut juga karena akan menodai kesucian pernikahan.