
"Mas, jangan seperti ini mas..." ucap Nisa lirih dan air matanya pun membasahi pipi mulus nya.
Adam yang sudah tidak tahan lagi untuk mengakhiri permainan ini pun tidak tega melihat gadis yang ia cintai menangis gara-gara dirinya yang mengerjai tunangannya itu. Adam memeluk Nisa dengan sayang, ya walaupun Adam tadi memang marah dan kesal sekaligus cemburu pada kejadian tadi namun saat Rangga datang menemuinya sebelum Adam pulang dan Adam mendengar kan penjelasan dari Rangga membuat kesalahpahaman ini jadi terselesaikan.
Nisa masih sesenggukan di pelukan Adam tanpa membalas pelukan Adam. "Saya tadi cemburu melihat kamu dengan pak Rangga tapi sekarang saya tahu kalau kalian memang tidak ada hubungan apa-apa." ucap Adam lembut.
"Maafkan saya ya membuat kamu nangis, saya sudah tidak apa-apa hanya masih sedikit kesal sama kamu karena kamu tidak jujur sama saya." jelas Adam penuh kelembutan.
"Jadi mas gak marah kan sama aku? Terus mas kesal sama aku kenapa aku gak jujur tentang apa sama kamu mas?" tanya Nisa pelan dan menghapus air matanya yang sempat jatuh.
"Saya kesal kamu tidak jujur sama saya, kalau semalam pak Rangga mengirim pesan untuk mengajak kamu bertemu." sahut Adam.
Nisa melepaskan pelukannya dari Adam. "Aku belum cerita sama kamu karena kita juga baru bertemu kan mas dan lagi pula aku bertemu dengan pak Rangga pun itu juga tidak sengaja." elak Nisa.
"Iya mas sudah tahu, tadi pak Rangga sudah menjelaskan semuanya secara detail." ucap Adam dengan senyuman manisnya. "Maafkan mas ya tadi cuma bercanda marah-marah sama kamu." goda Adam menatap wajah Nisa yang memerah karena sudah menangis.
"Mas jahat! Udah ah aku mau keluar mana kunci pintu nya, aku mau balik ke kontrakan aku." pinta Nisa kesal.
"Sebentar dong, main aja dulu kan kamu yang tadi ikuti mas sampai ke dalam sini, jadi bukan salah mas dong kalau saya kurung kamu di sini." goda Adam memainkan alis nya.
"Mas..." geram Nisa memanggil nama Adam.
Nisa pun mencoba merebut kunci dari tangan Adam, namun tidak berhasil, alhasil Nisa cemberut sebal pada Adam yang mempermainkan nya dari tadi.
Nisa tersenyum licik. "Lihat aja mas aku kerjain kamu!" batin Nisa berucap.
Nisa pun berpura-pura menangis sesedih mungkin agar akting nya membuat Adam membukakan pintunya. "Eh kamu kenapa nangis? Sudah jangan nangis nanti orang kira saya sudah berbuat macam-macam sama kamu!" bujuk Adam dengan lembut.
Nisa pun menghentikan tangisnya. "Buka mas pintu nya, atau kamu mau aku nangis lagi." ancam Nisa pada Adam.
"Iya mas buka pintu nya tapi kamu jangan nangis lagi ya." ucap Adam lalu ia pun membukakan pintunya.
Setelah di buka Nisa pun dengan cepat keluar dari kontrakan Adam. "Kena kamu mas!" goda Nisa dengan senyum licik nya. "Aku gak bakal mau lagi masuk ke kontrakan kamu!" ucap Nisa sebal lalu ia pun pergi dan masuk ke kontrakan nya sendiri.
"Eish kamu ngerjain saya ya, awas ya kamu!" ancam Adam dengan candanya, lalu Adam pun tersenyum simpul melihat Nisa yang cemberut dan Adam pun merasakan kebahagiaan
__ADS_1
nya setelah kesalahpahaman ini sudah terselesaikan.
***
Saat Nisa masuk ke kontrakan nya sebuah panggilan telepon dari ibu nya yang berada di kota Bandung. Dengan cepat Nisa pun mengangkat telepon nya.
"Assalamualaikum nak, apa kabar kamu di sana?" tanya ibu Andini pada anak perempuannya saat panggilan nya di angkat oleh Nisa.
"Wa'alaikumussalam Bu, Nisa alhamdulilah baik, ibu dan Dimas jadi kan ke Jakarta?" tanya Nisa penuh harap saat ibunya menelpon Nisa.
"Ibu dan Dimas akan ke Jakarta saat kamu wisuda nanti, tapi ibu gak janji ya!" goda ibu Andini.
"Ya..., pokok nya ibu harus bisa hadir saat Nisa sidang nikah dinas dan wisuda nanti." pinta Nisa pada ibunya.
***
Hari ini Nisa dan Adam beserta keluarga Adam dan Nisa akan menghadiri sidang nikah dinas polri antara Adam dan Nisa, ini salah satu syarat untuk menikah bagi anggota polri. Hal ini dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana kesiapan anggota dan pasangannya untuk melakukan pernikahan dengan anggota polri mengingat tugas dan tanggung jawab Polri yang berat.
Perlu diketahui bahwa tugas Polri sangat berat dan beraneka ragam, untuk itu sebagai istri dari anggota Polri harus memahami suaminya. Sehubungan dengan hal tersebut di atas selaku seorang istri anggota Polri dituntut dalam kesederhanaan.
Sehubungan dengan hal tersebut sangat diperlukan pengertian calon istri agar bisa mendukung pelaksanakan tugas sehari hari yaitu tugas polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.
***
Setelah wisuda nanti selesai, seminggu kemudian Adam dan Nisa akan mengadakan resepsi pernikahan mereka di kota Bandung tempat kelahiran Nisa.
Nisa berniat mengundang teman-teman kuliah nya, mumpung masih bisa bertemu dengan mereka saat wisuda nanti. Jika semua sudah lulus kemungkinan Nisa dan teman-temannya tidak bisa atau akan sulit untuk berjumpa lagi. Inilah saat-saat tersedih saat kita dan teman kita berpisah, berpisah demi cita-cita yang tinggi, harapan dan keinginan kita masing-masing untuk masa depan kita.
Seperti biasa Nisa, Rahma dan Aldo mereka selalu bersama dimana pun mereka berada, apalagi hari ini hari dimana mereka akan terpisah dengan tempat dan masa yang berbeda.
Nisa dan Rahma menggunakan kebaya yang sangat sederhana tapi cantik bagi si pemakainya, hanya bedanya Nisa yang memakai jilbab dan Rahma yang rambutnya yang terurai dengan cantik, sedangkan Aldo ia memakai jas hitam dan kemeja putih dengan memakai celana jeans berwarna hitam terlihat formal namun santai.
"Ah gue sedih banget kita gak bakal bisa kumpul lagi kayak dulu setelah lulus ini." ucap Rahma sendu menatap Nisa dan Aldo bergantian.
"Kalau elu masih betah di kampus ini, elu bisa aja ikut pelajaran lagi dan gak usah lulus-lulus, gampang kan!" sahut Aldo santai.
__ADS_1
"Eh sembarangan ya elu Do, kalau gue terus-terusan disini gue **** dong kagak lulus-lulus." jawab Rahma sebal.
Aldo tertawa lepas. "Ngakuin kalau elu itu ****?" haha
Rahma menyumpal mulut Aldo dengan tisu yang ia punya saat Aldo menertawakan nya. "Rasain elu!" kesal Rahma pada Aldo.
Nisa hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua. "Gue pasti kangen kalian saat melihat kalian berantem seperti ini." ucap Nisa dengan sendu dan senyum nya.
"Ah gue kok jadi sedih ya, kalian harus janji selalu kasih kabar ke gue, sesibuk apapun kalian kita gak boleh putus hubungan." pinta Rahma pada Nisa dan Aldo.
Nisa dan Aldo pun tersenyum lalu mereka pun berpelukan. "Janji" ucap mereka serempak.
Ekhem sebuah deheman suara laki-laki saat mereka bertiga berpelukan. Dan Aldo langsung di tarik oleh laki-laki yang berdehem itu.
"Kamu laki-laki kan? jangan coba-coba kamu peluk istri saya." ancam Adam pada Aldo dengan sorot mata tajam nya.
"Iy...iya pak siap!" jawab Aldo gugup dan takut.
"Mas Adam!" sahut Nisa gembira melihat Adam datang saat ia wisuda. "Mas dia Aldo sahabat aku, kamu jangan galak-galak sama dia mas." pinta Nisa pada Adam melihat wajah Aldo yang sangat pucat.
"Iya saya tahu dia sahabat kamu, tapi dia kan laki-laki." ucap Adam tegas.
"Iya maaf mas, aku juga pelukannya bertiga sama Rahma kok, gak nempel banget." elak Nisa.
"Sama saja, saya gak rela!" ucap nya ketus.
"Iya... maaf." lirih Nisa.
"Laki elu galak banget sih." bisik Aldo pada telinga Nisa.
Ekhemm Adam berdehem kembali melihat Aldo berbisik ke telinga Nisa yang begitu dekat.
"Elu mah Do jangan macam-macam sama si Nisa sekarang dia ada singa nya." ucap Rahma berbisik juga pada Aldo.
"Elu punya laki cemburuan banget sih." gerutu Rahma pada Nisa setengah berbisik.
__ADS_1
Ekhemm. "Saya dengar ya ucapan kamu!" sahut Adam menjawab perkataan Rahma.
Hehe. "Maaf pak saya cuma bercanda." ucap Rahma cengengesan.