
Saat ini Via sedang membawa secangkir teh hangat untuk suaminya yang baru saja pulang dari pekerjaannya, dengan langkah yang pelan Via membawa gelas itu ke kamar, namun langkah nya terhenti saat suaminya itu sedang menerima telepon dengan suara pelan. Via terus mencoba menguping dengan siapa suaminya berbicara, karena mendengar sedikit suara perempuan di dalam telepon itu dan sesekali suaminya memanggil nama itu dengan nama perempuan dengan pelan.
Aris begitu khawatir dan terlihat panik saat menerima panggilan itu lalu menutup nya dengan cepat. Lalu karena suaminya itu sudah selesai berbicara barulah Via masuk ke dalam kamarnya itu dengan secangkir teh di tangan nya.
"Bang ini teh nya!" Via menyerahkan teh hangat di tangan nya memberikan nya pada Aris namun Aris diam saja seperti melamun.
"Hei ada apa?" tanya Via penasaran.
Bukan menjawab, Aris malah dengan cepat ia meraih kunci mobilnya yang sempat ia simpan setelah pulang tadi. "Sayang aku pergi dulu ya!" pamitnya dengan cepat.
"Mau pergi kemana, kamu kan baru saja sampai." sahut Via heran dengan tingkah suaminya itu setelah ia menerima panggilan sebuah telpon.
"Ada urusan sebentar!" balas nya cepat lalu mencium kening Via dengan cepat. "Kamu jangan kemana-mana ya aku hanya sebentar kok." sambung nya.
Via merasa heran karena dengan tingkah suami nya itu yang mendadak pergi begitu saja setelah menerima panggilan telepon dari seseorang, padahal ia baru saja sampai setelah tugas malam nya.
Via menatap punggung suaminya yang semakin menjauh curiga dengan sikap suaminya itu yang tidak memberi tahu kemana ia akan pergi, apalagi dengan terburu-buru seperti itu membuat Via berpikir jika suami itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mencurigakan!" batin Via. "Apa aku harus ikuti suami ku ya?" pikir Via dalam hatinya. " Tapi aku pakai apa mengejar suamiku dia menggunakan mobil nya!" sambungnya kebingungan.
Via berpikir mencari bagaimana ia mengikuti Aris suaminya itu. "Hemmm pakai kendaraan online atau umum pasti akan lama menunggu suamiku keburu pergi jauh." keluh Via semakin bingung. "Ayok Via mikir...!" Via terus saja bermonolog dalam hati dan juga otaknya dengan mengelilingi sekitar ruangan dalam rumah nya lalu saat Via menyapu ruangan nya mata nya tertuju pada sebuah kunci motor milik suaminya yang tergantung di sebuah tempat penyimpanan kunci. "Motor!" ucapnya dengan semangat. "Tapi... itu kunci motor suamiku bagaimana bisa aku membawanya, aku kan tidak bisa membawa motor sport, ah nyesel deh kemarin-kemarin gak belajar." sesalnya dalam hati.
"Ah aku coba sajalah, matic sama sport beda nya paling di gigi sama di kopling." pikir Via cepat. Dan dengan banyak pikir Via akhirnya memberanikan diri untuk membawa motor sport milik suaminya itu, lalu Via pun memakai jaket dan juga meraih topi yang ada di dalam lemari dan di raihnya kunci motor itu dengan cepat lalu melangkahkan kakinya dengan terburu-buru. "Aku harus cepat mengejar suamiku aku curiga apa yang akan di kerjakan nya, terlihat panik dan juga khawatir apalagi tadi aku dengar pembicaraan suamiku dengan seorang perempuan seperti nya." gumam Via seraya menaiki motor suaminya yang terparkir di garasi rumah nya.
Via menyalakan motor sport itu. "Aduh aku kok jadi deg degan bawa ini motor, bisa gak ya?" Via mencoba menyalakan motor itu lalu mencoba menginjak gigi motor dan juga mencoba kopling motor itu. "Ayok Via kamu harus berani kamu harus tahu apa yang di sembunyikan suami mu dan apa yang akan di kerjakan suami mu itu!" Via mencoba memberanikan dirinya yang akan mengejar mobil suaminya dan menggunakan motor sport milik suaminya itu.
Tidak lama di coba akhirnya Via berani membawa motor itu dengan begitu cepat untuk mengejar mobil suaminya yang tertinggal jauh, karena rasa penasaran dan rasa cemburunya Via menjadi berani membawa motor itu padahal ini kali pertamanya ia menggunakan motor sport suaminya, karena Via sebenarnya hanya bisa membawa motor maticnya saja.
Via terus mengikuti mobil Aris yang sudah terlihat lalu Via pun dengan jarak yang tidak terlihat oleh Aris Via dengan hati-hati mengikuti nya. "Aduh pegal banget sih ini!" keluh Via merasa pegal membawa motor nya itu. "Dia mau kemana sih sebenarnya?" ucap Via dalam hatinya saat tujuan nya mengejar suaminya itu terasa jauh.
__ADS_1
Tidak lama saat Via mengeluh karena tempat tujuan Aris yang begitu jauh akhirnya mobil Aris yang ia ikuti berhenti dan menepi ke sebuah cafe. Aris turun dari mobil dengan cepat lalu masuk pada cafe tersebut. Via pun sama memarkirkan motor nya tidak jauh dari tempat cafe itu dan mengikuti Aris masuk namun dengan hati-hati dan sembunyi-sembunyi karena ia takut jika suaminya itu akan mengetahuinya bahwa Via mengikuti nya.
Via menggunakan topi lalu topi itu ia gunakan untuk menutupi sebagian wajah cantiknya agar tidak terlihat jelas siapa dirinya. Via melihat Aris suaminya itu tengah menghampiri seorang perempuan cantik dan juga sexi. Via duduk tidak jauh dari tempat Aris dan perempuan itu duduk namun ada jarak di antara mereka. Via mengintip dari buku menu tidak jauh yang ada di mejanya melihat ke arah suaminya itu.
Namun ia terkejut dengan kedatangan pelayan yang menghampirinya menanyakan apa yang akan di pesan, dengan cepat Via menyebutkan minuman yang ia pesan dengan asal dan pelayan itu pergi setelah tahu apa yang dipesan oleh Via. Setelah pelayan cafe itu pergi Via kembali melihat ke arah suaminya dengan perempuan itu. Ia mengingat pada perempuan yang yang bersama Aris itu. "Sepertinya aku pernah lihat perempuan itu, tapi dimana ya?" batin Via terus mengingat wajah perempuan yang tidak asing dari ingatannya itu.
"Aris... aku gak nyangka ternyata suamiku bermain dengan perempuan lain! Kamu jahat!" kesal Via saat dirinya melihat adegan Aris bersama perempuan itu. "Pantas saja kamu terlihat panik dan khawatir. Kamu juga tidak memberi tahu aku kemana dan dengan siapa kamu pergi." sambung nya dengan menahan rasa kecewanya.
Via melihat perempuan yang bersama suaminya itu menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya dan ia melihat jika suaminya itu tengah menenangkan perempuan yang terlihat menangis di pelukan Aris suaminya.
Dengan perasaan kesal dan kecewa Via langsung berdiri tanpa melihat jika seorang pelayan cafe yang membawa pesanan nya itu datang mendekati nya. Prak...prang.. suara gelas berisi minuman dan nampan yang si pelayan cafe bawa itu terjatuh karena Via tidak sengaja menyenggolnya akibat tadi yang terburu-buru berdiri dan hendak pergi, tak sanggup melihat adegan suaminya yang ia percayai bermain dengan perempuan lain.
"Maaf-maaf aku tidak sengaja!" ucap Via tidak enak. Namun karena jatuh nya gelas dan nampan itu Via menjadi pusat perhatian pengunjung cafe termasuk Aris dan juga perempuan yang bersama Aris.
Aris melihat ke arah Via yang membuka topi yang ia pakai saat meminta maaf pada pelayan cafe. "Via..." panggil Aris memanggil istrinya itu.
Aris memanggil dan mengejar Via saat ia tahu jika perempuan itu adalah istrinya. "Via tunggu!"
Via dengan cepat melangkah menuju parkiran dimana ia memarkirkan motornya, seraya memakaikan kembali topinya. Aris pun sama ia dengan cepat menuju parkiran dimana mobil nya terparkir, ia akan mengejar Via istrinya yang terlihat marah padanya dan tidak mempedulikan panggilan nya yang dari tadi memanggilnya.
"Istriku pasti salah paham!" gumam Aris pelan.
Via mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena kesal melihat suaminya bermain dengan perempuan. Aris mengikuti istrinya itu dengan heran dan juga khawatir terjadi sesuatu padanya. "Sayang kenapa kamu ngebut seperti itu? Aku gak nyangka ternyata istri ku bisa membawa motor sport ku." heran melihat istrinya yang terlihat lemah lembut membawa motor sport nya dengan begitu cepat membuat Aris semakin khawatir saja. "Perasaan Via tidak bisa membawa motor sport, aku bahkan tidak mengajarkan nya." gumam Aris takut terjadi sesuatu pada istrinya.
Suami istri terus saja saling mengejar dengan kendaraan yang mereka kendarai. "Sayang kamu jangan ngebut seperti itu, bagaimana kalau kamu jatuh!" teriak Aris saat dirinya sejajar dengan kendaraan yang Via bawa.
Via hanya mendelikkan kedua matanya mendengar Aris yang mengkhawatirkan dirinya. "Aku gak peduli!" balas nya dengan teriak.
"Jangan begitu sayang kamu salah paham!" lagi Aris berteriak menjelaskan apa yang terjadi tidak seperti yang istrinya lihat.
__ADS_1
Via diam saja ia fokus pada jalanan, sebenar ia takut membawa motor suaminya itu karena tidak terbiasa. Namun karena hatinya yang terasa panas ia pun jadi berani.
Saat mereka dengan aksi kejar-kejaran Via terhenti karena lampu merah menyala membuat Via kesal. "Ah kenapa ada lampu merah sih di sini! Siapa sih yang pasang lampu merah di sini?" Via menyalahkan lampu merah karena kekesalan nya pada Aris padahal lampu merah itu sudah lama terpasang disana dan Via juga sering melewati jalanan itu.
Via menahan motor nya dengan kedua kakinya lalu tangannya ia gerakan karena pegal juga membawa motor sport seperti ini. Aris yang tadi mengejar Via tadi hampir ketinggalan pun bisa sejajar lagi dengan istrinya karena lampu merah itu.
"Sayang ayok menepi kita bicarakan baik-baik ya, jangan kebut-kebutan itu berbahaya sayang." teriak Aris mengajak Via dengan kelembutan. Namun Via sama sekali tidak mendengarkan apa yang di ucapkan suaminya itu ia fokus saja melihat ke atas ke arah lampu merah yang terasa lama baginya.
"Via sayang... kamu salah paham jangan emosi seperti itu, ayok ikut dengan ku!" Aris terus saja berteriak membuat pengguna kendaraan lainnya melihat kearah Aris dan juga Via yang sedang bermain drama.
"Pak lagi berantem ya?" ucap salah satu pengguna jalanan.
"Kalau berantem di rumah saja pak!" sahut salah satu pengguna lainnya yang melihat adegan mereka.
Via malu sekaligus kesal ia menarik topi yang ia pakai agar menutupi wajahnya karena orang-orang sekitar menatap ke arahnya dan juga Aris.
Aris turun dari mobilnya ia akan mengajak Via untuk naik mobil bersamanya. Aris khawatir jika istrinya akan kebut-kebutan di jalanan, takut terjadi apa-apa pada istrinya itu.
Namun karena lampu merah menjadi hijau Aris yang mau membujuk istrinya itu harus terhenti karena pengguna jalanan mengelaksoni karena mobilnya yang berada di depan menghalangi semua pengguna kendaraan.
Tin tiin tiiin... suara klakson berbunyi membuat Aris mengurungkan niatnya yang akan mengajak istrinya itu. Aris menangkupkan kedua tangan nya memohon maaf pada pengguna jalanan karena membuat perjalanan mereka terhenti.
"Kalau bertengkar di bereskan di rumah pak jangan di jalanan seperti ini membuat macet saja!" kesal pengguna jalanan.
Aris dengan cepat masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mobil itu dan melihat istrinya itu sudah jauh meninggalkan nya. Lalu dengan cepat Aris mengejar kembali motor yang istrinya bawa dan terlihat Via dengan mengendarai motor itu masih dengan kecepatan tinggi membuat Aris takut sekali melihatnya.
"Sayang kamu itu kenapa ngebut seperti itu aku sampai tidak bisa mengejar kamu, kamu benar-benar membuat aku khawatir. Ah dan itu kenapa kamu tidak memakai helm?" kesal Aris baru menyadari jika istrinya tidak memakai helm.
"Shit..." umpat nya seraya memukul setir mobilnya. "Kenapa jalanan macet seperti ini!" kesal Aris semakin menjadi karena tiba-tiba jalanan menjadi macet. "Via..." panggil Aris frustasi terdengar suara klakson saling menyahut.
__ADS_1