
"Mel..." panggil ibu Andini saat mereka sudah bertemu di ruangan Adam di rawat, tadi mereka sebelum bertemu mama Mel memberi tahu ibu Andini dimana ruangan Adam.
"Andini..." ucap mama Mel ketika ia melihat sahabatnya itu datang dan di ikuti oleh Dimas putra bungsunya. Mereka pun saling memeluk satu sama lain dan menanyakan kabar masing-masing.
Ibu Andini melihat ke arah Nisa yang sedang menatapnya dengan tersenyum tipis namun tersirat kesedihan di wajah nya, ibu Andini pun menghampiri Nisa anak pertamanya mereka saling merindukan karena jarak dan tempat membuat mereka jarang untuk bertemu. Ibu Andini memeluk Nisa dengan erat.
"Nak kamu baik-baik saja? kamu yang sabar ya kamu dan nak Adam pasti bisa melewati ini semua, ibu yakin Putri ibu yang satu ini akan kuat menghadapi cobaan ini." tutur ibu Andini menguatkan anak pertamanya. Ibu Andini sempat tahu kabar ini saat mama Mel menelpon untuk kedua kalinya tadi saat ia menanyakan dimana ruangan yang akan mereka bertemu. Sempat terkejut karena Adam di rawat di rumah sakit apalagi hal yang tragis yang menimpa Adam menantunya itu sampai ia masuk rumah sakit.
"Aku sedang tidak baik-baik saja Bu, aku sedang berduka." jawab Nisa pelan dengan nada yang begitu menyayat hati.
"Sabar ya nak ini ujian untuk kita semua yang sayang pada nak Adam." balas ibu Andini dengan mengelus punggung Nisa yang sedang terisak di pelukannya. "Bagaimana dengan keadaan cucu ibu ini?" tanya ibu Andini mengelus perut Nisa yang menghalanginya saat berpelukan dengan Nisa, ibu Andini sengaja mengalihkan perhatian Nisa agar dia tidak begitu memikirkan Adam.
Nisa tersenyum. "Baik Bu alhamdulilah calon bayi Nisa baik-baik saja, malah sekarang udah mulai nendang-nendang Bu." sahur Nisa sedikit antusias menjawab tentang bayinya.
"Ah syukur lah kalau begitu, sehat-sehat ya cucu nenek..." ucap ibu Andini mengelus perut Nisa dengan sayang dan lembut dan Nisa hanya tersenyum saja melihat ibu nya mengajak bicara pada bayi yang ada di perut nya itu.
Sedangkan Dimas saat ia datang ia juga merasa sedih atas kejadian yang menimpa Adam Abang ipar nya itu, apalagi melihat kakaknya juga ia merasa sedih, saat kakaknya hamil ia di uji dengan Abang ipar nya yang sedang koma. Harus nya ibu hamil itu di berikan perhatian oleh suaminya namun kakak kandungnya tidak. Bukan karena suaminya yang tidak perhatian namun takdir yang membuat mereka harus menjalani hidup seperti ini.
"Bang Aris?" gumamnya saat ia melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk tak jauh dari tempat ruangan tunggu. Dimas pun menghampiri Aris yang duduk sendirian melihat dimana Nisa dan keluarga nya.
Aris tidak mendekati keluarga Nisa karena ia sadar dia hanya orang lain disini. Biarkan Nisa dan keluarga nya saling merindukan, memberikan waktu untuk mereka yang jarang bertemu.
Dimas mendekat pada Aris. "Bang Aris ketemu lagi kita, apa kabar bang?" sapa Dimas pada Aris.
"Eh iya Dimas kita ketemu lagi ya. Kabar Abang baik kok, kamu gimana baik juga kan?" tanya Aris balik.
"Ya seperti yang Abang lihatlah hehe." sahut nya cengengesan. "Kok Abang bisa ada disini? Abang tahu kabar bang Adam masuk rumah sakit darimana?" tanya Dimas penasaran sekaligus heran.
Aris tersenyum. "Saya disini ingin menjenguk pak Adam. Abang tahu karena saat kejadian yang menimpa pak Adam saya sedang bersama nya." jawabnya santai.
__ADS_1
"Kok bisa? Jadi Abang melihat langsung saat kejadian itu terjadi?" tanya Dimas semakin seru untuk mendapatkan informasi.
"Iya saya lihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri!" ujar nya.
"Cerita dong bang sedikit aku penasaran kok bisa bang Adam sampai terkena tembakan itu, aku jadi ngeri ngebayangin nya." jawabnya penasaran.
Aris pun menceritakan kronologi terjadinya penembakan itu dari awal, dari yang tidak sengaja Aris bertemu dengan Adam Abang ipar Dimas tapi Aris tidak menceritakan kepada Dimas tentang apa yang di bicarakan oleh nya dan juga Adam saat sebelum terjadinya penembakan itu.
"Memang sebelum kejadian kalian membicarakan apa sampai bang Adam gak sadar kalau dia lagi di perhatikan oleh pelaku penembakan itu?" tanya Dimas semakin penasaran.
Aris tersenyum tipis dan menghela nafasnya panjang. "Kamu tidak usah tahu apa yang kami bicarakan saat sebelum terjadinya penembakan itu karena ini obrolan antara saya dengan Abang ipar kamu." balas Aris ia menatap arah Nisa yang sedang bersama keluarga nya.
"Apa kalian membicarakan kak Nisa?" tanya Dimas saat ia sadar jika Aris sedang menatap kakak nya Darin kejauhan.
Aris sedikit terkejut dengan pertanyaan Dimas seperti itu. "Kenapa dia bisa tahu?" batin Aris yang membuat nya jadi terdiam saat Dimas memberikan pertanyaan itu.
"Emh... itu bukan urusan kamu, kamu masih kecil belum paham apa-apa." jawabnya kikuk dengan senyum menyembunyikan keterkejutannya.
"Ini ni bang yang aku takutkan saat bang Adam nawarin aku untuk masuk Akpol, mungkin karena aku orang yang tidak suka tantangan dan gak suka di atur salah satunya juga ya masalah seperti bang Adam, aku sih mau nya lurus-lurus aja gitu. Pekerjaan kalian itu menantang dan nyawa taruhannya." ujar Dimas berkata dengan santai dan masih dalam posisi menyender.
Aris tersenyum dengan kata-kata Dimas yang ia ucapkan. "Iya itulah pekerjaan kami, kami harus siap jiwa dan raga." balas Aris melihat kearah Dimas.
"Iya sih, tapi aku salut sama kalian berdua yang satu polisi dan yang satu TNI beda tugas tapi satu tujuan dan sama-sama nyawa taruhannya." ucap Dimas bangga terhadap pekerjaan mereka. "Dan kak Nisa beruntung di kelilingi oleh orang yang bisa menjaganya." tambah nya.
"Malah saya pikir keluarga di jadikan nomor dua oleh kami karena kami yang harus lebih mengutamakan masyarakat dari pada keluarga kami." sahut nya cepat.
"Ya... memang ada benarnya tapi kami sebagai keluarga pastinya bangga dengan tugas kalian." balas Dimas.
Aris tersenyum dan mengangguk. "Oh ya bagaimana kuliah kamu, lancar?" tanya Aris mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Lancar-lancar aja sih bang." sahut nya.
"Lancar juga deketin ceweknya?" goda Aris pada Dimas.
"Haha susah bang, dia jutek banget ceweknya jual mahal!" jawab nya asal.
"Bukannya bagus cewek jual mahal, itu kan jadi tantangan buat kita sebagai laki-laki. Semakin susah untuk di dapat semakin kita penasaran dan semakin ingin memiliki." ucap Aris penuh keyakinan.
"Kayak kak Nisa ya?" tanya Dimas serius.
Aris jadi gelagapan saat di todong dengan pertanyaan Dimas mematikan. Tatapan Dimas pada nya begitu serius dan begitu penasaran.
"Emh maksud kamu apa Dimas Abang gak ngerti?" ucapnya kikuk.
Dimas menghela nafasnya panjang. "Iya kak Nisa kalau Ada cowok yang suka sama dia suka jutek gitu jual mahal, makanya pas bang Adam lamar dia kenapa bisa langsung suka gitu, aku masih penasaran aja gitu apa yang membuat kak Nisa bisa luluh sama bang Adam." tutur Dimas menjelaskan.
Aris bernafas lega ternyata dia masih aman menyembunyikan perasaan nya yang suka terhadap Nisa kakak kandung Dimas. "Takdir dari Tuhan yang dengan mudah membolak-balikan kehidupan kita di dunia ini." jawab Aris pasti.
***
Tak lama dokter yang menangani Adam datang untuk memeriksa keadaan Adam di ikuti oleh suster yang akan membantu nya.
"Dokter bagaimana keadaan suami saya, apa kami sudah diperbolehkan untuk menjenguknya?" tanya Nisa cepat saat ia melihat dokter itu keluar dari ruangan Adam bersama suster nya.
"Suami anda belum ada tanda-tanda untuk siuman, anda dan keluarga terus saja berdoa meminta yang maha kuasa memberikan keajaibannya untuk pasien agar segera sadar dari komanya. Dan Bu Nisa beserta keluarga boleh menjenguk pak Adam asalkan masuk ke dalam ruangan nya satu orang satu orang agar udara yang masuk ke dalam ruangan pasien tetap steril." ujar dokter itu menjelaskan.
"Terima kasih dok." ucap Nisa.
"Anda bisa mengajak pak Adam berbicara hal yang menyenangkan di masa-masa sebelum pasien koma, bicarakan hal yang bisa membantu pak Adam bisa kembali sadar dalam koma nya." tutur dokter menjelaskan.
__ADS_1
"Iya saya akan menuruti apa yang dokter ucapakan tadi, terima kasih dok sekali lagi saya ucapkan." balas Nisa dengan sopan.
"Kalau begitu saya permisi." pamit dokter itu dan suster pun mengikutinya.