
Via masih mondar-mandir di dalam kamar nya itu merasa ragu jika ia menelpon Aris, rasanya canggung sekali memberi tahukan bahwa ia akan menerima penawaran nya sungguh itu di luar dugaannya selama ini, tidak pernah terpikirkan akan menerima ajakan dia yang akan menikahi nya.
"Ya Allah kenapa aku bisa menerima pak Aris untuk menjadi suami ku? Bagaimana bisa aku dengan mudah mengatakan pada ayah dan bunda kalau pak Aris akan menikahi ku? Sungguh aku tidak mengerti ya Allah apa rencana Mu untuk ku." gumam Via tidak mengerti akan hal ini.
Handphone nya yang ia pegang di bolak-balik kan bingung harus kata apa yang akan Via ucapkan pada Aris jika ia menelpon nya. "Ayok Via... kamu jangan deg degan begini." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Dengan menyiapkan diri Via menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba menenangkan hatinya yang masih berdebar tidak karuan.
"Hallo... assalamualaikum!" sapa Via lembut saat panggilan nya pada Aris di jawab.
"Wa'alaikumussalam hallo pacar, ada apa telepon saya? Kangen ya?" ucapnya terdengar menggoda.
Via mendengus kesal namun tidak terlihat oleh Aris bagaimana wajah Via yang kesal karena ia goda. "Apa saya ganggu anda pak Aris? Saya mau bicara sesuatu dengan anda!" jawab nya.
"Emh... tidak ganggu sama sekali kalau kamu yang telepon saya, ada apa?"
"Emh... Saya... sa...saya menerima penawaran anda!" ucap Via sedikit ragu.
Aris yang mendengar perkataan Via tersenyum bahagia malah ingin nya berteriak namun dia menahannya dahulu. "Penawaran apa maksud kamu?" Aris pura-pura lupa dengan menggoda Via seperti itu.
"Penawaran anda yang waktu kemarin, yang bilang anda akan menikahi saya untuk menggantikan posisi mantan tunangan saya dulu." ucapnya terbata.
"Apa benar ya saya berkata seperti itu? Lupa saya, Coba kamu jelaskan sejelas jelasnya sama saya." Aris masih menggoda Via.
Via agak kesal karena ia merasa Aris sedang mempermainkan nya namun Via mencoba untuk bersabar saat ini ia sedang butuh Aris.
"Kalau anda lupa ya sudah lupakan saja!" ucap Via sebal.
Aris yang sekarang di permainan oleh Via pun dengan cepat menjawab. "Ah iya saya baru ingat, iya soal penawaran itu ya? Apa kamu mau menikah dengan saya?" tanyanya dengan senyuman yang mengembang. Namun sayangnya Via tidak melihat ekspresi Aris yang bahagia itu.
"Iya saya akan menerima tawaran anda, pernikahan ini adalah pernikahan untuk kita saling menguntungkan bukan untuk pernikahan yang sesungguhnya!" jelas Via yang membuat Aris terdiam sesaat.
"Ok. Ini pernikahan yang sangat menguntungkan!" jawab Aris mengulang ucapan Via yang sedikit membuat nya terhenyak.
Setelah teleponnya berakhir dan Via lah yang selalu menutup dahulu panggilan nya membuat Aris menarik nafas dalam-dalam. "Ok. Untuk saat ini aku akan mengikuti kemauan kamu suster galak ku tapi... suatu saat nanti kamu yang akan mengikuti kemauan ku!" senyum tipisnya ia tampilkan dengan senyuman penuh arti.
Akhirnya satu langkah aku langkahi tinggal langkah-langkah lain nya, akan aku persiapkan tunggu saja suster Via aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan aku akan membuatmu tidak bisa jauh dariku.
__ADS_1
*
*
*
"Kamu serius Aris kalau kamu mau menikah, memang nya kamu sudah mendapatkan calon istri yang akan kamu kenalkan sama mama dan papa?" tanya mama penasaran tiba-tiba anaknya minta di nikahkan.
"Ada lah mah. Masa Aris ganteng begini gak ada perempuan yang suka sih!" ucapnya sebal.
"Bukan begitu kamu itu belum pernah kenalkan mama atau papa seorang gadis, terus tiba-tiba kamu mau nikah aja. Apa kamu gak pikir ulang lagi buat nikah. Bagaimana kalau perempuan nya gak cocok sama kamu, kamu jangan asal pilih perempuan apalagi kamu kan TNI kalian harus nikah kantor, apa pacar kamu mau dan bakal menerima aturan dan peraturan menjadi istri seorang TNI. Jadi seorang istri TNI itu bukan hal yang mudah, ia harus benar-benar siap lahir dan batin yang ekstra." ucap mama meyakinkan Aris agar ia lebih tenang lagi saat mulai mau berumah tangga jangan terburu-buru.
Aris yang mendengar perkataan mamanya menjadi diam kenapa dia tidak mikir ke arah sana padahal syarat menjadi istri seorang abdi negara itu cukup rumit dan tidak semua perempuan siap akan hal itu.
Aris menghela nafasnya pelan. "Iya mah aku lupa tidak menanyakan hal itu pada suster Via, aku takut dia jadi terkejut kalau dia tidak tahu sama sekali apa peraturan yang harus kita jalani sebagai suami istri seorang TNI." sahut Aris lemas.
Mendengar nama suster Via di sebut oleh Aris mamanya Aris pun sedikit terkejut. "Apa suster Via? Jadi yang akan jadi calon istri dan calon mantu mama itu adalah suster Via yang pernah merawat kamu saat kecelakaan itu?" tanya mama antusias dan tidak sabar mendengar jawaban anaknya itu.
"Iya kenapa memang nya? Mama masih mau jodohkan dia dengan laki-laki lain!" sergah Aris sebal. "Sayang nya aku yang lebih dulu dapatkan dia!" serunya merasa bangga.
Mama Aris tergelak mendengar anaknya yang gerak cepat itu. "Bagus mama suka gayamu! Kamu itu mirip sekali dengan papa mu, selalu cepat dalam menginginkan sesuatu." ucap mama bangga seraya menepuk punggung anaknya itu.
"Lalu kapan kita akan menemui kedua orang tuanya untuk melamar suster Via? Mama udah gak sabar ini pengen cepat-cepat dapat mantu." ujar nya tidak sabar.
"Kok mama sih yang semangat aku saja yang calon nya biasa saja!" seru Aris.
"Pokoknya mama sama papa pasti dukung kalau kamu berhubungan dengan suster Via itu apalagi sampai kalian menikah dan kasih mama cucu yang lucu-lucu." tegasnya mendukung seratus persen dengan wajah membayangkan jika mereka memiliki cucu.
"Amiinin aja ya dulu hehe." sahut Aris cengengesan. Bisa-bisanya mama nya itu membayangkan hal sejauh itu padahal di pikir-pikir orang tua Via belum tentu menerimanya sebagai menantu.
***
Hari ini Aris mengajak bertemu pada Via di sebuah cafe yang dekat dengan rumah sakit dimana Via bekerja, karena ada hal yang ingin Aris sampaikan dan Via pun menyanggupinya setelah dia membereskan jam kerjanya.
Aris yang lebih dulu datang ke cafe itu untuk menunggu Via selesai pekerjaan nya. Aris pun mencoba menelpon Via yang cukup lama ia tunggui.
"Hallo, kamu masih dimana?" tanya Aris menelpon Via.
__ADS_1
"Kenapa sih anda bawel sekali, saya sekarang sedang di seberang cafe tempat kita janjian!" ucap Via sebal karena dari tadi dia terus saja menghubungi nya padahal Via belum beres bekerja karena dadakan ada orang sakit yang mesti segera di tangani.
Di seberang jalanan Via asyik saja menunduk melihat pada handphone yang ia pegang membalas pesan-pesan yang masuk dulu yang belum sempat ia baca dan ia balas.
Aris yang tadi menelpon Via melihat keberadaan Via yang sedang berdiri di sebrang pinggir jalan sedang asyik menatap pada handphone nya. Aris menyebrangi jalanan untuk menjemput Via disana namun sepertinya Via tidak menyadari kedatangan Aris yang menghampirinya. Aris pun berdiri di hadapan Via saat sudah dekat dengannya lalu menatap ke arahnya yang begitu sangat dekat namun, lagi Via bergeming tidak menyadari Aris yang sudah berdiri di hadapannya dan sedang memperhatikan ia yang sedang sibuk membalas pesan dari handphone nya.
Setelah Via sudah selesai membalas pesan nya itu Via yang tadi masih menunduk pun melihat seseorang yang berdiri ada di hadapannya, Via pun memperhatikan seseorang itu dari bawah terlihat seseorang itu memakai sepatu lalu Via pun melihat terus ke atas terus sampai ia melihat wajah seorang laki-laki yang sedang memperhatikan nya dengan tersenyum manis membuat Via mundur satu langkah karena terkejut, laki-laki di hadapannya ini adalah Aris yang baru saja menelpon nya dan ia menutup nya terlebih dahulu.
"Anda?" ucap Via heran.
"Kalau di jalanan seperti ini jangan main handphone, bahaya!" ujar Aris tegas. "Bagaimana kalau ada jambret ambil handphone kamu?" omel Aris sedikit sebal.
"Saya cuma balas pesan pentingnya saja kok, takut mereka tunggu balasan dari saya!" elak Via. Padahal hampir semua pesan ia balas karena sengaja membuat Aris menunggu lebih lama.
"Aku tahu, gak biasanya kamu beres kerja jam segini, dulu pas saya di rawat kamu selalu sudah pulang kurang dari jam sekarang, tapi sekarang kamu malah lebih terlambat padahal saya sudah menunggu kamu dari tadi!" kesal Aris menunggu Via namun yang di tunggu seperti tidak ada salah apapun terlihat santai saja.
"Saya kan sedang bekerja jadi jika pulang terlambat sedikit itu hal biasa, jadi anda tidak usah kesal seperti itu." seru Via tidak mau kalah. "Lagian juga kita belum menikah jadi jangan seperti ini terlalu posesif, saya tidak suka!" sambung Via dengan tegas.
"Ok saya ngerti! Ayok!" ajaknya namun karena Via sudah terlanjur kesal Via jadi malas untuk mengikuti Aris. Aris yang menyadari jika Via diam saja saat ia mengajak nya ia pun menoleh kebelakang melihat Via yang masih bergeming dengan muka cemberut.
Aris menghirup nafasnya dalam-dalam. "Harusnya saya yang marah karena dia datang terlambat, tapi kenapa jadi dia yang marah begitu! Dasar cewek!" batinnya kesal namun ia mencoba menahannya.
Aris mengalah untuk menang. Ia membalikkan tubuhnya lalu menghampiri Via dan mendekati nya. Dengan cepat di raihnya tangan Via yang sedang ia lipatkan di depan dadanya. Lalu menarik tangan Via dengan lembut dan dengan senyum yang Aris tampilkan. "Ayok pacar kita nyebrang ya." ajak Aris seraya menggandeng tangan Via untuk menyebrang jalanan menuju cafe yang mereka tuju. Tangan Via itu Aris genggam dengan lembut terus sambil berjalan melewati orang-orang yang memperhatikan ke uwu an mereka berdua.
Via yang di genggam tangan nya itu membuat hatinya berdesir atas perlakuan Aris padanya, di sepanjang jalan Via yang mencoba melepaskan genggaman tangan Aris pada tangan nya itu tidak berhasil karena Aris tidak melepaskan genggaman nya itu malah semakin ia eratkan.
"Lain kali jangan berdiri lama di sebrang jalanan, kamu sadar gak banyak laki-laki yang memperhatikan kamu." seru Aris serius. Laki-laki itu merasa cemburu melihat Via yang menjadi perhatian para laki-laki yang sedang nongkrong di sana.
"Lepas ah tangan saya!" pinta Via pada Aris saat mereka sudah berada di dalam cafe.
"Kenapa gak mau saya pegang tangan nya, kamu kan calon istri saya jadi apa salahnya!" sahut Aris santai. "Saya gak akan rela laki-laki lain menatap kamu seperti tadi!" sambung nya kesal.
Via menghela nafasnya panjang seraya duduk di kursi cafe yang Aris tadi sudah di siapkan. "Tadi anda ajak saya bertemu di sini, apa yang akan anda bicarakan?" tanya Via langsung.
"Saya mau membicarakan masalah pernikahan kita. Saya ini seorang TNI sebelum kita menikah secara agama dan mengadakan resepsi kita nanti, sebelum itu kita harus menikah kantor dulu dan akan banyak peraturan yang akan kamu ketahui dan harus kamu turuti. Apa kamu siap dengan segala peraturannya?" tanya Aris serius menatap wajah Via yang terlihat santai.
"Saya sudah siap dan saya juga sudah tahu akan hal itu. Tidak masalah untuk saya! Yang penting anda jangan macam-macam setelah kita menikah!" ancam Via mengingat kan Aris.
__ADS_1
Aris tersenyum mengejek. "Saya tidak akan macam-macam, hanya satu macam dan itupun kalau kamu ijinkan dengan kata... suka, sama, suka!" ujar Aris menatap wajah Via yang menatap tajam padanya karena ucapannya itu.