
"Ayok kita berangkat!" ajak nya dengan memberikan lengan untuk ia gandeng membuat Via semakin eneg melihat tingkah lakunya itu. Namun mau tidak mau Via melakukan apa yang Tama ingin kan agar ia bisa dengan mudah mendapatkan informasi.
Setelah sampai di tempat acara Tama pun langsung menghampiri para rekannya yang sudah lebih dulu sampai di sana.
"Oh maaf, saya terlambat!" ucapnya tidak enak hati.
"Heh muka palsu, wajah nya sih memang seperti malaikat tapi hatinya seperti iblis yang akan membuat orang-orang percaya pada nya." cibir Via dalam hatinya sangat benci melihat Tama yang bermuka dua.
"Tidak apa-apa pak Tama anda hanya terlambat sedikit dan kami juga baru saja datang. Ngomong-ngomong siapa perempuan cantik yang datang bersama anda ini?" tanya nya setelah melirik ke arah Via yang berdiri di belakang Tama.
Tama melihat ke arah belakang dimana rekannya melirik kan matanya pada Via. "Oh dia calon saya." jawabnya memperkenalkan Via sebagai kekasih nya. Via yang mendengar perkataan Tama itu mendelik tidak suka. Namun segera ia sembunyikan karena Tama menatap nya dengan tajam.
"Hemm dulu memang aku adalah calon istri mu tapi sekarang aku adalah orang yang paling membenci mu!" geram Via dalam hatinya.
"Wah anda memang paling pintar ya mencari seorang wanita." puji salah satu rekan nya itu.
"Terima kasih, Anda bisa saja." balas Tama menatap Via lalu merangkul pundak Via dengan lembut karena ia melihat salah satu rekan kerja nya melihat ke arah Via terus-menerus dengan tatapan yang suka akan Via.
Via hanya diam saja dan berusaha melepaskan rangkulan tangan Tama yang berada di pundaknya.
Saat sudah selesai pertemuan dengan para koleganya itu Tama langsung mengajak Via pergi, Tama merencanakan bersama Via akan pergi untuk makan malam di restoran yang cukup terkenal. Tama memilih ruangan VVIP karena ia tidak mau terganggu saat ia makan malam berdua bersama Via.
Saat di tengah-tengah sedang menunggu pesanan antara Via dan juga Tama tidak begitu banyak bicara, mereka sibuk dengan pemikiran-pemikiran di dalam otak nya.
"Aku sangat khawatir bagaimana keadaan suamiku? Apa dia baik-baik saja sekarang?" gelisah Via di dalam hatinya. "Semoga ini cepat berakhir!" batin nya penuh harap. "Semoga hanya inilah permintaan kak Tama pada ku dan dia tidak mengingkari apa yang sudah ia ucapkan."
Via sedang merasakan kegelisahan nya sedangkan Tama, ia tak henti-hentinya menatap ke arah Via yang duduk di hadapannya. "Via aku akan segera mendapatkan mu!" serunya dalam hati.
pesanan makanan sudah tersaji di atas meja dengan berbagai hidangan yang menggiurkan bagi orang yang sedang sangat kelaparan. Namun saat Via mencium aroma masakan itu tiba-tiba perut nya sangat mual dan ingin memuntahkan isi perutnya padahal perut Via tidak begitu banyak makanan yang masuk.
Via muntah-muntah di hadapan Tama namun ia tahan untuk mengeluarkan muntahan nya itu. Tama menghirup nafas nya panjang. Walaupun dia sekarang sudah menjadi orang jahat karena mencoba mengganggu rumah tangga orang lain tapi melihat Via dengan keadaan seperti itu ia merasakan kasihan padanya. Lalu Tama mengantarkan nya pada sebuah toilet agar Via bisa memuntahkan apa yang ingin ia keluarkan.
Karena keadaan Via tidak kunjung membaik, akhirnya mereka pun pulang dan di lanjutkan makan di dalam apartemen saja. Di tengah Tama yang sedang makan malam dan Via hanya menemaninya saja Tama pun dengan kesal ia berucap. "Lihat! Calon anak mu seperti nya tidak menyukai ku jika aku ingin bersenang-senang dengan ibunya!" ucapnya ketus. Via hanya melirik saja tidak menjawab keketusan Tama hanya dalam hatinya Via sangat senang karena pada akhirnya mereka tidak makan di restoran. "Anakmu menyebalkan seperti ayahnya!" sambungnya dengan nada masih kesal.
"Aku ingin segera menyudahi sandiwara ini aku ingin segera menyelesaikan masalahku ini, aku tidak mau berlama-lama apalagi dengan nya. Aku semakin benci dengan laki-laki yang ada di hadapanku ini, sungguh sangat menyebalkan!" batin nya kesal. Lalu Via mengusap perutnya itu ia teringat jangan terlalu membenci orang ketika sedang hamil. "Amit-amit jabang bayi." elus Via seraya mengucapkan kata itu di dalam hatinya.
"Kak Tama." panggil Via dengan hati-hati setelah ia lihat jika Tama sudah selesai makannya.
Tama melihat ke arah Via saat ia memanggil nama nya. "Kenapa?"
__ADS_1
Dengan ragu dan takut. "Kak Tama kan kita sudah makan malam, dan aku juga menemani kak Tama sekarang, Kak Tama masih ingat kan dengan perkataan kakak yang bilang kalau aku sudah menuruti apa yang kak Tama mau, kak Tama akan melepaskan suami ku dan membebaskan suami ku, apa kak Tama akan melakukan hal itu?" tanya Via semangat karena ia pikir Tama akan mengabulkan keinginannya.
Hahaha Tama tertawa mendengar ucapan Via. "Keinginan ku itu belum aku beri tahukan padamu jadi bagaimana bisa aku membebaskan suami mu itu!" jawab nya.
Via mengerutkan keningnya. "Jadi kak Tama bohong?" tanyanya kesal.
"Aku tidak bohong, tapi keinginan ku belum aku beri tahukan padamu, sebentar!" ucapnya lalu ia meraih handphone nya dan menelpon seseorang pengacara nya.
"Kamu tunggu sebentar pengacara ku akan datang kemari." ucap nya dengan senyum licik setelah ia menelpon pengacaranya.
"Pengacara? Untuk apa kak Tama memanggil pengacara kemari?" tanya Via penasaran.
"Kamu tidak usah banyak bertanya jika pengacara ku itu datang maka kamu akan tahu apa yang aku inginkan." jawabnya.
Tak lama suara pintu apartemen pun berbunyi pertanda seseorang sudah datang. Tama pun langsung membuka pintu apartemen itu. "Anda sudah datang, ayok silahkan masuk!"
"Maaf tadi rencana nya saya akan menyuruh Anda datang ke restoran tapi karena ada masalah jadi saya batalkan untuk bertemu disana." ucap Adam kenapa meminta nya untuk bertemu dengan nya di apartemen.
"Oh tidak apa-apa pak Tama, tidak masalah bagi saya." ujarnya.
"Mana surat-surat yang sudah saya perintahkan untuk anda buat?" tanyanya meminta sebuah surat yang ia suruh untuk di buatkan.
"Bagus!" ucap Tama seraya meraih surat yang ada di tangan pengacaranya itu.
Via yang masih duduk di meja makan pun merasa resah. "Kenapa kak Tama memanggil seorang pengacara kesini? Apa yang akan ia lakukan?" gumamnya heran.
Terdengar suara pembicaraan antara Tama dan pengacaranya itu lalu Tama pun melangkah menghampiri Via yang sedang berada di meja makan. "Ini ambil!" serah nya surat itu pada Via yang terlihat bingung.
Dengan ragu Via meraih surat itu. Lalu ia mengambil nya dari tangan Tama. "Baca dan tanda tangani!" titah nya tanpa basa-basi.
"Surat apa ini?" tanya Via penasaran.
"Aku kan menyuruh mu untuk buka dan membaca nya jadi kamu akan tahu isi surat tersebut." tegasnya.
Via pun dengan perlahan membuka surat itu, dan alangkah terkejutnya ia saat ia melihat tulisan tebal yang ada di depan surat tersebut. "Surat perceraian?" tanyanya dengan melotot karena terkejut. "Apa ini maksudnya kak Tama?" tanyanya lagi.
Tama tersenyum licik menatap wajah Via yang terlihat kebingungan. "Ini yang aku mau!" serunya santai.
Via menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak masuk akalnya permintaan Tama ini. "Maksud kak Tama aku harus meminta cerai pada suamiku, begitu?" tanya nya dengan suara bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Iya itu permintaan ku padamu, bahkan aku akan menyuruh mu untuk menggugurkan kandungan mu itu karena aku tidak mau melihat kamu memiliki anak dari laki-laki sialan itu!" ucapnya dengan nada tinggi.
Via semakin kecewa, marah dan juga benci dengan laki-laki yang ada di hadapannya ini. "Kak Tama memang benar-benar jahat, kamu sudah keterlaluan!" ucap Via berteriak kesal dengan memegang perutnya yang terasa sakit.
"Dengar Via, setelah nanti kamu bercerai dengan suamimu itu aku akan menikahi mu dan membuat mu bahagia, dan gugur kan kandungan mu itu!" titah nya.
"Aku tidak mau!" tolak Via tegas. "Sekarang cepat katakan dimana suami ku berada?" teriak Via geram.
"Ok kalau kamu tidak mau menandatangani surat ini maka kamu ingin melihat suami mu itu mati secara perlahan? Dan sekarang aku akan memerintahkan anak buah ku untuk memukul suami mu sampai ia tidak berdaya! Dan aku tidak akan pernah memberi tahukan keberadaan suami mu itu, sampai kamu mau menandatangani surat tersebut." ancamnya seraya meraih handphone nya di sakunya dan memanggil anak buahnya dengan video call.
Via melihat Aris di dalam video call itu tergelatak lemah disana."Jangan kak Tama aku mohon jangan sakiti suami ku!" teriak Via memohon pada Tama dengan cepat.
"Kalau kamu tidak ingin melihat suami mu itu mati dan kamu ingin suami mu selamat, maka cepat kamu tandatangani surat itu!" dengan paksa Tama menyuruh Via agar menandatanganinya.
Via menangis akan perlakuan Tama yang jahat padanya. Melihat Via menangis Tama sedikit bereaksi dia merasa sedikit bersalah namun tidak membuat nya luluh akan apa yang ia inginkan. "Cepat tandatangani!" titah nya.
Via masih menangis dengan perlahan ia meraih pulpen yang diberikan oleh Tama padanya. "Isi surat ini sungguh sangat merugikan ku dan ini sebuah akhir dari hidup ku bersama suami ku nanti." batin Via pilu karena isinya sungguh sangat memberatkan nya.
"Setelah kamu menandatangani surat itu maka aku akan mengajak mu bertemu dengan dokter kandungan untuk menggugurkan kandungan kamu itu. Karena aku tidak mau kamu mengandung anak dari laki-laki berengsek itu. Yang aku mau kamu mengandung anak ku hanya anakku!" tegasnya Tama berucap. "Hahahaha akhirnya aku akan memiliki mu Via ku sayang." membelai rambut Via dengan begitu lembut.
"Kak Tama benar-benar jahat!" lirih Via berucap dengan air mata turun.
"Ayok cepat tandatangani! Aku sudah tidak sabar menunggu itu." serunya tidak sabar.
"Apa setelah aku menandatangani surat ini kak Tama akan melepaskan suami ku dan membebaskannya?" tanyanya meyakinkan.
"Walaupun aku jahat melakukan hal ini padamu tapi aku tidak akan pernah ingkar janji, apa kamu mau pengacara ku membuat surat perjanjian agar kamu percaya padaku?" tawar nya.
Via bingung harus berbuat apa saat ini, di sisi lain tidak mau kehilangan orang-orang yang sangat ia sayangi tapi ia juga tidak mau jika Tama akan mencelakai suaminya yang masih dalam penyekapan nya. "Pak Adam aku harus bagaimana ini? Aku harus berbuat apa sekarang!" batin nya saat di rasa rencananya tidak akan berhasil karena sampai saat ini Via belum mendapatkan informasi tentang keberadaan suaminya itu dimana.
"Kak Tama apa aku boleh meminta untuk tidak menggugurkan kandungan ku ini? Aku sungguh sangat berdosa karena mengugurkan kandungan yang sehat seperti ini." pinta Via penuh memohon pada Tama. "Dan aku akan merasa bersalah karena sudah tega membunuh calon anak yang ada dalam kandungan ku." sambungnya.
Tama berpikir sejenak dengan perkataan Via lalu ia memikirkan sesuatu, jalan agar ia bisa mendapatkan Via tanpa anak itu di dekatnya dan tanpa menggugurkan kandungan Via. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan, tapi ada syarat yang harus kamu penuhi!" serunya.
"Apa?" tanya Via cepat.
"Setelah kamu melahirkan nanti, berikan anak itu pada ayah nya atau siapapun itu, karena kamu tahu kan aku tidak suka ada anak dari laki-laki lain di rumah ku!" ucapnya tidak suka.
Via menelan ludah nya kasar dan hatinya begitu bingung. "Apa cara ini akan lebih baik." batin nya. "Apa ini terakhir kalinya hubungan ku dengan suami ku, aku membencimu kak Tama sangat membenci mu!" geram Via dalam hatinya. "Aku harus cari cara lain agar aku mendapatkan informasi suami ku berada." tambahnya.
__ADS_1