
Nisa tertegun saat melihat di layar ponselnya itu tertera panggilan dari mama mertua nya, ia merasa ada yang aneh kenapa mama mertua nya itu menelpon di jam seperti ini, apa mertua nya itu juga sama-sama sedang memikirkan Adam yang sekarang belum mengabarkan keadaannya.
Nisa pun mengangkat panggilan mama mertua nya dengan cepat karena penasaran juga kenapa mama mertua menelpon nya.
"Assalamualaikum ma."
"wa'alaikumussalam sayang, Nisa maaf mama menelpon kamu malam-malam begini, apa Adam suami kamu ada di rumah?"
Deg... jantung Nisa seakan berhenti sejenak, ini yang tadi Nisa pikirkan mama mertua nya pasti menanyakan suaminya.
"Mas Adam tidak Adam di rumah mah dia malam ini sedang bertugas."
"Mama tadi telpon Adam berkali-kali tapi kok dia gak angkat-angkat panggilan dari mama gak biasanya Adam seperti itu, mama kepikiran sama Adam terus Nisa apa dia baik-baik saja ya coba kamu hubungi suami kamu sayang siapa tahu dia mau angkat kalau kamu yang hubungi." terdengar dari suara mama yang begitu cemas.
"Emh... Nisa juga sudah hubungi mas Adam berkali-kali tapi sama seperti mama panggilan Nisa juga gak di jawab sama mas Adam, aku juga sudah coba menghubungi sahabat nya mas Adam tapi dia juga gak menjawab panggilan Nisa mah, Nisa dari pagi sudah kepikiran sama mas Adam mah Nisa juga khawatir disini."
"Aduh sayang ada apa ya dengan Adam?" tanya mama mertua dengan suara bergetar.
"Iya sudah nanti Nisa hubungi mas Adam lagi siapa tahu mas Adam menjawab panggilan Nisa, nanti kalau sudah ada kabar Nisa kasih tahu mama ya."
"Iya sayang."
*
*
*
flash back off
Di tempat Adam.
__ADS_1
Brug... Adam tidak sengaja menubruk seseorang di depan pintu masjid raya, setelah beberapa saat dia menyelesaikan shalat isya nya pukul 10 malam, karena dia tadi masih ada pekerjaan jadi tidak bisa tepat waktu saat melaksanakan panggilan dari Allah yang mana itu adalah kewajiban kita sebagai manusia.
Di tengah kesibukan nya Adam tidak pernah meninggalkan kewajiban nya ya walaupun tidak tepat waktu karena tuntutan pekerjaan nya.
"Ma...maaf." ucap Adam tidak enak karena sudah tidak hati-hati saat berjalan ia tadi menunduk membalas pesan dari Nisa istrinya tercinta. Adam pun mendongakkan kepalanya melihat laki-laki yang ia tabrak tadi.
"Pak Aris? Pak Adam?" sahut mereka berdua bersamaan.
"Maaf tadi saya tidak sengaja menubruk anda pak Aris." ucap Adam meminta maaf dengan tulus.
Aris tersenyum ramah. "Tidak apa-apa pak." balas nya. "Anda sudah selesai pak Adam?" tanya Aris berbasa-basi.
"Sudah pak, anda mau shalat juga? Silahkan kalau begitu." ucap Adam mempersilahkan kepada Aris yang akan menunaikan kewajiban nya.
"Ah iya terima kasih pak!" sahut Aris dengan tersenyum ramah lalu ia pun melangkah melewati Adam yang masih berdiri di tengah pintu yang terbuka lebar.
Adam pun juga sama melangkah pergi setelah menatap punggung Aris yang berjalan ke arah depan tempat shalat.
Tak cukup lama Aris yang sudah melaksanakan shalat nya yang sama-sama tidak tepat waktu seperti Adam pun keluar masjid duduk di tangga masjid untuk memakai sepatu yang tadi ia lepaskan saat masuk ke dalam masjid. Saat ia akan pergi panggilan seseorang yang memanggil namanya.
"Pak Adam, Anda masih ada disini?" tanya Aris heran kenapa dia memanggil nya apa dari tadi ia menunggu nya.
"Maaf pak Aris bisa saya minta waktu anda sebentar?" ucapnya penuh harap.
"Emh baik, boleh pak! balas Aris dengan senyum ramahnya.
"Saya ingin bicara dengan pak Aris ada yang saya ingin tanyakan kepada anda?" tutur Adam menjelaskan maksud ia meminta waktu Aris.
Aris semakin penasaran dengan apa yang akan di bicarakan dengan nya. "Iya pak silahkan, seperti nya apa yang anda bicarakan malam ini masalah serius, apa tentang pekerjaan?" tanya Aris penasaran.
"Oh bukan ini masalah pribadi kita." ujar Adam cepat menjawab pertanyaan Aris.
__ADS_1
"Masalah pribadi?" tanya Aris penuh selidik.
"Iya. Masalah antara saya anda dan juga istri saya Nisa." balas Adam memberi tahu apa yang akan di bicarakan.
Aris menjadi bingung heran untuk apa pak Adam ingin membahas pribadi antara kita bertiga seperti nya tidak ada masalah yang mesti di bicarakan.
"Apa anda memiliki perasaan cinta terhadap istri saya Nisa?" tanya Adam langsung, menatap wajah Aris yang ada di hadapannya.
"Ma... maksud anda pak?" tanya Aris gugup kenapa Adam langsung bertanya seperti itu dan dari mana Adam tahu kalau ia memiliki perasaan terhadap istrinya.
"Saya sudah tahu saya hanya ingin memastikan saja kepada anda apa itu benar atau saya hanya salah dengar?" balas Adam dengan ekspresi yang sulit terbaca oleh Aris.
"Jangan bilang jika anda sedang cemburu kepada saya karena saya berteman dengan Nisa, saya hanya teman Nisa kok pak Adam tidak ada hubungan lainnya." ucap Aris kepada Adam yang terlihat ada api cemburu di wajahnya.
"Tidak masalah." ucap Adam datar.
"Maaf pak Adam saya tegaskan sekali lagi kalau saya hanya berteman, Nisa teman kecil saya waktu itu dan kami juga bertemu di waktu yang tidak pernah saya bayangkan, pertemuan kita itu tidak sengaja mungkin pak Adam sudah tahu itu." tutur Aris meyakinkan Adam.
"Menurut anda seperti apa Nisa?" tanya Adam ingin tahu bagaimana reaksi dan ekspresi Aris saat membicarakan Nisa istrinya.
"Nisa itu seorang perempuan yang sangat baik dia juga pintar, lemah lembut dan yang pasti seorang perempuan yang pengertian. Tapi ada sifat jelek Nisa dia perempuan yang tidak begitu peka dan dia juga perempuan yang selalu menyembunyikan rasa sedihnya atau rasa kecewanya, dia selalu memendam perasaan sedihnya sendiri." tutur Aris dengan wajah yang seperti senang menggambarkan karakter Nisa di matanya.
Adam yang melihat Aris seperti itu membuat hatinya merasa cemburu ia merasa belum sepenuhnya bisa mengerti Nisa selama ia menikah dengan nya bahkan Aris yang bukan suami nya mengenal Nisa dengan baik, selama ini Nisa memang tidak pernah protes dengan segala sikap dan pekerjaan Adam, mungkin karena sifat Nisa cenderung menutupi perasaan yang ia mau atau yg ia inginkan Adam tidak tahu itu.
Adam yang terdiam merenung karena berpikir akan hubungan nya dengan Nisa sedangkan Aris ia merasa ada orang yang sedang memperhatikan dia dan Adam yang sedang berinteraksi. Orang itu terlihat pura-pura meminum kopinya saat tidak sengaja Aris menatap nya, jarak yang agak jauh dari pandangan Aris membuat nya sulit mengenal orang itu, apa dia mengenal nya atau tidak.
Dan aneh nya dua orang itu masih menggunakan helm nya saat mereka meminum kopinya, harus nya jika orang sedang bersantai pasti helm yang ia gunakan di lepaskan dari kepalanya supaya lebih santai tapi tidak dengan dua orang itu mereka terlihat mencurigakan, dan lagi saat Aris melihat ke arah mereka terlihat jelas jika mereka sedang melihat ke arah dimana keberadaannya dan Adam sedang duduk tapi mereka lagi berpura-pura mengalihkan pandangan mereka dan berpura-pura mengobrol.
Di depan masjid raya memang sudah terasa agak sepi karena malam memang semakin larut, hanya ada penjual kopi atau kios yang buka dua puluh empat jam yang masih ada di sana.
"Apa mereka sedang memperhatikan aku atau pak Adam ya?" batin Aris penasaran. "Tapi mereka terlihat mencurigakan saat aku melihat nya apa dia memiliki urusan dengan ku atau mereka merasa mengenaliku?" batin Aris semakin penasaran.
__ADS_1
"Aris menatap Adam yang dari tadi hanya diam saja mungkin ia sedang mencerna omongan yang tadi Aris lontarkan atau dia sedang merasa cemburu karena dia sudah lebih tahu mengenal Nisa. "Pak Adam anda baik-baik saja kan? Anda tidak usah cemburu terhadap saya malah saya yang merasa iri dengan anda karena anda lah laki-laki yang beruntung bisa memiliki Nisa dengan perasaan nya yang begitu sangat mencintai anda, saya disini bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa Nisa saya hanya mengenal saja." tutur Aris meyakinkan Adam supaya ia percaya dengan apa yang di ucapkan Aris ia tidak akan pernah mengganggu hubungan mereka.
Adam mengatur nafasnya yang sedikit merasa sesak mengingat tadi pagi Nisa begitu manja dan bersedih menangisi kepergian Adam saat ia akan pergi bertugas selama 3 hari ini harus nya ia lebih memperhatikan Nisa selama ini dan mengerti akan hati Nisa. Karena tuntutan pekerjaan juga membuat Adam dan Nisa jarang berinteraksi Adam tidak bisa selalu bersama nya selama 24 jam penuh saat istrinya juga membutuhkan kehadiran nya sedangkan bersama orang lain ia bisa menjaga karena pekerjaannya sebagai polisi ia harus tetap siaga.