Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
sebuah pesan


__ADS_3

"Bos sepertinya pihak polisi dan TNI sudah mulai bergerak cepat, itu berarti ancaman untuk kita. Apa yang harus kita lakukan bos?" ucap anak buah Tama memberi tahu Tama di sebuah panggilan telepon dengan suara panik.


"Apa? Kenapa hal ini bisa terjadi, siapa yang melaporkan ini semua?" tanya Tama cepat ia pun mulai panik.


"Istri dari target kita, sepertinya istrinya komandan Aris ini memiliki rekan dari kepolisian jadi dengan mudah kasus ini di proses, yang kami takutkan keberadaan target akan di ketahui oleh mereka."


"Ikuti terus Via jangan sampai kalian lengah,. awasi terus dan beri tahu saya jika ada kabar terbaru." perintah nya dengan tegas.


"Baik bos."


***


Di saat perjalanan pulang Via terus saja teringat akan suaminya itu. "Suamiku semoga kamu baik-baik saja." batin nya lirih. "Jika memang benar kak Tama adalah orang yang membuat hilangnya suamiku, aku tidak akan pernah memaafkan nya!" kesal Via pada mantan tunangannya. "Aku menyesal telah mengenal nya."


Tak lama Via pun sampai di depan rumahnya dengan langkah gontai ia memasuki rumah nya itu. Mertua nya yang melihat Via datang langsung memberikan segala rentetan pertanyaan tentang dimana Aris berada.


"Mama tenang ya aku sudah meminta tolong pada rekan bang Aris di pihak kepolisian dan mungkin juga rekan dari TNI akan membantu kita dalam mencari keberadaan bang Aris." tutur Via menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.


"Mama khawatir sekali Via, kenapa Aris bisa menghilang apa kamu tahu masalah Aris yang sekarang ia hadapi, masalah apa itu dan dengan siapa? Mama yakin hilangnya Aris itu ada yang mencoba menculik nya karena tidak mungkin Aris hilang begitu saja, padahal kita tidak ada masalah dalam keluarga kita." ujarnya.


"Emh... ya makanya aku meminta tolong pada polisi agar bang Aris di temukan, dan kita nanti akan tahu siapa yang telah menculik bang Aris." serunya.


"aku tidak akan memberi tahu mama dulu siapa yang membuat bang Aris hilang, karena hilangnya bang Aris belum tahu siapa yang mencoba berniat jahat padanya, ya walaupun aku sudah yakin jika kak Tama ada di balik semua ini!"


"Mama, aku minta doa nya agar bang Aris baik-baik saja dimana ia berada." pinta Via lembut menatap mama mertua nya.


Mama mertuanya pun tersenyum. "Tidak perlu kamu pinta mama akan selalu mendoakan kalian berdua, karena kalian anak dan mantu mama." sahut nya membuat Via tersenyum.


*


*


*


Esok hari Via yang masih memikirkan bagaimana dengan keadaan suaminya itu membuat semalaman Via tidak bisa memejamkan matanya, namun pas waktu subuh akan menjelang baru dia bisa tertidur.


Ketika ia di bangunkan oleh mertuanya Via baru saja terbangun dari tidurnya. "Maaf mah aku baru bangun, semalam aku gak bisa tidur, eh pas mau pagi aku gak sadar malah ketiduran." ujar Via merasa tidak enak karena mertuanya sudah mempersiapkan makanan untuk sarapan.


"Tidak apa-apa nak, mama mengerti kok, dan lain kali kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran. Kamu kan sedang hamil kesehatan mesti kamu jaga." saran mama dengan lembut.

__ADS_1


"Iya mah, tapi sulit, aku masih belum tenang sebelum dapat kabar dimana suamiku berada dan bagaimana keadaannya sekarang." jawab nya pilu.


Mama mertua menghirup nafas panjang. "Iya mama juga sama cemas sekali dengan keadaan Aris. Mama sedih sekali Via baru sekarang Aris membuat mama khawatir." mama mertua menangis dengan memeluk Via dan Via pun membalas pelukan itu dengan hangat.


Saat mereka berdua sedang saling memeluk dan saling menguatkan dalam kesedihannya tiba-tiba suara pesan masuk pada handphone Via yang tergeletak di atas nakas pun membuat Via melepaskan pelukannya pada sang mertua dengan cepat meraih handphone nya itu, karena siapa tahu pesan itu dari suaminya.


"Sebentar ya mah aku lihat dulu siapa yang mengirim pesan." ucapnya lalu Via pun membuka pesan itu, sebuah nomor baru yang tidak ia kenali. "Nomor siapa ini?" batin nya seraya membuka membaca sebuah pesan itu.


"Via jika kamu ingin bertemu dengan suami mu datang dan temui aku di apartemen ku sekarang!"


"Dan ingat! Kamu harus datang sendiri jangan ada orang yang mengetahui kamu jika aku menyuruh mu datang kesini, jika kamu tidak mengikuti apa yang aku katakan maka kamu akan menyesal karena aku akan membuat suami mu yang lemah dan tidak berdaya itu akan mati dengan perlahan!"


"Anak buah ku akan mengikuti mu dan jika aku tahu ada polisi atau pun orang yang ikut campur maka aku tidak akan segan untuk membuat suamimu mati di tangan ku!"


"Ini adalah alamat apartemen yang harus kamu datangi. Jalan xxx nomor sekian."


"Nomor siapa ini, apa ini kak Tama?" batin Via terkejut melotot kan matanya saat mendapati pesan yang berupa ancaman.


Melihat reaksi menantunya yang seperti terkejut saat melihat pesan nya itu mama mertua pun penasaran apa isi dari pesan itu.


"Ada apa Via kamu baik-baik saja, pesan dari siapa itu? Kenapa kamu terkejut seperti itu apa ada sesuatu yang terjadi?" rentetan pertanyaan dari mama mertua nya yang sangat penasaran. Namun Via tidak menjawab satu pertanyaan apapun. Ia langsung bergegas menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan orang yang memberikan pesan itu membuat mertua Via kebingungan apa yang terjadi.


"Kamu mau kemana Via, jangan membuat Mama khawatir sayang." balas nya.


"Mama tenang ya aku akan baik-baik saja!" sahut nya dengan suara bergetar menahan kesedihannya dan dengan matanya at berkaca-kaca.


Lalu dengan cepat Via pun pergi, meninggalkan mertuanya yang sangat bingung melihat tubuh menantunya itu.


"Aku harus bagaimana ya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Ya Tuhan beri aku petunjuk dan ketenangan dalam menghadapi masalah ini." lirih nya saat ini Via sedang berada di perjalanan menuju apartemen yang pemberi pesan berikan.


Beberapa saat kemudian Via yang sudah berdiri di depan apartemen orang tersebut. Menatap pada sebuah bangunan tinggi yang ada di depannya, berharap jika suaminya berada di sana dan dalam keadaan baik-baik saja.


Via masuk ke dalam sebuah apartemen itu dengan di antar oleh anak buah orang yang menyuruhnya datang ke apartemen itu.


"Silahkan Nona Via anda sudah di tunggu oleh bos kami di dalam." anak buah itu mempersilahkan Via agar masuk ke dalam apartemen itu setelah ia menelpon bosnya itu.


Via pun dengan takut dan sedikit ragu untuk masuk ke dalam. Langkah Via pelan ia mengitari seisi ruangan di dalam apartemen. Hanya terlihat kosong tidak ada orang yang berada di sana dan terdengar begitu sepi.


"Aku penasaran siapa yang menyuruh ku untuk datang ke sini?" batin Via dalam hatinya. Kini posisi Via berdiri berada di depan pintu masuk dalam ruangan apartemen.

__ADS_1


Saat Via dengan pikiran yang tertuju pada suaminya mendengar sebuah suara langkah kaki yang mendekati nya.


Tap tap tap... suara sepatu berjalan menghampiri nya Via pun menatap ke arah suara sepatu itu. Dan ia melihat laki-laki tersenyum tipis padanya.


"Kak Tama? Jadi benar dia adalah orang yang menyembunyikan suamiku. Benar-benar membuat ku sungguh tidak menyangka, jika dia akan melakukan hal seperti ini." batin Via dengan penuh amarah ke arah mantan tunangannya itu dengan tatapan benci nya.


"Apa kabar Via sayang?" tanyanya dengan senyuman yang sulit di artikan.


Via bergeming saat ini dalam hatinya ia begitu membenci laki-laki yang ada di hadapannya itu. Dia adalah laki-laki yang tadi mengancam nya.


Tama kembali tersenyum melihat Via yang datang walaupun Tama tahu kedatangan Via saat ini bukan karena ingin bertemu dengan nya tapi karena suami yang sangat Tama benci.


"Aku senang karena kamu datang kesini, apa kamu merindukan ku?" tanyanya dengan percaya diri.


Via mendengus kesal saat Tama berucap seperti itu rasanya ia ingin sekali menjambak mulutnya itu sampai robek. "Tidak usah basa-basi dimana kamu sembunyikan suami ku?" telak nya.


Tama tersenyum sinis. "Kamu menanyakan suami mu padaku, haha apa kamu sudah gila?" ucapnya mendekati wajah Via dan mengusap nya namun Via menghindari nya. "Kamu memang tepat sekali menanyakan hal itu padaku, kamu tahu aku menyuruh mu untuk datang ke sini bukan untuk bertemu dengan suami mu yang tidak berguna itu, karena tidak mungkin aku menyembunyikan dia di sini?" ucapnya licik. "Tapi aku menyuruh mu kesini karena aku ingin kamu mengikuti apa yang aku mau." tambahnya.


"Apa yang kamu mau kak Tama? Kenapa kamu melakukan hal seperti ini padaku?" tanya Via geram.


"Via... Via. Kamu jangan jadi orang yang tidak peka, aku mencintai mu aku menginginkan mu dan aku mau kamu kembali padaku. Tapi permintaan aku itu tidak pernah kamu anggap. Kamu selalu saja menolak ku dan tidak mau kembali padaku, kamu lebih memilih bersama suami mu!" ucapnya dengan tatapan penuh kekecewaan, kesal dan marah ya tertahan.


"Berulang kali kamu menolak ku, dan berulang kali aku terluka akan penolakanmu itu." ucapnya lagi dengan kedua matanya berkaca-kaca.


"Aku sudah sering bilang, aku sudah menikah dan aku tidak mungkin meninggalkan suamiku walau bagaimana pun. Tidak ada alasan aku untuk meninggalkan nya ka Tama aku mencintainya jadi aku tidak akan meninggalkan nya!" ucapnya dengan tegas.


Tama semakin mendekat ke arah wajah Via mengelilingi tubuh Via yang ada di hadapannya. Via membenarkan alat berupa anting yang ia pakai di telinga dan menguraikan rambut panjangnya agar tidak melihatkan telinga nya, ia takut jika Tama akan mengetahui hal itu.


Tama terus saja memperhatikan Via sesekali mengusap rambut Via yang dulu ia sering lakukan dan itu sangat ia rindukan.


Jantung Via berdetak sangat kencang saat Tama mengusap rambutnya dan menyelipkan rambut Via ke belakang telinga nya. Bukan karena perlakuan Tama yang manis itu melainkan ketakutan akan di rasakan Via saat ini jika Tama mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan.


"Via apa kamu masih ingin melihat suamimu hidup dan bebas di luar sana?" bisik nya tepat di telinga Via.


Deg... jantung Via seakan berhenti "Ancaman apa lagi ini?" batin nya.


"Apa mau kak Tama sebenarnya?" tanya Via cepat memundurkan dirinya yang sangat dekat dengan tubuh Tama.


"Aku hanya ingin...?" ucapnya tersenyum licik. "Aku akan beri tahu kamu asal kamu mau menuruti apa yang aku mau!" ucapnya "Apa pesan yang tadi aku kirim tidak cukup jelas Via sayang." Tama mengingatkan Via akan isi pesan yang tadi Tama kirimkan.

__ADS_1


Via berusaha mengingat kembali isi dari pesan yang Tama kirimkan padanya tadi."Ah benar aku lupa, di dalam isi pesan itu aku harus mengikuti apa yang dia mau, agar suami ku bisa bebas dan selamat. Tapi... keinginan apa yang harus aku ikuti? Ah aku takut sekali." batin Via merasa terancam.


__ADS_2