Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
perawat aneh


__ADS_3

Perawat cantik itu mengeluarkan jarum suntik dari tempat nya yang sudah terisi dengan cairan obat. "Maaf pak Adam saya akan suntikkan dulu ke selang infusan ya, tahan sedikit ya pak Adam rasanya akan sedikit perih." ucap Via lembut.


Aris memundurkan dirinya ke belakang agar jauh dari perawat itu saat ia melihat jarum suntik yang di acungkan untuk di suntikan pada tangan Adam.


Nisa yang melihat Aris memundurkan tubuhnya dan terlihat seperti panik dan cemas membuat ia bertanya dalam hati dan heran. "Aris kamu kenapa panik begitu lihat jarum suntik? Apa kamu masih takut dengan jarum suntik?" tanya Nisa dengan telisik.


"Ennngg...enggak kok, aku tidak takut!" jawabnya gugup dengan senyuman kikuk di wajah nya.


"Masa sih kamu kok terlihat panik begitu terus itu kamu kenapa keringatan? Di sini kan AC menyala!" balas Nisa.


"Gak ada apa-apa kok mungkin aku memang kegerahan aja." elak Aris panik namun ia tidak memperlihatkan itu pada Nisa ia sungguh malu sampai sebesar ini dia masih saja takut dengan jarum suntik.


Nisa tersenyum melihat Aris seperti itu membuat nya ingat pada waktu ia masih kecil bersama Aris dulu. Pada jaman Nisa dan Aris masih kecil ketika di sekolah dasar. Waktu itu ada pemberian vaksin untuk anak sekolah dasar dan Aris saat itu ia sangat takut sekali melihat teman-teman nya yang di suntik vaksin, pas giliran Aris yang akan di vaksin ia lari menghindar dari tim medis yang akan menyuntik sampai para guru-guru disana mengejar Aris yang takut di suntik.


Aris melihat Nisa yang ada di samping nya heran karena sedang tersenyum sendiri padahal ia tidak merasa sedang melucu di dekatnya. "Kamu kenapa senyum-senyum sendiri apa ada yang lucu?" tanya Aris penasaran.


Nisa tersenyum. "Iya kamu lucu." jawabnya.


Aris mengerutkan dahinya tak mengerti dengan maksud Nisa. "Aku lucu? Aku tidak sedang melucu lalu apanya yang lucu?" tanyanya balik.


"Kamu masih takut dengan jarum suntik kan?" tanya Nisa penuh selidik.


"Ti...tidak, aku keluar dulu ya di sini terlalu banyak orang jadi terasa engap rasanya." ijin Aris cepat keluar dari ruangan Adam setelah Nisa mengijinkannya keluar.


"Akhirnya jauh juga dari alat itu. Hufff." gumam Aris lega saat sudah berada di luar ruangan.


"Aris... Aris aku tahu kamu masih takut sama jarum suntik." gumam Nisa tersenyum melihat tingkah Aris dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nisa menghampiri kedua perawat itu melihat mereka yang sedang mengecek Adam suaminya. "Sus bagaimana keadaan suami saya sekarang apa tekanan darah nya sudah normal atau bagaimana?" tanya Nisa pada kedua perawat itu.


"Pak Adam tekanan darah nya sudah normal, bapak hanya perlu pemulihan saja, saya tadi sudah memberikan antibiotik, infusan juga sudah kami ganti ya Bu. Jika pak Adam membutuhkan tenaga laki-laki ibu bisa panggil rekan saya ini." ucap Via dengan lembut dan sopan menunjuk rekan temannya yang ikut mengecek keadaan Adam.


"Baik terima kasih ya." ucap Nisa pada kedua perawat itu dengan menatap kedua wajah mereka bergantian.


"Iya Bu sama-sama kalau begitu kami permisi ya Bu, pak?" pamitnya dan di angguki oleh Nisa dan juga Adam.


Mereka pun keluar dari ruangan Adam setelah pengecekan selesai. "Sayang pak Aris kemana?" tanya Adam melihat Aris tidak ada di ruangan nya.


"Aris tunggu di depan mas katanya pengap tadi di sini banyak sekali orang." jawab Nisa.

__ADS_1


"Emh gitu."


Di luar ruangan saat dua perawat itu keluar, Via yang lebih dulu keluar dari ruangan ia tidak sengaja menabrak Aris yang sedang menunggu di depan pintu, Aris tidak tahu jika ada orang yang akan keluar. Brug... prang...suara tabrakan dua tubuh antara Via dan Aris dan suara tempat alat medis yang Via bawa berjatuhan.


"Anda bisa gak jangan berdiri di depan pintu, sangat menggangu orang yang akan lewat. Lihatkan gara-gara anda berdiri di depan pintu semua alat yang saya bawa jatuh." omel Via pada Aris dengan suara pelan namun tajam.


"Maaf, saya gak tahu kalau kamu akan keluar." sahut baris sedikit kesal.


"Mau keluar atau tidak ya anda tetap salah karena anda sudah berdiri di depan pintu, itu menghalangi jalan orang." balas Via semakin kesal.


Rekan Via yang tadi bersamanya melihat situasi akan memanas, ia langsung menghentikan Via yang sedang kesal. "Sudah Via jangan di permasalahkan nanti jadi malah panjang." ucap rekan Via.


"Mohon maaf ya pak teman saya lagi banyak masalah jadi sedikit agak emosional." ucap rekan Via merendah, dengan mendorong pelan tubuh Via rekan nya itu agar pergi dari sana.


"Kamu jangan permasalahan masalah ini, ini spele. Bagaimana kalau dia gak terima terus dia lapor sama pemilik rumah sakit kamu bisa di pecat Via..." ucap rekannya itu mengingatkan Via agar ia tidak dapat masalah.


"Aku kesal sama dia!" sahut nya.


"Ini kayaknya bukan kesal gara-gara masalah tadi kalian tabrakan deh kayaknya, kalian saling kenal? Punya masalah apa si?" tanyanya penasaran.


"Ah udahlah malas bahas itu orang!" jawabnya ketus.


Melihat kedua perawat tadi pergi Aris menghela nafasnya kasar. "Perempuan itu selalu bikin aku kesal aja sih, kenapa juga aku harus ketemu lagi sama dia, menyebalkan sekali." gerutu Aris pelan kesal dan sebal menjadi satu.


"Siapa Via yang telepon angkat kenapa berisik tahu!" ucap Sofi mendengar handphone sahabat nya itu berdering namun Via membiarkan nya begitu saja.


"Tama." sahut cepat dan ketus.


"Tama? Mantan tunangan kamu itu ngapain dia telpon kamu?" tanya Sofi penasaran.


"Mana aku tahu kan aku gak angkat." jawab Via sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Ya makanya di angkat Via... Siapa tahu dia mau balikan lagi sama kamu." ucapnya Sofi.


"Ogah ah kalau dia minta balikan!" balas nya cepat. Padahal di hatinya Via masih berharap hubungan mereka akan kembali.


"Ayok Via angkat! Kalau gak kamu angkat biar aku saja yang angkat dan jawab panggilannya.


Dengan cepat Via mengangkat panggilan Tama itu takut sahabat nya dulu yang mengangkat, karena Sofi suka berbicara aneh pada Tama.

__ADS_1


"Hallo! Ada apa kamu menelpon ku?" tanyanya ketus.


"Aku ingin bertemu dengan kamu di cafe dekat rumah sakit tempat kamu bekerja." jawabnya.


"Untuk apa? Kamu ingat kan kita sudah tidak ada hubungan lagi."


"Aku ingat, aku hanya ingin mengembalikan barang-barang yang kamu berikan padaku, aku tidak mau sampai kekasih baruku salah paham."


Jleb bagaikan di tusuk pisau yang kini Via rasakan mendengar ucapan mantan tunangannya itu. "Ok, sore kita bertemu." Tut handphone pun Via matikan dia langsung terdiam menatap handphone yang masih ia pegang di tangan nya.


"Kamu gak apa-apa Via...?" tanya Sofi khawatir saat melihat ekspresi sahabat nya itu setelah menjawab panggilan dari tunangan nya. Namun bukan jawaban yang ia ucapkan tapi gelengan kepala dengan pelan ia gerakan.


"Sofi nanti pulang kita gak bisa barengan ya aku ada urusan dulu sama si Tama!" ucapnya ketus.


Sofi mengangguk-angguk kepalanya. "Oke." Sofi merasa ada sesuatu yang tidak beres dari sahabatnya itu, maka dia tidak banyak bicara lagi.


Setelah pulang dari pekerjaannya Via langsung menemui Tama mantan tunangannya itu di sebuah cafe yang dekat dengan tempat ia bekerja. Ia langsung mencari Tama namun laki-laki itu belum terlihat sama sekali mungkin dia belum datang. Via pun langsung mencari tempat duduk yang kosong dan menempati kursi itu.


Via tidak sadar jika disana juga ada Aris sedang menikmati kopi nya sendirian, Aris setelah dari menjenguk Adam ia mampir dahulu ke cafe itu karena terasa suntuk dan bosan. Ia melihat perawat menyebalkan itu datang sendirian dan duduk persis di dekat dimana ia duduk.


Seorang laki-laki datang menghampiri Via, namun via sepertinya juga tidak menyadari kedatangan laki-laki itu.


"Sudah lama menunggu?" tanyanya.


Via mendongakkan kepalanya melihat ke arah laki-laki itu. "Lumayan!" jawabnya ketus.


Laki-laki itu adalah Tama mantan tunangannya. Tama pun duduk di hadapan Via tempat duduk yang tersedia. "Ok aku tidak mau berlama-lama disini aku akan menyerahkan ini semua sama kamu." Tama menyodorkan barang-barang yang berhubungan dengan Via yang ia bawa, seperti cincin tunangan, jam tangan pemberian Via dan juga yang lainnya.


Via menatap barang-barang itu dengan nanar rasanya ia ingin sekali membuang barang-barang itu dan melemparkannya pada wajah Tama yang sekarang menyebalkan itu.


"Aku tidak mau kekasih ku salah paham, dia selalu menyangka aku masih menyimpannya." ucap Tama cepat.


"Kenapa tidak kamu buang saja langsung! Selesai kan?" ucapnya datar.


"Aku ingin membuang nya tapi...?" ada jeda di sebuah jawaban Tama.


"Tapi... kamu mau pamer kalau sekarang kamu sudah bahagia dengan perempuan lain, begitu?" tanya Via sinis.


"Jangan salah kan aku, kamu yang salah!" ucapnya menyalahkan.

__ADS_1


Via mengerutkan keningnya heran. "Aku? Aku yang salah? Kamu yang selingkuh kenapa aku yang disalahkan?" tanyanya bingung.


Tama tersenyum sinis menatap wajah Via mantan kekasihnya itu. Via memang cantik sangat cantik malah kecantikan nya itu alami dan natural namun ntah kenapa ia merasa bosan saat berhubungan dengan nya akhir-akhir ini.


__ADS_2