Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
extra part 3


__ADS_3

"Sayang aku sepertinya lagi pengen jalan-jalan pakai motor, boleh ya???" pinta Via dengan manja pada Aris.


"Ini sudah malam, memang kamu mau pergi kemana?" tanya Aris penasaran.


"Aku mau malam mingguan sama kamu sebelum anak kita lahir." urainya. "Setelah aku lahiran nanti mungkin akan sulit untuk boncengan motor sama kamu." serunya.


"Tapi kamu sedang hamil besar apa tidak berbahaya dengan kandungan kamu nanti?" Aris mengingatkan Via agar ia tidak meminta hal yang aneh-aneh.


"Ah tapi aku mau... tetep aku mau jalan-jalan pakai motor!" kekeh Via tidak mau di bantah.


Aris menghela nafasnya berat. "Ok kita jalan-jalan pakai motor, tapi ingat sebentar saja ya." rayu Aris pada Via dan di angguki pelan oleh istrinya itu.


"Ya sudah kamu siap-siap, pakai baju hangat!" titah nya.


"Ok, makasih sayang ku, love you..." ucap Via bahagia karena suaminya itu menuruti kemauannya.


"Love you too sayang." balas Aris. "Ada maunya saja bilang begitu huh." batin Aris melihat istrinya seperti itu.


Tak lama setelah bersiap Via dan Aris pun menaiki motor nya, setengah perjalanan saat di jalan tiba-tiba Via meringis kesakitan.


"Aww, sakit!" ringis nya pelan.


"Sakit apa sayang?" tanya Aris menengok ke arah belakang dimana Via yang di bonceng.


"Gak apa-apa!" sahutnya pelan dengan keringat membasahi wajah Via.


"Bener kamu gak apa-apa?" tanya Aris meyakinkan.


"Iya." jawabnya seraya masih meringis.


Aris menghentikan laju motornya. "Kamu kok pucat begitu?" tanyanya merasa khawatir melihat istrinya begitu pucat.


"Perut aku sakit bang, apa ini waktunya aku melahirkan ya, kontraksinya semakin kuat." Via memegang perutnya yang terasa mulas.


"Ya ampun sayang, apa kamu merasakan sakit nya dari tadi?" tanya Aris menatap wajah Via dan di angguki pelan oleh Via.


Dengan panik dan khawatir Aris pun dengan cepat membawa Via ke rumah sakit, menghentikan sebuah taxi yang kebetulan lewat di depan Aris.

__ADS_1


"Pak rumah sakit, istri saya mau melahirkan!" perintah nya pada sopir taxi. "Cepat pak!" titah nya.


"Baik" sahut sang sopir.


Dengan kecepatan tinggi mobil itu mengantarkan Via ke rumah sakit. Via meringis kesakitan saat kontraksi itu terjadi.


"Tahan ya sayang sebentar lagi kita akan sampai." Aris berusaha menenangkan Via dan terus mengusap kepala Via dengan lembut.


"Aww sakit!" ucapnya lagi.


"Pak lebih cepat lagi!" titah Aris.


"Aduh bahaya pak kalau terlalu kencang saya tidak berani." sahut nya takut. Sang sopir merasa takut mungkin karena usia yang sudah tidak muda lagi dan hari sudah malam.


Aris mendengus kesal. "Pak berhenti!" titah nya cepat.


"Kenapa pak?" herannya.


"Saya saja yang bawa mobilnya, bapak geser!" titah nya lagi.


"Sayang kamu duduk di sini ya, kamu tahan aku akan bawa mobilnya." ucap Aris dan di angguki Via.


"Hati-hati bang, jangan panik, aku bisa kok menahannya." jawab Via meyakinkan suaminya dia baik-baik saja.


"Iya aku akan pastikan keselamatan kalian!" sambung nya.


Dengan mengebut Aris pun akhirnya cepat juga di depan rumah sakit, perjalanan mereka lancar tidak terjebak oleh kemacetan. Langsung Aris pun menggendong Via masuk ke dalam rumah sakit karena di depan tidak terlihat seorang petugas satu pun.


"Tolong istri saya dia mau melahirkan." teriak Aris pada petugas saat ia sudah masuk ke dalam.


Dengan cepat para petugas medis pun membawa Via ke dalam IGD untuk di tangani oleh para perawat.


Aris menunggu dengan perasaan cemas. Beberapa saat kemudian suster pun keluar dan memanggil Aris.


"Maaf pak dokter ingin bicara dengan anda." ucapnya.


"Iya baiklah." Aris pun mengikuti kemana suster itu melangkah. Aris di bawa ke ruangan dokter.

__ADS_1


"Maaf, bapak suami ibu Novia?" tanya nya. Aris mengangguk.


"Begini pak seperti nya ibu Novia harus melahirkan secara Cesar, karena bayinya yang masih sungsang, dan pinggul Bu Novia juga kecil, kemungkinan ini akan sangat berbahaya jika istri anda melahirkan secara normal. Bahaya bagi bayi juga bagi ibunya." tutur dokter menjelaskan.


"Lakukan apa yang terbaik untuk istri dan anak saya dok, jika harus melahirkan secara Cesar itu lebih baik saya akan mengijinkan nya." jawab Aris yakin.


"Baik kalau begitu bapak ikut dengan suster ya, dia akan memberi tahu anda apa yang akan anda lakukan sebelum operasi Cesar istri bapak ini di lakukan." jawab dokter itu.


"Baik dok." sahut Aris menghirup nafasnya panjang dan dalam menghilangkan rasa yang saat ini ia rasakan.


Setelah selesai Aris mengikuti prosedur sebelum operasi itu di laksanakan, kini Aris pun menunggu Via yang sedang melahirkan di ruang operasi. Untung saja tadi Via belum mengisi perut nya jadi operasi Cesar pun cepat di lakukan, karena terasa sakit dari pagi membuat selera makannya turun. 8 jam sebelum operasi perutnya tidak boleh di isi sama sekali agar operasi Cesar pun berjalan dengan lancar.


Hari sudah mulai tengah malam malah mau menjelang pagi, Aris masih menunggu Via yang masih belum selesai. Ia jadi mengingat saat ia menemani Nisa yang akan melahirkan anaknya saat Adam sedang pergi bertugas. Kini Aris beruntung karena bisa menemani istrinya melahirkan. Walaupun hati nya saat ini begitu cemas, khawatir dan deg degan karena sebentar lagi akan menyambut anaknya yang akan di lahirkan ke dunia ini.


Satu jam Aris menunggu Via melahirkan,. satu jam itu pun Aris dengan setia menunggu Via yang masih di dalam ruangan. Ia tidak masuk karena tidak berani jika melihat jarum suntik ada dimana-mana. Aris pun memberi tahukan pada keluarganya tentang Via yang akan melahirkan.


"Dengan suami ibu Novia?" panggil itu pada Aris.


Aris pun dengan cepat berdiri lalu menghampiri nya. "Iya saya suami ibu Novia." jelasnya.


"Mari pak silakan masuk!" ucapnya menyuruh Aris masuk ke dalam ruangan operasi.


Aris pun dengan ragu dan sedikit takut masuk pada ruangan operasi.


"Selamat ya pak bayi anda perempuan, cantik dan sehat serta tidak kurang satu apapun." jelas dokter itu. "Ini bayi anda, adzanin ya pak sebelum kami bawa ke ruang perawatan."


Aris dengan pelan dan hati-hati menggendong bayinya itu lalu ia mengadzani dan mengiqomah kan bayinya itu. Dengan rasa terharu Aris yang sedang mengadzani pun meneteskan air mata bahagia nya. Dan Via yang setengah sadar pun tersenyum tipis melihat suaminya itu.


Setelah bayi itu di adzanin pun di ambil kembali oleh para petugas medis untuk mendapatkan perawatan untuk bayi dan untuk di bedong juga.


Aris menghujami ciuman pada istrinya yang terbaring lemah. "Terima kasih sayang." bisik nya lembut di telinga Via. Via tersenyum sebagai jawaban akan ucapan Aris padanya.


Hai hai hai jika kalian mau mampir pada lanjutan kisah anak mereka langsung aja klik profil aku ya.


*Yang judulnya Kakakku polisi ku kakakku suami ku*


__ADS_1


__ADS_2