
"Dasar gila!" umpat Via kesal karena Aris sudah mempermalukan dirinya di depan orang banyak memanggilnya pacar dengan cara berteriak-teriak.
Saat ini Via sedang berada di atas motor nya dan akan menyalakan motor nya itu, rasanya ia ingin segera pergi dan tidak pernah melihat laki-laki berseragam loreng itu.
"Maju terus bang, kejar terus..." goda tukang parkir yang tadi melihat adegan romansa antara Aris dan Via.
"Sikaaaaat..." seru Aris dengan senyum sumringah seraya berjalan menuju tempat mobil yang ia parkir Via juga terlihat masih berada di motor.
Aris pun dengan menjalankan kemudinya melewati Via yang masih sibuk dengan kegiatannya, ntah sedang apa Aris tidak mengerti.
"Pacar, nungguin saya ya, ayok kalau mau bareng, saya antar kamu!" tawar Aris dengan menggoda Via yang sedang menekuk wajahnya yang kesal.
Dengan cepat Via mengegas motor nya itu menyalip mobil Aris yang sedang berjalan dengan santai. Melihat itu Aris hanya tersenyum. "Ah sudahlah kasihan dia aku goda terus padahal dia kan sedang galau!" pikir Aris merasa kasihan melihat Via yang cemberut karena nya.
Via yang lebih dulu mengendarai motor nya itu dengan kecepatan tinggi karena ia takut Aris akan mengejar nya dan terus menggoda nya. Namun saat ia sedang mengendarai motor nya itu terlintas bayangan Tama mantan tunangannya itu, ia jadi ingat akan perlakuannya padanya tadi, ia begitu membela pacar barunya dan menjelekkan dirinya padahal jika di pikir-pikir apa salahnya dia pada kekasih baru yang telah merebut darinya.
"Aku gak nyangka hubungan kita akan seperti ini, aku menyesal karena sudah setia menunggu dia. Rasa cintaku sekarang berubah menjadi benci." batin Via seraya mengendarai motor nya.
"Sakit hati ku ini rasanya melihat kamu lebih membela perempuan yang baru saja kamu kenal dan dengan mudah kamu menyakiti perasaan aku yang sudah lama menjalin hubungan bersama kamu dulu." ucapnya di tengah isak tangis yang ia tahan dari tadi.
Via mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Air mata yang ia tahan dari restoran saat pertengkaran nya dengan ChaCha perempuan yang sekarang berstatus pacar baru Tama mantan tunangannya. Ia tidak mau menampakkan kesedihan nya pada makhluk dua yang tidak peka akan perasaan nya saat ini.
Air mata nya semakin membendung karena Via sudah tidak tahan lagi mengingat kejadian tadi, membuat air mata itu yang menumpuk menghalangi penglihatannya saat ia mengendarai motor nya itu. Otak pun menjadi tidak fokus kendaraan yang ia bawa pun menjadi oleng karena ia tidak sengaja melewati jalan yang berlubang agak dalam daaaan... brug...tiiiiit Via terjatuh dari motor nya setelah Ia tidak dapat menyeimbangkan laju motor yang ia bawa.
Semua orang berkerumun untuk membantu Via karena kebetulan dia jatuh tidak jauh dari sebuah warung milik warga yang berjualan di pinggir jalan. Para pembeli di warung itu terkejut kecelakaan terjadi berada di daerahnya.
Kaki nya yang terhimpit oleh motor nya membuat Via meringis kesakitan dan dagunya yang terkena jalan aspal membuat nya berdarah juga.
Di angkat lah motor matic Via oleh seseorang yang ada di sana. Dan di duduki dengan pelan Via yang tadi terbaring lemah itu.
Aris yang baru melewati jalanan pun penasaran ada kerumunan orang disana yang membuat jalanan sedikit macet. "Ada apa ya kok tumben macet." tanyanya dalam hati. "Apa ada kecelakaan ya kok banyak orang-orang pada kumpul di sana!" Aris melihat kerumunan di depan matanya langsung menepikan mobilnya itu dan melihat apa yang terjadi.
Setelah menepikan mobilnya Aris turun dari mobilnya itu dan bergegas menghampiri tempat kejadian kecelakaan. Ia masuk dalam kerumunan orang-orang ntah kenapa ia sangat penasaran dengan orang yang mendapat kecelakaan itu.
Setelah ia di depan korban kecelakaan ia sangat terkejut. " Suster Via." panggil nya seraya mendekat ke arah Via yang sedang di kerumuni oleh orang dengan lemahnya.
Aris langsung menghampiri dan dengan cepat ia merangkul bahu Via yang lemah itu. "Bapak kenal sama korban?" tanya salah satu orang di sana.
"Iya saya kenal, saya yang akan membawanya ke rumah sakit."; ucap Aris cepat.
"Via kamu tidak apa-apa?" tanya Aris menatap wajah Via yang pucat dan mengelus pipinya itu dengan lembut. Via menatap balik ke arah wajah Aris yang memandang nya dengan cemas dan Via tidak sadarkan diri ia pingsan di pelukan Aris. "Via" panggil Aris menyadarkan Via namun Via masih tetap tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Dengan cepat Aris menggendong tubuh Via yang lemah itu dan langsung membawa nya ke dalam mobil nya ia akan membawanya ke rumah sakit untuk segera ditangani.
Di dalam mobil ia terus memanggil nama Via dengan lembut dan mengusap terus kepala Via dengan lembut agar Via segera sadar tapi Via masih tidak sadar juga.
Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena ia khawatir akan keadaan Via.
Tidak lama mereka pun sampai di rumah sakit terdekat Aris langsung menggendong kembali tubuh Via dan langsung membawa nya ke ruang gawat darurat. Dokter disana langsung memeriksa Via yang masih tidak sadar dan Aris menunggu di luar dengan perasaan cemas dan khawatir.
Tas Via yang tadi seorang suster titip kan padanya ia pegang dan handphone Via di dalam tas nya itu terus saja berdering, sebuah panggilan telepon pada handphone nya.
Aris duduk dan mencoba membuka tas Via, ia berniat akan menjawab panggilan telepon dari handphone Via yang terus memanggil nya. Dan terlihat nama Sofi di sana yang memanggil nya itu. Lalu Aris mengangkat panggilan itu dan menjelaskan keberadaan Via saat ini pada sahabat nya itu. Dan Sofi pun akan datang ke rumah sakit dimana Via di tangani.
"Dengan keluarga korban?" tanya seorang suster yang menangani Via di dalam. "Iya sus ada apa? Apa pasien baik-baik saja sus?" tanyanya lagi dengan khawatir.
"Pasien baik-baik saja dan sekarang pasien sudah sadar, dokter tadi bilang kalau anda bisa menemui nya." balas suster itu sopan.
Aris senang mendengar kabar baik ini ia pun langsung masuk ke ruang IGD untuk menemui Via.
"Kamu sudah sadar?" ucap Aris dengan tersenyum namun Via hanya menatap nya saja tidak menjawab pertanyaan Aris yang dari tadi khawatir padanya.
"Saya boleh minta minum?" pinta nya lemah.
Tak lama Aris keluar dari IGD Sofi sahabat Via datang. "Via... keadaan kamu gimana?" tanya Sofi langsung mendekat ke arah Via dan memeluknya dengan khawatir setelah ia tahu jika sahabat nya itu mengalami kecelakaan.
Via mengerutkan keningnya heran. "Kenapa kamu bisa tahu aku di sini?" tanya Via bingung.
"Pak Aris yang kasih tahu aku dan ceritain kamu yang mengalami kecelakaan ini. Tadi aku telepon kamu mau tahu kamu lagi dimana eh yang jawab ternyata pak Aris dan dia kasih tahu aku kamu di bawa ke sini." ujar Sofi menjelaskan kenapa dia bisa tahu. "Pak Aris nya mana aku tadi gak lihat dia ada di depan di sini juga gak ada!" sambung nya.
Via mengangguk lemah. "Dia lagi beli minum dulu aku haus Fi." jawab Via lemah.
"Oh gitu, perhatian banget ya dia sama kamu. Jangan-jangan ada rasa lagi!" sanggah Sofi menggoda Via yang terbaring lemah di hadapan nya.
"Apa sih kamu Fi!" cebik Via sebal.
"Eh kenapa sih kamu sampai kecelakaan gini, apa sih yang kamu pikirin?" tanya Sofi pada sahabat nya itu karena selama ini ia baru tahu Via bawa motor sampai jatuh seperti itu dan Via menceritakan terjadi nya pertemuan dia dengan Tama sebelum ia kecelakaan.
"Jangan-jangan kamu jatuh gara-gara mikirin laki-laki berengsek itu?" tanya Sofi emosi.
Via mengangguk lemah membenarkan apa yang di ucapkan sahabatnya itu. "Ya ampun Via... ngapain kamu mikirin laki-laki jahat itu sampai kamu kecelakaan begini, untung lukanya gak parah gimana kalau sampai kamu lumpuh atau mati seketika. Kamu yang rugi Via..." geram Sofi kesal dan gemas pada sahabat nya yang satu ini.
"Galau sih boleh tapi jangan di jalan pas bawa kendaraan begitu jatuh deh jadinya!" omel Sofi sebal.
__ADS_1
"Aku gak sengaja mikirin dia Fi tadi di jalan, aku sakit banget dengan perlakuan dan perkataan dia sama aku, dia bahagia dengan perempuan lain sedangkan aku di sini sakit karena sikapnya itu. Pernikahan kita itu sebentar lagi tapi dia gak mikirin itu, aku bingung bagaimana harus bicara sama kedua orang tua ku, mereka pasti malu jika pernikahan aku sampai batal. Kamu tahu sendiri kan pekerjaan ayah aku apa, orang-orang pasti membicarakan ayahku dan juga keluarga ku. Sedangkan Tama dia tidak ada niat baik untuk pembatalan pernikahan ini." ucap Via dengan terisak tangis pecah di hadapannya sahabatnya.
Sofi menghela nafasnya panjang. "Kamu yang sabar ya semua ini pasti kamu bisa lewati aku yakin itu!" balas Sofi seraya memeluk Via untuk menenangkan Via sahabatnya.
Aris yang sudah membeli minuman untuk Via dan akan masuk pun menghentikan langkahnya ia jadi tidak jadi masuk karena Via sedang bercerita kesedihannya pada Sofi namun Aris mendengar semua cerita Via pada Sofi tanpa terlewatkan sedikit pun.
Mendengar kesedihan Via Aris pun menjadi terdiam memikirkan perasaan Via saat ini, terlihat kuat namun hatinya sangat rapuh.
Dokter masuk ke dalam ruangan Via. "Nona Via karena lukanya tidak begitu parah jadi anda tidak perlu di rawat anda bisa pulang tapi di rumah anda harus banyak istirahat ya." ucap dokter itu. Via dan Sofi tersenyum karena ia tidak perlu dirawat.
Aris yang mendengar Via tidak akan di rawat ia pun masuk dan memberikan air minum yang Via tadi minta. "Saya antar kamu pulang ya!" tawar Aris pada Via.
"Tidak usah repot-repot saya bisa pulang sendiri dan juga bisa minta Sofi untuk antar saya pulang." jawabnya menolak tawaran Aris.
"Mending kamu pulang sama pak Aris aja Via, kamu lagi sakit, masa pakai motor sama aku, aku takut kenapa-kenapa sama kamu." khawatir Sofi menyarankan Via agar pulang bersama Aris.
"Tapi aku bisa kok naik motor sama kamu, gak apa-apa!" tambah Via masih mau naik motor bersama Sofi.
"Udah gak apa-apa kamu di antar sama pak Aris saja ya." balas Sofi meyakinkan Via.
"Saya gak mau ada penolakan! Jadi saya akan antar kamu pulang!" ucap nya tegas tidak mau di bantah saat Sofi memberikan kesempatan nya untuk mengantarkan Via.
Pada akhirnya Via di antar pulang oleh Aris ke kosan tempat Via tinggal. Setelah Via memberi tahu alamatnya Aris langsung tancap gas menuju kosan Via.
Tak lama mereka sampai di depan kosan Via, Via yang akan turun setelah pintu mobil di bukakan oleh Aris. "Diam kamu! Saya akan gendong kamu ke kamar kosan kamu!" ucap Aris cepat melihat Via yang akan turun itu.
"Tidak usah saya bisa kok jalan sendiri, saya gak mau merepotkan anda." tolaknya pelan. Lalu Via pun mencoba untuk turun dan berdiri namun karena kakinya yang masih basah akan luka kecelakaan membuat dia meringis sakit dan hampir terjatuh tapi untungnya Aris dengan sigap menahan tubuh Via yang akan jatuh itu.
"Saya gak mau dengar kata penolakan! Lagipula kaki kamu masih sakit, kamu jangan ngeyel begitu." ucap Aris datar. Dan dengan cepat Aris menggendong tubuh Via yang sakit itu.
Ketika sudah masuk ke dalam halaman kosan penjaga kosan pun datang menghampiri. "Eh kenapa mba Novia di gendong begitu terus itu kenapa kakinya di perban?" tanyanya penasaran seraya mendekat.
"Lagi galau pak sampai gak fokus bawa motor makanya jadi jatuh!" ucap Aris menggoda Via yang berada di dalam gendongan nya.
Via yang mendengar ucapan Aris yang meledek nya menatap Aris dengan sebal lalu tangan yang ada di belakangnya saat Via di gendong itu mencubit sedikit belakang leher Aris dengan geram.
"Aduh!" Sakit tahu!"
"Ada apa pak?" tanya penjaga kosan saat Aris mengaduh.
"Ada semut galak pak gigit leher saya!" ucap Aris menahan tawanya karena Via sedang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1