Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
ikatan batin


__ADS_3

Setibanya di kediaman Adam, Adam langsung membawa Via ke rumah nya. Nisa terkejut saat suaminya itu membawa suster Via ke rumah nya padahal ia sedang bertugas.


"Sayang suster Via akan menginap di sini jadi tolong sediakan kamar untuknya ya!" titah Adam pada Nisa, namun Nisa mengerutkan keningnya heran akan apa yang di lakukan suaminya itu.


"Ayok sayang...kok diam?" suara Adam membuyarkan kebingungan Nisa saat ini.


Lalu Nisa pun melaksanakan apa yang di perintahkan oleh suaminya itu dengan senyum pada Via. "Bu Nisa maaf saya sudah merepotkan." lirih Via ketika ia melihat mimik Nisa yang tidak senang akan keberadaan nya.


Nisa tersenyum. "Tidak merepotkan kok" sahut Nisa tidak enak karena ketahuan jika ia merasa tidak suka, bukan tidak suka melainkan aneh dan heran saat suaminya itu membawa seorang perempuan walaupun ia tahu jika Via adalah istri teman nya.


Lalu Nisa pun dengan cepat pergi untuk menyiapkan kamar untuk Via dan mengajak Via agar ia mengikuti nya untuk beristirahat.


Saat Via sudah berada di kamar nya Nisa langsung menghampiri Adam dengan banyak pertanyaan yang ada di benak nya. "Mas kenapa kamu bawa istri orang kesini? Apa yang kamu lakukan sampai istrinya Aris memakai jaket kamu, kamu mau romantis-romantisan?" tanya Nisa dengan muka cemberut.


"Sayang kamu cemburu aku bantu istrinya pak Aris? Nanti aku ceritakan sama kamu ya, mas sekarang mau berangkat tugas lagi karena belum selesai. Mas mau kamu ajak suster Via bicara jangan sampai dia diam dan melamun." ujar Adam menjelaskan pada Nisa agar dia tidak salah paham.


"Memang apa yang terjadi dengan nya?" tanya Nisa penasaran.


"Tadi suster Via mengalami kejadian yang buruk oleh seorang laki-laki, dia bilang kalau laki-laki itu adalah mantan tunangannya, dan tadi ia sempat diam saja mungkin dia sedikit trauma akan kejadian ini." jawab Adam serius.


"Emh begitu aku jadi merasa tidak enak dengan suster Via karena tadi aku udah salah paham aja." balas Nisa.


"Emh makanya kamu jangan cemburuan, udah jadi ibu aja masih cemburuan begitu!" jelas Adam seraya menoel hidung mancung Nisa. "Ya sudah mas berangkat ya, jangan diri kalian di sini kalau ada apa-apa langsung hubungi mas. Dan ingat perlakuan suster Via dengan baik dia itu istri teman kita dan kamu tahu kan pak Aris sudah menitipkan istrinya pada kita." Adam mengingat Nisa agar membuat Via merasa nyaman di rumah nya.


"Iya mas..." sahut nya.


Setelah Adam suaminya berangkat lagi untuk pergi bertugas. Nisa langsung menuju kamar dimana Via berada.


Via yang ada di dalam kamar setelah mengganti pakaiannya yang tadi di berikan Nisa karena bajunya yang tadi robek itu membuat Via harus mengganti pakaiannya.


Via kini sedang menatap ke arah luar dari jendela kamar yang di sediakan Nisa. Kamarnya itu berada di lantai dua dan jendela mengarah ke luar sehingga ia bisa menatap ke langit langsung dengan jelas, ia pun berdiri di depan jendela dengan ukuran yang besar itu, lalu ia menatap ke atas langit yang masih menurunkan air hujan dari sore tadi ia jadi mengingat suaminya yang jauh di sana, rasanya malam ini ia ingin memeluk suaminya itu, namun sayang tangannya tak sampai untuk menggapai suami nya yang jauh di sana. Lalu Via pun memutar lagu kesukaan saat ia merasa rindu terhadap suaminya itu dengan kedua tangan ia lipat di dadanya dan mata yang mulai berkaca-kaca mengingat kejadian tadi saat dimana Via akan di lecehkan oleh Tama mantan tunangannya itu. Rasa rindu Via terhadap Aris semakin bertambah akan hal yang terjadi hari ini.


*firasat* Marsel


kemarin,


kulihat awan membentuk wajah mu


desau angin meniupkan mamamu


tubuh ku terpaku


semalam,


bulan sabit melengkungkan senyummu


tabur bintang serupa kilau auramu


aku pun sadari, ku segera berlari


reff


cepat pulang,


cepat kembali jangan pergi lagi


firasat ku ingin kau tuk cepat pulang


cepat kembali jangan pergi lagi

__ADS_1


alirnya,


bagai sungai yang mendamba samudera


ku tahu pasti kemanapun ku bermuara


semoga ada waktu sayangku


ku percaya alam pun berbahasa


ada makna di balik semua pertanda


firasat ini rasa rindukah ataukah tanda bahaya


aku tidak peduli aku terus berlari


kembali reff


dan lihatlah sayang


hujan terus membasahi


seolah turun air mata


Suara pintu membuat Via tersadar dari kesedihannya, kini ia sadar jika saat ini ia sedang berada di rumah Nisa dan Adam.


"Iya sebentar!" sahut Via pelan ia mematikan lagu yang sedang ia putar saat ini lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.


Via tersenyum melihat Nisa di depan pintu. "Ada apa Bu Nisa?" tanya Via pelan.


"Emh aku mau ajak kamu untuk makan malam, jadi sebelum tidur kita makan malam dulu ya." ajak Nisa pada Via.


"Ayolah kamu temani aku makan malam, aku makan sendiri mas Adam juga sudah berangkat untuk bertugas lagi, ayok kita makan!" ajaknya lagi seraya menarik tangan Via lembut. "Please..." pintanya memohon.


"Hemm baiklah, saya akan temani Bu Nisa." Via pasrah karena kasihan juga melihat nya memohon seperti itu.


"Ok ayok kita ke ruang makan!" ajak Nisa.


Di ruang makan Nisa dan Via hanya berdua saja, keheningan diantara mereka pun menemani mereka. "Emh suster Via bagaimana kabar Aris sekarang, aku tahu dia sedang bertugas. Bagaimana cara kalian untuk saling percaya satu sama lain?" tanya Nisa di tengah kecanggungan mereka saat makan.


Via tersenyum. "Emh kami selalu video call setiap pagi dan setiap hari kami lakukan, agar rasa rindu diantara kami bisa sedikit terobati." jawab Via.


"Emh aku kagum deh sama kalian berdua, pengantin baru tapi harus terpisah jarak dan waktu diantara kalian. Tapi kalian selalu menjaga agar hubungan tetap terjaga dengan baik, apalagi di saat bertugas kita harus bisa mandiri sebagai istri." tutur Nisa.


Via mengangguk. "Maaf ya Bu Nisa saya sudah merepotkan Bu Nisa dan juga pak Adam, harus nya saya tidak menginap di sini." Via merasa sungkan pada Nisa dan juga Adam.


"Jangan panggil aku Bu Nisa dong panggil aja Nisa." pintanya.


"Baiklah, tapi Bu Nisa eh Nisa juga jangan panggil saya suster Via panggil saja Via." pintanya balik.


"Ok deal! Aku akan panggil kamu Via dan kamu panggil aku Nisa." ucapnya dan di angguki Via. "Kamu itu jangan merasa sungkan sama aku dan juga mas Adam, kami ini teman Aris suami kamu otomatis kamu juga sekarang sudah jadi bagian dari pertemanan kami, kalau ada apa-apa kamu boleh kok minta bantuan aku dan juga mas Adam, aku sama mas Adam bakalan bantu kalau kami bisa. Apalagi kamu kan sedang jauh dengan suami kamu dan kita juga orang rantauan di sini. Jadi istri seorang abdi negara seperti kita itu mesti harus selalu sabar malah harus ekstra sabar karena pekerjaan suami yang terkadang berbahaya dan kita tidak bisa menuntut suami agar selalu memenuhi keinginan kita." ujar Nisa pada Via.


"Iya saya paham itu, dan sekarang saya sedang merasakannya."! sahut Via yang membuat Nisa tersenyum.


"Emh ngomong-ngomong kalau aku boleh tahu, kenapa kamu bisa bersama mas Adam. Apa yang terjadi Via? Emh maaf aku jadi penasaran hehe." tanya Nisa hati-hati karena takut Via tersinggung oleh pertanyaan nya.


Via menghela nafasnya berat. "Tadi pak Adam sudah menolong saya dari laki-laki yang hampir melecehkan saya di hotel." jawab Via pelan.


Nisa menutup mulutnya karena terkejut apa yang terjadi pada Via. "Di lecehkan?" tanyanya meyakinkan apa yang Via katakan dan Via pun mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kurang ajar dia, siapa laki-laki itu sampai berani sekali mau melecehkan kamu, kalau suami kamu tahu, aku yakin Aris gak akan diam jika istrinya akan di lecehkan seperti itu." geram Nisa kesal pada laki-laki yang mencoba melecehkan Via.


"Dia adalah Tama, mantan tunangan saya dulu sebelum saya menikah dengan suami saya." balas nya dengan suara pilu.


"Mantan tunangan kamu? Jadi sebelum kamu menikah dengan Aris kamu sempat pernah bertunangan dengan laki-laki lain?" tanyanya penasaran.


Via menarik nafasnya panjang. "Iya, ceritanya panjang. Saya juga bingung dengan kehidupan saya sendiri, bertunangan dengan laki-laki lain dan menikah dengan laki-laki yang berbeda, kadang saya pikir kehidupan saya ini seperti rumit tapi mudah. Tapi Alhamdulillah pak Adam datang di waktu yang sangat tepat saat mantan tunangan saya hampir melecehkan saya." ucap Via lega penuh syukur.


"Ah syukurlah, lalu apa kamu akan bawa mantan tunangan kamu itu ke jalur hukum? Karena ini sudah masuk kategori pemerkosaan dan kamu bisa melaporkan laki-laki itu pada pihak berwajib agar dia bisa di hukum. Supaya dia juga jera karena perbuatannya itu sudah sangat salah." Nisa dengan geram nya pada laki-laki itu.


"Saya memang mau melaporkan hal ini pada pihak kepolisian, tapi saya malas jika harus berurusan lagi dengan nya. Kalau saja dia mau meminta maaf pada saya dan tidak akan mengulanginya lagi saya tidak akan memperpanjang masalah ini. Apalagi di saat suami saya sedang tidak ada seperti ini." balas Via dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi jika kamu melaporkan kejadian ini, kamu bisa tenang dan laki-laki itu pun pasti tidak akan menggangu kamu lagi." ucap Nisa meyakinkan Via agar dia berpikir ulang lagi.


"Ntahlah saya masih takut akan hal ini, tapi semoga saja dia tidak akan menggangu kehidupan saya lagi." sahut nya pelan.


Nisa tersenyum melihat dan menatap wajah Via. "Aku penasaran kenapa laki-laki itu sampai mau melecehkan Via, padahal tadi Via bilang jika dia sudah menjadi mantan tunangan, Aris... Aris bagaimana sih cerita cinta kamu sama Via sepertinya kisah kamu dan Via sedikit rumit." batin Nisa bertanya-tanya.


Pagi hari nya seperti biasa Aris memanggil panggilan video call pada Via. Via terkejut saat panggilan dari suaminya itu tertera di layar handphone nya. Ia bingung apa dia harus menjawab panggilan itu atau tidak karena Via sekarang sedang di kediaman Nisa.


"Emh suamiku." batin Via senang ketika panggilan dari suaminya itu. "Bagaimana kalau dia tanya aku sedang dimana? Apa yang harus aku jawab ya?" Via menengok kiri dan kanan pada ruangan kamar Nisa yang pasti tidak dikenali oleh suaminya itu.


Lama Via tidak menjawab panggilan dari suaminya itu, membuat sebuah pesan masuk, tidak Via baca tapi terlihat jika yang mengirim pesan itu adalah suami nya dan isinya Via tahu.


"Sayang, kamu lagi apa kok lama gak jawab, aku kangen!"


"sayang?"


"sayang..."


Itulah isi pesan dari suaminya, Via menghirup nafas nya dalam-dalam menetralisirkan rasa perasaan nya saat ini agar tidak terlihat saat dia akan berbohong pada suaminya itu. Lalu ketika panggilan Aris tertera lagi memenuhi layar handphone nya dengan cepat Via menjawabnya.


"Assalamualaikum suamiku, selamat malam dari negara Indonesia hehe ." sapa Via dengan ceria agar Aris suaminya tidak tahu jika dia sedang mengalami hal yang buruk.


"Wa'alaikumussalam sayang, selamat pagi ya untuk kamu di sana. Kamu kemana tadi kok lama banget jawab nya!" ucapnya dengan ekspresi lelah dan cemberut karena kesal pada istrinya. "Aku kangen tahu sayang!" tambahnya lagi.


Via tersenyum semanis mungkin di hadapan suaminya. "Maaf ya aku baru bangun ini aku baru aja beres shalat subuh." elak Via padahal dia sudah bangun dari tadi karena selalu menunggu suaminya untuk menelpon.


Aris menghela nafasnya panjang. "Cape banget ya kerja sampai jam segini kamu baru bangun, memang malam kamu tidur jam berapa?" tanyanya.


"Aku tidur seperti biasa kok, ya mungkin karena aku kangen kamu lalu mimpi kamu jadi malas buat bangun pengen nya tidur terus karena aku bisa berjumpa kamu di dalam mimpi." goda Via yang membuat Aris tersenyum malu dan tersipu.


"Kamu bisa aja sih bikin aku baperan, kalau dekat aku udah peluk kamu dan gak akan aku lepas seharian!" jawabnya.


"Hemm engap dong!" balas Via pura-pura merajuk.


"Eh ngomong-ngomong kamu lagi dimana kok ruangan nya kayak bukan di kamar kita?" tanyanya membuat Via gelagapan untuk menjawab pertanyaan suaminya itu.


"A...aku lagi di tem... pat Sofi sayang, malam aku nginap di tempat Sofi karena aku di rumah bosan sendirian." elak Via gugup.


"Tumben!" sahut nya


"Hehe gak apa-apa kan! Aku cuma di tempat Sofi kok gak di tempat lain!" ujar Via yang melihat suaminya itu seperti tidak percaya.


"Ok gak apa-apa aku percaya sama kamu!" ucapnya. "Tapi kamu baik-baik aja kan? Aku kemarin ingat kamu terus perasaan aku gak enak, kamu benaran gak apa-apa kan?" tanyanya lagi.


Via tersenyum tipis. "Aku gak apa-apa kok, kamu bisa lihat sendiri aku baik-baik aja kan! Tuh!" tunjuk nya pada tubuh Via yang terlihat baik-baik saja.


"Syukurlah aku harap kamu baik-baik saja disana, jaga diri kamu baik-baik ya selama aku jauh dan gak bisa menemanimu." ucapnya.

__ADS_1


"Ok sayang..."


__ADS_2