Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
menahan rasa


__ADS_3

Nisa masih terdiam saat ia mendengar kabar ini adalah nyata dan mana mungkin polisi ini berbohong padanya, Nisa menutup wajahnya dengan sebelah tangan nya dan mulai menangis akan kejadian yang menimpa suami nya itu. "Di rumah sakit mana mas Adam di rawat?" tanya Nisa cepat. "Aku mau kesana!" tambah nya dengan tangis yang tidak bisa ia tahan.


"Di rumah sakit x x, ayok kita antar kamu ke sana." ucap Satria mengajak Nisa untuk pergi ke rumah sakit bersama nya.


"Bi... bibi." panggil Nisa pada pembantu nya dengan suara di iringi dengan tangis sedihnya.


Bibi yang sedang berada di dapur mendengar panggilan majikannya dengan suara tangisnya membuat bibi merasa heran ada apa yang sedang terjadi pada majikannya itu, bibi pun langsung berlari menghampiri Nisa yang tadi memanggilnya. "Ada apa neng?" tanya bibi heran dan bibi melihat ke arah wajah Nisa yang sedang menangis itu semakin bertanya-tanya ada kejadian apa. "Kenapa neng Nisa menangis?" tanya bibi semakin khawatir pada majikannya.


"Mas Adam bi...Mas Adam masuk rumah sakit bi dia tertembak tadi malam." ucap Nisa dengan tangis yang semakin histeris.


"Apa pak Adam tertembak?" tanya bibi menatap Nisa dan Nisa hanya menjawab dengan tangisan nya.


Ayo bi... bibi ikut sama aku ke rumah sakit aku mau lihat keadaan mas Adam disana." ucap Nisa mengajak pembantu nya untuk ikut bersamanya.


"Iya, baik neng kita siap-siap dulu." balas bibi.


Tak lama setelah itu Nisa, pembantu nya dan juga kedua polisi itu menaiki mobil yang polisi kendarai, pergi bersama kedua polisi itu untuk ke rumah sakit.


Di dalam mobil tidak Adam obrolan sama sekali hanya terdengar suara tangis Nisa yang memanggil nama Adam. Satria yang ada berada di dalam satu mobil bersama Nisa membuat hatinya menjadi sedih karena Nisa terus saja menangisi Adam sahabatnya yang sedang terkena musibah dalam bekerja.


Sebagai sahabat yang sama-sama berprofesi sebagai polisi ia juga sedikit takut jika kejadian yang menimpa Adam bisa saja menimpa dirinya. Namun ini adalah resiko dia sebagai polisi dan ia juga percaya apa yang namanya takdir, takdir seseorang pasti berbeda tidak akan sama. Meyakini itu Satria berpikir apa yang akan terjadi jika ia tertembak seperti Adam sahabatnya apa akan ada yang menangisi dia seperti Nisa menangisi Adam.


"Nisa kamu harus sabar dan tabah menghadapi cobaan ini saya yakin Adam akan selamat dan ia pasti akan berkumpul lagi dengan kita." ujar Satria menguatkan Nisa supaya dia tidak terus menerus menangis.


"Aku gak bisa bang, aku gak mau sampai ada apa-apa sama mas Adam bagaimana kalau dia..." ucapan nya terpotong karena ia tidak sanggup untuk mengucapkan nya dan tangisnya pun semakin keras.

__ADS_1


"Sudah neng jangan menangis terus kita doakan saja pak Adam tidak apa-apa." ucap bibi menenangkan majikannya dengan tangan nya mengelus punggung Nisa dengan lembut.


Namun Nisa semakin menangis ia tidak tahan menahan air matanya yang mengalir deras di pipinya.


Ketiga orang yang berada di dalam mobil bersama Nisa tidak bisa membuat Nisa berhenti menangis maka mereka membiarkan Nisa menangis sampai puas karena mereka bingung harus berbuat apa supaya Nisa tidak menangis.


"Neng jangan nangis terus bibi jadi sedih, apalagi neng lagi hamil kasihan dede yang ada di kandungan neng Nisa dia juga pasti merasakan sedih juga." bibi masih mencoba menenangkan Nisa supaya ia berhenti menangis dan ucapan bibi itu berhasil membuatnya berhenti menangis.


Nisa berhenti menangis saat bibi nya mengatakan seperti itu, ia ingat dia pernah membaca informasi tentang kehamilan jika bayi yang di kandung oleh ibunya akan merasakan apa yang di rasakan oleh si ibu. "Iya bibi aku gak boleh nangis." balas nya dengan sesegukan menahan tangisnya yang masih belum puas dan tangannya mengelus perut nya sendiri.


***


Tak lama akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit dengan cepat ia mencari ruangan dimana Adam di rawat, saking kalutnya ia tidak menanyakan ruangan nya itu pada Satria atau pun pak polisi yang tadi bersama Satria.


"Aku mau ke ruangan mas Adam bang Satria! Memang aku mau kemana lagi datang ke rumah sakit ini kalau bukan untuk melindungi keadaan mas Adam." sahut Nisa kesal pada Satria bertanya seperti itu.


"Ruangan suami kamu bukan ke arah sana!" tunjuk Satria ke arah dimana Nisa akan melewati lorong itu. "Tapi ke arah sana!" tunjuk Satria pada lorong yang akan ia lewati untuk menjenguk Adam sahabatnya.


Sedikit malu Nisa pun memutar kan tubuhnya melihat arah lorong yang ditunjukkan Satria. "Bilang dong dari tadi." gerutu Nisa kesal dan menghapus air matanya yang dari jatuh begitu saja, rasanya juga malu karena Nisa tadi sempat salah arah jalan, dan bibi yang tadi mengikuti Nisa kemanapun melangkah menjadi bingung menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu ia langsung mengikuti Nisa yang melangkah pergi mengikuti Satria.


Satria yang mendengar gerutuan Nisa hanya tersenyum tipis saja, bisa-bisanya dia mengomelinya padahal Satria sudah memberi tahu Nisa kalau dia salah. "Dam... Adam istri elu Dam masih aja ngomelin gue, sedih sih sedih tapi jangan gak konek begitu." batin Satria.


Saat sudah sampai di ruangan dimana Adam sedang di tangani oleh medis Nisa, bibi, satria, dan juga rekan nya langsung mendekati ruangan dimana Adam di rawat dan Satria langsung mendekati Aris yang sedang menunggu.


Di depan ruangan sana Nisa langsung melihat sesosok laki-laki yang sangat ia kenal ya dia adalah Aris, laki-laki yang selalu hadir di tengah-tengah kebahagiaan pernikahan antara dirinya dan juga Adam suaminya.

__ADS_1


Di dekat ruangan dimana Adam ditangani banyak anggota dari kepolisian yang menjaga disana dengan penjagaan super ketat, karena kasus penembakan Adam itu di bilang kasus yang sangat serius dan berbahaya bagi keselamatan Adam sebagai polisi, takut para pelaku itu masih ada niat untuk membuat Adam tidak selamat.


"Bagaimana pak Aris apa sudah ada kabar tentang pak Adam dari dokter?" tanya Satria langsung menanyakan hal ini pada Aris yang terlihat lelah.


Aris masih setia menunggu kabar Adam karena sisi kemanusiaan nya sebagai tentara sangat melekat pada dirinya, apalagi Aris di minta oleh pihak kepolisian sebagai saksi atas kejadian penembakan pada Adam karena dia orang yang bersama Adam saat kejadian berlangsung.


"Aris? Kenapa ada Aris disini?" tanya Nisa pada dirinya sendiri. Ia pun melihat ke arah Aris dimana ia sedang mengobrol dengan Satria.


Nisa langsung mendekati Aris dan Satria yang sedang mengobrol tentang keadaan Adam sekarang. "Bagaimana bang Satria keadaan mas Adam apa dia baik-baik saja kan?" tanya Nisa pada Satria dengan menatap wajah Satria dan Aris bergantian.


"Saya belum mendapatkan kabar terbaru dari dokter karena dokter yang menangani pak Adam masih berada di dalam." jawab Aris cepat dan serius.


Tak lama Aris berucap dokter yang menangani Adam keluar dari ruangannya dan Nisa yang melihat dokter keluar dari ruangan dimana Adam di tangani langsung dengan cepat menghampiri dokter itu. "Dokter bagaimana dengan keadaan suami saya, apa dia baik-baik saja kan dok?" tanya Nisa penasaran dan matanya yang mulai akan mengeluarkan air mata.


Dokter itu menghela nafasnya berat menatap Nisa dengan rasa bersalah. "Maaf ibu Nisa istri pak Adam?" tanya dokter dan di angguki dengan cepat oleh Nisa yang mulai berkaca-kaca.


"Iya dok saya istri pak Adam yang dokter tangani, apa dia baik-baik saja kan dok?" tanyanya lagi dengan tidak sabaran Nisa ingin segera tahu keadaan Adam suaminya.


"Kami sudah memberikan penanganan yang terbaik untuk pak Adam, namun kami minta maaf sekali lagi karena pak Adam..." ucapan dokter itu pun terpotong karena Nisa langsung menangis histeris apa yang ia takutkan takut terjadi.


Nisa menutup mulutnya dengan wajah ekspresi menahan kesedihannya ia memundurkan langkahnya dan tangis Nisa pun pecah disana.


"Tenang Bu Nisa... tenang." ucap dokter menenangkan Nisa yang sedang menangis itu.


"Anda harus sabar dan tabah mengetahui kabar ini Bu Nisa saya dan pihak rumah sakit sudah semaksimal mungkin dalam penanganan pak Adam, sekarang Bu Nisa dan keluarga pak Adam yang lainnya berdoa ya terbaik untuk pak Adam.

__ADS_1


__ADS_2