Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
hati yang di bolak balikan


__ADS_3

"Hemm pagi-pagi udah cemberut aja sih kenapa kamu?" tanya Sofi pada Via yang diam saja saat Via baru saja sampai.


Via menghela nafasnya panjang. "Aku bakal di kasih ijin lagi gak ya kalau aku gak masuk kerja lagi." ucap Via pelan.


"Memang nya kamu mau kemana mesti ijin segala." sahut Sofi penasaran.


"Aku mau pulang Fi soalnya bunda sama ayah aku suruh pulang terus. Aku mau bicara sama kedua orang tua aku, aku akan jelaskan semuanya bahwa pernikahan aku dengan Tama harus di batalkan." jawab Via mantap.


"Iya aku dukung kamu, aku yakin orang tua kamu pasti mengerti, karena yang salah kan Tama bukan kamu." Sofi masih tidak terima kalau Via sahabatnya itu harus mengalah terus.


"Iya aku akan coba bicara sama ayah dan bundaku, ya walaupun aku takut mereka kecewa tapi hal ini harus segera di bicarakan karena pihak wedding organizer pun terus saja menanyakan bagaimana acara nya nanti." ucap Via pilu.


"Iya aku yakin kedua orang tua kamu akan mengerti!" sahut Sofi meyakinkan Via dan Via pun mengangguk pelan.


"Akan ada pelangi setelah badai." ucap Sofi menguatkan Via yang sedang sedih itu. "Tuh kan baru saja aku ngomong, pelangi mu datang Via..." sambung nya menunjuk ke arah belakang Via dan Via pun refleks memutarkan kepalanya ke arah belakang yang Sofi tunjuk.


Via pun menggaruk keningnya yang tidak gatal. "Dia bukan pelangi Sofi... tapi dia petir!" sahut Via bergumam pada Sofi dengan sebal ia berucap.


Aris mendekat ke arah Via dan menghampirinya. "Suster Via! Ini kotak bekal kamu ketinggalan di mobil saya." seru Aris seraya menyerahkan kotak bekal nya.


"Oh makasih!" ucap Via seraya meraih kotak makanan yang Aris berikan.


*


*


*


Hari ini Via sudah berada di kediaman orang tua nya setelah mendapatkan ijin dari pimpinan nya karena dia ada kepentingan keluarga. Karena Via yang jarang tidak masuk bekerja pimpinan nya pun mengijinkan.


Saat ini Via sudah sangat mantap akan bicara pada kedua orang tuanya akan perihal pembatalan pernikahan nya bersama Tama.


"Ayah, bunda sebelumnya aku mau minta maaf karena baru sekarang aku mau bilang sama ayah dan bunda." ucap Via pelan menatap wajah ayah dan bunda nya itu dengan serius.


"Ada apa sayang, bunda jadi penasaran apa yang akan kamu sampaikan pada bunda dan ayah." ucap bunda Via merasa heran dengan sikap putri nya itu.


"Iya Via, ayah juga jadi penasaran, ayok cepat katakan!" titah ayah menatap anaknya itu.


Via menghirup nafas nya dalam-dalam sebelum ia bicara. "Ayah, Bunda aku mau bilang kalau pernikahan aku bersama kak Tama harus di batalkan!" ucap Via pelan, ia takut jika kedua orang tuanya akan marah besar.

__ADS_1


"Apa? Apa maksud kamu Via!" bentak ayah marah mendengar ucapan Via.


"Maaf ayah bunda, kak Tama lah yang membatalkan pertunangan kita, maafkan Via karena Via baru bilang sama ayah dan bunda, Via takut ayah dan bunda marah dan kecewa." jawab Via mulai terisak dari tangis nya.


"Kenapa Tama membatalkan pertunangan kamu dengan nya?" tanya ayah menatap kesal pada anaknya itu.


"Kak Tama selingkuh ayah dia sudah memiliki pacar baru karena dia merasa bosan dengan aku selama hubungan ini terjalin." tambah Via lirih menjelaskan apa penyebab pembatalan pertunangan itu.


"Benar-benar kurang ajar dia, sudah menyakiti perasaan putri ku dan membuat keluarga kita malu. Keluarga nya pun tidak ada yang bilang akan hal ini benar-benar membuat ku malu." ucap ayah marah dan kesal setelah tahu apa yang di lakukan calon mantunya itu.


"Sayang apa benar seperti itu ceritanya, kenapa kamu baru bicara sama ayah dan bunda sekarang." bunda Via mengelus rambut Via dengan sayang merasakan kesedihan anaknya itu.


"Aku takut bunda dan ayah kecewa dan marah, aku gak mau buat ayah dan bunda malu karena aku batal untuk menikah." ujar Via pilu.


Ayah Via menghela nafasnya berat. "Ayah akan batalkan pernikahan kamu dengan Tama, benar-benar berengsek!" ucap ayah dengan penuh emosi ia merasa di permalukan oleh Tama dan juga keluarga nya.


Keluarga Tama tidak ada etika baik atas pembatalan pertunangan ini atau mereka belum tahu bagaimana kelakuan anaknya itu.


"Ya sudah sekarang kamu masuk kamar, istirahat kamu pasti capek karena baru sampai dari perjalanan kamu, urusan Tama itu akan menjadi urusan ayah dan bunda." ucap ayah melembutkan ucapannya pada Via.


Via langsung memeluk ayahnya dengan erat. "Maaf ayah, aku sudah membuat ayah kecewa." ucapnya pelan.


"Terima kasih ayah, karena ayah dan bunda sudah sangat mengerti dengan perasaan aku." lirihnya pelan. Dan ayah hanya diam membalas pelukan Via yang begitu erat.


"Kenapa kalian tidak mengajak bunda berpelukan begitu sih!" ucap bunda pura-pura merajuk melihat adegan anak dan ayah itu. Melihat bunda nya seperti itu Via yang menangis menjadi tersenyum lalu meraih tubuh ibunya dan langsung membawanya dalam pelukannya.


Via pun melangkah menuju kamarnya setelah ia di suruh oleh kedua orang tuanya untuk beristirahat. Namun Via tidak langsung masuk ke dalam kamarnya ia mencoba mendengarkan apa yang akan di bicarakan oleh ayah dan bundanya itu.


"Bagaimana ayah, pernikahan anak kita sebentar lagi tapi ada kejadian seperti ini kita harus bagaimana?" tanya bunda Via pada suaminya yang sedang duduk diam memikirkan apa yang terjadi pada putri nya itu.


"Ayah gak akan tinggal diam karena mereka sudah mempermalukan keluarga kita mereka sudah mempermainkan keluarga kita." ucap ayah geram.


"Lalu apa yang akan ayah lakukan dengan persiapan pernikahan Via selama ini, apa mungkin kita akan membatalkan acara nya juga." tanya bunda merasa bingung harus bagaimana.


"Ya ayah akan batalkan juga, besok kan dari pihak wedding organizer akan datang ke rumah kita jadi bunda bilang pada pihak mereka kalau kita akan batalkan saja." balas ayah dengan raut penuh kekecewaan.


Via yang mendengar dan melihat wajah kedua orang tua nya yang begitu sangat kecewa dan sedih membuat Via juga merasa tidak enak akan hati nya. Walau bagaimanapun pernikahan ini adalah acara yang mereka tunggu-tunggu selama ini.


Esok hari pun tiba pihak wedding organizer datang dengan segala kebutuhan yang akan mereka lihat kan pada keluarga Via.

__ADS_1


Ayah dan bunda Via pun dengan ragu menerima mereka ke dalam rumah, mereka bingung bagaimana caranya mereka bilang akan pembatalan pernikahan ini rasanya malu, apalagi dengan keluarga besarnya pasti mereka akan membicarakan keluarga Via.


"Emh begini mbak saya ingin bicara sebentar dengan kalian." ucap bunda gugup.


"Sebenarnya saya dan suami saya..." ucap bunda terpotong karena bingung harus bicara seperti apa pada mereka.


"Ada apa ya Bu? Apa mba Novia nya tidak bisa datang ya?" tanya salah satu pekerja wedding organizer itu.


"Novia ada kebetulan dia sedang meminta cuti." balas bunda cepat.


Via datang menghampiri bunda dan ayah nya yang sedang duduk bersama kedua wedding organizer itu. "Ayah, bunda pernikahan ini kita laksanakan saja tidak usah di batalkan!" ucap Via serius menatap ke arah wajah kedua orang tua nya.


Semua orang yang berada disana merasa terkejut, kedua orang tua Via terkejut karena Via tidak mau di batalkan namun kedua wedding organizer malah terkejut bahwa acara pernikahan akan ada pembatalan pernikahan yang akan di lakukan oleh calon pengantin yang bernama Via itu.


"Mba siapkan saja apa yang harus saya lakukan sekarang! Jika masalah soal dekorasi dan baju pengantin saya minta waktu lagi karena saya juga belum bilang pada calon suami saya apa yang cocok untuk kita." ucap Via bersungguh-sungguh.


Ayah dan bunda Via pun heran kenapa anaknya itu bilang seperti itu padahal baru saja kemarin bahwa calon tunangannya itu membatalkan pernikahan ini.


Setelah kepergian kedua dari pihak wedding organizer pamit kedua orang tua Via langsung menatap Via serius seperti mengintimidasi dirinya yang butuh penjelasan dari Via langsung.


"Apa maksud kamu Via? Bagaimana bisa kamu menikah tanpa ada mempelai laki-laki, jika Tama sudah berselingkuh dan membatalkan pertunangan kamu itu." sergah bunda Via penasaran.


"Iya sayang, dengan siapa nanti kamu akan menikah sedangkan kamu sudah tahu keburukan sifat Tama sudah kami ketahui." sambung ayah Via.


"Ada laki-laki yang akan bersedia menikah dengan Via bunda, dia begitu serius ingin menikah dengan Via, ya walaupun Via baru saja kenal dengan nya beberapa bulan ini." ujar Via menjelaskan.


"Ayah jadi bingung apa yang selingkuh itu kamu atau Tama? Bagaimana mungkin kamu mau menikah dengan orang yang tidak kamu kenal seluk beluknya secepat ini?" tanya ayah penuh telisik.


"Yang selingkuh itu Tama ayah, aku kenal dengan laki-laki itu setelah Tama membatalkan pertunangan kita. Jadi aku tidak selingkuh!" sahut Via sedikit kesal.


"Kalau begitu bilang sama laki-laki yang baru kamu kenal itu suruh dia datang kesini menghadap pada ayah jika dia benar-benar ingin menikah dengan mu, buktikan!" ucap ayah dengan tegas dan Via mengangguk dengan pelan.


Di dalam kamar Via menjadi bingung sendiri bagaimana bisa dengan mudahnya ia bilang pada kedua orang tuanya bahwa ada lelaki yang akan melamar nya. "Apa ini keputusan terbaik aku ya Allah, kenapa dengan mudahnya aku menerima penawaran tentara itu."


"Bagaimana kalau pak Aris berubah pikiran soal penawaran yang akan menikahi ku itu, apa yang harus aku lakukan jika hal itu terjadi, dia tidak mau menikah dengan ku?" gumam Via takut seraya mondar-mandir di dalam kamar nya itu dengan menggigit kuku jarinya.


"Apa aku telpon saja ya pak Aris dan bilang kalau aku menerima penawaran nya itu?" batin Via dengan memegang Handphone di tangan nya bersiap akan menghubungi Aris dan memberi tahu pada Aris.


"Bagaimana perasaan dia kalau aku akan menerima penawaran nya itu?" tanya nya dalam hati. "Dan kenapa aku bisa terpikir tentang lelaki itu dengan mudahnya juga aku bilang pada kedua orang tua ku bahwa dia akan melamar ku?" tambah nya masih bingung dengan perasaanku sendiri saat ini.

__ADS_1


__ADS_2