
Beberapa Minggu kemudian, hari-hari Nisa jalani sebagai seorang istri dari seorang polisi, terkadang di tinggal sendirian di rumah saat Adam sedang tugas malam dan tugas ke luar kota, awal nya Nisa tidak terbiasa kadang rasa takut di rumah sendirian yang lumayan luas itu.
Malam ini Nisa sedang menonton televisi di ruang keluarga, menemani Adam yang sedang makan malam karena baru saja ia pulang dari tugasnya. "Sayang kamu benar ini gak akan temani mas makan." ucap Adam dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Kalau lagi makan jangan bicara mas." omel Nisa pada Adam. "Gak, aku udah makan tadi, aku kira mas pulang nya gak cepat jadi aku makan duluan, maaf ya." sahut Nisa lembut.
Adam hanya menganggukkan kepalanya tidak bisa menjawab perkataan Nisa, karena sedang menikmati makan malam nya.
"Tuh mas lihat berita di televisi, kasihan ya orang-orang disana mereka dapat musibah, bencana alam disana pasti buat mereka trauma, kita mah di sini alhamdulilah ya semoga musibah ini buat kita sadar untuk menjaga kelestarian alam." tutur Nisa iba melihat dampak dari bencana alam tersebut.
"Iya." jawab Adam pendek, Adam sudah selesai makan malam nya dan duduk di sebelah Nisa dan menemani Nisa menonton.
"Kok iya doang sih mas." gemas Nisa saat mendengar ucapan Adam yang pendek itu.
Adam menghela napas nya panjang. "Mas dan anggota kepolisian akan pergi kesana besok malam." ucap Adam menunjukkan dengan dagu nya ke arah televisi.
"Apa? Pergi ke pulau itu mas?" tanya Nisa memastikan ucap Adam.
Adam mengangguk penuh membenarkan ucapan nya. "Kamu gak apa-apa kan mas tinggal sampai tugas mas disana selesai." tutur Adam memberi tahu Nisa.
"Berapa lama mas kamu disana? Kenapa mendadak seperti ini!" tanya Nisa sedikit kesal.
"Berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, mas gak tahu sayang, yang pasti sampai tugas mas disana selesai." jawab Adam lembut dengan mengelus kepala Nisa dengan sayang.
"Lama banget mas jauh lagi, terus aku disini sama siapa? Aku gak mau di tinggal ah." Nisa merajuk cemberut.
"Sayang... ingat ya kamu itu istri dari seorang polisi kamu sudah tahu kan apa resiko menjadi ibu Bayangkari, sebelum menikah sudah di jelaskan kan!" tanya Adam mengingatkan pada Nisa dengan gemas.
"Iya aku tahu dan aku juga ingat, tapi tugas kamu jauh banget biasa nya kan kamu paling jauh luar kota aja bukan luar pulau." elak Nisa masih merajuk.
"Sayang... dimana pun tugas nya sama saja kan kamu mas tinggal jadi apa bedanya." ujar Adam lembut.
__ADS_1
"Aku ikut ya mas, aku mau jadi relawan disana untuk membantu para korban, aku janji gak akan ganggu pekerjaan mas disana dan aku juga gak akan ikut campur dengan tugas kamu." ucap Nisa mengiba pada Adam dengan penuh harap.
"Sayang... itu sebuah pulau jauh dari sini, mas takut kamu kenapa-kenapa disana, saya gak akan ijinkan kamu ikut ke sana!" ucap nya tegas.
"Mas... aku mohon ijin kan aku ikut ya ini demi kemanusiaan mas, aku mau jadi relawan bukan hal yang lain, mas kan tahu selama aku kuliah dulu aku sering banget ikut berpartisipasi dengan teman-teman aku untuk menjadi relawan." tutur Nisa menjelaskan, dan apa salahnya juga dia menjadi relawan.
Adam berpikir sejenak dan menghela napas panjang. "Baiklah mas ijinkan kamu ikut menjadi relawan, tapi ingat kamu harus jaga kesehatan disana jangan telat makan juga." tutur Adam mengijinkan.
"Yes, makasih sayang." Nisa berucap dan mengecup bibir Adam dengan cepat.
"Eh..." Adam terkejut dengan sikap Nisa barusan. "Karena kamu sudah mas ijinkan ikut kesana dan sudah berani membangun kan singa dari kandang nya, ayok kita ke kamar!" ajak Adam dengan menggendong Nisa membawa nya ke kamar untuk mengecas batre yang lowbat untuk beberapa waktu yang akan datang.
***
Pagi ini seperti biasa Nisa mempersiapkan keperluan Adam namun kali ini berbeda Nisa mengemas keperluan nya dengan Adam untuk pergi menjadi relawan, seperti vitamin dan kebutuhan lainnya, sebenarnya sih semua kebutuhan pasti sudah di siapkan karena ini juga menyangkut orang banyak.
Ketika Nisa serius berkemas ada notifikasi masuk pada handphone nya. Sebuah pesan dari Aris yang hanya isi nya huruf P.
"Nisa kemana ya dia kok gak buka pesan dari aku." gumam Aris saat ia mengirim kan sebuah pesan pada Nisa dan tidak di bukanya. "Aku telepon aja kali ya." ucap Aris pada diri nya sendiri. Lalu ia pun mencoba menelpon Nisa.
"Assalamualaikum ya Aris ada apa?" ucap Nisa lembut.
"Wa'alaikumussalam Nisa, kamu lagi apa? Gimana kabar kamu? Kemana saja kamu tidak pernah memberi kabar pada ku!" sederet pertanyaan Aris lontarkan.
"Aris pertanyaan kamu banyak sekali aku bingung harus menjawab yang mana dulu, lagian seperti nya kamu yang sibuk bukan aku!" ucap Nisa seadanya.
Aris tergelak dari tawa nya. " Maaf Nisa, habis nya kamu tidak pernah mengabari ku." Rajuk Aris. "Iya memang aku masih sibuk, besok juga aku ada tugas ke luar pulau, bagaimana kalau aku mengajak kamu untuk bertemu hari ini, kita makan sambil ngobrol-ngobrol santai gitu sebelum aku besok berangkat?" ajak Aris dengan semangat mumpung hari ini ia ada waktu sedikit.
"Emh maaf ya Aris bukan aku gak mau, tapi hari ini aku sedang ada pekerjaan lain kali saja ya." tolak Nisa dengan lembut, ia merasa tidak enak karena sudah menolak ajakan nya padahal Aris sudah baik terhadapnya.
"Emh tidak apa-apa Nisa aku mengerti, tapi lain kali boleh kan aku ajak kamu bertemu?" tutur Aris penuh harap.
__ADS_1
"Insyaallah ya, ya sudah kalau begitu udah dulu ya, Assalamualaikum?" pamit Nisa pada Aris menutup panggilan telepon.
"Wangalaikum salam." sahut Aris tersenyum.
***
Malam harinya Nisa dan Adam beserta para anggota kepolisian yang akan berangkat ke pulau x dan ditugaskan untuk menolong para korban disana berangkat dengan menggunakan pesawat supaya pada pagi hari nya anggota kepolisian bisa turut menolong masyarakat pulau itu.
Nisa duduk di sebelah Adam, semua anggota yang ikut bertugas dengan Adam mereka sudah mengetahui Nisa adalah istri dari Iptu Adam ketua anggota mereka.
"Wah enak ini bertugas sambil bulan madu." goda Satria pada Adam saat mengetahui bahwa Nisa istrinya ikut berpartisipasi.
"Bulan madu pala lu, mana ada bulan madu di pulau yang sedang bencana!" ucap Adam kesal dengan godaan Satria.
Satria tergelak dengan tawa nya puas meledek Adam. "Adam... Adam elu ya gak di kantor gak di luar kantor bawaannya serius... mulu heran gue." sanggah Satria pada sahabat nya itu.
"Ah elu Sat godain si Adam mulu udah tahu dia gak bisa bulan madu habis nikah karena sederet tugas menanti nya, elu mau dia ngamuk!" goda teman Adam yang lainnya.
"Berisik kalian semua!" ucap Adam ketus karena kesal. "Gue masih mending gak bisa bulan madu, di rumah juga bisa dan gue sering melakukan nya daripada elu semua belum tahu kan rasanya memadu kasih dengan istri tercinta!" ucap Adam merasa menang meledek teman-teman nya yang masih menjomblo.
Nisa memukul lengan Adam saat ia mendengar perkataan Adam yang fulgar dan membuat nya malu.
"Wah parah elu Dam bikin kita ileran aja, parah... parah." ucap Satria, dia memang play boy namun tidak sampai merusak perempuan dengan meniduri nya hanya kiss kiss saja yang ia lakukan.
Adam tergelak dengan tawa nya. "Syukurin." gerutu Adam.
"Mas... panggil Nisa lembut. "Jangan begitu gak baik ah." ucap Nisa tidak mau mendengar Adam berucap seperti itu.
Adam pun nyengir saat Nisa mengomelinya. " Mas cuma bercanda sayang, tapi mereka juga yang duluan." sahut Adam sebal pada teman-teman nya.
"Omelin Nis gak peka dia sama yang masih jomblo." ucap salah satu sahabat Adam.
__ADS_1
Mereka tidak memanggil Nisa dengan sebutan ibu bukan karena tidak menghormati tapi karena mereka yang sudah sangat dekat dan sering bertemu.