Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
tidak peka


__ADS_3

"Ayok!" ajak Aris pada Via dengan menarik tangannya.


"Ayok kemana?" tanyanya bingung.


"Ikut aku mengurus penyitaan motor ku." ujar Aris menjelaskan.


"Aku tidak mau!" tolaknya tegas. "Kamu saja yang urus surat motornya, kan itu motor kamu!"


"Tapi kamu yang buat motor ku di sita karena kesalahanmu yang tidak membawa surat-surat motor!" Aris menyalahkan Via membuat Via kesal.


"Kamu yang buat aku curiga, jadi aku lupa membawa surat-suratnya karena buru-buru ikuti kamu!" Via tidak mau kalah karena merasa di salahkan.


"Kenapa kamu curiga seperti itu! Aku sama sekali tidak berniat buat kamu curiga begitu! Emh jangan-jangan tadi pagi aku terima telepon itu kamu sengaja menguping pembicaraan aku ya?" goda Aris setelah di pikir-pikir istrinya itu tahu darimana dan sampai curiga.


"Aku tidak menguping!" elaknya dengan nada tinggi dan kesal karena di tuduh menguping terus.


"Lalu kenapa sampai curiga padaku seperti itu?" tanya Aris penuh telisik menatap pada wajah istrinya yang terlihat salah tingkah karena ia tatap.


"Aku... a...aku." ucapnya tak bisa menjawab bingung harus menjawab apa karena apa yang di tuduhkan suaminya itu benar. Namun Via langsung bertanya pada Aris. "Jangan bahas kenapa aku bisa curiga sama kamu! Sekarang kamu jawab kenapa mantan kamu itu tahu nomor kamu? Sampai ia bisa meminta tolong sama kamu seperti itu? Atau jangan-jangan kamu punya hubungan dengan nya tanpa sepengetahuan aku di belakang ku?" tanyanya dengan selidik dan kesal.


Aris berpikir keras. "Iya juga ya dia tahu nomor ku dari mana dan dari siapa? Aku bahkan tidak pernah bertemu lagi dengan nya, hanya waktu bersama kamu saja waktu di restoran dan itupun aku tidak memberikan nomor handphone ku padanya." Aris pun merasa heran.


"Sudah jangan berpura-pura kamu!" balas Via kesal melihat suaminya itu seperti keheranan.

__ADS_1


"Aku tidak berpura-pura sayang, aku benar-benar tidak tahu." jawab nya santai membuat Via semakin kesal melihatnya.


Via menarik nafasnya dalam-dalam menetralisirkan rasa kesal di hatinya dan rasa sesak di dadanya. Karena kepalanya yang terasa pusing dan perutnya nya yang terasa kram dan mulas. "Ah kenapa kepala ku pusing begini ya dan perutku juga kenapa terasa mulas. Apa aku akan datang bulan ya? Sampai perasaan kesal begini!" pikir Via dalam hatinya ia kini posisi duduk di kursi dengan memijat pangkal hidungnya agar mengurangi rasa pusing nya di kepalanya.


"Ayok! Kamu harus ikut dengan ku ke polres untuk mengurus motor ku itu, supaya kamu tahu polisi mana yang sudah menilang kamu." ujar Aris menjelaskan maksud ia mengajak istrinya ikut dengan nya.


Via pasrah saja saat tangan nya Aris menarik nya dengan wajah Via yang di tekuk kesal. Kepala pusing dan perutnya yang terasa mulas membuat ia merasa lelah untuk berdebat lagi.


Aris tidak menyadari apa yang di rasakan oleh istrinya karena diamnya Via menurut nya adalah istrinya itu sudah tidak kesal lagi padanya.


Beberapa saat kemudian Aris dan Via sampai di depan polres yang ia tuju. "Ayok sayang!" ajaknya karena melihat istrinya itu diam saja.


"Aku tunggu di sini saja!" ucap Via tanpa menatap ke arah suaminya berada.


"Ayok sayang, kamu turun sebentar kamu cuma tunjuk saja polisi yang menilang kamu, setelah itu aku yang akan mengurus surat-surat kepemilikan motornya." ucap Aris melembut.


Aris hanya mendengus pelan melihat istrinya yang masih merajuk itu lalu ia pun mengikuti Via dari belakang.


Via masuk ke dalam kantor polisi lalu dengan mudah bertemu dengan polantas yang tadi menilang nya. "Selamat siang pak!" sapa Via pada polantas itu.


Dengan tersenyum melihat ke arah Via polantas itu pun menjawab sapaan Via dengan wajah yang bahagia karena ia bisa bertemu kembali dengan perempuan yang ia tilang pagi tadi. "Selamat siang dengan mba Novia ya?" balas nya, ia mengingat nama Novia karena perempuan ini telah membuat harinya cerah secerah mentari.


"Iya tadi anda menelpon pada nomor suami saya untuk mengurus surat kepemilikan motor, jadi saya datang kesini untuk mengurus surat-surat tersebut dan itu suami saya dia yang akan mengurus nya." ucap Via menjelaskan kedatangannya dan menunjukkan ke arah Aris suaminya yang terlihat sedang mengobrol pada salah satu polisi yang berada di sana.

__ADS_1


"Suami?" ucap polantas itu terkejut karena ia pikir perempuan yang ada di hadapannya ini seorang gadis dan belum memiliki suami.


"Iya, suami saya yang akan mengurus nya." jawab Via mengulang perkataan yang tadi sempat ia jelaskan.


"Oh begitu!" sahut nya kecewa. "Sayang sekali!" gumam nya pelan namun terdengar oleh pendengaran Via yang ada di dekatnya.


"Sayang kenapa pak?" tanya Via heran.


"Oh tidak... tidak. Tidak apa-apa!" sahut nya cepat dengan gugup. "Sayang sekali karena anda sudah memiliki suami." batin nya dalam hati ia pun melirik ke arah Aris yang di akui oleh Via sebagai suami nya itu. "Suami nya seorang TNI." batin nya karena ia melihat Aris yang mengenakan seragam TNI.


Aris pun menghampiri Via yang sedang berbicara dengan seorang polisi. "Sayang bagaimana?" tanya Aris lembut sedikit cemburu juga karena istrinya berbicara dekat dengan seorang laki-laki.


"Pak polisi ini yang tadi pagi menilang ku, jadi kamu yang urus ya aku mau tunggu di luar saja.


"Ok sayang kamu tunggu saja di luar biar aku yang urus masalah ini." balas Aris menatap Via dengan lembut agar laki-laki yang ada di hadapannya itu tahu jika Via adalah istrinya dan Via hanya mengangguk saja.


Aris melihat ke arah polisi itu. "Selamat siang pak, saya Aris suaminya Novia ya anda tilang tadi pagi. Jadi bagaimana?" tanya Aris cepat.


Saat Aris dan polisi itu berbicara tentang motor dan penilangan tersebut tiba-tiba di depan sana orang-orang berteriak karena melihat Via yang sedang menunggu Aris suaminya tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri. Karena Via yang sudah merasakan tubuhnya yang tidak enak sejak suaminya itu mengajak Via ke kantor polisi.


Aris yang masih belum sadar jika orang-orang yang ada di depan kantor berteriak karena istrinya pingsan terus saja berbicara dengan polisi yang mengurus proses penyitaan motor nya.


"Maaf pak istri anda pingsan di depan kantor?" ucap salah satu polisi yang bertugas di sana dengan terengah-engah ia memberi tahukan pada Aris karena ia tahu jika istri nya tadi masuk ke dalam kantor bersama Aris.

__ADS_1


"Apa?" Aris terkejut mendengar polisi itu mengatakan Via nya pingsan lalu dengan cepat bahkan setengah berlari Aris menghampiri Via yang sedang di kerumuni oleh orang-orang yang berada di sana.


Dengan cepat Aris masuk ke dalam kerumunan orang-orang disana yang mencoba menolong istrinya, namun Aris dengan cepat menggendong istrinya yang sedang tidak sadarkan diri itu membawanya ke rumah sakit terdekat tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar sana dan tanpa memperdulikan tujuan dia datang ke kantor polisi itu karena saat ini yang ada di pikirannya adalah keselamatan istri tercintanya.


__ADS_2