
Apa kamu mengenaliku?" tanya Aris menatap Nisa dengan tatapan penuh harap.
Nisa pun menatap sejenak pada wajah Aris dan ia pun mengerutkan keningnya. "Apa kamu juga mengenalku?" Nisa bertanya balik.
Aris menghirup udara menghilangkan rasa gugup yang ada di hati nya. "Emh... apa kamu ingat dengan teman masa kecil kamu yang dulu selalu berebut angka nomor satu, maksud ku berebut prestasi terbaik demi angka satu itu, apa kamu mengingat nya?" tanya Aris mengingatkan Nisa padanya.
Nisa berpikir mengingat masa-masa sekolah dasar waktu lalu itu. "Ka...kamu Aris yang dulu suka jadi ketua kelas selama 5 tahun itu kan." tutur Nisa mengingat Aris teman kecil nya. Iya Nisa hanya mengingat hal itu saja saat ini.
Aris tersenyum bahagia ternyata Nisa masih mengingat nya. "Iya itu aku, Aris Pratama!" ucap Aris senang.
Nisa pun tersenyum tipis. "Ah sudah lama sekali ya kita tidak bertemu, bagaimana kabar kamu Aris?" tanya Nisa.
"Aku baik alhamdulilah, aku sangat senang sekali bisa berjumpa dengan kamu Nisa, emh kenapa kamu bisa tinggal di Jakarta, aku kira kartu nama kamu yang aku lihat bukan Nisa kamu." tandas Aris.
"Aku kuliah disini, keluarga ku masih di Bandung, aku dapat beasiswa untuk masuk universitas terbaik di Jakarta makanya aku memberanikan diri hidup sendiri di Jakarta demi pendidikan ku." ujar Nisa menjelaskan.
"Oh seperti itu, kamu memang pantas mendapatkan beasiswa prestasi kamu memang patut di acungi jempol, kamu bisa mempertahankan nya sampai kuliah." ucap Aris bangga dan kagum kepada Nisa.
"Lalu bagaimana kamu bisa disini, bukan nya kamu dan keluarga kamu tinggal di serang ya?" setahu Nisa saat Aris pindah dulu.
Aris melipat kedua tangannya di dada dan menyenderkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. "Aku sekarang bertugas di Jakarta, keluarga ku masih tinggal di kota serang, aku juga baru selesai menempuh pendidikan kemiliteran dan di tugaskan disini." ujar Aris menjelaskan pada Nisa.
"Kamu polri atau TNI?" tanya Nisa penasaran.
"Aku TNI." jawab Aris cepat.
"Oh kamu TNI, pasti ikut jejak ayah kamu ya?" tanya Nisa seadanya.
Aris tersenyum. "Ya begitulah."
Nisa tidak tahu kalau Aris menjadi seorang TNI karena Aris tidak memakai seragam nya saat bertemu Nisa ia memakai kaos putih dengan jaket berwarna hitam dengan memakai celana jeans biru muda, Aris terlihat santai namun tampan.
Aris kamu sangat berbeda tubuh kamu dulu sangat kurus tapi sekarang berbeda sekali, mungkin karena kamu seorang TNI, ah kenapa dia begitu tampan sekali ya... astaghfirullah kenapa aku ini?
"Oh ya Nisa ini dompet kamu yang aku temui, maaf aku baru bisa mengembalikan nya kepada kamu." memberikan dompet Nisa yang hilang dan berucap merasa tidak enak hati.
Nisa tersenyum. "Tidak apa-apa Aris, justru aku berterimakasih sama kamu karena sudah menemukan dompet aku ini dan mau mengembalikan nya padaku, padahal kamu sangat sibuk maaf aku sudah merepotkan kamu." ucap Nisa sungkan.
__ADS_1
"Tidak masalah Nisa malah aku senang sekali aku bisa bertemu dengan kamu karena dompet kamu ini." sahut Aris dengan raut wajah yang bahagia.
Nisa hanya tersenyum kaku saat mendengar ucapan Aris. "Emh apa aku harus membalas budi atas perbuatan kamu ini?" canda Nisa pada Aris.
Aris tergelak dengan candaan Nisa. "Untuk saat ini tidak perlu, tapi apa boleh lain waktu kamu membalas nya." ucap Aris tersenyum.
Nisa mengerutkan keningnya. "Hemm, emh bisa tapi kamu jangan minta yang aneh-aneh." ancam Nisa bercanda.
Aris tersenyum simpul mendengar perkataan Nisa. "Aku tidak berani meminta hal yang aneh kepadamu Nisa!" canda Aris.
Nisa tersenyum. " Emh kalau begitu aku pamit ya, aku tidak bisa lama." ucap Nisa pamit memasukan dompet nya ke dalam tas dan bersiap untuk pergi.
"Aku akan mengantarmu pulang!" tawar Aris dengan cepat.
"Tidak usah terima kasih tawaran nya, tempat tinggal ku dekat kok dari sini." tolak nya lembut.
"Baiklah, sampai jumpa kembali." ucap Aris tersenyum, dia tidak mau memaksa Nisa yang menolak tawarannya.
tidakkah kita bisa berlama-lama mengobrol, aku masih merindukan mu Nisa ini pertama kalinya kita di pertemukan setelah sekian lama nya kita terpisah, aku harap kita bisa bertemu lagi.
Aris hanya menatap Nisa saat ia melangkah pergi meninggalkan nya, Nisa pun pergi setelah pamit pada Aris.
setelah Nisa keluar dari cafe ia pun memesan taksi yang ia berhentikan saat sedang berada di pinggir jalan tadi.
Beberapa menit kemudian Nisa sudah sampai di rumahnya, ia pun melihat kendaraan Adam yang sudah terparkir di bagasi. "Mas Adam sudah pulang?" batin Nisa.
Ekhemm Adam berdehem. "Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?" tanya Adam penuh selidik.
"Eh mas udah pulang? Maaf aku baru sampai mas, kamu dari tadi pulang nya ya?" tandas Nisa dengan banyak pertanyaan kepada Adam.
"Bagaimana dengan dompet kamu apa orang yang menemukan sudah memberikan nya padamu?" tanya Adam mengalihkan pertanyaan.
"Sudah mas, ini dompet aku kembali dengan utuh." ucap Nisa sambil mengacungkan dompet di depan Adam.
"Syukurlah, ya sudah kita masuk!" ajak Adam melangkah masuk kedalam rumah.
"Apa penemu dompet kamu laki-laki yang masih muda?" tanya Adam saat mereka berjalan beriringan.
__ADS_1
"Seumuran aku mas, kenapa sih? Jangan bilang kamu cemburu ya aku gak ngapain-ngapain kok." sahut Nisa sedikit takut karena Nisa melupakan pesan yang Adam sampai kan pada nya.
"Oh begitu." ucap Adam datar.
tadi anak buah ku tidak sengaja melihat kamu dengan lelaki itu dan kamu seperti sudah saling mengenal, aku sudah memberikan pesan pada mu supaya jangan terlalu dekat dengan laki-laki Nisa.
"Mas aku ke kamar dulu ya." pamit Nisa pada Adam, ia lebih baik menghindari daripada Adam yang akan terus bertanya.
"Tunggu sayang mas belum beres ngomong lho ini." elak Adam.
"Maaf ya mas aku ganti baju dulu gerah ini." alasan Nisa berucap.
Nisa pun meninggalkan Adam dan buru-buru ia masuk ke dalam kamar, dan Adam mengikuti Nisa masuk kamar juga.
"Eh mas ngapain ikut aku ke kamar?" sergah Nisa heran.
"Ya mau lihat kamu ganti baju, kenapa masalah buat kamu?" ucap Adam sedikit ketus.
Nisa menghela napas nya berat. "Terserah kamu lah mas." jawab Nisa pasrah.
Adam pun tersenyum licik. "Berani-berani ya kamu ketemuan dengan laki-laki lain yang lebih muda dariku!" gumam Adam pelan.
"Apa mas, kamu ngomong sama aku?" tanya Nisa saat ia sedikit mendengar gumaman Adam.
"Gak." sahut Adam cepat.
"Aku tahu mas kamu lagi cemburu iya kan...?" sergah Nisa pada Adam melihat sikap nya seperti itu.
"Kalau kamu tahu, masih saja nanya!" jawabnya ketus.
"Aduh suami aku cemburu ya hadoh mas... mas aku kan udah ijin sama kamu kenapa masih cemburu aja, cemburu itu bikin makan ati lho mas jangan berlebihan ah, lagian aku kan sayang nya sama kamu mas gak ada laki-laki lain di hati aku." gombal Nisa pada Adam.
Adam merasa hatinya berbunga-bunga dengan gombalan Nisa dan ia pun tersenyum senang mendengarnya. "Ayok buka baju kamu, karena tadi kamu sudah merayu saya." goda Adam pada Nisa dengan tangan nya yang nakal akan mencoba membuka pakaian Nisa.
"Eh eh eh mas... kamu mau apa? Aku bisa kok buka sendiri tapi mas nya jangan di sini, keluar gih!" usir Nisa lembut pada Adam, Nisa masih malu membuka bajunya di depan Adam, ya walaupun Adam adalah suami nya.
"Saya gak akan keluar, enak saja mas bakal mengurung kamu seharian disini karena kamu sudah menggoda saya." ucap Adam licik.
__ADS_1
"Mas..."