
Aris langsung merentangkan kedua tangannya mengarah ke arah Via, Via langsung berlari menghambur dalam pelukan Aris. Aris pun memeluk Via dengan begitu erat. Lalu mencium pucuk kepala Via.
"Aku merindukan mu." bisik nya lemah.
Via tersenyum saja tanpa menjawab ucapan Aris, posisi mereka saat ini masih berpelukan. Namun saat memeluk suaminya tiba-tiba tubuh Aris langsung terjatuh di pelukan Via, ia tidak sadarkan diri. Aris pingsan tubuhnya yang sangat lemah tumbang, karena berhari-hari ia di sekap dan di pukuli, bukan tidak mampu untuk melawan namun dalam keadaan seperti itu Aris pun tidak bisa menang melawan Tama beserta anak buah nya yang begitu banyak dan ketat dalam menjaga nya.
Via terkejut saat merasakan tubuh suaminya itu jatuh dalam pelukannya dengan lemah. Via pun ambruk tubuh Aris yang berat tidak bisa ia tahan dan jatuh lah mereka berdua dalam posisi Aris berada di atas Via. Walaupun sebisa mungkin Via menahan tubuh suaminya namun karena Via tidak kuat menahan. "Abang kamu kenapa? Tolong saya!" teriak Via meminta bantuan.
Adam yang tidak melihat Aris jatuh pingsan karena terlalu fokus pada Tama yang sedang di ia tangani pun menoleh ke arah Via dimana mereka jatuh. "Pak Aris!" teriak nya cepat seraya mendekat pada arah Via dan Aris berada.
"Tolong suami saya pak Adam, saya tidak kuat menahan tubuhnya." ucap Via panik.
Adam pun dengan cepat membantu membopong tubuh Aris di bantu dengan rekannya yang sama-sama melihat Aris terjatuh. "Ayok kita bawa pak Aris ke rumah sakit." ucap Adam.
"Baik pak." sahut nya.
"Sayang jangan buat aku khawatir." lirih Via melihat suaminya tidak sadarkan diri.
Via pun langsung mengikuti Adam yang membawa suaminya tanpa memperdulikan Tama yang memanggilnya. "Via kamu membohongiku! Via tolong aku! Kamu tega melihat ku seperti ini. Via..." ucapnya meringis kesakitan akan luka tembak nya.
Via menghampiri Tama setelah mendengar perkataan Tama seperti itu. "Aku sudah tidak peduli lagi dengan kamu kak Tama, karena kamu sudah membuat suami ku seperti ini. Lihat! Lihat apa yang di lakukan kak Tama. Kamu lebih jahat sudah membuat aku dan suamiku menderita. Sekarang kak Tama harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kamu perbuat!" geram Via tanpa peduli dengan Tama sama sekali. "Seharusnya aku dari dulu sudah melaporkan kejahatan kamu dan memenjarakan kamu!" tambahnya lagi. "Sekarang waktunya kak Tama menikmati hasil dari perbuatan yang kak Tama perbuat."
"Via...!" panggil nya saat Via pergi meninggalkannya tanpa berbalik arah padanya.
Aris di bawa langsung ke rumah sakit dan Via terus menemaninya. Di mobil Via terus berusaha membangunkan suaminya agar ia sadar. Namun sepertinya itu tidak membuat Aris sadar. "Sayang bangun... jangan membuat ku takut..." lirihnya.
"Tenang suster Via tidak usah khawatir pak Aris hanya pingsan, dia pasti baik-baik saja." ucap Adam menenangkan Via.
Karena jarak antara tempat penyekapan dengan rumah sakit cukup jauh membuat perjalanan cukup lama untuk sampai ke rumah sakit. "Pak apa bisa lebih cepat anda membawa mobilnya aku takut sekali suami ku dengan keadaan seperti ini, dia tidak sadar-sadar padahal sudah aku coba segala macam untuk menyadarkan nya."
"Baik Bu Via." balas nya.
"Kamu agak kebut sedikit dan nyalakan sirine nya agar perjalanan tidak ada yang menghalangi kita." titah Adam pada anak buahnya.
"Siap pak! Tolong pegangan saya akan siap untuk mengebut!" sahut nya seraya mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi dan sirine pun ia nyalakan.
Beberapa lama kemudian mereka pun sampai di rumah sakit kebetulan rumah sakit itu tempat Via bekerja. Dengan cepat para perawat di sana membawa Aris pada brangkar dan membawanya ke ruang IGD.
__ADS_1
Hari sudah mulai menjelang pagi, karena saat mereka datang ke penyekapan pada malam hari. Via mulai lelah apalagi dia sedang hamil. Kepalanya sedikit pusing karena kurangnya beristirahat.
"Suster Via kamu sepertinya harus beristirahat, terlihat sekali kamu begitu lelah." ucap Adam pada Via yang terlihat pucat.
"Tidak apa-apa pak Adam saya ingin menemani suami saya." jawabnya.
"Saya bisa menjaganya pak Aris disini jadi kamu tidak usah khawatir." tawar Adam pada Via.
"Tidak apa-apa pak Adam, lebih baik anda yang beristirahat, terima kasih sudah menolong saya dan juga suami saya. Terima kasih banyak." ucap Via tulus.
Adam tersenyum. "Sama-sama suster Via, ini sudah tugas kami, ini juga karena kamu juga suster Via karena sudah membantu tugas kami dalam penyekapan pak Aris." urainya.
"Iya pak Adam saya merasa terbantu sekali, di saat saya benar-benar membutuhkan bantuan." ujar Via. "Sampaikan juga terima kasih saya pada semua para polisi dan TNI yang sudah menolong saya." tambahnya.
"Iya saya akan sampaikan pesan kamu suster Via." ucapnya. "Saya juga akan menunggu pak Aris sampai ia benar-benar sadar." ucapnya lagi dan di angguki pelan oleh Via.
"Terima kasih pak Adam." ucap Via.
***
Esok harinya Aris yang sudah sadar pun sudah di tempat kan di ruangan yang sudah di sediakan.
Aris tersenyum lemah. "Tidak ada yang sakit kok aku hanya lelah saja." sahut nya pelan.
"Bohong kamu mana ada tidak ada yang sakit, tubuh kamu itu banyak sekali luka. Maafkan aku ya karena aku sudah membuat kamu seperti ini." lirih Via pelan.
"Lho kok kamu bicara nya seperti itu." tanya Aris heran.
"Iya karena aku kejadian ini sampai terjadi. Aku merasa tidak enak sama kamu." ucapnya.
"Hei jangan bersedih seperti itu, kamu itu istri ku wanita yang sedang mengandung calon anakku, jadi sewajarnya aku melakukan hal itu. Kamu patut untuk aku perjuangkan karena kamu wanita kedua yang aku cintai." urai Aris mencoba meyakinkan Via bahwa dia baik-baik saja.
Via terkejut dengan penuturan Aris. "Wanita kedua yang kamu cintai, lalu siapa wanita pertama yang kamu cintai? Apa ada wanita lain di hati kamu?" rentetan pertanyaan Via lontarkan ia merasa tidak terima dengan apa yang di ucapkan suaminya itu.
Aris tersenyum tipis melihat Via yang terlihat cemburu dengan perkataannya. "Iya kamu wanita kedua yang aku cintai, setelah wanita pertama yang selalu ada di hatiku dan wanita itu tidak akan pernah tergantikan posisi nya."
"Siapa wanita itu?" sebal Via merasa cemburu.
__ADS_1
"Kamu mengenal nya sangat mengenalinya." ujarnya.
"Siapa?"
"Wanita yang sudah melahirkan ku ke dunia ini dan merawat ku sampai aku tumbuh dewasa." urainya menjelaskan siapa wanita itu.
Via tersenyum malu merasa malu karena cemburu pada mertuanya. "Maksud kamu mama?" tanyanya meyakinkan dan di angguki pelan oleh Aris. "Huh aku kira wanita itu siapa!" hehe ucap Via tersipu seraya memukul lengan Aris.
"Aduh sakit sayang." rintih nya.
"Oh sakit ya maaf aku gak tahu. Tadi kamu bilang gak ada yang sakit!" kesal Via.
"Sakit sedikit hanya sedikit!" serunya. "Sini"! Aris Mengulurkan tangan nya pada Via dan di sambut Via dengan hangat. Lalu Aris pun menghirup nafas nya dalam-dalam. "Sebenarnya aku marah sama kamu." ucapnya.
Via mengerutkan keningnya bingung. "Marah kenapa? Apa yang aku lakukan?" heran nya.
"Karena kamu menandatangani surat perceraian dan perjanjian yang diberikan Tama pada kamu, aku sedih sekali saat aku tahu kamu menyetujui apa yang di inginkan Tama. Padahal aku memperjuangkan kamu sampai seperti ini." ujarnya pilu.
"Oh masalah itu! A...aku kan terpaksa melakukan hal itu lagipula tidak sampai terjadi kan aku juga sudah merobek nya. Jadi kamu tidak usah khawatir." balas Via meyakinkan suaminya itu.
"Iya memang sekarang sudah tidak apa-apa tapi.... coba kamu bayangkan seandainya rencana kalian itu gagal dan aku harus kehilangan kamu seumur hidup ku bagaimana? Aku memang di bebaskan tapi aku kehilanganmu karena suatu perjanjian itu. Lalu aku harus merawat anak kita sendirian setelah kamu melahirkan nya. Apa kamu pernah berpikir ke arah sana?" tanya Aris menatap pada wajah Via dengan begitu lekat dan dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Maaf, itu hal yang harus aku lakukan walaupun aku sebenarnya tidak mau melakukan hal itu. Aku tahu aku salah sudah mengambil keputusan secara sepihak tapi mau bagaimana lagi aku terpaksa melakukan hal itu. Aku lebih baik melihat kamu bebas dan bisa hidup tanpa ada yang melakukan hal yang jahat sama kamu." jawab Via menatap Aris.
"Iya tapi aku akan merasa sedih dalam seumur hidup ku karena kehilangan kamu." jawab nya seraya melengoskan pandangan pada arah lain tidak menatap ke arah Via.
"Tapi itu tidak terjadi kan, aku masih bersama kamu sampai saat ini dan sampai nanti." seru Via menarik wajah Aris secara lembut agar kembali menatap nya.
"Iya." sahut nya dengan matanya yang berkaca-kaca.
aku tidak mau kehilangan lagi wanita yang aku cintai setelah Nisa yang tidak bisa aku miliki, aku harus memperjuangkan wanita yang kini ada di hatiku, Via...kamu adalah wanita itu sekarang aku harus menjaga mu selama aku masih hidup.
"Sudah ah jangan pikirkan lagi kejadian kemarin karena sudah berlalu. Aku juga tidak mau mengingat dia lagi. Sudah cukup dia menggangu rumah tangga kita, aku tidak mau hal yang tidak penting membuat hubungan kita menjadi tidak baik." ujar Via. "Lebih baik sekarang kamu fokus pada kesehatan kamu agar kamu bisa sehat dan segera cepat pulang. Kamu mau kan cepat pulang?"
"Iya kamu benar." balas Aris dengan tersenyum hangat memegang tangan Via lalu mencium tangan itu dengan penuh cinta.
Hai-hai salam hangat ya dari aku, aku mau kasih tahu nih seperti nya cerita mas Adam, Nisa, Abang Aris dan Via sudah selesai ya mereka sudah bahagia seperti nya jadi tidak ada cerita lagi dan konflik pun sudah selesai.
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir ke cerita aku yang tidak seberapa ini, terima kasih juga atas dukungannya dari like komen vote dan hadiah nya. terima kasih banyak ya jika berkenan mampir ke cerita aku yang lain juga yang belum aku revisi sih hehe. insyaallah lain waktu aku akan buat lagi cerita tentang abdi negara.