Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
dompet


__ADS_3

Esok harinya Adam dan Nisa yang sudah dua hari di Bandung pun akan berangkat kembali ke Jakarta, rencana nya sampai ke Jakarta mereka akan menuju kontrakan yang dulu mereka tinggali untuk sementara waktu.


Adam memang sudah mempersiapkan sebuah rumah untuk Nisa, sebenarnya tidak untuk Nisa waktu itu Adam mempersiapkan nya untuk calon istrinya bilamana waktunya sudah datang dan sekarang istrinya adalah Nisa jadi rumah itu akan ia tinggali bersama Nisa dan ia akan berikan rumah itu untuk Nisa istrinya.


"Sayang, kita mampir dulu ke restoran ya kita makan dulu." ajak Adam pada Nisa.


"Ya mas boleh, kita makan disana saja." tunjuk Nisa pada sebuah restoran siap saji.


"Kamu yakin makan disana?" tanya Adam meyakinkan.


"Iya mas aku pengen makan ayam krispi aja." sahut Nisa yakin.


"Oke, untuk istri tercinta." goda Adam pada Nisa dengan senyum nya.


Nisa hanya tersenyum saja dengan ucapan Adam yang menggoda nya. Sesaat kemudian sampailah mobil Adam di parkiran tempat makanan siap saji, mereka pun turun dan memesan dua paket ayam krispi dan dua minuman.


"Terima kasih ya..." ucap Nisa tersenyum ramah pada seorang pelayan laki-laki yang menyediakan pesanan nya.


"Sama-sama, silahkan di nikmati." jawab pelayan itu dengan sopan.


Ekhemm Adam berdehem melihat interaksi antara Nisa dan pelayan laki-laki itu. "Kamu ya berani senyum ramah gitu sama laki-laki lain di depan suami kamu!" ucap Adam kesal melihat Nisa yang begitu ramah pada pelayan itu.


"Mas aku cuma ngucapin terima kasih aja kok sama pelayan itu, memang salah aku apa?" sahut Nisa sebal pada cemburu nya Adam yang sangat berlebihan.


"Saya kan udah bilang mas gak suka kalau kamu senyum-senyum gitu sama laki-laki lain selain mas." ucap Adam mengingatkan.

__ADS_1


Nisa menghela napas nya panjang. "Iya aku ingat kok, ya udah aku minta maaf ya, aku salah, kita makan aja ya terus kita lanjutkan lagi perjalanan kita." jawab Nisa mengalah.


Adam tersenyum senang Nisa mengerti apa yang dia mau. "Makasih ya, saya sayang kamu."


ucap Adam lembut.


Setelah selesai makan Nisa merasakan kandung kemih nya yang begitu penuh. "Mas aku ijin ke toilet dulu ya, aku mau pipis." ijin Nisa pada Adam dan di angguki oleh Adam.


"Mas tunggu di mobil ya, nanti setelah kamu selesai dari toilet kita langsung berangkat lagi." ujar Adam memberi tahu pada Nisa.


"Ok." ucap Nisa cepat, dan segera pergi ke toilet.


Adam pun menuju ke parkiran tempat dimana mobil nya terparkir menunggu Nisa yang sedang pergi ke toilet.


Sedangkan Nisa yang sudah selesai dari toilet bergegas dengan cepat menuju parkiran dengan terburu-buru karena takut suaminya menunggu terlalu lama. Nisa tak sadar sudah menjatuhkan dompet nya di depan toilet


"Udah jauh lagi, apa di dalam dompet ini ada alamatnya ya?" ucap laki-laki itu setelah melihat mobil yang di naiki Nisa sudah menjauh, lalu ia pun membuka dompet itu dan melihat alamat yang ada sebuah kartu nama beserta nomor yang ada di kartu itu.


Dia pun dengan cepat merogoh handphone nya dari dalam tas yang ia bawa segera menelepon nomor telepon yang ada di kartu nama itu. "Ah sial handphone malah lowbat begini, padahal saya mau telpon yang punya dompet ini sebelum dia jauh." ucap nya kesal.


"Tapi ini alamat sepertinya dekat dengan tempat saya sekarang bertugas, kebetulan sekali kalau begitu nanti saya coba cari alamat nya dan saya kasih dia langsung." gumam nya dengan senyum yakinnya.


Dia pun kembali masuk ke dalam restoran itu untuk melanjutkan makan nya yang tertunda.


"Dari mana kamu lama banget dari toilet, buang air apa tidur?" ucap salah satu temannya yang ikut bersama nya bertugas.

__ADS_1


"Tadi gue nemuin dompet cewek, mungkin dia gak sadar kalau dompet nya jatuh, tadi gue panggil dan ngejar dia tapi dia udah jauh." ujar nya menjelaskan kenapa ia tadi lama kembali.


"Oh, cantik gak cewek nya?" tanyanya penasaran.


"Mana gue tahu, orang dia udah jauh gitu tapi gue lihat dia berjilbab." ucapnya cepat.


"Terus itu dompet kamu mau apain?" tanyanya penuh selidik.


"Gue mau kembaliin dompet nya, gue mau cari cewek itu, alamat nya gak jauh dari tempat tugas kita di Jakarta." ucapnya mantap.


"Kamu yakin? Apa gak bakalan bikin kamu repot nantinya, menurut saya sih mending kamu simpan aja disini siapa tahu dia balik lagi kesini dan pelayan disini bisa balikin dompet nya ke dia." ucap teman nya memberi saran.


"Ya mending kalau dia tahu jatuh nya disini, udah lah gak apa-apa biar gue yang kasih dompet ini sama pemilik nya toh dekat juga kotanya, itung-itung gue amal di kota tempat tugas gue yang baru." ucapnya mantap penuh keyakinan.


"Serah kamu deh pak komandan yang terhormat." pasrah teman nya berucap, selama ia berteman dengan nya dia memang memiliki hati yang peka terhadap lingkungan sekitar, makanya dia selalu menjadi panutan bagi bawahannya.


Iya dia Aris Pratama seorang perwira tentara angkatan darat, dia sering di panggil komandan oleh anak buahnya, kini ia di tugaskan untuk bertugas di Jakarta, selama ini ia selalu di tugaskan di luar pulau dengan menempuh pendidikan militer, masa mudanya ia habiskan untuk pendidikan menjadi seorang militer.


Setelah semua ia lalui dengan tidak mudahnya Aris kembali ke pulau Jawa, pulau dimana ia di lahir kan dan kota dimana ia di besar kan, ia bisa kembali berkumpul dengan kedua orang tua dan adiknya di sini, kedua orang tua Aris tinggal di kota serang Banten. Aris memiliki cita-cita sebagai TNI seperti ayahnya.


Walaupun Aris memiliki sebuah misi ingin menemukan seseorang yang selama ini selalu ada di hatinya. Selama bertahun-tahun ia menjalani pendidikan nya dan selama itu pencarian Aris pun sedikit tertunda.


Singkat cerita, ayah nya Aris adalah seorang tentara pada masa itu, ayah nya di tugaskan asrama di kota Bandung, Aris yang masih kecil bersekolah dasar di dalam asrama tempat ayah dan ibunya tinggal, pada suatu hari Aris yang sudah sekolah kelas 5 ia harus pindah mengikuti ayah dan ibunya untuk pindah ke serang Banten karena ayah nya yang di pindah tugaskan. Sekarang ayahnya sudah pensiun masa kerjanya sudah habis.


Selama Aris bersekolah dasar disana lah Aris dan Nisa bertemu, Nisa yang rumahnya berdekatan dengan asrama TNI pada waktu itu, ibunya pernah mengajar di sekolah asrama itu dan menyekolahkan Nisa dari ia TK sampai SD disana supaya Nisa bisa terurus juga.

__ADS_1


Aris dari kecil sudah memiliki sifat jiwa kepemimpinan, dia sering di pilih oleh teman-teman nya untuk menjadi seorang ketua murid. Otaknya yang cerdas membuat Aris semakin di sukai oleh teman-teman nya. Aris dan Nisa sama-sama memiliki otak yang cerdas, makanya mereka selalu berebut prestasi di sekolah nya. Mengejar mana yang lebih berprestasi. Tapi prestasi lebih unggul itu selalu Nisa yang ia menangkan, Nisa selalu mendapatkan juara 1 sedangkan Aris selalu juara 2.


__ADS_2