
Esok harinya seperti biasa Nisa dan Adam beserta para anggota kepolisian dan TNI yang masih bertugas menjalankan tugasnya masing-masing. Nisa yang akan bertemu dengan anak-anak yang ingin mendengar ceritanya pun segera mendatangi para anak-anak korban bencana.
"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak, bagaimana kabar kalian pagi ini?" sapa Nisa dengan lembut dan bersemangat.
"Wa'alaikumussalam kak Nisa selamat pagi juga, kami baik-baik saja." sahut anak-anak serempak.
Setelah menyapa Nisa anak-anak Nisa pun memulai aktivitasnya seperti mengajak anak-anak untuk mewarnai gambar, membaca buku-buku cerita dan pelajaran serta membuat anak-anak tidak merasa bosan berada di pengungsian.
Nisa yang gemar melukis memperlihatkan gambar-gambar hasil melukis nya. Anak-anak disana pun sangat menyukai gambar-gambar Nisa yang ia buat. "Kak Nisa aku suka banget sama gambar-gambar kakak, nanti kalau aku sudah besar aku mau jadi pelukis biar hebat seperti kak Nisa." ucap salah satu anak yang Nisa ajari.
"Tidak perlu menunggu besar sayang, kamu bisa kok melukis sekarang, kak Nisa punya banyak sekali pensil warna, kamu mau...?" ucap Nisa dengan senyuman manisnya.
"Mau kak mau banget, aku mau jadi pelukis yang hebat." tutur anak itu antusias.
Nisa pun memberikan pensil warna itu pada anak yang sangat ingin melukis.
***
Siang hari ketika Nisa beristirahat namun Adam belum terlihat sama sekali, akhirnya Nisa pun makan siang sendiri di tempat peristirahatan.
"Assalamualaikum Nisa, boleh aku duduk." sapa Aris meminta ijin pada Nisa yang sedang duduk sendirian.
"Eh kamu, wa'alaikumussalam silahkan tempat duduk umum kok, kamu sudah makan siang?" tanya Nisa saat Aris duduk.
"Ini saya mau makan siang, kamu kok sendirian sih mana rekan-rekan polisi kamu?" tanya Aris dengan menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Mungkin mereka belum beres, aku belum lihat sih." sahut Nisa seadanya.
Saat Nisa dan Aris sedang mengobrol Adam yang baru saja selesai dari tugasnya langsung menghampiri Nisa yang sedang makan bersama laki-laki lain, Adam cemburu melihat Nisa bersama laki-laki lain saat ia berada jauh dari Adam.
"Ekhemm... Adam berdehem. "Pak Aris?" tanya Adam saat orang yang ia mohon bersama istri nya adalah orang yang ia kenal.
__ADS_1
"Pak Adam." sahut Aris. "Apa kabar? sudah lama sekali kita tidak bertemu." ucap Aris mengajak Adam berjabat tangan.
Adam pun membalas jabatan tangan Aris. "Kabar saya baik, seperti nya kalian sudah saling mengenal? Bagaimana anda bisa mengenal istri saya?" tanya Adam pada Aris penuh penasaran.
Deg... jantung Aris seakan berhenti mendadak mendengar ucapan Adam. "Istri?" tanya Aris meminta kebenaran dan menatap Adam dan Nisa silih berganti.
"Oh iya anda belum tahu jika saya sudah menikah, iya perempuan yang ada di samping saya ini adalah istri saya, istri saya yang paling saya cintai, maaf waktu kami menikah saya tidak mengundang anda, karena saya tidak tahu kontak Anda." tutur Adam menjelaskan.
Aris hanya diam tanpa menjawab pernyataan Adam yang tidak mengundang nya. "Kalau begitu saya permisi, mohon maaf jika saya mengganggu kalian berdua." ujar Aris dengan cepat melangkah pergi tak ingin rasa kecewa nya terlihat oleh Nisa dan Adam.
Adam dan Nisa pun menjadi heran kenapa dengan Aris yang tiba-tiba pergi. "Apa kalian sudah lama saling mengenal? Dimana kamu kenal dengan nya?" tanya Adam pada Nisa saat Aris sudah pergi.
"Emh, itu lho mas pak Aris itu orang yang sudah menemukan dan mengembalikan dompet aku yang hilang itu, kami ingat kan?" ucap Nisa menjelaskan pada Adam.
"Oh jadi pak Aris yang sudah menemukan dompet kamu, kenapa kamu tidak bilang dari tadi kalau pak Aris itu orang yang sudah mengembalikan dompet kamu, mas kan bisa ucapkan terimakasih padanya." tutur Adam.
"Aku udah bilang kan sama kamu mas barusan! Nanti saja lah kalau kamu ketemu lagi sama dia, lagian pak Aris nya juga sudah pergi." sahut Nisa lalu iapun duduk kembali di kursi dan memakan makanan siang nya.
di tempat Aris
"Kenapa kamu Dan, itu muka di tekuk begitu? Ada masalah?" tanya Syamsul sahabat Aris saat melihat Aris diam dan cemberut.
"Aaaaaaa." teriak Aris frustasi.
"Kenapa kamu Ris? Cerita sama saya apa ada masalah?" tanya Syamsul penasaran.
kemarin dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila sekarang dia malah marah-marah, sepertinya ada masalah serius ini.
"Kamu bisa cerita sama saya Ris kita udah sahabat lama, saya tahu pasti kamu sedang ada masalah ya?" tanya Syamsul semakin penasaran.
"Elu tahu Syam, Nisa yang gue cari selama ini dia sudah menikah, gue terlambat Syam bertemu dengan nya." ucap Aris dengan pilu.
__ADS_1
"What nikah? Kamu tahu darimana kalau dia sudah nikah, memang nya kalian sudah pernah bertemu?" tanya Syam penuh selidik.
"Dompet yang gue temuin dan gue balikin adalah dompet Nisa, Nisa yang gue cari selama ini, dan sekarang dia sedang ada disini menjadi relawan bersama suaminya." tutur Aris dengan mata berkaca-kaca.
"Apa kamu yakin itu Nisa yang selama ini kamu cari? Lalu siapa yang jadi suami Nisa?" tanya Syam ingin tahu.
"Gue yakin dia Nisa, perempuan yang selama ini gue rindukan, dan yang jadi suami nya adalah Briptu Adam, polri yang sempat gue kenal." sahut Aris semakin bersedih.
"What what what? Wah wah wah ini bisa jadi perang lagi antara TNI dan polri, bahaya ini!" seru Syam dengan menggeleng kepala tak percaya.
"Gue harus gimana sekarang Syam? Padahal gue berharap banget Nisa jadi istri gue dan jadi ibu Persit gue bukan ibu Bayangkari Briptu Adam." seru Aris penuh kecewa.
"Yah sabar aja kamu mungkin dia memang bukan jodoh kamu, saya yakin kamu bisa menemukan pengganti Nisa di hati kamu." ujar Syam menguatkan sahabatnya itu.
"Gue gak bisa segampang itu melupakan Nisa, kenapa Tuhan mempertemukan gue dan Nisa kalau akan seperti ini pada akhirnya." ucap Aris sedikit frustasi.
"Ya Tuhan mempertemukan kamu dan Nisa agar kamu tahu kalau Nisa bukan jodoh kamu, supaya kamu tidak mencari Nisa lagi nantinya." urai Syam memberi tahu.
"Ntahlah gue bingung mesti bagaimana nanti setelah gue tahu sekarang Nisa sudah menikah dan menjadi istri orang lain." ujar Aris menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
"Saya yakin kamu bisa melupakan Nisa, kamu bisa cari perempuan lain yang lebih dari Nisa untuk kamu nikahi nanti nya." goda Syam pada Aris yang sedang patah hatinya.
"Tau ah curhat sama elu gak bikin gue tenang malah makin sedih gue." ucap Aris kesal di saat patah hati sahabatnya itu malah bercanda.
"Eh saya gak lagi bercanda kali saya serius!" sahut Syam membenarkan ucapan nya.
Malam harinya
Adam dan Nisa sudah berada di tenda yang sudah di siapkan, Nisa dan Adam yang sudah menikah mereka pun satu tenda berdua untuk tempat peristirahatan selama mereka melakukan tugas disana.
"Hemm... mas kita di tenda begini kayak lagi camping ya, kayak pencinta alam, aku suka deh bisa sama kamu terussss." canda Nisa saat mereka berdua bersama.
__ADS_1
"Iya sayang, ternyata enak ya bertugas bareng sama istri, bisa pelukan seperti ini walaupun sedang dalam pekerjaan." ucap Adam saat mereka berdua bersiap untuk istirahat lalu Adam pun memeluk Nisa dan Nisa membalas pelukan Adam dengan erat dan pada akhirnya mereka pun mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.