
"Assalamualaikum Nisa." sapa Aris dengan senyuman kaku nya.
"Kalian sudah saling kenal ya?" tanya Dimas penuh selidik.
"Wa'alaikumussalam Aris." jawab Nisa membalas senyuman Aris. "Harus nya kakak yang nanya sama kamu, kamu kenal dari mana?" tanya Nisa heran kenapa adiknya bisa kenal dengan Aris.
"Aku sama bang Aris baru aja kenal tadi pas di jalan, aku kira kalian belum kenal." ujar Dimas.
"Memang kenapa kalau kakak udah kenal sama Aris?" tanya Nisa penasaran.
"Hehe gak ada apa-apa!" jawab Dimas cengengesan.
"Bang jangan bilang kak Nisa ya soal yang tadi aku obrolin sama Abang." bisik Dimas di telinga Aris dengan memohon.
"Kenapa sih bisik-bisik?" tanya Nisa dengan selidik.
"Gak ada apa-apa yang bang cuma urusan sesama cowok." ujar nya Dimas menatap ke wajah Aris meminta permohonan.
Aris tersenyum melihat keakraban kakak beradik itu. "Gak ada apa-apa Nis cuma masalah kecil." elak Aris berbohong.
Nisa menghela nafasnya panjang. "Ya udah kita masuk saja." ucapnya percaya dengan yang di ucapkan Aris.
Mereka pun masuk ke dalam rumah Nisa. "Silahkan duduk Ris, kamu mau minum apa?" tawar Nisa pada Aris.
"Aku gak di tawarin nih? Haus aku juga kak!" rengek Dimas.
"Kamu ambil aja sendiri, enak aja nyuruh kakak dosa tahu..." omel Nisa pada adiknya.
"Heh keluar deh mama Didih nya bawa-bawa dosa segala, aku kan tamu juga, tamu itu raja." sahut nya sebal.
"Tamu? Mana ada tamu ngerepotin!" jawab Nisa sinis.
"Ah udah ah argumentasi sama kak Nisa gak bakal menang apalagi kalau lagi Hamidun gitu ntar pundung lagi. Kak kamar mandi dimana aku mau buang air?" tanya Dimas menahan sakit di perut nya yang terasa penuh.
"Kamu naik aja ke atas ada kamar buat kamu nanti tidur, sekalian kamu ke kamar mandi." titah Nisa pada Dimas.
"Ok. Bang aku ke kamar mandi dulu ya." ijin Dimas pada Aris yang di angguki oleh Aris.
"Maaf ya Ris Dimas anak nya ceplas-ceplos suka asal kalau bicara." ucap Nisa tidak enak hati akan sikap adiknya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa asyik kok anaknya, selama sopan its ok lah." jawab Aris tidak masalah.
"Ya sudah kamu tunggu sebentar ya, aku ke dapur dulu bawa minum untuk kamu." ijin Nisa pada Aris dan di balas dengan senyuman tipis nya.
Dimas...Dimas ternyata kakak yang kamu omongkan dari tadi adalah Nisa.
Tak lama Nisa pun keluar dari dapur dan membawa minuman segar untuk Aris, dan Dimas pun keluar dari kamarnya setelah selesai dari urusan nya.
"Kalian sudah makan apa belum? Gimana kalau kita makan siang bareng, kebetulan aku udah masak tadi." ujar Nisa mengajak Aris dan Dimas makan bersama.
"Boleh tuh." sahut Dimas cepat.
"Emh aku pulang saja lah Nisa udah siang juga." tolak Aris lembut.
"Eh bang makan dulu lah nanti selesai makan baru deh berangkat dinas biar kuat." ucap Dimas cengengesan.
"Iya aku udah masak lumayan banyak, mas Adam juga udah ijin gak makan siang di rumah karena masih ada pekerjaan yang gak bisa di tinggalkan." ucap Nisa. "Ayo lah makan dulu sebentar." ajak Nisa.
"Baiklah." sahut Aris pasrah. Aris juga penasaran sih bagaimana rasanya masakan Nisa.
Mereka pun menuju tempat makan untuk makan bersama. "Ayok bang silahkan duduk." Dimas mempersilahkan duduk sedangkan Nisa sibuk menyiapkan makanan nya.
Aris hanya tersenyum mendengar ucapan Dimas sedangkan Nisa hanya geleng-geleng kepala nya melihat kelakuan adiknya.
"Sini piring kamu Ris aku ambilkan ya." ucap Nisa membawa piring Aris untuk ia isi nasi dan lauk pauknya setelah Nisa menyiapkan makanan untuk Dimas.
"Emh gak usah Nisa aku bisa sendiri kok." ucap Aris menolak dengan lembut.
"Eh maaf ya aku udah kebiasaan nyiapin makanan untuk orang hehe." ucap Nisa malu.
"Iya kak Nisa suka gitu bang." sahut Dimas dengan mulut penuh makanan.
"Silahkan di makan ya kalau gak enak muntahin aja." ucap Nisa bercanda.
"Perhatian kecil seperti ini yang membuat aku gak bisa lupa sama kamu, kamu gak pernah berubah dari dulu, aku ingat zaman kita dulu sekolah dasar kamu selalu membantu aku saat hal yang tidak bisa aku kerjakan walaupun aku tidak pernah mengatakan nya." batin Aris dengan senyum melirik Nisa yang sedang menyantap makanan nya.
Setelah makan siang selesai Aris pun langsung pamit karena ia akan pergi menjalankan tugasnya. "Nisa aku pamit ya, terima kasih juga makan siang nya, bukan gak tahu malu habis makan pulang tapi waktu nya dinas aku sebentar lagi aku takut terlambat." ucap Aris meminta ijin.
"Oh ya sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah antarkan Dimas sampai rumah aku dengan selamat." jawab Nisa pun berterima kasih.
__ADS_1
Saat Aris Nisa dan Dimas di depan pintu mengantarkan Aris yang akan pulang tiba-tiba Adam pun datang. "Assalamualaikum." ucap Adam mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam." jawab nya serempak.
"Mas kamu pulang? Bukannya kamu tadi bilang gak bisa pulang siang ini?" tanya Nisa heran Nisa menghampiri Adam dan menciumi punggung tangan Adam sebagai tanda istri sholehah dan di balas oleh Adam yang mencium kening Nisa dengan merangkul pinggang Nisa begitu erat.
Aris yang melihat adegan antara Nisa dan Adam seperti itu membuat Aris melengoskan pandangan ke arah lain, melihat kemesraan mereka berdua membuat hatinya sakit seperti ada sebuah panah yang menusuk ke dalam hati.
Sedangkan Dimas ia melihat Aris yang seperti menyembunyikan kecemburuan nya terhadap kakaknya itu. "Sebenarnya ada hubungan apa sih antara kak Nisa sama bang Aris ini, dan kenapa juga bang Adam tiba-tiba bersikap seperti itu sama kak Nisa seolah ia takut kalau kak Nisa akan ada yang merebut nya." batin Dimas melihat keanehan yang terjadi di hadapannya ini.
"Ada pak Aris, ada perlu apa ya pak sampai anda ke rumah saya?" tanya Adam heran saat melihat Aris ada di rumah nya.
"Oh tidak ada apa-apa pak Adam saya hanya mengantarkan Dimas." jawab Aris apa adanya.
"Dimas? Apa kalian saling mengenal?" tanya Adam penasaran.
"Nanti aku jelaskan." bisik Nisa pada Adam yang penasaran.
"Aris hanya tersenyum. "Baiklah pak saya pamit dulu, maaf saya tidak bisa lama." ucap Aris pamit dan dengan cepat melangkah pergi menuju mobil yang ia parkir.
"Jadi dari mana kamu bisa kenal pak Aris?" tanya Adam menatap Dimas meminta penjelasan.
"Aku cuma kenal tadi pas di jalan, kebetulan mobil bang Aris tiba-tiba mogok aku yang saat itu lagi bingung arah untuk kesini membantu dulu bang Aris yang lagi bingung sama mesin mobilnya dan ia juga menawarkan untuk mengantarkan aku ke sini." tutur Dimas menjelaskan.
"Kamu baru kenal sudah sedekat itu, bagaimana kalau dia orang jahat!" ujar Adam kesal.
"Iya bang Aris kan TNI masa dia jahat sih." sahut Dimas membela Aris.
"Kamu ya kalau di kasih tahu itu harus nya nurut ini Jakarta tidak semua orang yang terlihat baik itu orang baik." ujar Adam memberi tahu.
"Mas... kamu tenang ya kenapa mesti marah-marah begitu." ucap Nisa lembut menenangkan Adam.
"Maaf" ucap Adam pelan.
"Dimas cuma bantu Aris dan Aris membalas budi Dimas dengan mengantarkan Dimas kesini mas." ucap Nisa menjelaskan maksud Dimas tadi.
"Aku masih kesal dengan dia karena dia orang pertama yang tahu tentang kehamilan istri ku, tapi kenapa bisa kebetulan Dimas bertemu dengan Aris." batin Adam.
"Mending kamu makan ya mas aku temani." ajak Nisa dengan lembut dan Adam pun mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Ada yang aneh antara bang Adam dan bang Aris, tapi apa ya?" gumam Dimas bingung.