Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
waktu senggang


__ADS_3

Saat Adam sedang berbicara dengan dosen tersebut anak buah nya yang tadi memeriksa para mahasiswa laki-laki itu menemukan sesuatu yang mencurigakan di dalam tas salah satu mahasiswa tersebut. Di ambil nya kantong berisi barang mencurigakan itu dan akan di serahkan dahulu kepada iptu Adam untuk diperiksa.


"Maaf pak saya menemukan barang mencurigakan di dalam tas salah satu mahasiswa yang saya periksa tadi." hormat kepada Adam dan memberi tahukan barang yang ia temukan beserta tas pemilik barang itu lalu menyerahkannya kepada Adam.


Adam pun mengambil barang yang anggotanya temukan dan melihat nya. "Saya ingin tahu siapa pemilik tas ini?" tanya Adam tegas kepada para mahasiswa dan mahasiswi yang berada di ruangan itu.


Belum ada yang mengaku siapa pemilik tas dan barang ini Adam pun mengulang pertanyaan dengan nada tegas dan tinggi. "Saya tanya lagi siapa pemilik tas ini, tolong ke depan menghadap saya." ucap Adam kesal karena masih saja belum mengakui.


"Kalau kalian diam saja kami tidak akan diam saja, jadi sebelum kami berbuat yang lain tolong kerjasama dari kalian semua." ujar Adam menjelaskan dengan bahasa tegas.


Tak lama pun salah satu mahasiswa mengacungkan tangan nya. "Sa... saya pak, itu ta...tas saya." akunya gugup dan takut.


"Kamu? Kesini kamu?" titah Adam tegas.


"Kamu pemilik barang ini, kamu tahu apa ini?" tanya Adam dengan memperlihatkan barang yang ia pegang di hadapan mahasiswa tersebut.


"I...iya pak saya tahu dan memang itu punya saya." akunya cepat.


Huuu... semua teman-teman kampus nya meneriaki mahasiswa tersebut.


"Kamu melakukan **** bebas? Dengan pacar kamu?" tanya Adam penuh selidik.


"Ti... tidak pak, saya melakukan nya dengan istri saya." ucapnya takut.


"Kamu sudah menikah? Mana kartu identitas kamu saya akan periksa apakah perkataan kamu bohong atau tidak, kalau kamu ketahuan berbohong masalah ini akan saya tindak lanjuti dan saya akan memberi tahukan kepada orang tua mu." seru Adam di tengah para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat nya.


Mahasiswa itu pun menunjukkan kartu identitasnya dan menyerahkan nya kepada Adam untuk dilihat.


Adam pun melihat kartu itu. "Kenapa kamu seperti takut kalau kamu sudah menikah? Menikah kan suatu hal yang bagus menjauhi kita dari perzinahan." tutur Adam menjelaskan. Benar saja mahasiswa yang ada di hadapannya itu sudah menikah.


"Saya... bukan takut pak tapi saya cuma malu karena masih muda saya sudah menikah apalagi saya masih kuliah." ujar nya meyakinkan Adam.


"Kenapa mesti malu kamu laki-laki bertanggung jawab kan? Kenapa kamu membawa barang ini ke kampus apa kamu akan melakukan nya di sini?" goda Adam pada mahasiswa tersebut yang sedang tegang karena di interogasi.


Mahasiswa itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal tapi merasa malu. "Itu sisa saya waktu malam pak." aku nya malu-malu.


Huuuu... semua teman-teman nya meneriaki dan menertawakan kelakuan nya itu.

__ADS_1


"Diam anak-anak." ucap dosen pengajar saat murid-murid nya itu berisik.


"Ini barang kamu, saya kembalikan dan ingat jangan membawa barang-barang seperti ini lagi ke kampus cukup di rumah saja." ucap Adam berpesan. "Istri kamu ada di sini?" tanya Adam.


"Tidak pak istri saya berbeda jurusan." ucapnya cengengesan.


"Baguslah kalau istrimu ada disini ia pasti akan malu sekali." ucap Adam datar.


*


*


*


Saat berdua Nisa dan Adam adalah waktu yang paling berharga bagi mereka, menghabiskan waktu bersama saling bercanda dan tertawa.


"Sayang, waktu kemarin mas tugas razia di kampus, kamu tahu gak ternyata kampus kamu waktu kuliah dulu target kita." ujar Adam memberi tahu.


"Yang benar mas, kok aku selama kuliah gak pernah tuh ada razia narkoba seperti itu." jawab Nisa.


"Terus di temukan tidak di kampus ada yang menggunakan barang haram itu?" tanya Nisa penasaran.


"Alhamdulilah tidak ada yang kami temukan tapi kita menemukan sebuah alat kontrasepsi di salah satu tas mahasiswa yang kuliah di kampus kamu dulu." ujar Adam tersenyum.


"Serius mas? Apa mereka melakukan pergaulan bebas?" tanya Nisa semakin ingin tahu.


"Tidak, dia sudah menikah dan mas juga sudah mengecek kartu identitasnya ternyata memang benar dia sudah menikah. Dia bilang dia lupa tidak menyimpan barang nya itu." ucap Adam.


"Syukur lah kalau begitu, aku kira di kampus ku dulu menimba ilmu ada anak yang salah gaul." tutur Nisa lega.


"Iya sebenarnya sih kampus kamu itu rawan, karena kampus itu salah satu kampus elit banyak mahasiswa dan mahasiswi disana anak dari orang berada kemungkinan para pengedar akan menawarkan barang itu pada anak-anak kampus disana, khawatir juga sih tapi semua dosen dan juga orang-orang yang terkait disana akan lebih posesif lagi soal kasus ini." ujar Adam menjelaskan.


"Ya sudah karena ini di rumah mas gak mau bahas soal pekerjaan, pusing!" ucap Adam menyenderkan tubuhnya yang lelah pada tubuh Nisa dengan manja.


"Lalu kita bahas apa dong mas?" sahut Nisa mengelus kepala Adam dengan lembut sedangkan Adam mengelus perut Nisa dengan sayang karena perut Nisa sudah sedikit membuncit karena bayi yang ada di perut nya semakin tumbuh dengan sehat.


"Eh... ada yang gerak sayang." sahut Adam saat mengelus perut Nisa ada yang bergerak.

__ADS_1


Nisa tersenyum. "Itu debay kita mas dia senang dengan elusan tangan kamu." ucap Nisa lembut.


"Oh ya." jawab Adam antusias mengelus kembali perut Nisa yang sedikit membuncit dengan lembut. "Mas baru tahu kalau bayi yang ada di perut bisa merespon sentuhan tangan dari luar." ucap Adam cengo.


"Ya iyalah mas kamu kan baru pertama kali kan pegang bayi yang masih di dalam perut."jawab Nisa santai.


"Hehehe iya lah mas kan baru tanam cuma di perut kamu." goda Adam mengecup pipi Nisa yang sudah agak tembem. "Enak ih sekarang kalau cium empuk gini, apalagi ini ukuran nya yang asalnya L sekarang jadi XL apalagi nanti kalau sudah debay nya keluar 3 XL kayaknya." goda Adam mentoel buah surga Nisa yang semakin hari semakin menggoda.


"Ih mas... kamu ya!" sebal Nisa menepis tangan Adam yang nakal.


"Hehehe ah mas gak mau masa-masa seperti ini berlalu, mas jadi ingat waktu kita bertemu dulu pertama kalinya." ucap Adam mengingat masa-masa dahulu saat pertemuan pertama bersama Nisa.


"Iya dulu kamu itu jutek banget, sampai kadang aku malas nyapa kamu mas takut!" sahut Nisa mengingat kembali sifat Adam waktu itu.


Adam tergelak. "Tapi ganteng kan?" goda Adam pada Nisa dan memeluk Nisa erat.


"Ganteng sih tapi ya begitulah!" sahut Nisa jadi salah tingkah.


"Emh kamu dari dulu udah cinta ya sama mas?" goda Adam semakin menjadi.


"Ih siapa yang bilang, ih percaya diri sekali kamu mas." sahut Nisa sebal.


"Itu buktinya kamu perhatian sama mas sampai kamu tahu kalau mas jutek." ucap Adam bangga.


"Itu bukan perhatian tapi keliatan mas." sergah Nisa tak terima.


"Lukisan itu yang menjawab!" tunjuk Adam pada sebuah lukisan Nisa dulu yang Adam bingkai dan ia pajang.


"I...itu cuma hobi aku aja suka gambar." elak Nisa gugup.


Adam tersenyum bahagia. "Iya deh mas yang suka duluan!" ucap Adam mengalah karena Nisa terlihat malu untuk mengakui. "Kamu tahu gak sejak kapan mas suka sama kamu?"


"Gak." sahut Nisa cepat dengan menggeleng kepala.


"Sejak kamu minta tolong mas waktu pintu kontrakan kamu terkunci, itu saat mas mulai suka sama kamu." aku Adam.


Nisa tersenyum geli mengingat kejadian itu dimana dia meminta Adam dengan terpaksa walaupun waktu itu Nisa malu sekaligus takut karena dari sikap Adam yang cuek pada nya.

__ADS_1


__ADS_2