
Malam pun larut acara sudah selesai pukul 11 malam, Nisa dan Rangga keluar dari tempat itu Nisa tak menemukan Adam disana ntah kemana dia pergi.
Dret...sebuah pesan masuk ke ponsel Nisa.
Namun Nisa belum membuka pesan itu, membuat si pengirim tambah kesal.
"Maaf ya Nisa acara nya sampai malam seperti ini saya jadi tidak enak sama kamu." ujarnya menyesal.
"Tidak apa-apa pak." jawab Nisa dengan senyuman.
"Saya antar kamu pulang ya sudah malam, beritahu alamat kamu sama sopir saya ya." ucap Rangga santai.
Mau tidak mau Nisa di antar pulang oleh bos nya itu malam sudah larut Nisa pun takut jika pulang sendiri.
Saat akan masuk ke dalam mobil Rangga sebuah panggilan membuat Nisa dan Rangga yang sedang berjalan menuju mobil pun terhenti. "Sayang." ucap Adam memanggil Nisa.
Nisa pun terkejut saat ia menoleh dan yang ia lihat adalah tunangan nya padahal tadi ketika ia mencari sosok laki-laki itu tidak terlihat sama sekali.
Adam melangkah mendekat ke arah Nisa berada. "Kamu pulang dengan mas ya, mas juga udah selesai bertugas jadi kita bisa pulang bareng." ajaknya.
"Maaf pak Rangga Nisa pulang dengan saya saja." ucapnya pada Rangga dengan sopan.
"Oh tidak perlu pak biar saya saja yang mengantarkan Queen pulang lagipula tadi Queen berangkat dengan saya, jadi saya harus bertanggung jawab mengantarkannya pulang." tolak nya lembut.
Adam tak terima. "Saya yang berhak bertanggung jawab atas Nisa karena Nisa calon istri saya, jadi saya yang akan mengantarkan nya pulang." jawabnya sedikit panas.
Melihat situasi semakin memanas Nisa pun menengahi perdebatan diantara mereka berdua. "Maaf pak saya pulang bersama mas Adam saja, terima kasih juga bapak sudah berniat mengantarkan saya pulang, tapi saya gak bisa pulang dengan pak Rangga." tolak lembut dan sopan.
"Baiklah kalau itu mau kamu." ucapnya cepat dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah terparkir di samping nya.
Adam merasa bahagia karena merasa dirinya sudah menang, Nisa lebih memilih pulang bersama nya dari pada bersama pak Rangga itu. "Ayok kita pulang sayang." ajak Adam.
Nyesss... hati Nisa berdesir berdebar tak menentu saat Adam memanggil nya dengan kata sayang.
"Ayok masuk, kebetulan mas tadi bawa mobil jadi kamu gak bakal kedinginan." ucapnya lembut.
__ADS_1
Nisa pun masuk kedalam mobil Adam yang pintunya sudah di bukakan oleh Adam.
Di dalam mobil Adam melirik Nisa saat Nisa hanya diam tanpa ada obrolan. "Kenapa kamu bisa kenal dengan pak Rangga?" tanya Adam to the points.
Nisa menatap ke arah wajah Adam terlihat ia sedang menahan marah nya. "Dia bos aku mas di tempat kerja." jelasnya pada Adam.
"Kenapa kamu bisa datang ke acara seperti itu, apa hubungannya kamu dengan acaranya dan kenapa kamu gak bilang sama mas?" tanya Adam penuh selidik.
"Maaf ya mas aku gak bilang sama kamu nanti aku jelaskan ya sekarang aku capek mas ngantuk..." rengeknya manja.
Adam menghela nafasnya, "Baiklah kamu tidur saja nanti mas bangunin kamu kalau udah sampai." jawabnya lembut, luluh sudah hati Adam ketika Nisa merengek manja seperti tadi.
Nisa menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil dan memejamkan matanya, melihat Nisa memejamkan mata Adam mengusap kepala Nisa yang terhalang jilbab dengan lembut dan penuh kasih sayang.
di tempat lain
Sesampainya Rangga di apartemen nya ia langsung membanting kan tubuhnya ke atas kasur, dia merasa kecewa dan cemburu mengetahui bahwa Nisa sudah bertunangan. "Ah Queen..." panggil Rangga frustasi. "Saya bodoh... bodoh...bodoh, kenapa saat saya jatuh cinta, jatuh cinta saya pada wanita yang sudah bertunangan!" rutuknya dalam hati
***
Pagi harinya pagi-pagi sekali Adam pergi lari pagi di sekitar kompleks perumahan di sekitar tempat tinggalnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan membuat tubuh Adam begitu terasa kaku, ingin mengajak Nisa namun sepertinya gadis itu masih tidur. Maklum hari Minggu bagi anak kuliah seperti Nisa hari dimana menghabiskan waktu hanya untuk beristirahat.
Saat Adam sampai ke kontrakan nya dia melihat Nisa yang sedang berjemur tubuhnya di bawah sinar matahari.
"Kamu lagi ngapain Nisa diem disana ayok sini." ajak Adam untuk mendekat.
"Udara dingin mas aku lagi nyari kehangatan di bawah sinar matahari pagi." jawab nya cengengesan.
Adam geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Nisa pagi ini. "Kamu kedinginan sini mas peluk aja." rayu Adam.
"Ish ish ish mas pagi-pagi udah mesum gitu ih, takut aku." ucap Nisa langsung pergi meninggalkan Adam yang sedang cekikikan.
"Nisa... hey kamu mau kemana mas cuma bercanda ih." aku Adam lalu ia pun mengejar Nisa yang pergi dengan cepat masuk ke kontrakan nya dan mengunci pintunya.
"Nisa buka pintu nya mas cuma bercanda kok mana berani mas begitu sama kamu, ayok buka pintu nya kita sarapan ya mas udah beli makanan buat kita berdua." ucapnya pelan.
__ADS_1
"Kenapa mas lagi berantem ya sama mba Nisa?" tanya seorang tetangga yang mengetahui drama pagi Adam dan Nisa, mereka sudah tahu hubungan antara Adam dan Nisa karena kedekatan mereka.
"Gak kok kita lagi belajar akting." jawab Adam datar. Adam pun mengirimkan pesan namun pesan nya tidak di baca sama sekali. Adam menghela nafas berat. "Nyesel banget ni kenapa otak jadi mesum begini sih ah kenapa mesti kayak tadi, Nisa jadi marah kan!" batin Adam, lalu ia pun memukul kepalanya pada pintu Nisa yang tertutup.
Ketika Adam melangkah pergi meninggalkan pintu Nisa terdengar sebuah pintu di buka. "Mas ngapain sih gedor-gedor pintu aku malu tahu mas berisik lagi."
"Maafin mas ya tadi mas bercanda kamu gak marah kan?" tanyanya Adam penuh sesal.
"Aku gak marah kok tadi aku lari karena aku gak kuat pengen ke toilet." jawab Nisa santai.
Adam tersenyum geli mendengar penuturan yang Nisa ucapkan. "Kenapa mas malah senyum-senyum sih ada yang lucu?" tanya Nisa
"Ayok kita makan saja!" ajak Adam masuk kedalam kontrakan Nisa, malu yang Adam rasakan saat ini akan ucapannya.
"Nisa apa kamu siap nikah sama mas?" tanya Adam saat mereka sudah selesai makan.
"Emh insya Allah mas atas ijin Allah aku siap." ucapnya mantap.
"Kamu gak apa-apa kalau nikah muda, secara kamu masih muda dan kuliah juga baru mau lulus, sedangkan mas kan umurnya jauh sama kamu?" tuturnya.
"Ya menikah kan sunah Rasulullah lagi pula pacaran setelah menikah itu lebih aman dan juga berpahala, terus aku juga menemukan calon yang sudah Allah berikan untuk aku." ujar Nisa.
"Apa calon yang kamu maksud itu mas?" tanya Adam meyakinkan. Nisa pun mengangguk tanda bahwa calon yang di maksud adalah benar Adam.
"Kalau begitu bagaimana pernikahan kita secepatnya saja di laksanakan?"
"Sabar lah mas aku bentar lagi skripsi, aku ingin ketika menikah aku sudah lulus kuliah jadi aku bisa fokus menjalani rumah tangga nanti nya." Nisa menjelaskan.
Adam tersenyum simpul, "Ya mas akan sabar menunggu kamu." jawabnya lembut.
"Oh ya mas waktu kita ketemu di mini market depan kamu kan ngobrol sama perempuan itu siapa kamu mas?" tanya Nisa penasaran ia pun menatap Adam sambil memiringkan kepalanya penasaran dengan jawaban nya.
"Maksud kamu Celia? Dia itu perempuan yang suka sama mas tapi mas gak suka, terlalu sexi dan overprotektif." sahut Adam datar.
Nisa hanya manggut-manggut, "Aku kira itu pacar mas Adam, soalnya aku lihat dia manja-manja gitu sama kamu mas!" ucapnya pilu.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" goda Adam.
Nisa melengoskan wajah nya menyembunyikan bahwa ia sedang cemburu.