
Seminggu sudah berlalu dan seminggu ini tidak ada kabar dari Aris atau pun terlihat batang hidungnya sedikitnya pun membuat Via berpikir yang macam-macam dan aneh tentang Aris.
"Kenapa dia gak kasih aku pesan apapun, chat atau telepon kek. Terlihat orang nya tidak sama sekali. Kemana dia? Apa dia menyerah untuk menikah dengan ku?" batin Via seraya mengotak atik handphone nya tidak jelas. Via tersenyum sinis. "Baru di suruh bertemu dengan kedua orang tua ku saja sudah menghilang seperti itu apalagi kalau nanti menikah sepertinya dia akan kabur!" kesal Via.
"Ah aku juga sih yang bodoh bisa-bisanya mau menerima penawaran dia dulu!" Via menggerutu kebodohannya sendiri.
"Ya Allah kenapa aku selalu saja berhadapan dengan laki-laki seperti itu terus, apa aku pernah menyakiti hati laki-laki tanpa aku sadari." lirih Via bergumam.
"Hallo suster Via... dari tadi saya perhatikan kamu melamun saja, apa ada masalah?" sapa dokter Lucky menyadarkan Via dari lamunannya.
"Eh iya dok ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Via seraya merapikan tempat dimana ia duduk karena terlihat berantakan.
"Tidak ada, saya hanya kebetulan lewat sini saja dan saya lihat kamu lagi melamun jadi saya menyapa kamu saja." balas nya.
"Oh, emh... saya tidak melamun kok hanya sedang mengecek berkas pasien saja." elak Via gugup.
"Oh seperti itu, kalau ada masalah kamu bisa cerita sama saya, siapa tahu saya bisa bantu kamu." tawar nya dengan senyuman.
"Tidak ada kok dokter." jawabnya cepat.
"Oh ya suster Via, apa sore nanti kamu ada acara?" tanya dokter Lucky menatap wajah Via.
"Sepertinya saya akan pulang dok badan saya kurang enak saya ingin segera istirahat!" tolaknya lembut selembut mungkin agar dokter Lucky tidak sakit hati.
"Oh begitu ya, emh sayang sekali. Ya sudah kamu istirahat saja ya. Mungkin lain kali kamu bisa saya ajak jalan." serunya dengan tersenyum walaupun hatinya kecewa sekali karena setiap kali ia mengajak nya selalu saja ditolak dengan berbagai alasan.
Dokter Lucky pun pergi setelah mendapatkan penolakan dari suster Via itu. "Saya akan cari cara untuk bisa mendapatkan kamu suster Via!" gumamnya seraya melangkah pergi menjauh dari Via berada.
"Maaf ya dokter Lucky, aku sudah berulang kali menolak anda." gumam Via. Via menghela nafasnya panjang. "Ntah kenapa menerima anda di hati saya itu begitu sulit padahal anda sudah lama sekali memiliki perasaan pada saya." batin Via.
"Seharusnya aku menerima dia yang lebih dulu ku kenal tapi kenapa aku malah menerima penawaran bodoh tentara mesum itu?" Via sedikit kesal dan masih bingung dengan hatinya kenapa dia malah menerima Aris yang akan menjadi mempelai laki-laki pengganti Tama. Via pun membuang nafas nya kasar.
"Via tolong bantu saya ya bawakan berkas ini ke ke tempat nya!" salah seorang rekan Via meminta tolong padanya dan dengan cepat ia pun membantu rekan nya itu.
Di tengah perjalanan membawa berkas Via yang mengikuti langkah rekannya itu, dengan melewati ruangan persalinan dan disanalah ia melihat laki-laki yang selama ini ada di pikirannya, laki-laki yang ntah kemana dan tidak jelas apa yang di lakukan nya selama dia tidak menampakan dirinya, membuat Via terkejut melihatnya.
"Sedang apa dia disini? Ini kan tempat ibu melahirkan! Siapa yang ia tunggu!" pertanyaan dan pertanyaan bermunculan di pikirannya Via saat ia melihat Aris terlihat panik menunggu di ruang tempat melahirkan.
"Suster Via ayok! Kamu kenapa malah bengong di situ?" ajak rekan Via membuyarkan lamunan nya.
"Eh i...iya!" sahut Via cepat seraya melangkah kaki nya lagi mengikuti rekannya itu.
***
__ADS_1
Via saat ini sudah berada di ruangan kerja nya. Ia masih penasaran siapa yang Aris tunggu di tempat ruangan ibu melahirkan, dan selintas ia melihat Aris begitu panik seraya mondar-mandir di depan ruangan tunggu.
"Siapa yang ia tunggu disana? Apa jangan-jangan... Ah tidak-tidak! Tapi... kenapa dia begitu khawatir saat menunggu." batin Via.
"Ah dasar laki-laki kurang ajar! Dia ternyata sudah punya istri dan di dalam ruangan itu adalah istrinya yang akan melahirkan." emosi Via mengingat Aris yang terlihat panik tadi. "Pantas saja selama seminggu ini dia tidak ada kabar sama sekali ternyata sekarang aku tahu apa alasannya! Benar-benar laki-laki kurang ajar dia lebih berengsek dari Tama." Via benar-benar kecewa marah dan juga emosi pada Aris saat ini.
Dua hari setelah kejadian dimana Aris sedang menunggu di rumah sakit ia teringat akan pacar barunya yang sangat ia rindukan. Sudah lama sekali ia tidak memberikan kabar padanya apalagi bertemu dengan nya.
Selama seminggu ini ia di sibukkan dengan tugas dinasnya di luar kota tidak memberi kabar pada Via karena ia begitu sibuk dengan tugas nya itu maklum lah dia seorang TNI yang harus mengabdi pada negara dimana ia berada dan kapan pun ia di butuhkan.
Dan hari ini dia akan mengabarkan pada Via bahwa dia akan merencanakan hari dimana ia akan bertemu dengan kedua orang tua Via untuk memastikan bahwa dia benar-benar serius pada Via.
Aris mencoba menelpon pada nomor Via namun tidak ada jawaban dari si pemilik nomor tapi di lihat Via sedang online berarti tandanya jika si pemilik nomor sedang tidak sibuk, ntah kenapa dia tidak menjawab panggilan Aris.
"Sedang apa dia? Kenapa dia tidak menjawab telepon ku, apa aku harus datang ke kosannya ya? Apa dia sedang ada di kosan?" berbagai pertanyaan ada di otak Aris saat ini.
"Ah aku ke kosan nya saja siapa tahu dia ada di sana!" ucapnya seraya mengambil kunci mobil yang akan ia kendarai.
Tak cukup lama Aris pun sampai di depan gerbang kosan dimana Via tinggal. Dia langsung memanggil pak penjaga kosan menanyakan keberadaan Via apa ada di kosan atau tidak.
"Tadi sih saya lihat mba Novia ada di kamarnya baru saja pulang dari luar katanya habis beli makan." jawab penjaga kosan saat ia di tanya keberadaan Via.
"Bisa gak pak panggilkan Via kesini saya mau bertemu dengan nya." pinta Aris menyuruh penjaga itu.
"Kenapa gak di telpon saja pak." usulnya.
"Bukan gak mau bantu pak hehe. Sebentar saya panggil kan ya bapak masuk saja dulu tunggu di depan ruang tamu disana!" tunjuk nya dan di ikuti oleh Aris ia menunggu di tempat penjaga yang dia tunjuk.
"Bagaimana pak?" tanya Aris cepat saat ia melihat pak penjaga itu menghampiri nya.
"Maaf pak mba Novia nya lagi gak mau di ganggu katanya lagi gak enak badan." sahut pak penjaga itu.
"Sakit? Sakit apa pak?" tanyanya lagi merasa khawatir.
"Lah saya gak tahu kan bapak sendiri pacarnya mba Novia masa gak tahu pacar nya lagi sakit. Lagi marahan ya pak?" tanya penjaga itu dengan menatap wajah Aris penuh serius dan agak takut juga saat bertanya.
"Gak ah, kita baik-baik aja kok. Pak boleh gak saya temuin Via dikamar nya?" pinta Aris.
"Jangan pak disini ada peraturan jika laki-laki yang bukan muhrimnya di larang masuk Kalau gak darurat." jawab si bapak penjaga.
"Itu bapak sendiri bisa masuk kan bapak bukan muhrim!" sergah Aris tidak terima.
"Iya kan saya penjaga kosan ini pak. Bagaimana sih bapak!" sebal pak penjaga.
__ADS_1
Aris menghela nafasnya kasar. "Bagaimana aku bisa masuk, aku penasaran kenapa Via tidak mau bertemu dengan ku dan dia juga gak jawab panggilan telepon ku." batinnya.
"Pusing kalau udah kayak gini, punya pacar ternyata ribet, untung nya sayang!" gumam Aris kesal sendiri si bapak penjaga tersenyum saja mendengar ucapan Aris seperti itu.
Aris pun masuk ke dalam mobilnya. Ia akan menunggu Via yang sedang merajuk ntah karena apa ia pun tak mengerti. "Semoga kamu keluar Via..." ucap Aris pelan seraya menyenderkan kepalanya pada kursi mobil nya.
Dua jam kemudian Via yang keluar ia berniat pergi ke mini market untuk mencari keperluan sehari-hari nya. Dengan tidak tahu jika Aris masih berada di dekat kosan nya menunggu nya sampai berjam-jam disana.
Via berjalan kaki saja karena mini market dekat dengan kosan nya. Saat itu Aris pun melihat Via dengan santainya berjalan tidak sadar ia melewati mobil Aris yang terparkir disana.
Aris dengan cepat dan buru-buru ia memanggil nama Via. "Via tunggu!"
Via menoleh melihat siapa yang memanggil namanya setelah melihat orang itu ternyata Aris ia sedikit terkejut karena keberadaan nya di sini. Via pun dengan cepat menoleh kembali pada pandangan semula lalu ia pun melangkah dengan cepat tanpa menghiraukan panggilan Aris.
Aris mengejar Via yang tidak menghiraukan panggilan nya itu sedikit berlari karena ingin tahu apa yang membuat Via marah dan tidak mau menemui nya.
Setelah langkahnya sedikit di belakang tubuh Via Aris pun menarik tangan Via untuk menghentikan langkah Via itu. "Kata penjaga kosan kamu sakit, sakit apa? Kenapa lagi sakit kamu keluar? Kamu mau kemana?" rentetan pertanyaan itu ia berikan pada Via.
Via merasa jengah melepaskan tangan Aris yang memegangnya itu dengan kasar. "Jangan pegang-pegang tangan saya! Saya tidak suka dengan laki-laki kurang ajar seperti anda ini." ucapnya kesal namun tidak mampu menatap ke arah wajah Aris.
"Apa maksud kamu? Saya tidak mengerti kesalahan saya apa sama kamu, tiba-tiba kamu tidak mau bertemu dengan saya." balas Aris tidak mengerti maksud Via apa.
"Anda jangan pura-pura, anda itu laki-laki yang saya kenal lebih berengsek dari Tama!" kesal Via karena Aris masih tidak mengerti apa yang membuat dia marah.
"Berengsek apa? Coba kamu jelaskan! Ayok kita bicarakan ini baik-baik!" balas Aris lembut menenangkan Via yang sedang emosi menuntun nya agar masuk ke dalam mobilnya. Malu rasanya jika bertengkar di pinggir jalan seperti ini membuat orang-orang disana memperhatikan mereka berdua.
"Ayok coba sebutkan apa kesalahan saya yang membuat kamu marah?" tanya Aris ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Anda masih belum sadar apa kesalahan anda!" kesal Via berucap.
"Saya gak ngerti apa kesalahan saya sama kamu makanya saya tanya sama kamu?" jawab Aris melembutkan perkataan nya.
Via masih kesal wajah nya ia tekuk tanpa mau memandang Aris yang terlihat frustasi.
"Ok, saya minta maaf kalau saya membuat kamu kesal dan marah, dan maaf juga jika saya punya salah sama kamu!" ucapnya lirih.
"Saya selama seminggu ini sibuk karena tugas dinas saya. Maaf saya tidak memberikan kabar sama kamu selama itu. Saya tahu pasti kamu tidak akan peduli dengan urusan saya makanya saya tidak memberi kabar sama kamu." ucapnya menjelaskan pada Via yang masih melihat ke arah luar jalanan.
"Saya juga gak kasih kabar lewat chat atau telepon kamu karena disana susah sekali dapat sinyal, saya jadi susah untuk memberi pesan atau pun hubungi kamu, Maaf!" ucapnya lirih seraya menghela nafasnya pelan.
Via terdiam apa dia harus percaya dengan perkataan Aris ini atau tidak, namun ada satu lagi hal yang membuat ia bertanya-tanya padanya namun via tidak berani mengutarakan pertanyaan nya pada Aris itu.
"Apa kamu percaya suster Via, saya benar-benar pergi bertugas maaf karena saya menduakan kamu dengan pekerjaan saya, karena saya menomorsatukan pekerjaan dari pada kamu. Tapi percayalah saya tidak akan menduakan cinta." jelas Aris sejelas jelasnya dengan tegas ia utarakan isi hatinya.
__ADS_1
"Anda tidak usah repot-repot menjelaskan pada saya toh kita menikah pun karena sebatas penawaran yang menguntungkan untuk kita masing-masing." ujar Via datar tanpa menatap ke arah Aris.
Aris mengusap mukanya dengan kedua tangan nya mencoba untuk bersabar menghadapi perempuan yang ada di hadapannya ini, ntah kenapa setiap Via berkata seperti itu membuat Aris merasa pilu seakan pernikahan ini terpaksa, ya memang terpaksa!