
Tama tersenyum sinis menatap wajah Via mantan kekasihnya itu. Via memang cantik sangat cantik malah kecantikan nya itu alami dan natural namun ntah kenapa ia merasa bosan saat berhubungan dengan nya akhir-akhir ini.
"Kamu mau tahu apa yang membuat ku jenuh bersamamu?" tanya Tama dengan menatap wajah Via yang cantik itu.
Via menatap balik pada mantan tunangan nya itu menatapnya dengan penuh kebencian. "Apa?" tanya Via ketus.
"Kamu ingat masa-masa kita dulu. Saat aku ingin bertemu dengan mu tapi kamu datang dengan terlambat padahal aku sudah menunggu mu begitu lama. Dan kamu datang dengan alasan kamu menolong orang yang sedang kecelakaan." tanya Tama mengingat kan pada masa lalu mereka.
"Iya aku ingat!" sahut nya cepat. "Memang nya apa salahnya aku menolong orang toh ini memang pekerjaan ku." tambah nya.
Tama tersenyum simpul menyenderkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. "Aku seperti orang bodoh yang menunggu mu, kamu seakan tidak peduli dengan kehadiran ku saat itu, tidak hanya sekali kamu seperti itu tapi berkali-kali." jelasnya kesal.
"Kamu sudah tahu pekerjaan ku dari dulu malah dulu kamu sangat mendukung ku, sejak aku pertama masuk kuliah akademi perawatan kamu begitu menyemangati ku sampai aku bekerja di salah satu rumah sakit kamu selalu mendukung ku tapi kenapa baru sekarang kamu mempermasalahkan pekerjaan ku?" tanya Via sinis.
"Tapi kamu lebih sibuk dengan pekerjaan mu itu sampai kamu tidak ada waktu bersama ku." jawabnya masih dengan pendiriannya.
"Sudah lah aku tidak mau berdebat lagi dengan kamu, aku bisa terima jika kak Tama mau memutuskan pertunangan kita, tapi asal kak Tama tahu sesibuk pekerjaan ku aku tidak pernah lupa dengan kamu bahkan aku yang selalu memberikan pesan padamu sebagai bukti aku tidak lupa dengan tunangan ku. Tapi mungkin itu tidak cukup untuk aku meyakinkan kak Tama itu sebagai bukti kesetiaan ku." jelas Via dengan hati yang mulai terasa sakit.
"Jadi kamu masih menuduh aku sebagai laki-laki yang tidak setia begitu?" tanya nya kesal.
"Aku tidak bilang kamu laki-laki tidak setia, tapi kak Tama juga jangan selalu menyalahkan aku disini karena aku juga mencoba menjaga hubungan kita agar lebih baik lagi, karena hubungan kita dulu yang berjauhan, aku kira sekarang aku bekerja disini bisa lebih dekat dengan kak Tama namun nyatanya aku jadi tahu jika kak Tama memiliki perempuan lain di hati kak Tama." jawab Via menahan rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
Aris yang mendengar perdebatan antara Via dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu ia jadi merasa tidak enak hati sudah mendengar masalah pribadi mereka. "Mereka seperti nya sedang ada masalah." batin Aris tersenyum simpul. "Cinta... cinta... Satu kata beribu arti." batinnya lalu Aris pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari sana ia tak mau ikut campur urusan orang lain.
Sedangkan Via dan Tama masih bersitegang dengan masalah yang saling tidak mau kalah.
"Cukup! Aku sudah tidak mau lagi melihat kamu aku akan melupakan mu, dan satu lagi aku akan mendoakan mu agar selalu bahagia dengan kekasih barumu itu." ucap Via mengakhiri perdebatan mereka lalu dia pun pergi meninggalkan Tama yang masih kesal dengan membawa barang-barang pemberiannya yang Tama kembalikan itu.
"Dasar laki-laki berengsek tidak punya hati." gerutu Via kesal dengan pada mantan tunangannya.
Via berjalan menuju danau yang tidak jauh dari cafe itu, dengan memegang barang-barang Tama yang ia berikan dulu. Via mencoba sekuat mungkin menerima kenyataan ini.
"Hah!" Via membuang nafas nya kasar ia mencoba menenangkan hatinya di kursi dekat danau itu, disana terlihat sepi karena sudah hampir sore. Via melihat barang-barang Tama yang pernah ia berikan, yang berada di tangan nya itu sekilas memori tentang hubungan mereka dahulu yang manis terbersit di otak Via.
"Kamu harus tenang Via... kamu harus kuat dia bukan laki-laki yang baik untuk kamu." gumamnya pelan menguatkan dirinya sendiri.
Via melihat sekelilingnya namun ia tidak melihat ke belakang. "Dasar laki-laki berengsek kamu Tama... aku gak akan maafkan kamu, aku benci sama kamu, laki-laki tidak punya perasaan tidak punya hati, egois." teriak Via penuh kebencian dan kekesalan.
"Laki-laki di dunia ini sama tidak punya hati, egois dan berengsek!" tambahnya penuh emosi. "Ah aku benci kalian semua!" ucap Via terlintas ia juga mengingat laki-laki yang akhir-akhir ini selalu menyebalkan dan membuat nya kesal.
"Ekhemm...!" Suara deheman seorang laki-laki yang berada di sampingnya, dan dengan santainya berdiri dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya serta tatapan mengarah ke depan dimana danau di depan nya yang terlihat. "Jangan tangisi laki-laki berengsek itu, sayang kan air matamu di buang untuk laki-laki seperti dia." ucap si laki-laki tersebut.
Via menoleh pada sumber suara yang ia dengar. Dengan mengerlingkan matanya malas setelah ia tahu laki-laki yang ada di samping nya itu. "Bukan urusan anda!" sahut Via ketus menatap ke arah depan.
__ADS_1
"Memang ini bukan urusan saya, tapi tadi saya tidak sengaja mendengarkan ucapan kamu menjelekkan kaum laki-laki. Saya sebagai kaum laki-laki merasa tersinggung dengan ucapan kamu itu!" ucapnya kesal.
Via berdiri dari tempat ia duduk lalu mendekat ke arah laki-laki itu yang sedang berdiri di sampingnya tadi lalu Via menghampiri nya dan berdiri di hadapannya menatap ke arah wajah nya dengan penuh emosi.
"Oh jadi anda merasa tersinggung? Berarti anda mengakui bahwa anda laki-laki brengsek seperti tadi yang saya ucapkan!" balas nya kesal.
"Maksud kamu apa?" tanyanya tak mengerti. "Laki-laki di dunia ini tidak sama seperti tunangan kamu itu." tambahnya "Banyak laki-laki yang baik di dunia ini hanya kamu tidak beruntung saja bisa kenal dengan laki-laki yang baik." jelas nya kesal.
"Anda jangan ikut campur masalah pribadi saya ya, anda bukan siapa-siapa saya kenapa anda ikut campur anda sudah menguping kan?" tanyanya dengan telisik. "Sampai anda tahu masalah saya apa!" tambahnya dengan gerutuan.
"Saya tidak mau ikut campur urusan orang termasuk urusan kamu, tapi tadi saya tidak sengaja mendengar, itu saja." jelasnya.
"Lalu anda mau apa kesini? Mau buat saya semakin kesal hah? Dasar laki-laki berengsek, laki-laki tidak punya hati, laki-laki tidak berperasaan!" ucapnya penuh emosi dengan menunjuk-nunjuk telunjuknya di depan wajah nya yang begitu dekat.
Laki-laki itu tersenyum sinis. "Pantas saja dia meninggalkan kamu dengan perempuan lain. Mana ada laki-laki yang betah dengan perempuan galak dan angkuh seperti kamu!" ucapnya dengan wajah di hiasi senyum sinis.
Via menatap dengan geram pada laki-laki itu, rasanya kekesalan dalam hati dan otaknya sudah naik ke ubun-ubun dan ingin segera meledak. "Dasar laki-laki berengsek, anda kalau tidak tahu awal ceritanya jangan sok sok an merasa benar dan percaya diri merasa paling benar." ucap Via dengan emosi yang mulai meledak dan tak henti-hentinya Via berbicara.
Melihat Via yang begitu marah dan emosi dengan perkataan yang menyakitkan membuat laki-laki itu dengan cepat mencium bibir Via yang sedang berbicara dengan pedas. Melihat mulutnya yang seperti komat-kamit membaca mantra seperti ada daya tarik untuk laki-laki itu ingin mencium nya agar ia bisa membungkam mulutnya yang berbicara yang begitu pedas dan menusuk ke hati.
Via mendorong tubuh laki-laki itu dengan keras ke belakang saat ia berhasil mencium bibir nya itu. Rasa kesal dan marah semakin menjadi yang kini Via rasakan. "Kurang ajar!" plak... Sebuah tamparan tangan Via melesat pada pipi laki-laki itu begitu keras. "Laki-laki berengsek, sihalan!" geram Via pada laki-laki itu menghapus bekas ciuman bibir laki-laki itu pada bibirnya dengan cepat dan kasar.
__ADS_1