
Setibanya di rumah sakit Aris langsung memanggil seorang perawat yang sedang bertugas di sana, dengan sigap dan cepat perawat itu membawa brangkar untuk membawa pasien yang sedang tidak sadarkan diri. Via pun di bawa oleh perawat tersebut dan Aris pun ikut mendorong brangkar yang membawanya istrinya itu dengan melihat wajah istrinya yang putih pucat seperti kapas ia jadi merasa khawatir akan istrinya itu.
"Bapak tunggu di sini saja ya pak biar kami yang memeriksa istri anda dahulu di dalam." ucap salah satu perawat yang melarang Aris saat ia akan ikut masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Aris mengangguk pelan. "Tolong istri saya suster!" ucap Aris memohon.
"Baik pak, silahkan anda menunggu di ruang tunggu!" balas suster itu dengan sopan.
Aris menghirup nafas nya dalam-dalam. "Sayang kamu kenapa? Aku harap kamu baik-baik saja." gumamnya penuh harap.
Aris panik dan khawatir karena ini kali pertamanya istrinya tiba-tiba pingsan, ia jadi ingat saat istrinya pingsan saat Via terlalu banyak masuk air saat dia tidak bisa berenang. Tapi saat ini istrinya itu pingsan secara tiba-tiba padahal tadi ia melihat istrinya seperti baik-baik saja.
"Apa dia lelah karena bertengkar dengan ku tadi pagi?" batin Aris semakin khawatir dan menyalahkan dirinya sendiri.
Aris frustasi dan gusar saat istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Lama sekali dokter memeriksa istriku, semoga saja istri ku baik-baik saja."
Saat Aris mondar-mandir tidak jelas karena dokter dan para perawat yang memeriksa Via tak kunjung keluar, tidak lama seorang suster keluar memanggil nama keluarga Via. "Dengan keluarga ibu Novia!" ucap nya.
Aris yang merasa keluarga Via di panggil langsung menghampiri suster tersebut. "Bagaimana sus keadaan istri saya, dia baik-baik saja kan?" tanya Aris penuh ke khawatiran.
"Ibu Novia sudah sadar anda tidak usah khawatir. Silahkan anda masuk ke dalam saja dokter yang menangani ibu Novia ingin berbicara dengan anda." ucap suster itu dengan ramah.
"Baik." jawab Aris dengan mengikuti apa yang di perintahkan suster tersebut.
Di dalam ruangan Aris melihat Via tengah terbaring lemah dengan muka pucat melihat ke arahnya. Lalu Via tersenyum tipis pada suaminya itu yang terlihat penuh ke khawatiran pada nya.
Dokter melihat juga ke arah Aris yang datang ke ruangan bersama suster tadi. Aris menghampiri Via yang sedang terbaring lemah itu menggenggam tangan dingin istrinya dengan erat dan penuh kelembutan.
"Anda suaminya ibu Novia?" tanya dokter yang menangani Via.
"Iya dok saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya dok apa dia baik-baik saja?" Aris dengan tidak sabar menanyakan keadaan istrinya itu.
"Istri anda baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya... anda sebagai suami harus bisa menjaga istri anda dengan baik ya pak jangan membuat istri anda stres atau pun kesal apalagi membuat istri anda lelah." ujar dokter itu membuat Aris mengerutkan keningnya heran, dokter itu mengatakan jika istrinya itu baik-baik saja tapi dia bilang seperti itu membuat Aris bertanya penyakit apa yang di derita istrinya.
"Emh baik dok saya akan menjaga istri saya dengan baik, tentu saja!" ucapnya cepat menatap wajah Via dengan lembut. "Lalu kenapa istri saya bisa pingsan seperti ini dok, karena istri saya pingsan secara tiba-tiba." sambung nya.
Dokter itu tersenyum melihat Aris seperti itu. "Selamat ya pak istri anda sedang hamil." menatap ke arah Aris. "Selamat ya ibu Novia Anda sedang hamil." menatap ke arah Novia.
__ADS_1
Aris ternganga dengan apa yang ia dengar dari dokter itu yang mengatakan bahwa istrinya itu sering hamil. "Dokter apa saya tidak salah dengar! Istri saya benar-benar sedang hamil?" tanya Aris meyakinkan dokter itu.
"Iya saya serius, istri anda sedang hamil dan usia kehamilan ibu Novia baru 8 Minggu. Rasa mulas yang tadi ibu Novia rasakan itu karena ibu Novia kelelahan atau merasa stres sehingga istri anda sedikit mengalami kontraksi dini, dan ibu Novia ini juga mengalami plek. Untung saja anda segera membawa ibu Novia ke rumah sakit." ujar dokter itu menjelaskan. "Saya sudah menyuntikkan obat penguat untuk kandungan istri anda tapi untuk saat ini istri anda harus banyak istirahat jangan terlalu banyak bergerak agar tidak mengalami pendarahan lagi." tambahnya.
Aris terus menggenggam tangan istrinya itu. Mereka saling pandang karena kabar ini benar-benar tidak terduga oleh mereka berdua.
"Nanti ibu Novia akan di pindahkan ke ruang perawatan inap, untuk sementara ini ibu Novia harus di rawat karena supaya kita tahu apa ibu Novia mengalami pendarahan lagi atau tidak." Tapi saya harap pendarahan ibu Novia ini tidak terjadi lagi ya Bu pak." ucap dokter lembut. "Sekarang ibu bed rest ya sampai pendarahan nya tidak terjadi kembali. Kalau begitu saya permisi ya Bu pak?" pamit nya.
"Terima kasih dok." ucap Aris dan di angguki oleh dokter itu.
Setelah dokter dan suster tadi yang menangani Via pergi Aris langsung menatap ke arah Via dengan tatapan mata yang sangat tajam membuat Via yang di tatap suaminya seperti itu menjadi takut. "Kenapa kamu menatap ku seperti itu?" tanya Via gugup dan salah tingkah.
"Kamu tahu apa kesalahan kamu hari ini?" tanya Aris dengan wajah yang sangat serius.
Via diam saja mendapatkan pertanyaan dari suaminya itu. "Jangan bilang kalau kamu baru pertama kalinya membawa motor ku sendirian?" tanya Aris lagi.
"I...iya memang itu pertama kalinya aku mengendarai motor kamu sendirian, kamu tahu sendiri kan aku hanya bisa membawa motor matic saja." sahut Via pelan.
Aris menghela nafasnya berat. "Aku ingin kejadian ini pertama dan terakhir kalinya kamu berbuat seperti itu, bagaimana kalau tadi kamu jatuh saat membawa motor ku dengan cara kebut-kebutan seperti tadi pagi, bahkan kamu juga tidak memakai helm. Ya ampun sayang kamu tahu tadi aku sangat khawatir melihat kamu mengebut seperti itu di jalanan dan lebih terkejut lagi setelah aku tahu kalau sekarang kamu sedang hamil." ucap Aris tegas tidak mau ada pembatahan dengan nada sedikit frustasi.
Aris menghirup nafas nya dalam-dalam. "Iya memang kejadian ini, aku juga salah karena membuat kesalahpahaman ini terjadi, aku juga minta maaf ya, aku juga sudah membuat kamu menjadi curiga. Aku harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi." dengan lembut Aris berucap karena memang bukan istrinya saja yang salah tapi dirinya pun juga salah.
Via tersenyum tipis melihat suaminya itu juga merasa bersalah. Lalu Aris pun menggenggam tangan Via dan menciumi seluruh wajah istrinya dengan gemas karena istrinya itu sudah membuatnya khawatir. "Kamu tahu kejadian hari ini membuat perasaanku campur aduk, rasa khawatir, kesal dan juga bahagia menjadi satu." ucap Aris pelan menatap kedua mata istrinya.
"Iya aku gak nyangka ternyata aku sedang hamil, mungkin rasa mulas di perut ku dan pendarahan ini akibat aku mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Aku menyesal sekali... kalau saja aku tahu aku sedang hamil mungkin aku tidak akan melakukan hal seperti ini." lirih Via penuh penyesalan.
"Sudah, kamu tidak usah bersedih seperti itu, yang terpenting sekarang kamu dan juga calon anak kita ini baik-baik saja." Aris berkata seraya mengelus perut Via yang masih rata itu. "Dan sekarang kamu harus banyak istirahat, ingat jangan membuat ku khawatir, dan jangan memikirkan sesuatu yang membuat kamu stres dan bersedih." sambungnya dengan penuh kelembutan seraya mengusap kepala Via dengan sayang.
"Saat mereka sedang berbicara seorang suster datang menghampiri Aris dan juga Via, ia mengatakan bahwa Aris harus menyelesaikan administrasi dan juga menyelesaikan proses untuk kamar inap yang akan Via tempati.
"Sayang aku ke tempat administrasi dulu ya, kamu gak apa-apa kan kalau sendiri di sini? Kalau ada apa-apa langsung panggil suster dulu ya sebelum aku kembali." ijin Aris pada Via dan di angguki oleh Via.
Aris pun keluar ruangan dimana Via berada menuju tempat administrasi untuk mengurus segala kebutuhan Via selama ia di rawat di rumah sakit. Saat Aris sudah selesai mengurus apa yang diperintahkan oleh dokter dan juga petugas yang bekerja di sana. Aris tidak sengaja bertemu dengan Nisa dan juga Adam.
"Nisa pak Adam!" sapa Aris pada mereka berdua.
"Aris kamu sedang apa di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Nisa penasaran.
__ADS_1
"Emh Via istriku, kalian berdua sedang apa di sini? Siapa yang sakit?" tanya Aris menatap Nisa dan juga Adam bergantian.
"Aku sama mas Adam cuma cek up aja kok, dada mas Adam suka tiba-tiba sakit, mungkin karena dulu pernah tertembak. Tapi kata dokter sih keadaan mas Adam baik-baik saja." ujar Nisa menjelaskan. "Via sakit apa Aris?"
"Syukurlah pak, kalau anda baik-baik saja. Istriku sedang hamil tapi ia mengalami pendarahan, dokter menyarankan untuk di rawat dan bed rest." jawab Aris dengan nada sendu.
"Via hamil? Selamat ya akhirnya Aris junior akan hadir." seru Nisa dengan ekspresi bahagia membuat Aris mengernyitkan dahinya.
"Sayang..." panggil Adam gemas melihat istrinya seperti itu karena berlebihan sekali ekspresi nya.
"Aku bahagia mas akhirnya Via hamil juga. Kita tengok dulu yuk mas aku mau ketemu Via juga." ajak Nisa pada suaminya penuh bersemangat. "Bolehkah Ris aku menjenguk Via, hanya sebentar kok!" ujarnya.
"Boleh Nisa silahkan!" sahut Aris dengan tersenyum.
Tidak lama mereka pun sampai di depan ruangan dimana Via sedang terbaring lemah. "Via sayang, lihat ada pak Adam dan juga Nisa, mereka ingin menjenguk kamu." ucap Aris memberi tahu pada Via.
Via tersenyum melihat ke arah Nisa dan juga Adam. "Nisa..." panggil Via dengan ekspresi senang melihat Nisa. "Kamu apa kabar Nisa pak Adam?" tanya Via dengan tersenyum.
"Kami baik Via alhamdulilah. Aku dengar kamu sedang hamil aku senang mendengar nya tapi kamu harus banyak istirahat ya Via jaga kandungan kamu dengan baik." ucap Nisa tulus.
"Iya Nisa terima kasih ya sudah menjenguk ku pak Adam terima kasih." ucap Via menatap ke arah Nisa dan juga Adam.
"Tunggu! Kalian seperti sudah akrab sekali. Apa kamu dan Nisa sering bertemu?" tanya Aris menatap wajah Via.
Bukan Via yang menjawab malah Nisa yang gregetan karena Via diam saja saat di tanya oleh Aris. "Hahaha Aris bagaimana kita tidak dekat dan akrab Via kan sudah pernah menginap di rumah ku, iya kan Via?" tanya Nisa menatap Via tanpa beban.
Via menjadi gugup saat Nisa tidak tahu jika dirinya tidak pernah bercerita pada suaminya pernah menginap di rumahnya. "Emh.." Via gugup menatap ke arah pak Adam dan juga Nisa yang sepertinya lupa akan permintaan nya dulu.
"Sayang kamu tidak pernah bercerita jika kamu pernah menginap di rumah Nisa dan juga pak Adam." tanya Aris penasaran karena dia tidak mengetahuinya.
"Emh... aku lupa!" sahut nya gugup membuat Aris merasa heran dengan Via Nisa dan juga Adam yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.
Nisa yang baru menyadari jika Via belum menceritakan kepada Aris pun menjadi bingung dan merasa bersalah karena ucapannya itu. "Emh begini Aris, anakku kan menangis terus dan aku bingung harus berbuat apa karena waktu itu mas Adam juga sedang pergi bertugas, dan kebetulan Via ada di rumah ku, jadi aku di bantu Via untuk menenangkan anakku yang sedang menangis itu." tutur Nisa menjelaskan namun sedikit gugup.
"Apakah benar yang di bicarakan kamu Nisa? Kalian tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan dariku?" tanya Aris semakin penasaran.
"Benar itu sayang?" tanya Aris menatap Via dan di angguki pelan oleh Via. Namun Aris tidak percaya begitu saja, ia jadi mengingat saat Via bilang jika dia menginap di tempat Sofi tapi ia mendengar tangis seorang bayi dan terdengar juga suara seorang perempuan. "Aku harus menanyakan hal ini pada pak Adam!" batin Aris dalam hatinya melihat ke arah Adam dan Adam yang merasa di perhatikan pun hanya tersenyum kaku.
__ADS_1