
"Woy...! Kenapa kamu dari tadi diam begitu, siapa sih yang telepon tegang banget sih tuh muka!" tanya Sofi serius melihat Via langsung terdiam setelah menjawab telepon nya.
Via menghela nafasnya panjang dan mendongakkan wajahnya ke atas sambil memejamkan matanya lalu memijat pelipis nya. "Bunda aku yang telpon Fi barusan, aku di suruh pulang nanti. Aku bingung mesti gimana ya?" jawabnya lemas.
"Kamu kan biasa pulang sendiri kenapa bingung begitu? Aneh!" heran Sofi pada sahabat nya itu.
"Aku bingung bukan perjalanan rumah nya Fi tapi aku bingung harus bicara apa sama ayah dan bunda ku soal hubungan aku dan kak Tama yang sudah selesai. Kamu tahu gak tadi bunda aku bilang kalau persiapan pernikahan aku dengan kak Tama itu hampir 60% dan aku di suruh pulang untuk merencanakan acara nya mau di luar atau di gedung dan membicarakan dekorasi seperti apa yang aku mau. Nah aku bingung Fi harus bagaimana?" jelas Via dengan hatinya yang sedang kebingungan itu.
"Jadi kamu belum menceritakan pembatalan pertunangan kamu sama si Tama pada kedua orang tua mu itu?" tanya Sofi menatap Via dan Via menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun Via... mestinya kamu ceritakan soal Tama yang selingkuh itu pada kedua orang tua mu, mereka harus tahu kalau Tama bukan laki-laki yang baik buat kamu." terang Sofi merasa gemas pada sahabat nya itu.
"Aku gak mau kedua orang tua ku sedih, karena merekalah yang paling antusias merencanakan pernikahan ini, kamu tahu sendiri kan aku anak perempuan satu-satunya di keluarga ku dan mereka juga pertama kalinya membuat pesta pernikahan untuk anak perempuan jadi mereka bersemangat sekali saat tahu aku sudah bertunangan dan sudah siap untuk menikah." ujar Via menjelaskan.
"Iya aku tahu itu aku paham. Tapi... orang tua kamu harus tahu bahwa calon mantunya itu laki-laki yang tidak setia. Sepahit apapun kamu harus menceritakan semuanya tentang hubungan kalian yang kandas di tengah jalan itu. Aku yakin kedua orang tua kamu pasti mengerti." ucap Sofi meyakinkan Via agar dia berterus terang.
Ketika mereka sedang berbicara serius di dekat ruangan darurat saat istirahat itu, tiba-tiba ada ambulans yang membawa pasien kecelakaan menuju ruang gawat darurat. Dengan tergesa-gesa petugas ambulans membawa pasien kedalam ruangan gawat darurat.
Sofi yang lebih dulu melihat seorang pasien dengan berlumuran darah itu dengan cepat menghampiri petugas. "Apa pasien korban kecelakaan?" tanya Sofi saat melihat pasien terbaring lemah dengan bersimbah darah di tubuh nya.
"Iya katanya sih kecelakaan motor." sahut si petugas dengan cepat dan di jawab Sofi hanya berohria saja.
"Ada apa sih Fi?" tanya Via saat sahabat itu menghampiri nya.
"Ada korban kecelakaan motor Via tadi aku lihat korban nya laki-laki bersimbah darah, korbannya juga gak sadarkan diri gitu." sahut nya.
"Parah banget ya sampai gak sadarkan diri begitu?" tanyanya dan di angguki oleh Sofi.
Esok paginya di dalam ruangan perawatan ada keributan antara perawat dengan pasien korban kecelakaan yang sudah sadar itu.
__ADS_1
"Ada apa sih kok ribut begitu di dalam tadi?" tanya Via heran ada keributan apa di kamar inap. Via pun bertanya pada salah satu perawat yang sudah keluar dari ruangan itu mencari tahu masalah apa yang membuat kamar inap itu menjadi ribut dan pasien sampai teriak-teriak menyuruh rekan nya itu untuk keluar.
"Ini sus pasien laki-laki yang bernama pak Aris itu tidak mau di suntik, padahal saya mau mengambil darahnya untuk melihat apa dia itu ada alergi atau tidak pada obat tertentu." ujar nya menjelaskan.
"Emh ya kamu jelaskan dong ke pasien itu agar dia mengerti kalau kamu akan memeriksa darah nya." ucap Via.
"Aku udah jelasin tapi dia malah marah-marah, bantuin yuk bujukin pasien supaya mau di suntik dan aku ambilkan darah nya." ajak rekan Via memohon. "Kamu kan paling bisa kalau ngebujuk pasien." tambah nya.
"Lah pasien ini bukannya korban kecelakaan kemarin ya, kemarin dia bisa di suntik di ICU kok sekarang gak bisa." jawab Via aneh.
"Kemarin kan korban masih tidak sadarkan diri dia gak tahu kalau di suntik. Dari semalam setelah ia sadar pasien mau melepaskan infusan nya terus, untung saja keluarga korban selalu menahan nya." jelas rekan Via menjabarkan. "Dan banyak perawat rekan kita sudah mencoba untuk menyuntikkan jarum suntik untuk Sempel namun tetap saja pasien menolak nya secara kasar." sambung nya.
"Oh gitu ya, ya sudah ayo aku temani kamu, aku jadi penasaran kenapa pasien sampai menolak untuk di suntik sampai seperti itu." ucap Via penasaran seraya melangkah kaki masuk ke dalam ruangan pasien di ikuti oleh rekan nya yang bertugas itu, dua rekan yang mengikuti Via masuk ke dalam ruangan pasien adalah satu perawat perempuan dan satu perawat laki-laki takut kemungkinan sesuatu terjadi Via meminta rekan nya itu mengikuti nya.
Saat sesampainya di depan pintu kamar pasien Via dan rekannya itu pun memberanikan diri mencoba sekali lagi usaha untuk mengambil darah pasien. "Selamat pagi..." ucap Via ramah saat ia masuk ke dalam ruangan pasien. Di sana terlihat ada seorang ibu-ibu dan seorang bapak-bapak mungkin mereka adalah keluarga korban.
"Ya selamat pagi sus." jawabnya seorang ibu-ibu dan bapak-bapak itu hanya tersenyum.
Dengan persiapan senyuman yang seramah mungkin pada pasien agar Via bisa dengan mudah menyuntikkan untuk pengambilan darah Via pun menatap ke arah wajah pasien dan... Via pun terkejut melihat pasien tersebut. Pasien berjenis laki-laki dan dewasa ini yang takut akan jarum suntik sampai beberapa perawat menyerah untuk menyuntikkan jarum untuk pengambilan darah pada pasien tersebut terkejut bukan main pasalnya lelaki yang marah-marah dan menolak untuk di suntik adalah lelaki yang ia sangat kenali yaitu laki-laki yang selalu menyebalkan dan selalu membuatnya kesal.
Via tersenyum mengejek. "Jadi anda pasien yang di bicarakan yang takut akan jarum suntik itu?" ucap Via pelan seraya geleng-geleng kepalanya tidak percaya akan apa yang ia lihat saat ini. Lelaki yang berprofesi sebagai TNI itu takut akan jarum suntik sungguh sesuatu yang sangat menggelikan sekaligus membuat Via penasaran kenapa ia bisa sampai takut akan jarum suntik.
Aris mendengus kesal kenapa harus bertemu suster galak itu disini dan lagi ia akan tahu jika dirinya sangat takut akan jarum suntik. Bisa-bisa dia akan terus mengejek nya karena ketakutannya akan suntikkan jarum. "Mau di taruh dimana ini muka, kenapa mesti dia sih?" batin Aris panik akan kehadiran Via di dalam kamar inap nya.
Via melihat kedua orang tua yang ada di dalam ruangan itu dan tersenyum ramah. "Maaf pak Bu apa bapak dan ibu adalah kedua orang tua pak Aris ini?" tanya Via seraya melihat berkas catatan pasien.
"Iya sus kami adalah orang tua pasien." jawab mama Aris lembut.
"Emh mohon maaf ibu dan bapak bisa tunggu di luar saja." pinta Via lembut dan sopan dan keluarlah kedua orang tua Aris karena di ruangan yang begitu banyak orang membuat sedikit tidak nyaman dalam pemeriksaan.
__ADS_1
"Ayok sus ambil darah nya sebanyak mungkin yang suster butuhkan!" tanpa basa-basi Via menyuruh rekannya itu mengambil darah Aris. Aris yang panik melihat jarum suntik itu pun berteriak. "Jangan suntik!" teriaknya panik menolak secara tegas.
"Anda itu seorang TNI masa anda takut dengan jarum suntik! Anda memiliki senjata api kan? Lebih sakit di tembak dari pada di suntik!" ucap Via sebal karena pasien selalu saja menolak.
"Eh... Saya bilang jangan suntik! Atau saya akan menembak kalian semua!" ucapnya marah.
"Maaf pak, anda harus ikuti perintah kami, kami hanya akan mengambil darah anda untuk kami cek. Anda jangan menghalangi tugas kami, agar semuanya cepat selesai." ujar rekan Via si perawat laki-laki itu menjelaskan.
"Diam kamu!" titah nya tegas dengan matanya yang tajam membuat si perawat itu takut menunduk dan memundurkan tubuhnya.
"Benar itu, anda jangan halangi tugas kami!" sambung Via santai membela rekan nya itu yang ketakutan dengan tatapan Aris yang kesal.
Aris kesal mendengar ucapan Via yang sangat santai padahal dirinya sedang ketakutan. Kalau saja tubuh nya tidak sedang sakit dan lemas karena banyak mengeluarkan darah pada saat kecelakaan ia sudah lari keluar meninggalkan tempat yang selama ini ia tidak sukai.
"Kamu!" geram Aris lemah menatap Via yang sedang tersenyum mengejek nya.
"Sudah lah anda diam sebentar saja ya, di suntik tidak akan sakit kok. Anda bayangkan saja seperti di gigit semut." ucap Via lembut mencoba merayu Aris yang tidak mau di suntik.
"Tidak!" tegasnya ia masih menolak.
"Hah..." Via membuang nafasnya kasar.
"Ayok sus paksa saja pasien ini." titah Via mulai kesal.
"Eh kalian mau apa?" tanya Aris panik. Aris memberontak akan menghindar saat ia melihat sebuah jarum suntik yang perawat itu acungkan ke atas. "Aww." Aris merintih kesakitan saat ia memberontak tidak mau di suntik.
"Tuh kan kamu sedang sakit tubuh kamu perlu di cek agar semua bisa di periksa dan di berikan pengobatan yang semestinya agar kamu bisa sehat kembali." Via melunak melihat Aris yang kesakitan saat ia menggerakkan tubuhnya bahkan panggilan Via ke Aris pun berubah dari anda menjadi kamu karena ketidaksadaran Via berucap.
Aris diam ntah kenapa, ntah karena dia merasakan kesakitan pada tubuh nya atau diam karena ucapan Via yang lembut dan memberikan perhatian padanya.
__ADS_1
Saat Aris sudah mulai tenang Via menatap rekannya itu dan memerintahkan agar cepat ia ambil darah pasien dengan kepala mengangguk sebuah kode untuk rekannya agar siap menyuntikkan pada pasien.
Aris yang tegang jarum suntik itu akan siap di suntikan pada lengannya ia memejamkan matanya, selama ini ia takut akan jarum suntik bukan karena suatu alasan yang sepele. Ia pun mencoba mencari ketenangan agar ia tidak takut pada jarum suntik itu ia pun menyembunyikan kepala nya agar tidak terlihat panik lalu dengan nyaman nya ia menyelusup masuk pada perut Via yang di dekatnya dan tak sadar ia menarik pinggang Via dan merangkul pinggang Via dengan erat dengan tangan satunya dan kepala masih dengan nyaman menyelusup pada perut Via yang membuat nya tidak merasa takut untuk di suntik.