
"Kenapa tuh muka di tekuk begitu?" tanya Sofi sahabat Via saat dia lihat Via duduk dekat nya dengan sebal seraya membuka-buka berkas pasien.
"Sebal!" jawabnya cepat.
"Sebal kenapa?" tanya Sofi mengulang pertanyaan nya tadi.
"Aku di tugaskan sama pak Santoso untuk merawat pasien korban kecelakaan kemarin yang di kamar inap VVIP itu Fi." jawabnya kesal.
"Lah kan kenapa memang nya kita kan perawat! Dan dia juga sama-sama pasien kenapa kamu jadi sebal?" tanyanya Sofi menatap ke arah Via dengan heran.
"Kamu tahu gak pasien itu adalah laki-laki yang selalu membuat ku kesal Fi jadi bagaimana bisa aku yang sebal sama dia terus sekarang harus merawat dia. Aneh kan!" jelasnya tak terima.
"What? Jadi korban itu laki-laki yang sering kamu ceritakan itu ya? Kok bisa kamu dapat tugas ini padahal kan kemarin yang dapat tugasnya itu suster Anna." ucap Sofi terkejut. "Kamu tahu kan suster Anna udah semangat banget tuh dapat tugas buat merawat itu pasien, secara tuh ya pasien ganteng banget banyak perawat perempuan disini pada ngomongin ketampanan si pasien itu." sambung nya dengan semangat ia berbicara.
"Gimana ceritanya tuh kok bisa yang kamu dapat tugas nya sih?" tanya Sofi penasaran dan Via pun menceritakan semuanya pada Sofi tentang ketakutan pasien yang fobia akan jarum suntik itu dan alasannya Via yang berhasil membuat si pasien tenang untuk di suntik.
"Daebak!!! Via aku salut sama kamu haha." goda Sofi menertawakan Via sahabat nya itu saat bercerita terlihat sangat sebal mengingat kejadian ia bersama si pasien.
"Ih kamu ya malah ngetawain begitu, kesal deh jadinya!" ucapnya dengan muka cemberut.
Sedangkan di kamar Aris tempat ia inap kedua orang tua Aris langsung masuk ke dalam ruangan anaknya itu setelah para perawat keluar dari ruangan Aris mereka menjadi penasaran bagaimana caranya suster yang diketahui bernama Via itu berhasil membuat anaknya tenang saat ia menyuntikkan jarum suntik itu.
"Aris..." panggil mama tersenyum hangat melihat anaknya itu saat mereka membuka pintu kamar inap Aris.
Aris yang sedang diam melamun menatap langit-langit itu pun menoleh seraya membalas senyuman mama dan papanya. "Mah pah." Sahut nya.
Kedua orang tua nya mendekat pada Aris itu. "Mama penasaran bagaimana caranya suster Via itu bisa berhasil membuat anak mama ini bisa di suntik tanpa teriak-teriak." ucap mama bertanya pada Aris.
Aris tersenyum malu mengingat kejadian tadi saat pengambilan darah itu. "Ntahlah mah Aris gak tahu!" jawabnya datar.
"Hemm... anak bujang kita ini pinter mah, kalau suster nya cantik begitu pasti nurut aja mau di apa-apakan juga." goda papa Aris pada anaknya itu.
"Benar itu Aris, apa jangan-jangan kamu suka sama suster itu?" sergah mama.
__ADS_1
"Apa sih mah gak ada hubungannya ah, udah ah jangan bahas itu lagi, aku masih takut kalau kebayang sama jarum suntik." ucapnya sebal karena papa mamanya malah menggodanya.
"Hemm... Kamu itu harus bisa berusaha supaya kamu gak takut sama jarum suntik, mama tahu kenapa kamu sampai takut begitu, mama juga ngerti gak akan mudah untuk kamu, tapi kamu harus berusaha sedikit-sedikit menghilangkan rasa ketakutan berlebihan kamu itu." ucap mama lembut meyakinkan anaknya. "Sebagai manusia kan gak akan sehat terus seperti kamu ini walaupun kamu terus menjaga kesehatan kamu dengan baik tapi sekarang kamu terbaring seperti ini karena kecelakaan ini, kan kamu jadi harus masuk rumah sakit dan disini tidak akan jauh dari yang namanya jarum suntik." tambah mama.
"Iya mah tapi masih saja aku takut!" ucapnya lemah.
Tak lama rekan-rekan Aris datang untuk menjenguk setelah mereka mendapatkan kabar bahwa komandan nya itu mendapatkan kecelakaan dan masuk rumah sakit. Dengan pakaian lengkap seragam TNI mereka datang karena dari tempat mereka selesai bertugas mereka langsung datang ke rumah sakit.
"Permisi sus apa pasien yang bernama Aris Pratama di rawat di kamar inap mana ya?" tanya Syam sahabat Aris pada seorang suster yang berada di tempat lobi kamar pasien inap.
Suster itu pun mencari nama Aris di komputer yang ada di hadapannya dan memberi tahukan kamar inap Aris. "Pak Aris di rawat kamar VVIP no satu yang di sebelah sana pak." ucapnya memberi tahu dan menunjukkan arah dimana kamar itu berada.
"Ok terima kasih sus." ucap Syam seraya pergi melangkah menuju kamar inap dimana Aris di rawat dan di ikuti oleh rekan yang lainnya.
Sesampainya di depan pintu ruangan Aris ia pun mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebagai tanda kesopanan mereka. Dan terdengar suara menyuruhnya masuk dari dalam.
Mereka pun masuk, rekan Aris sesama TNI ini mewakili rekan nya yang lain untuk menjenguk Aris sebagai komandan mereka. Tiga orang rekan Aris itu langsung berjabat tangan dengan kedua orang tua Aris yang sedang berada di dalam ruangan.
"Iya, kemarin anak saya itu datang mengunjungi rumah kami, setelah perjalanan pulang kami pun terkejut mendapatkan kabar kecelakaan ini. Makanya kami langsung datang ke rumah sakit ini setelah pihak kepolisian memberi kabar buruk yang terjadi pada anak saya." balas mama Aris merasa khawatir dengan keadaan Aris.
Ketika rekan satu Aris berbicara dengan kedua orang tua Aris rekan Aris satunya dan Syam sahabat nya itu langsung mendekati ke arah Aris dimana ia terbaring lemah. Kecelakaan yang menimpa atasan nya cukup lumayan parah karena tubuh Aris begitu banyak luka apalagi luka di bagian badan dan kakinya untung saja tidak mengenai muka karena menggunakan helm full berstandar Nasional.
"Hei Ris gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Syam melihat keadaan Aris sekarang.
"Masih terasa sakit semua badan gue." jawabnya pelan seraya meringis saat rekan nya mengajak salaman tangan dan Aris membalas salaman itu.
"Kita juga kaget dapat kabar ini, gimana ceritanya sampai bisa terjadi kecelakaan ini?" tanya Syam penasaran.
"Kecelakaan terjadi saat gue mau balik ke Jakarta dari tempat kediaman orang tua gue. Waktu itu masih subuh karena gue ngejar waktu buat tugas pagi. Gue gak ngebut sih cuma gak tahu kenapa ada mobil dari arah berlawanan dengan cepat dia mengendarai mobilnya seperti ngebut gitu, gue gak bisa ngehindar karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi." ujar nya menjelaskan kejadian tersebut.
"Tadi kita dengar kabar dari pihak kepolisian kalau ternyata mobil yang nabrak kamu itu dalam keadaan mabuk saat dia mengendarai mobilnya itu." jelas Syam memberi tahu pada Aris.
"Gue belum dapat kabar itu sih dari mana pun." sahut Aris pelan.
__ADS_1
"Iya kamu istirahat saja supaya kamu bisa cepat pulih jangan terlalu banyak pikiran fokus saja dengan kesehatan mu." tambah Syam.
Mereka pun saling mengobrol dan bercanda, ini membuat Aris merasa tidak bosan dengan kedatangan rekan-rekan nya itu. Namun tidak sengaja selang infusan itu ditarik oleh Aris yang tidak sadar saat mereka bercanda sehingga infusan itu jadi tersumbat oleh darah Aris yang naik ke atas selang infus dan lama kelamaan tangan Aris jadi sedikit bengkak dan darah semakin naik ke atas. Rasa ngilu terasa oleh Aris membuat ia meringis.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan panik melihat Aris meringis, Aris meringis bukan karena ia cengeng tapi jarum yang menempel dari selang infusan sedikit terbuka karena ia tadi tidak sengaja menarik nya membuat Aris yang takut dengan jarum suntik menjadi panik dan ngeri sendiri.
Mama Aris memanggil suster dengan memencet bel panggilan darurat. Dan tak lama seorang perawat pun datang dengan cepat karena mendapatkan panggilan darurat dari kamar ruangan Aris. Via si suster galak yang datang karena dia sekarang yang mendapatkan tugas jaga.
"Permisi... ada yang bisa saya bantu?" tanya Via sopan dan ramah setelah ia masuk dalam ruangan Aris dengan senyuman manisnya.
Semua orang menoleh melihat perawat cantik yang masuk dalam ruangan Aris, para laki-laki yang berprofesi sebagai TNI yang jarang bertemu dengan lawan jenis itu membuat mereka terpesona melihat pemandangan yang indah di depan matanya. Mereka pun saling pandang dan saling berbisik memuji kecantikan perawat itu.
"Kecantikan yang luar biasa!" ucap rekan Aris bergumam pelan.
"Ini sus anak saya infusan mengeluarkan darah tadi dia tidak sengaja menarik nya." ujar mama Aris menjelaskan.
Via pun langsung mendekati tempat Aris berbaring. Lalu ia pun mengecek infusan Aris yang mengeluarkan darah dan jarum infus sedikit keluar. Dengan santai Via membetulkan selang infusan itu berbeda dengan Aris yang panik bukan main, ia pun memejamkan matanya tidak berani melihat apa yang di lakukan oleh suster Via.
"Sepertinya ini harus diganti pak. Sebentar ya saya bawa dulu alat-alatnya." ijin Via keluar ruangan untuk mengambil suntikan lagi.
"Wah enak banget ini pak komandan, bakalan betah kalau perawat nya cantik begitu!" ujar rekan Aris merasa iri bisa di rawat oleh perempuan cantik berprofesi sebagai perawat itu. Namun Aris diam saja, tapi memang ada benarnya.
Tak lama Via pun datang dengan membawa alat suntik beserta alat infusan yang akan di ganti. Via mencabut infusan Aris yang tadi mengeluarkan darah itu.
"Hei kamu mau apa?" tanya Aris mulai panik melihat apa yang akan di lakukan Via seraya meringis kesakitan.
"Saya akan mengganti infusan nya lagi pak, karena infusan yang tercabut itu darah nya menghambat jalan nya cairan infusan. Jadi saya akan mengganti dan menyuntikkan ke tangan bapak yang satu nya lagi." balas Via santai padahal di dalam ruangan sana para lelaki TNI itu sedang memperhatikan nya.
"Hah..." Aris terkejut. "Di suntik lagi?" tanyanya panik dan di angguki oleh Via yang sedang dengan santai membersihkan darah yang keluar dan mulai mengering itu dengan telaten.
"Ini tangan pak Aris juga sedikit bengkak." ucap Via seraya mengurut pelan bagian tangan yang bengkak dengan lembut dan perlahan membuat Aris terdiam dan menatap Via secara diam-diam.
Rekan Aris yang melihat itu saling pandang dan dan memberi tahukan pada rekan nya yang lain dengan gerakan mentoel dan tersenyum melihat komandan nya yang sedang curi-curi pandang pada suster cantik itu.
__ADS_1