Cinta Sang Abdi Negara

Cinta Sang Abdi Negara
oh Tuhan


__ADS_3

Di parkiran tempat motor berjajar disana, Via segera menuju parkiran dimana ia memarkirkan motor kesayangannya itu si matic putih kesayangan Via. Rasanya ia ingin segera sampai ke rumah karena matanya yang terasa kantuk saat sudah sif kerja semalam usai.


Terlihat lah seorang laki-laki yang sedang duduk di atas motor ninja hitamnya, ia terlihat sedang memakai helm nya.


Via menghela nafas nya panjang. "Kenapa sih harus bertemu lagi dengan laki-laki menyebalkan itu." gumam Via kesal saat ia tersadar bahwa laki-laki yang di sebelah motor yang ia parkir adalah Aris laki-laki yang sangat ia benci akhir-akhir ini.


Via pun berpura-pura tidak melihat nya ia fokus pada kendaraan yang akan ia bawa saat ini. Crekk... suara kunci motor Via jatuh tanpa ia sengaja. "Hadeeeeh... kenapa mesti jatuh segala sih!" kesalnya dalam hati. "Mana itu deket kaki dia lagi!" batin nya semakin kesal saja.


"Tidak usah grogi seperti itu, santai saja!" ucap Aris santai menyindir saat melihat perempuan yang disampingnya adalah Via si suster galak.


Via menoleh dan menatap tajam pada wajah Aris. Via langsung mengambil kunci nya yang terjatuh itu dengan cepat. "Percaya diri sekali anda!" ucapnya ketus.


Aris tersenyum dengan bibir sebelah. "Jangan galak-galak kalau jadi perempuan nanti jatuh cinta bisa berabe!" ucap Aris masih dengan suara santai menjawab keketusan Via.


"Aish anda begitu kepedean ya jadi orang, amit-amit jabang bayi! Ogah jatuh cinta sama laki-laki seperti anda sudah menyebalkan mesum lagi!" Via mengetuk-ngetuk kepala nya dan dengan kesal menjawab ucapan Aris.


"Aduh kamu mengingatkan kembali pada saya kejadian itu, oh jangan-jangan kamu mau saya membungkam mulut kamu lagi, yang pedas seperti cabe dengan cara seperti kemarin itu!" ancam nya dengan mendekatkan wajahnya yang terhalang oleh helm full pada wajah Via yang memakai masker.


Via mendorong kepala Aris yang terhalang helm itu dengan telunjuknya supaya menjauh dari wajahnya. "Gila!" ucap Via langsung menyalakan motor nya dan melempar kunci motor Aris saat Aris tengah lengah. "Babay..." ucapnya mengejek Aris yang kesal kunci motornya ia lemparkan dan Via langsung tancap gas meninggalkan Aris.


Via tergelak dengan kelakuan nya sendiri yang seperti itu pada lelaki tadi, sungguh ini bukan sifat asli Via seperti itu tapi ntah kenapa berhadapan dengan lelaki itu Via seperti perempuan yang usil dan menyebalkan. "Haha pasti dia sangat kesal." batin Via mengingat wajah lelaki itu yang kesal Via kerjai.


"Shiiit..." umpat Aris kesal bisa-bisanya ia lengah dari perempuan itu. Ia pun mengambil kunci motor nya yang tadi Via lempar dengan kesal. "Awas ya kalau saya ketemu lagi sama kamu!" ancam nya dalam hati.


Aris langsung menyalakan mesin motor nya melaju ke jalanan dan mencari motor matic putih yang suster itu bawa namun tidak ia temukan mungkin karena sudah jauh. "Eh kenapa saya jadi cari-cari dia. Kurang kerjaan sekali sih!" pikirnya heran dan kesal juga pada dirinya sendiri.


***


Di kediaman Nisa dan Adam.


"Sayang tadi siapa yang telpon kamu?" tanya Adam setelah Adam tahu Nisa sedang berbicara di telepon.


"Aris mas... dia sekarang lagi di rumah sakit. Katanya dia mau jenguk kamu disana padahal kita sudah pulang. Aku lupa kasih kabar ke dia kalau kamu sudah pulang." jawab Nisa menjelaskan kenapa Aris menelponnya.

__ADS_1


"Oh... suruh pak Aris jangan terus menjenguk mas kan kemarin dia sudah menjenguk terus. Lagian mas kan sekarang sudah membaik tinggal menunggu lukanya kering aja." balas Adam.


"Aku juga bilang begitu mas sama Aris tapi dia mau jenguk kamu lagi, nanti dia mau datang ke rumah kita mas, gak apa-apa kan?" tanya Nisa menatap wajah Adam yang seperti malas jika di jenguk oleh Aris.


"Aris orang baik lho mas dia juga sudah tolong kamu pas kejadian kemarin, mungkin karena dia juga khawatir sama kamu makanya dia mau jenguk kamu dan lihat keadaan kamu sekarang." ucap Nisa lembut meyakinkan Adam.


"Iya gak apa-apa sih cuma... mas gak mau aja ngerepotin pak Aris, dia juga kan punya pekerjaan." elak Adam menjawab ucapan Nisa.


"Saya tahu pak Aris pasti mau melihat Nisa dengan alasan ingin menjenguk saya, kalau saja saya tidak tahu balas Budi mungkin saya sudah menghajar nya karena dia seperti ingin berusaha menarik hati Nisa istri ku." batinnya geram namun Adam menahan itu semua karena Nisa tidak mengetahui bahwa Aris yang ia anggap teman masa kecil nya itu memiliki perasaan padanya.


"Hei mas... kok malah bengong sih, mikirin apa?" tanya Nisa penasaran sambil ia menggoyang-goyangkan badan Adam yang bergeming diam.


"Eh... hehe gak apa-apa!" sahut nya saat ia tersadar dari lamunannya.


"Sayang, tolong ya ganti perban mas ini sepertinya sudah mesti di ganti." pinta Adam lembut pada Nisa mengalihkan perhatian Nisa saat ia tahu Adam sedang melamun tadi.


"Oke, tapi aku cuci tangan dulu ya biar steril sekalian aku bawakan perban baru buat kamu." balas Nisa sambil beranjak pergi untuk mencuci tangan nya itu.


Mama Mel pun sedang berada di rumah Adam karena Adam sudah pulang ia dan suaminya pun menginap di rumah Adam dan Nisa.


"Iya kamu kan baru saja pulang dari rumah sakit belum begitu pulih." tambah papanya Adam khawatir pada putranya itu.


"Bosen mah pah aku diam aja di kamar, lagipula


aku mau di ganti perban sama Nisa istri tercinta ku hehe." jawab Adam duduk mendekat pada mama Mel dan bermanja-manja pada ibunya.


"Idih kamu itu sudah mau punya anak tapi masih manja-manja begitu kayak anak kucing kepunyaan mama di rumah tahu..." ucap mama Mel melihat putranya bermanja-manja sambil mengusap-usap kepala Adam dengan lembut.


"Iya mah calon ayah kok masih kayak anak kecil gitu." sahut Nisa dari dalam rumah dengan membawa perban baru di tangan nya.


Tak lama Aris pun datang ke rumah Nisa setelah ia tahu bahwa Adam sudah pulang dari dua hari yang lalu.


"Assalamualaikum...!" ucap Aris di depan pintu rumah Nisa yang terlihat sepi.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam... eh pak Aris." ucap bibi pembantu setelah membuka pintu.


"Iya bi apa Nisa dan pak Adam ada bi saya mau bertemu." jawab Aris dengan tersenyum.


"Ada pak neng Nisa sama pak Adam sedang di belakang dekat taman bersama kedua orang tua pak Adam.


"Oh kedua orang tua pak Adam sedang ada di sini ya bi." tanyanya.


"Iya pak, kalau begitu silahkan masuk saya akan kasih tahu pak Adam dan neng Nisa kalau pak Aris datang." ucap bibi ramah dan di angguki oleh Aris yang mengikuti nya masuk ke rumah setelah di persilahkan oleh pembantu Nisa.


Aris duduk di kursi ruang tamu. Ia melihat foto Nisa bersama Adam di dinding, Aris menatap foto besar itu. "Seandainya itu aku?" batinnya dalam hati.


"Maaf pak Adam, neng Nisa, di ruang tamu ada pak Aris katanya mau bertemu pak Adam mau menjenguk pak Adam mungkin." ucap bibi memberi tahu Adam dan Nisa.


Adam pun dengan pelan beranjak berdiri dari tempat ia duduk dan akan menghampiri Aris di ruang tamu untuk menemui nya bersama Nisa juga yang menemani Adam suaminya setelah selesai mengganti perban baru untuknya.


Nisa dan Adam melihat Aris sedang duduk diam menatap foto mereka berdua yang di pajang di dinding. "Emh pak Aris apa kabar?" tanya Adam berbasa-basi melihat Aris ada di rumah nya.


"Baik pak Adam, bagaimana keadaan pak Adam sekarang?" tanya nya balik.


"Seperti yang anda lihat, saya sudah lebih baik." sahut nya cepat.


"Alhamdulilah kalau begitu pak saya ikut senang anda sudah bisa beraktivitas lagi." balas Aris tersenyum.


Nisa tersenyum. "Aris maaf ya aku lupa mengabarkan kamu kalau mas Adam sudah pulang, aku jadi tidak enak sama kamu karena sudah membuat kamu datang ke rumah sakit." ucap Nisa tidak enak pada Aris.


"Tidak apa-apa Nisa saya mengerti." sahut nya cepat.


"Sayang coba kamu buatkan minum untuk pak Aris, tadi bibi mas suruh pergi ke supermarket, jadi mas minta tolong sama kamu ya." ucapnya lembut dan di iyakan oleh Nisa.


Saat Nisa membuat minuman untuk Aris Adam langsung menatap Aris dengan sedikit jengah. "Pak Aris seharusnya anda tidak perlu datang lagi kesini untuk menjenguk saya, yang pertama mungkin bisa merepotkan dan yang kedua saya tidak mau anda bertemu dengan Nisa istri saya. Anda paham kan maksud saya?" tanya dengan wajah yang serius.


Aris yang mendengar ucapan Adam yang seperti itu membuat nya menjadi tidak enak karena dia sudah datang kesini. Aris tersenyum tipis. "Saya mengerti pak Adam, saya kesini memang untuk menjenguk anda tidak ada maksud lain. Memang saya memiliki perasaan kepada Nisa tapi saya tidak akan menggangu hubungan kalian berdua, saya sedang mencoba untuk menghapus Nisa dari hati dan pikiran saya." ucapnya mantap.

__ADS_1


"Bagaimana caranya anda melupakan Nisa dan bagaimana caranya saya bisa mempercayai anda jika anda tidak akan menggangu hubungan saya dengan Nisa. Sedangkan anda sendiri masih betah dengan kesendirian anda, anda belum menikah dan saya tidak tahu anda sedang dekat dengan perempuan lain atau tidak?" tanya Adam menohok.


Nisa menutup mulutnya dengan tangan karena ternganga dari keterkejutannya mendengar ucapan Aris yang mengakui jika dia memiliki perasaan padanya. "Ti... tidak mungkin! Ini tidak mungkin." gumam Nisa dengan terkejut.


__ADS_2