
Saat Via mengebut dengan kendaraan nya di jalanan macet membuat Via terhenti dengan mengerem secara tiba-tiba.
Cekiiiiit... suara rem berderit karena jalanan yang tiba-tiba macet dan Via menghentikan laju motor dengan mendadak. Untung saja motor suaminya itu masih bagus dan sering di servis ke bengkel jadi rem motor nya itu masih pakem membuat tabrakan yang Via takutkan tidak sampai terjadi.
Via mengatur nafasnya yang berderu menjadi lega karena ia dan kendaraan lainnya yang dekat dengan kendaraan Via tidak sampai bertabrakan beruntun. "Alhamdulilah beruntung sekali aku!" gumamnya lega. "Kenapa bisa macet seperti ini sih?" kesal Via yang sedang panas hatinya di suguhi dengan cuaca panas di tengah kemacetan jalanan kota.
Lalu Via mencoba menerobos jalanan macet itu karena ia menggunakan motor menjadikan Via dengan mudah menyelip di tengah kemacetan. Dengan perlahan namun pasti Via terus saja menyelip walaupun tangan dan kakinya terasa pegal sekali Via terus saja menyalipnya.
Saat Via menyalip ke pinggir jalan ia di berhentikan oleh petugas kepolisian lalu lintas yang sedang menjalankan tugasnya. Mau tidak mau Via pun menepi ke arah jalan yang di tunjukkan oleh polisi lalu lintas itu.
Setelah menepikan motor nya polisi itu pun menghampiri Via. "Selamat pagi pak?" sapa polantas itu dengan hormat pada Via. "Mohon maaf saya sudah mengganggu perjalanan anda. Bisa anda tunjukkan SIM dan STNK anda?" ucapnya tegas.
"Aduh aku lupa bawa surat-surat motornya, bagaimana ini?" batin Via panik. "Gara-gara tadi buru-buru aku jadi lupa!" tambahnya kesal.
"Permisi pak apa anda dengar apa yang saya perintahkan?" tanya pak polisi itu karena dari tadi Via hanya diam saja dengan menundukkan kepalanya ke bawah. "Pak tolong buka topi anda?" titah nya semakin tegas karena Via diam saja saat di tanyakan surat-surat kendaraan nya.
Via mendongakkan kepalanya dan membuka topi nya memperlihatkan wajah cantiknya di tengah terik matahari pagi dan saat topi ia buka semua tergerai lah rambut panjang Via yang ia masukkan pada topi saat ia tadi mengguna nya.
Pak polantas yang terlihat masih muda itu menatap wajah cantik Via dengan kagum. "Anda perempuan?" tanyanya terkejut karena ia pikir orang yang dia berhentikan adalah laki-laki karena memakai topi dan juga jaket. "Cantik." batinnya dalam hati.
"Maaf pak saya lupa bawa surat-surat motor nya, tadi saya buru-buru." ucap Via gugup karena ini kali pertamanya ia mengendarai motor suaminya dan kali pertamanya juga ia di tilang.
"Kalau begitu anda saya tilang dan motor akan saya sita!" ucapnya seraya mengeluarkan surat penilangan dan mengambil kunci motor yang ada di motor tersebut takut kemungkinan pengendara motor akan kabur.
"Tapi pak saya hanya lupa bawa, saya punya SIM dan motor ini juga ada surat-suratnya tidak bodong." ucap Via memelas agar motor suaminya ini tidak di sita.
"Anda bisa bawa surat-surat nya dan tunjukkan pada pihak kepolisian nanti. Tidak hanya SIM dan STNK yang anda lupakan tapi anda juga tidak memakai helm saat berkendara jadi kesalahan anda begitu banyak. Anda jangan menghalangi pekerjaan saya, anda saya tilang!" ucapnya tegas seraya memberikan surat penilangan pada Via. "Tolong isi nomor yang bisa di hubungi?" titah nya.
Via pun menghela nafasnya panjang kesal dengan hari ini yang membuat nya selalu emosi. Lalu Via pun menyimpan nomor suaminya supaya suaminya lah yang nanti berurusan dengan pihak kepolisian.
"Isi nama anda disini." tunjuk pak polisi itu dengan senyum tipis. Membuat Via heran.
Setelah Via mengisi apa yang di perintahkan polisi itu, Via pun dengan kesal pulang menggunakan kendaraan umum, Via lupa handphone nya pun tertinggal di rumah. "Hari ini benar-benar mengesalkan! Untung saja di saku ku ada uang untuk ongkos pulang." batin Via menyenderkan punggungnya pada angkot yang ia tumpangi, mau naik kendaraan online mana bisa jika tidak ada handphone di tangan nya.
Melihat perempuan yang ia tilang itu pergi dengan wajah yang di tekuk karena kesal namun masih terlihat cantik, polantas itu pun tersenyum dan menatap surat ganda yang ia pegang. "Cantik sekali perempuan tadi, apa ini benar nomor nya ya?" polantas itu pun mencatat nomor Via yang ia simpan di kertas tilang tersebut yang polisi itu tahu itu adalah nomor perempuan yang ia tilang tadi. "No...vi...a." ejah nya. "Nama yang bagus!" gumam nya seraya pergi melanjutkan pekerjaannya kembali.
Sedangkan Aris yang panik dan merasa khawatir pada istrinya langsung pulang untuk tahu keberadaan Via sekarang. Di lihat nya ke garasi namun tidak ada motor yang terparkir disana membuat Aris semakin khawatir. Pintu nya pun masih terkunci, lalu Aris pun meraih kunci ganda yang selalu ia bawa di tas nya karena untuk jaga-jaga jika ia pulang malam.
Aris masuk ke dalam rumah nya langsung mencari Via ke setiap ruangan, namun Aris tidak menemukan istrinya itu. "Via sayang kamu kemana?" panggil Aris frustasi.
__ADS_1
Aris pun meraih handphone nya yang ada di tas kecil nya lalu memanggil nomor Via. Tidak ada jawaban dari Via namun ia terdengar suara nada dering di dalam kamarnya. "Sayang kenapa kamu tinggal kan handphone kamu, aku jadi sulit untuk menghubungi kamu." kesal Aris pada istrinya saat ia melihat handphone Via tergelak di atas nakas.
Aris mondar-mandir dengan berusaha menelpon nomor temannya mencari Via. Tapi hasilnya juga nihil karena temannya tidak tahu keberadaan Via. "Sayang kamu ini kemana sih? Aku harus cari kamu kemana?" Aris bingung.
Saat Aris mondar-mandir tidak jelas di dalam ruangan ia mendengar suara motor di depan rumah nya, ia pun langsung keluar mencari tahu siapa yang ada di depan rumah nya karena tidak mengenal suara motor yang datang itu.
"Via." panggil nya melihat Via yang baru turun dari motor bawahan nya yang sedang berjaga di pos.
"Terima kasih ya sudah mengantarkan saya sampai rumah." ucap Via berterima kasih pada bawahan Aris.
"Siap Bu sama-sama. Hormat Dan!" ucapnya saat melihat Aris keluar dari dalam rumah.
Aris hanya berdehem saja. Lalu melihat istrinya yang di antarkan oleh bawahannya menatapnya dengan penuh arti setelah bawahannya itu pergi.
Via yang di tatap orang Aris seperti itu tidak mempedulikan suaminya yang sedang menatapnya. Rasa kesal padanya dan rasa kecewanya itu membuat Via malas menatap wajah suaminya.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan? Aku khawatir sekali sama kamu?" tanyanya dengan mengikuti Via yang terus saja melangkahkan kaki nya tanpa peduli pada Aris yang mengkhawatirkan nya.
"Sayang jangan diam seperti itu, kamu kenapa bisa di antar oleh bawahan aku itu lalu motor aku kamu kemanakan?" heran Aris melihat Via pulang tanpa mengendarai motor sport milik nya itu.
Via masih diam tidak menjawab semua pertanyaan Aris padanya. Aris menghela nafasnya panjang dan berat karena istrinya mendiamkan nya. "Sayang kamu salah paham, aku akan jelaskan siapa perempuan tadi." ucap Aris membuat Via semakin melengoskan pandangan ke arah lain tidak ke arah Aris yang menatapnya. Malas rasanya Via mendengarkan penjelasan Aris tentang perempuan tadi.
"Aku tidak mau!" ucap Via dengan melengoskan kembali pandangan nya pada arah lain.
Aris menghela nafasnya semakin berat karena Via istrinya benar-benar marah padanya. "Sayang perempuan tadi adalah mantan pacar ku saat aku SMA dulu, kamu pernah kok bertemu dengan nya saat kita di restoran. Kamu ingat tidak?" tanya Aris mengingatkan Via.
"Aku malas mengingat soal perempuan apalagi perempuan itu mantan pacar kamu!" balas Via ketus.
Aris tersenyum melihat istrinya yang sedang di bakar api cemburu. "Kamu cemburu?" goda Aris dengan menatap wajah Via penuh telisik.
Via membuang mukanya ke samping malu rasanya di tatap seperti itu oleh suaminya. "Aku tidak cemburu untuk apa aku cemburu?" tanyanya. "Aku hanya tidak suka di bohongi!" ujarnya sebal. Padahal dalam hati Via benar-benar cemburu apalagi Aris ini adalah suaminya harus di jauh kan dengan namanya pelakor.
"Mantan pacar kamu itu sungguh menggoda, aku ingat waktu pertemuan kita di restoran tempo lalu. Dia memuji tubuh kamu dan berani sekali menyentuh nya padahal aku di hadapan kamu." batin Via kesal saat ia mengingat pertemuan dengan mantan pacar dari suaminya itu.
"Dia tadi menelpon ku secara tiba-tiba, dia meminta ku untuk menolong nya. Ia mengalami kekerasan oleh suaminya." ujar Aris menjelaskan pada Via.
"Apa hubungannya sama kamu, kenapa dia laporan sama kamu, kamu itu seorang TNI bukan seorang polisi!" sahut Via sebal dengan penjelasan suaminya. "Harusnya dia melaporkan kdrt dari suaminya pada pihak kepolisian bukan pihak TNI. Itu alasan kamu atau alasan dia?" kesal Via dengan emosi nya.
"Aku tidak bohong sayang, mana berani aku bohongi kamu, aku sayang kamu, aku juga cinta sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu." jujur Aris dengan tulus.
__ADS_1
"Aku muak mendengar ucapan seperti itu!" sahut Via ketus seraya berdiri berniat akan pergi.
Namun Aris mencegahnya menahan Via yang akan pergi dengan hati yang masih kesal terhadap nya. Lalu Aris memeluk tubuh Via dari belakang menahan Via yang mencoba ingin melepaskan pelukannya. "Sayang kamu mau kemana? Aku tidak bohong, maaf aku tadi tidak bilang kalau aku akan bertemu dengan nya, aku bukan menyembunyikan nya bertemu dengan dia tapi karena aku tadi buru-buru, aku belum sempat memberi tahukan kamu." bisik Aris di dekat telinga Via dengan lembut.
Jantung Via berdetak dengan kencang saat suaminya itu memeluknya dari belakang. Walaupun mereka sudah menjadi suami istri tapi jika Aris suaminya itu melakukan hal yang manis pada nya Via menjadi luluh lantak perasaan nya.
Saat Aris memeluknya terasa jika istrinya itu diam tidak melawan membuat Aris tersenyum hangat karena Via mulai luluh. "Jadi... kamu kemanakan motor ku?" bisik Aris pada Via membuat Via menjadi kesal karena ia menanyakan motor nya di saat sedang memeluknya. Mau nya bisikan kata cinta yang Via harapkan namun suami malah berbisik soal motor kesayangannya.
"Aku jual!" sahut nya cepat seraya melepaskan pelukan suaminya dengan paksa lalu ia pun pergi keluar kamar meninggalkan Aris.
Aris mengejar nya. "Sayang!" panggil nya menarik tangan Via setelah ia mendapatkan Via di hadapannya ia tangkup wajah Via dengan kedua tangan nya agar pandangan mata istrinya itu menatapnya. "Apa kamu serius apa yang kamu katakan barusan?" tanya Aris tidak rela jika motor kesayangannya Via jual.
"Memang aku terlihat sedang berbohong sama kamu? Aku gak pernah bohong sama kamu, tapi kamu yang bohongi aku!" sinis Via berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku bohong apa? Aku gak ada niat untuk bohong sama kamu!" ujarnya jujur.
"Tadi pagi kamu sudah bohong!" balas Via menatap Aris dengan tajam.
"Ya ampun sayang kamu masih gak percaya sama aku." tuduh Aris penuh kecewa.
"Tau ah!" sahut Via.
Di saat mereka sedang berdebat sebuah panggilan pada handphone Aris berdering. Tidak lama Aris pun menjawab panggilan telepon itu dengan cepat.
"Selamat siang mba Novia." ucap polantas yang menilang motor yang via bawa.
"Iya selamat siang." balas Aris setengah bingung ini nomor handphone nya tapi si penelepon menyebutkan nama Via istrinya.
"Ini terdengar suara laki-laki?" polantas pun ikut heran dalam hatinya karena ia menelpon nomor Novia tapi suaranya nya seperti laki-laki. "Maaf saya mengganggu saya hanya ingin memberi tahukan bahwa motor sport dengan nomor plat xxxxx sudah kami bawa ke polres, anda bisa membawa surat-surat nya dan akan kami proses dan bisa anda bawa pulang." tutur pak polisi yang tadi menilang kendaraan yang Via pakai.
"Maaf kenapa motor saya di bawa ke polres?" tanya Aris penasaran.
"Karena tadi yang menggunakan motor dengan plat tersebut sudah kami tilang karena tidak membawa SIM dan juga STNK beserta tidak menggunakan helm saat berkendara jadi mau tidak mau motor anda kami sita."
"Oh begitu baik secepatnya akan saya urus." balas Aris cepat.
Setelah ia tutup telpon nya Aris tersenyum menatap Via istrinya yang diam-diam menguping pembicaraan nya lalu Aris pun mendekati Via dan menyentil hidung mancung nya. "Jangan di biasakan selalu menguping pembicaraan!" ucapnya tegas.
"Siapa yang menguping?" telak nya, Via malu saja karena ketahuan dia sedang mendengarkan pembicaraan suaminya.
__ADS_1