
"Jangan bilang kalau luka di wajah kamu karena kamu dan kak Tama bertengkar tadi pagi!" ucap Via ketika Aris akan memejamkan matanya merasakan kenyamanan di dekapan istrinya.
Aris menghela nafasnya malas lalu tersenyum dengan sinis mendongakkan wajahnya melihat ke wajah Via. "Mantan tunangan mu itu laki-laki yang tidak bisa memukul! Dia hanya bisa mengganggu hubungan kita." sambung nya.
"Lalu kamu bertengkar dengan siapa sampai banyak luka begitu? tanyanya penasaran.
"Tama menyuruh orang untuk mengikuti segala kegiatan kita dan memata-matai kita." jawab Aris cepat.
"Yang benar kamu? Untuk apa dia melakukan hal itu?" Via merasa heran dengan perbuatan Tama itu.
Aris menatap Via dengan penuh. "Istriku ini pura-pura tidak tahu atau memang benar-benar tidak tahu? Dia itu masih penasaran dengan kamu dan akan merebut kamu dariku!" ucap Aris heran melihat istrinya yang begitu polos.
"Jadi kalian bertengkar karena memperebutkan aku?" tanya nya sedikit bangga.
Aris menanggapi candaan Via dengan malas. "Kepedean kamu!" ucapnya seraya menyentil keningnya. "Kamu senang ya aku babak belur seperti ini karena sudah memperjuangkan kamu." tambahnya.
Via tersenyum. "Ada senang nya tapi ada khawatir nya." sahut nya cepat.
"Aku tidak akan diam saja jika ada orang yang mengusik kebahagiaan kita, walaupun harus dengan darah sekalipun, sebisa mungkin aku akan perjuangkan itu!" serunya mantap.
"Ah aku jadi terharu..." ucap Via memeluk suaminya itu. "Aku harap tidak akan ada lagi kejadian seperti ini ya." sambung nya.
"Ya semoga saja!" balas Aris pelan
***
Pagi harinya Via sudah bersiap untuk berangkat kerja, Aris yang melihat langsung menatap istrinya itu. "Kamu serius akan pergi bekerja?" tanya nya.
"Iya, memang kenapa? aku sudah merasa cukup sehat kok sekarang!" sahut nya.
"Kamu itu baru saja keluar dari rumah sakit, apa tidak bisa ijin untuk istirahat satu atau dua hari lagi. Ingat kamu sedang hamil!" Aris mengingat kan pada istrinya itu.
"Aku gak enak sayang karena beberapa hari ini aku tidak masuk kerja masa iya aku harus meminta ijin lagi." serunya.
"Tapi kamu lagi sakit, apa salahnya kalau orang sakit itu istirahat." balas nya ketus.
"Rumah sakit tempat bekerja aku bukan milik ayahku, jadi aku gak bisa seenaknya saja tidak masuk bekerja, aku yakin aku sudah sembuh. Aku janji aku akan lebih hati-hati." Via meyakinkan Aris karena suaminya itu terlihat tidak suka Via kembali bekerja.
"Bisakah kamu berhenti bekerja sayang, karena aku sebagai suami kamu masih mampu untuk menafkahi kamu dan membiayai segala kebutuhan kamu." pinta Aris lembut.
"Sayang kamu kenapa tiba-tiba meminta ku untuk berhenti bekerja?" heran Via suaminya meminta seperti itu secara tiba-tiba.
"Karena aku takut jika Tama akan melakukan hal jahat lagi sama kamu." ucapnya khawatir.
Via terdiam melihat suaminya itu mengkhawatirkan dirinya. "Di rumah sakit kan banyak pengamanan jadi pasti aman, dan aku juga tidak akan keluar dari rumah sakit sendirian."
__ADS_1
"Aku akan mengantar dan menjemput kamu nanti, aku tidak mau sampai Tama mengganggu kamu terus." ucapnya tegas.
"Iya sayang." inilah hal yang Via takutkan suaminya itu akan posesif pada nya dan suaminya itu akan terus membenci mantan tunangannya itu dan masalah akan semakin panjang.
***
Di tempat Tama, Tama yang tidak terima akan perlakuan Aris padanya kemarin itu. Ia semakin geram saja mengingat kejadian yang menimpnya.
"Dia sudah mempermalukan aku di depan para kolega ku, membuat ku menjadi sakit seperti ini. Lihat saja aku akan membalas anda pak Aris yang terhormat. Aku tidak akan pernah takut pada anda sekalipun anda adalah seorang TNI." geramnya Tama semakin sulit di artikan.
"Aku memang tidak akan bisa membalas anda dengan pukulan saya seperti pukulan anda terhadap saya kemarin, tapi saya memiliki uang yang akan membantu saya untuk membalas kan dendam saya terhadap anda!" ucapnya dengan penuh kelicikan di wajahnya.
Ia pun meraih handphone nya lalu dengan cepat menekan nomor yang ia akan panggil dan tidak lama seseorang disana pun menjawab panggilannya itu.
"Kamu siapkan anak buah mu, sepuluh orang rasanya cukup dan kalian tahu kan maksud saya? Beri dia pelajaran lebih untuk nya!" perintah nya dengan penuh.
"Baik bos akan saya siapkan anak buah saya, dan saya akan laksanakan apa yang anda perintahkan."
"Bagus, dan ingat saya tidak mau dengar kalian gagal. Bawa dia pada saya setelah dia kalian beri pelajaran!" titah nya.
"Baik bos saya mengerti!"
***
"Sayang ayok kita berangkat!" ajaknya. "Kamu sudah siapkan?" tanyanya.
"Ingat ya saat kamu bekerja jika sudah lelah kamu harus segera istirahat jangan terlalu capek!" tegas nya Aris berucap.
"Iya calon ayah anakku..." jawab Via dengan menggoda suaminya itu.
"Bagus istri pintar!" serunya.
Meraka pun berangkat menggunakan mobil, setelah pamit kepada mama Aris sekaligus mertuanya yang masih menginap di rumah pribadi milik Aris.
"Ingat ya jangan sampai kamu telat makan kalau ada apa-apa jangan diam saja, kamu bisa langsung telpon aku atau beri tahu teman kamu jika merasakan sesuatu yang tidak nyaman di tubuh kamu itu." ucapnya seraya mengusap tangan Via yang ia pegang.
Via mengangguk lalu tersenyum. "Kamu kok jadi posesif begini sih, aku ini kan seorang perawat bukan seorang kuli bangunan jadi pekerjaan yang akan jalani tidak akan berat seberat pekerjaan mereka." ujarnya.
"Walaupun tidak berat jika kamu lelah lalu kamu stres itu akan mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungan mu sayang. Kamu pasti paham akan hal ini karena kamu seorang perawat di rumah sakit. Hal seperti ini seharusnya tidak usah aku beritahukan, aku hanya akan mengingatkan kamu saja." omel Aris tidak mau kalah.
"Iya sayang aku mengerti aku akan mengingat nya. Terima kasih ya sudah mengingatkan aku." jawab nya dengan mengelus punggung tangan Aris yang masih menggenggam nya.
"Sudah tangan kamu lepaskan, kamu kan lagi nyetir berbahaya jika menyetir kendaraan dengan satu tangan." ucap Via dan Aris pun hanya tersenyum dan melepaskan pegangannya itu.
Tidak butuh lama Aris sudah menghentikan kendaraan nya di depan rumah sakit dimana Via bekerja. "Sudah sampai sayang!"
__ADS_1
"Ah sudah sampai ya kok cepat banget ya." ucap Via cengengesan.
"Hemm istriku kenapa masih mau jalan-jalan bersama dengan ku?" goda Aris. "Ayok kita jalan-jalan dan kamu tidak usah masuk kerja."
"Ah aku pamit ya!" ijinnya dengan cepat karena suaminya itu mengajak jalan-jalan ntah kenapa Via juga masih ingin bersama suaminya namun karena ia akan bekerja keinginan itu ia hilangkan dulu dari perasaannya.
"Ok hati-hati ya sayang." ucap Aris saat Via sudah keluar dari mobilnya.
"Kamu juga hati-hati ya. Nanti setelah sampai kamu telpon aku bisa kan?" pinta nya.
Aris tersenyum melihat istrinya setelah hamil menjadi manja padanya tanpa istrinya sadari. "Iya sayang aku nanti akan kasih kabar kemanapun aku pergi." ucapnya membuat Via senang.
"Ya sudah aku masuk kerja dulu ya. Ingat hubungi aku nanti!" ucapnya berkali-kali mengingatkan.
"Siap sayang." balas Aris.
"Dia bilang aku yang posesif apa kabarnya kamu sayang." gumam Aris melihat istrinya itu pergi masuk ke dalam rumah sakit sampai benar-benar ia menghilang dari pandangannya.
Saat sudah tidak melihat istrinya lagi Aris langsung menyalakan mesin mobil nya lalu melajukan kendaraannya.
Di tengah perjalanan Aris yang sedang melaju dengan kecepatan sedang ia melihat ada mobil Jeep dan motor yang mengikuti nya dari belakang.
"Apa lagi ini?" geram Aris saat melihat mereka yang mengikuti nya terus memepet kendaraan nya pada mobil Aris.
Mereka menjadi kejar-kejaran, Aris dengan kecepatan tinggi terus saja melajukan mobilnya itu agar ia bisa lolos dari pengejaran. Namun saat melewati jalanan yang sepi mereka yang mengikuti menghadang kendaraan yang Aris bawa. Dan Aris pun menghentikan kendaraannya itu secara mendadak karena motor yang mereka bawa tiba-tiba ada di depannya.
"Shiit...!" umpat nya. "Aku terjebak."
Para preman itu turun dari motornya dan menghampiri Aris yang masih di dalam nya. "Keluar! Keluar elu!" teriak nya.
"Aduh mereka banyak sekali." gumam Aris sedikit panik. "Orang itu seperti suruhan Tama?" Aris mengingat pada orang yang kemarin mengikutinya. "Apa Tama yang menyuruh para preman ini untuk menghadang ku?"
"Keluar!" teriak nya lagi.
"Aku benar-benar tidak akan bisa lari dari mereka, mobil ku sudah mereka halangi, tapi jika aku keluar aku akan kalah karena mereka banyak sekali. Tapi apa boleh buat mereka semua harus aku hadapi." batin Aris tidak ada pilihan.
Aris pun keluar dari mobilnya. "Ada urusan apa kalian pada saya? Apa kalian di perintahkan oleh bos kamu yang bernama Tama itu?" tanya Aris saat mereka sudah siap dan menatap ke arah Aris.
"Hahaha anda sudah tahu bos kami? Bagus kalau begitu. Jadi jangan lama-lama, ayok serang dia!" titah ketua geng mereka.
Aris dan para preman suruhan Tama pun saling baku hantam. Aris mencoba menghadapi mereka seorang diri. Namun walaupun Aris memiliki kemampuan bela diri, saat lawan nya sepuluh orang dia pun tidak bisa melawannya.
Aris pun tumbang dalam penyerangan itu, bagaimana bisa Aris menang sedangkan ia hanya seorang diri melawan sepuluh orang.
Aris tersungkur di hadapan para preman itu. Lemah tak berdaya dengan luka pukulan Aris dapatkan dari para preman itu. "Ayok bawa dia menghadap bos Tama!"
__ADS_1
Aris yang sudah tidak berdaya pun membiarkan mereka membawa dirinya yang sudah tidak bisa lagi untuk melawan.
Lalu mereka pun membawa Aris pada mobil Jeep yang mereka bawa meninggalkan mobil Aris yang terparkir disana.