
"Sayang... pak Aris kemana ya? Tadi perasaan dia masih ada di sini, sekarang mas kok gak lihat ya." ucap Adam mencari-cari keberadaan Aris dengan matanya.
Nisa pun jadi refleks mencari Aris yang ntah pergi kemana padahal tadi ia mengikuti nya sampai ruangan Adam. "Tadi Aris ada kok di sini, aku juga gak tahu kemana ya dia?" tanya Nisa balik. "Kenapa mas cari Aris sih aku istri kamu lho mas kok kamu gak cari aku." cemberut Nisa saat berucap pada Adam.
Adam tersenyum simpul. "Aduh bunda nya anak mas ngambek sih, cemburu? Masa kamu cemburu sama pak Aris dia kan teman kamu dan dia juga laki-laki lagi." goda Adam pada Nisa.
"Bukan cemburu mas tapi kamu baru saja sadar dari tidur kamu yang panjang itu, sekali nya bangun kamu malah cari Aris, ada perlu apa sih sama dia mas?" tanya Nisa penasaran.
"Mas cuma mau bilang terima kasih sama pak Aris. Dia kan juga sudah tolong mas saat kejadian kemarin." jelas Adam menerangkan maksud ia mencari Aris.
"Emh nanti saja masih banyak waktu mas, nanti aku yang ucapkan terima kasih sama Aris ya." balas Nisa pada Adam.
Adam menatap Nisa. "Sebenarnya... bukan hanya untuk berterima kasih saja saya ingin bertemu dengan pak Aris, tapi saya juga akan membuat perhitungan dengan nya, enak saja dia memiliki perasaan dengan Nisa dan berniat ingin menggantikan posisi saya di hati Nisa." batin Adam kesal. Saat Adam koma ia mendengar apa yang di bicarakan Aris padanya, walaupun sedikit samar-samar, saat Aris berbicara sebenarnya dia sudah mulai mengumpulkan kesadarannya namun raga nya masih belum bisa ia gerakkan.
"Mas... hei kok malah bengong! Mikirin apa sih?" tanya Nisa penasaran tadi ia melihat Adam yang diam saja seperti melamun.
Adam tersenyum tipis. "Hemm... gak ada apa-apa sayang." elaknya pelan ia menjawab.
"Ya sudah aku telponnya Aris dulu kalau mas ingin sekali bertemu dengan nya." tambah Nisa.
Nisa pun mencoba menelpon Aris namun di cegah oleh Adam dengan pertanyaan darinya. "Sebentar sayang, kenapa bisa kamu punya nomor pak Aris di handphone kamu? Apa kamu selalu telponan dengan nya saat mas koma kemarin?" tanyanya penuh selidik.
Nisa mengerutkan keningnya. "Mas kamu cemburu sama Aris? Dengerin penjelasan aku dulu ya... Aku punya nomor Aris waktu dia mau anterin dompet aku yang hilang dulu, kamu masih ingat kan mas?" tanya Nisa mengingatkan Adam pada waktu itu. "Dan lagi pula aku buat apa nelpon Aris, saat kamu koma gak ada waktuku untuk telponan mas." tambah Nisa.
Adam diam berpikir untuk mengingat kejadian pada waktu itu. "Iya mas ingat sekarang, oke deh kamu telpon pak Aris sekarang. Dan mas percaya sama kamu." ucapnya pasti.
Nisa pun menelepon Aris, karena Adam sepertinya ingin sekali bertemu dengannya.
Di tempat Aris sekarang, ia berada di sebuah kios penjual minuman karena ia merasakan kekeringan pada tenggorokan nya. Dia pun menghabiskan dua botol air mineralnya dengan cepat, rasa panas di hati dan di tenggorokan nya membuat ia menghabiskan minuman nya itu agar panas di otaknya juga hilang dengan minuman itu.
"Haus banget ya bang?" tanya si penjual minuman yang melihat Aris dengan cepat meminumnya.
"Iya." jawabnya pendek.
__ADS_1
Saat ia sedang minum itu tiba-tiba handphone yang ada di dalam sakunya berdering, sebuah panggilan pada telponnya dengan cepat ia meraih handphone dari saku celananya dan tertera nama Nisa yang memanggilnya. "Nisa? Tumben sekali ia menelpon ku!" batin Aris. Lalu ia pun mengangkat panggilan Nisa itu.
"Assalamualaikum Aris, kamu sekarang dimana?" terdengar suara Nisa di sebrang sana.
"Wa'alaikumussalam Nisa, aku sedang di perjalanan pulang." jawab Aris berbohong padahal ia masih di lingkungan rumah sakit dimana Adam di rawat. "Ada apa?" tambah Aris.
"Kok kamu gak bilang kalau kamu mau pulang?" tanya Nisa.
"Emh maaf Nisa, bukan pulang maksudku, tadi tiba-tiba ada telpon dari kantor ada tugas urgent jadi aku buru-buru makanya gak sempat pamit sama kamu dan juga pak Adam." elaknya Aris karena ia berbohong.
"Oh gitu, ya sudah tidak apa-apa, maaf aku ganggu kamu yang lagi nyetir, ya sudah assalamualaikum." Tut... Nisa mengakhiri panggilannya itu.
"Wa'alaikumussalam." jawab Aris. "Nisa ada apa ya dia menelponku, kenapa aku tadi gak tanya sama Nisa ada perlu apa dia menelpon!" batin Aris penasaran karena Nisa tidak pernah menelponnya.
di tempat Nisa.
"Aris sudah pergi mas katanya dia tadi ada telpon dadakan dari kantor nya mungkin ada tugas kali mas." ucap Nisa memberi tahu pada Adam.
Adam menghela nafasnya panjang. "Iya sudah gak apa-apa nanti sajalah kalau pak Aris kesini lagi." balasnya dan Nisa hanya tersenyum saja.
"Tidak kok, tidak ada apa-apa, mas cuma mau bilang terima kasih aja kok, apa salah?" tanya Adam balik bertanya.
Nisa menatap Adam dengan serius apa ada hal yang di sembunyikan atau tidak dari suami nya itu. "Kamu itu harus banyak istirahat mas, kesehatan kamu belum pulih betul gak usah banyak pikiran yang akan membuat kamu menjadi drop. Apa mas masih betah tinggal disini?" tanya Nisa menatap Adam dengan tatapan kesal.
"Ya gak mau lah mas mau nya pulang dan di rawat sama istri mas aja, ya walaupun di sini banyak sekali suster yang cantik tapi bosen dalam ruangan mulu." keluh Adam dengan manja.
"Apa mas? Coba kamu ulang lagi ucapan kamu yang tadi!" sebal Nisa saat ia memuji perawat yang ada disini.
"Yang mana sayang..." ucapnya manja mengusek-usek wajahnya pada lengan Nisa yang di dekatnya, karena Adam baru menyadari kesalahannya yang tadi memuji dan menyebutkan bahwa suster disini cantik.
"Jangan pura-pura kamu mas! Aku sentil juga nih!" Nisa menyentil hidung Adam yang mancung itu sampai suaminya itu mengaduh.
"Sakit sayang..." keluh Adam manja. "Iya maaf mas salah, disini suster nya jelek-jelek kok yang cantik kan cuma Queennisa Khumaira ku aja titik gak ada koma." gombal Adam.
__ADS_1
"Ih aku gak suka kamu berbohong ya mas, aku gak buta lho perawat disini memang cantik-cantik." sebal Nisa pada suaminya.
"Itu kamu tahu terus tadi mas salah dimana coba?" elak Adam tidak terima. "Jadi laki-laki itu serba salah bohong salah bilang jujur juga salah." gerutu Adam pelan namun masih terdengar oleh Nisa.
"Apa mas? Coba kalau ngomong itu yang keras biar aku bisa dengar!" ucap Nisa geram dan menatap Adam penuh kesal.
"Hehe gak sayang... gak ngomong apa-apa kok, kamu cantik kalau lagi ngomel-ngomel gitu jadi kepengen gigit tuh mulut." goda Adam pada istrinya yang terlihat lucu saat ia mengomel, jarang-jarang istri nya itu seperti itu.
"Ih sebal aku sama kamu mas!" ucap Nisa sambil mencubit lengan Adam dan tidak sengaja menyentuh luka bekas operasi yang masih terasa sakit itu sehingga membuat Adam meringis kesakitan.
"Aduh sayang sakit." Adam meringis kesakitan, ia pun memegang perban luka itu dengan pelan menahan dengan tangannya agar sakit yang berdenyut tidak begitu sakit.
Melihat Adam kesakitan seperti itu karena ulah nya, Nisa menjadi panik dan khawatir pada suaminya itu. "Maaf mas aku gak sengaja." lirih nya merasa bersalah. "Aku tadi cuma mau cubit lengan kamu aja, beneran aku gak sengaja." lirih nya pelan. "Maaf mas..."
Saat melihat wajah Nisa yang begitu bersalah membuat otak jahil Adam muncul. "Lalu mas harus gimana supaya maaf kan kamu? Ini sakit lho, kamu harus tanggung jawab!" ucap Adam pura-pura marah pada istrinya.
"Aku harus gimana dong mas... Aku panggil dokter saja ya biar dokter periksa luka kamu." tawar Nisa.
"Gak mau, mas mau kamu yang bertanggung jawab supaya luka mas gak sakit lagi." ujar nya.
"Bagaimana mas? Apa yang harus aku lakukan aku gak tahu!" tanya Nisa tidak tahu harus berbuat apa.
"Sini!" ajak Adam menepuk-nepuk kasur yang ia tiduri.
Nisa mengerutkan alisnya. "Apa sih mas aku gak ngerti, ngapain?" tanya Nisa bingung.
"Tidur disini! Sebelah mas." ucapnya.
"Maksud kamu aku harus tidur di sini sama kamu mas, sempit dong ah." tolak Nisa. "Nanti ada tim medis kesini aku di marahin bagaimana?" elak nya.
"Iya sudah kalau gak mau!" Rajuk Adam cemberut.
"Hah..." Nisa membuang nafas nya kasar melihat Adam merajuk, terpaksa ia pun naik ke tempat tidur Adam tidur di sebelah suaminya dan Adam yang keinginan nya di penuhi oleh Nisa tersenyum dengan puas. Memeluk Nisa dengan erat. "Puas?" tanya Nisa.
__ADS_1
Adam mengangguk-angguk masih dengan memeluk Nisa dengan sayang karena istrinya begitu menuruti keinginannya. "Ini obat mujarab satu-satunya untuk mas." ucap Adam berbisik dan semakin memeluk erat Nisa dengan sebelah tangan kanan nya. Karena sebelah tangan kiri nya menahan tubuhnya agar tidak begitu banyak bergerak supaya luka yang di perban tidak merasa sakit.