Cinta Tuan Muda Arogan

Cinta Tuan Muda Arogan
Ancaman


__ADS_3

"Ya udah kamu buruan mandi sana" usir Sella.


"Iya iya, ini mau mandi"


Vino berjalan ke kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Sella langsung menyiapkan pakaian suaminya.


Namun langkahnya terhenti saat ia mendengar dering handphonenya.


"Hallo"


"Kau masih belum aman nyonya Sella, tunggulah aku!! aku akan membunuh anak dan suamimu"


"Siapa......"


Tuttt


Panggilan diakhiri sepihak


Deg


Deg


Deg


Jantung Sella terpompa cepat setelah mendengar itu. Akhir akhir ini ia sering mendapatkan teror baik melalui telepon maupun pesan.


"Sayang" panggil Vino setelah mandi namun masih melihat Sella mematung dengan ponsel ditangannya.


"Yang"


"Sayang" Vino menepuk pelan pundak Sella namun bumil cantik itu masih juga belum bergeming.


Vino sempat kaget dengan keadaan Sella. Ia menepuk nepuk pipi istrinya itu hingga Sella tersadar.

__ADS_1


Vino melihat dada Sella bergerak cepat yang menandakan nafas Sella memburu.


"Kamu kenapa?"


Sella hanya menggelengkan kepalanya namun masih sedikit linglung.


Vino memberikan segelas air putih diatas nakas.


"Ini, minum dulu"


Sella pun segera meminum air putih itu hingga tandas.


Vino sedikit khawatir dengan Sella yang tiba tiba kosong seperti tadi.


'Bukankah depresinya sudah berangsur membaik? Lalu apa yang membuatnya tiba tiba seperti tadi?' batin Vino.


"Kamu kenapa?" Tanya Vino Sekali lagi.


Ia membawa istrinya kedekapan dada polosnya karna Vino hanya memakai handuk sebatas pinggang.


Aroma harum tubuh Vino menyadarkan Sella dan membuatnya lebih tenang.


"Beneran?" Vino memastikan.


Sella menganggukan kepalanya disela pelukan itu. Vino mengusap kepala istrinya dengan penuh kelembutan.


"Kalau ada apa apa cerita sama aku, aku pasti bakal jadi pendengar yang baik buat kamu. Siapa tau juga aku bisa bantu kamu" ucap Vino.


Ia tak mau lagi menjadi sosok Vino yang terkesan memaksa dan mendiktaktor Sella. Apalagi Vino paham saat ini Sella sedang mengandung. Ia membiarkan agar Sella bercerita padanya nanti dengan sendirinya tanpa paksaan.


Ia akan mencari tahu semuanya sendiri.


Sella melepaskan pelukan itu saat ia sudah sedikit merasa lebih tenang.


"sebentar, maaf tadi aku belum menyiapkan baju untukmu" ucap Sella sambil berbalik badan dan berjalan menuju walk in closet diikuti Vino dibelakangnya.

__ADS_1


Sella berinisiatif membantu suaminya mengancingkan kemejanya.


Kini wajah Sella memerah karna malu melihat dada polos suaminya.


Padahal tadi ia malah memeluk dada bidang itu.


"Kenapa wajahmu tiba tiba memerah? Kau sakit?" Tanya Vino.


Sella menggelengkan kepalanya


"Tidak, aku tidak apa apa"


Vino tersenyum geli saat sadar apa yang membuat wajah istrinya memerah seperti tomat itu.


Ia menarik pinggang istrinya dan merapatkannya pada tubuhnya.


"Kamu malu melihat aku bertelanjangg dada? Bukankah kau biasa melihatku tanpa busana?" Goda Vino pada bumilnya itu.


"Tidak" kilah Sella.


Vino membalik badan istrinya. Ia memeluk Sella dari belakang.


Ia menciumi telinga bagian belakang dan leher Sella.


Tangannya pun sudah menyingkap dres selutut itu dan mulai mengusap perut buncit sang istri.



Sella hanya memejamkan matanya karna merasakan nyaman dengan perlakuan lembut suaminya.


Namun beberapa saat kemudian Sella kembali membuka matanya saat merasakan tangan Vino mulai naik dan memegang permukaan menonjol yang lain.


"Sayang" lirih Sella.


"Kenapa, hemm? Bukankah kau merindukan sentuhanku?" Vino berbisik tepat ditelinga Sella.

__ADS_1


" Em, se sedikit" Sella menjawab dengan gugup.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita lanjutkan saja?" Tawar Vino masih menciumi leher istrinya itu.


__ADS_2